Otak dalam Analogi Gelas dan Teko

Mengapa kolam air mancur di tengah taman kota airnya tidak meluber, padahal airnya terus mengucur?. Sistem sirkulasi air dengan pompa adalah penyebabnya, sehingga alirannya tetap kontinyu. Trus mengapa saat anda lupa mematikan kran air di bak mandi air meluber-luber?, karena melebihi daya tampung tentu masalahnya. Trus bagaimana dengan ilmu pengetahuan yang terus-menerus mengalir, hingga seolah otak tak mampu menampung?. Tidak mungkin memory otak kita seperti air mancur, sebab informasi datang silih berganti, dan sangat kasihan sekali jika otak disamakan dengan bak mandi. Apakah ilmu kita bermanfaat bagi sesama atau meluber sia-sia?.

Waktu saya masih kecil, mengalami kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Akhirnya minta bantuan kepada orang tua untuk menyelesaikannya dan akhirnya semua teratasi. Sebelum menutup buku pelajaran, orang tua berpesan ”nak jangan kasih tahu teman-temanmu ya cara yang ibu berikan”. Begitu menginjak besar, baru saya menyadari apa makna pesan dari orang tua agar tidak memberi tahukan apa yang kita ketahui kepada orang lain. Tujuan orang tua sebenarnya baik, agar kita lebih pintar dibanding teman-teman lain dan rangking 10 besar dengan mudah di gondol.

Barusan mendapat keluhan dari sala satu orang tua yang baru saja menerima karma dari masa lalu. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya pintar dan berprestasi, maka berlomba-lombalah mengantar anaknya ke bimbingan belajar. Disebuah tempat bimbingan belajar, yang mengkhususkan pada mata pelajara matematika dengan mengajari trik-trik tertentu agar mempermudah memainkan angka dan rumus. Nah saat orang tua hendak melihat perkembangan si anak bagaimana hasil dari bimbingan belajar, terbentur dengan masalah teknis. Tak satupun buku, kertas, atau coretan yang diberikan pada anak didik lalu dibawa pulang untuk dipelajari ulang, tetapi semua proses hanya didalam kelas saja. Alhasil orang tua tak bisa mengadopsi bagaimana metode dan trik-trik yang diberikan bimbingan belajar. Mungkin guru less akan bilang ”anak-anak jangan kasih tahu siapa-siapa ya..? ini rahasia kita”.

Mungkin kalau guru silat berkata ”murid-muridku jangan kasih tahu jurus andalan kita ke perguruan lain ya..” wajar sebab ada persaingan dunia persilatan. Begitu juga dengan pengusaha-pengusaha pasti memiliki ”rahasia perusahaan” sebab menjadi senjata hidup matinya usaha. Guru silat dan pengusaha, hidup matinya ditentukan jurus-jurus andalan mereka, sebab semunya memiliki kelebihan masing-masing yang nantinya jadi senjata pamungkas. Mati-matian mereka menjaga ilmu kedigdayaan mereka, hingga berani mengambil sumpah murid atau karyawannya untuk menjaga rahasianya.

Untuk ilmu pengetahuan formal ”dalam aras pendidikan” sepertinya tidak harus se ekstrim guru silat atau pengusaha. Semua orang berhak tahu dan bisa, sehingga tidak ada sumpah atau rahasia segala. Guru mengajarkan ilmu di sekolah satu dengan yang lain sama, walau dengan metode pengajaran yang berbeda. Lantas mengapa orang tua dan guru less layaknya guru silat dan pengusaha?. Orang tua mungkin anaknya tidak mau di saingi teman-teman sekelasnya dan berharap anaknya jadi kecap nomer satu di sekolahan. Guru less mungkin menjaga kepercayaan masyarakat ”orang tua anak didik” dan memenangkan persaingan sesama bimbingan belajar.

Nah bagaimana dengan kita selaku produk yang menerima ilmu pengetahuan?. Apakah akan menjadi air mancur, bak kamar mandi, guru silat, guru less, pengusaha atau orang tua kita?. Tentu saja kembali ke pribadi masing-masing dalam menyikapinya. Ada sebuah analogi, sebuah gelas pasti tak mampu menampung air dalam satu teko, dan kalaupun dipaksa pasti aku meluber. Solusinya adalah memindah air dalam gelas ke gelas-gelas lain yang masih kosong. Demikian juga ilmu pengetahuan ibarat air dalam teko yang dituang kedalam gelas kecil. Tak ingin ilmu tersebut sia-sia, maka tuangkanlah imu tersebut ke sesama yang masih kosong dari ilmu pengetahuan. Tidak ada ruginya kita berbagi ilmu, dengan membagi ilmu maka sebagian gelas itu kosong dan kita siap menerima ilmu baru tanpa ada yang terbuang sia-sia. Percumah juga punya ilmu tetapi orang lain terlihat bodoh dihadapan kita, alangkah mulianya jika kita selalu bisa mengisi gelas-gelas kosong agar apa yang kita miliki tidak meluber sia-sia. Mari berkarya dan berbagi dengan sesama agar ilmu kita bisa diamalkan dan dimuliakan.

salam

DhaVe

Advertisements

22 thoughts on “Otak dalam Analogi Gelas dan Teko

  1. dhave29 said: Mari berkarya dan berbagi dengan sesama agar ilmu kita bisa diamalkan dan dimuliakan.

    Ho’oh.. Metode belajar itu gak boleh dibocorin ke orang (itu kata bimbel sih).. Dan buat aq, rasanya seneng aja berbagi ilmu, seneng liat ekspresi yg di ajar kalo udah bisa, lega gimana gitu.. Hihi (walau gak semua aq bagi ajarin, ada beberapa yg ku simpan utk aq aja.. Sebagai ciri khas seorang expert.. Hihi).. Mungkin gt kali yah maksud ibu nya si om πŸ˜€

  2. dhave29 said: Mari berkarya dan berbagi dengan sesama agar ilmu kita bisa diamalkan dan dimuliakan.

    otakku makin lemotjangan jangan karena salurane ada yang mampet yo..?*kayane harus usul agar cutinya jangan 3 bulan sekaliben penyaluran lancar…

  3. mahasiswidudul said: Ho’oh.. Metode belajar itu gak boleh dibocorin ke orang (itu kata bimbel sih).. Dan buat aq, rasanya seneng aja berbagi ilmu, seneng liat ekspresi yg di ajar kalo udah bisa, lega gimana gitu.. Hihi (walau gak semua aq bagi ajarin, ada beberapa yg ku simpan utk aq aja.. Sebagai ciri khas seorang expert.. Hihi).. Mungkin gt kali yah maksud ibu nya si om πŸ˜€

    gak bakal keluarin senjata pamungkas sebelum klepek-klepek….. ea πŸ˜€

  4. rawins said: otakku makin lemotjangan jangan karena salurane ada yang mampet yo..?*kayane harus usul agar cutinya jangan 3 bulan sekaliben penyaluran lancar…

    ada kolesterol di otak kali Om….?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s