Nasionalisme Antar Kampung

Nasionalisme, sebuah rasa untuk memiliki seutuhnya dan siap mempertahankan dari siapa saja yang mengusik. Nasionalisme dalam arti luas, seperti layaknya kita gerah dengan ulah negara tetangga yang mengganggu tapal batas negara. Nasionalisme dalam arti lebih sempit, layaknya euforia di GBK saat tim nasional bertanding. Lupakan idealisme nasionalisme, tetapi mari kita coba melihat realitas nasionalisme yang ada saat ini.

Minggu sore kemarin adalah pertandingan ke dua dalam sebuah tournament sepak bola antar kampung. Memang tak semegah Piala Dunia atau liga-liga elit Eropa, namun hampir semua sisi garis luar lapangan penuh dengan penonton. Sangat meriah bahkan melebihi meriahnya final piala dunia. Dua kampung yang sudah lama menjadi musuh sejak jaman kakek buyut kami hingga menurun ke anak cucu, jadilah musuh bebuyutan. Beberapa personel keamanan, baik dari hansip, polsek dan koramil berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Pertandingan babak pertama, menjadi mula kericuhan yang nantinya akan semakin membesar. Unggul 1-0, kemudian dibalas menjadi 1-2 sebuah kenyataan yang pahit pada pertengahan babak pertama. Menjelang jeda pertandingan, striker musuh terlepas dari kawalan dan tinggal berhadapan dengan saya orang satu-satunya didepan penjaga gawang. Bola silahkan lewat, dan musuh harus tetap ditempat, walau konsekwensi pelanggaran bahkan hukuman kartu. Tanpa pikir panjang langsung hajar tepat di bola, namun nasib sial, penyerang membuka bagian bawah sepatunya dan benturan tak terlelakan. Bola hilang entah kemana, namun kaki kanan saya berbenturan keras dengan bagian bawah sepatu musuh. Untung tulang kering dikasih pelindung dan hanya kaus kaki yang robek. Insiden belum selesai, disaat kaki kanan berbenturan, tak sengaja kaki kiri menghantam lutut musuh. Kami dua terkapar, namun posisi 50:50.

Wasit tak meniup peluit, dan membiarkan bola tetap liar dan berhasil dikuasai kiber. Bangkit berdiri sambil membetulkan kaus kaki yang robek, tanpa sadar ada yang meringis kesakitan. Tak dinyana, dua kubu penonton protes dengan argumennya masing-masing, akhirnya kejadian yang memalukan terjadi. Riuh panasnya penonton masuk ke lapangan, saling adu pukul dan hantam, saya hanya tertegun sambil menarik striker yang barusan kena hajar kaki saya. Dalam kerumunan dan kericuhan masih ada saja yang bermain curang, beberapa pukulan dan tendangan sempat mampir dalam tubuh. Apa boleh buat, jurus tendangan bebas dan lari seribu keluar juga. Menendang siapa yang mengancam kemudian lari cari selamat. Mungkin akan sangat sakit kena tendangan sepatu bola, tapi yah itu yang terjadi.

Dari pinggir lapangan, kedua tim duduk bersama melihat pertarungan 2 kubu yang berselisih. Menjadi pertanyaan, apa yang mereka pertahankan, apa yang mereka membuat berkelahi, dan apa untung mereka jika menang dan apa konskuensinya jika kalah. Entah tidak tahu pasti, apakah benar perkelahian itu dari nurani karena sense of belonging atau ikut-ikutan sebagai partisipan. Sejenak lupakan bagaimana menjadi penonton yang baik, disiplin, tertib dan dewasa. Jika suasana sudah memanas, maka gampang sekali disulut untuk adu jotos satu sama lain.

Jangankan sepak bola, dari pemilihan kepala desa, hingga batas kampung acapkali menimbulkan adu otot antar 2 kubu. Dari masalah kecil yang kemudian jadi besar, atau memang masalah besar yang semakin membesar adalah sebuah alasan dari adu jotos tersebut. Mungkin tidak ada penyelesaian selain perang, dan jalan damai mungkin hanya sebatas impian belaka. Dari perkelahian mungkin ada rasa puas, lega atau klimaks jika satu kubu berhasil ditaklukan, lupakan konsekuensi logis yang penting menang dulu.

Naluri sebagai mahluk hidup adalah bertahan disaat ada yang mengganggu dan menyerang, baik wilayahnya, makanannya atau zona kenyamanannya. Begitu juga bagi mereka yang punya kelompok, komunitas, gank, group atau kesatuan yang lainnya pasti juga demikian. Naluri alamiah yang kemudian secara luas diartikan nasionalisme. Jika tidak ada yang namanya nasionalisme, apakah perang tetap ada, mungkin tidak ada atau bahkan akan semakin besar karena ”homo homini lupus”, atau manusia menjadi srigala bagi sesamanya. Kini pemain saling bersalaman dan penonton masih gontok-gontokan, walau skore 3-3 dan akhirnya menang adu penalti 4-3. Tarkam oh tarkaaam… nda ada ribut nda rameee…..

salam

DhaVe

6 thoughts on “Nasionalisme Antar Kampung

  1. rembulanku said: demokrasi, kalo ndak sesuai apa mau diri demo ae rame aepayaaaah, akhire gampang kena provokasi :((

    ini sebenarnya tentang cerita sinetron Tarkam yang di TV atau di kampung beneran? :-)kl nasionalisme ini dengan benar dijalankan tentu tidak ada larangan atau peringatan dari wasit ketika Timnas kita sedang berlaga baik di dalam maupun diluar negeri, mulai dari bunyi trompet yang berisik, sinar laser sampai petasan yang enggak masuk akal …..😦

  2. minarsiahaan said: ini sebenarnya tentang cerita sinetron Tarkam yang di TV atau di kampung beneran? :-)kl nasionalisme ini dengan benar dijalankan tentu tidak ada larangan atau peringatan dari wasit ketika Timnas kita sedang berlaga baik di dalam maupun diluar negeri, mulai dari bunyi trompet yang berisik, sinar laser sampai petasan yang enggak masuk akal …..😦

    nasionalisme yang ke bablasan menurut saya…. alay lebay

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s