Teroka Ekspedisi Mencari Solusi

Kompas Tv yang hadir di tengah persaingan televisi-televisi nasional maupun lokal, memberikan warna tersendiri dalam penyajiannya. Salah satu acara favorit saya adalah ”Teroka” yang di gawangi Mas Cahyo Alkantana. Sebuah acara dengan penyajian sinematografi, narasi dan pemilihan lokasi yang sangat menarik, bahkan menurut saya terbaik dibanding dengan acara serupa dibeberapa stasiun tetangga. Melihat dari setiap sisi yang berbeda, disitulah letak kekuatan ”Teroka” dalam setiap episodenya. Episode terbaru tentang penjelajahan Goa dan Sungai bawah Tanah di Gunung Kidul, mencoba menguak sisi hidrologi, speologi, biologi, geografi, sosiologi masyarakat dan beberapa sudut pandang lain sangat inspiratif.

Dari beberapa episode yang sudah di tayangkan, kemudian iseng-iseng mencari tanggapan bagaimana tentang acara ”Teroka Kompas Tv”. Bukan maksuk menilai, menjadi komentator atau yang ahlinya di dunia penyiaran, tetapi mencoba apakah yang saya rasakan sama yang mereka rasakan. Beberapa orang yang saya tanya kebetulan dari latar belakang berbeda dengan harapan ada beberapa kaca mata yang bisa melihat dari sudut pandang lain.

Maaf kepada Mas Cahyo Alkantana, sebab ada yang barusan bilang ”narsis”. Sebenarnya saya sedikit tidak terima, tetapi namanya pendapat sah-sah saja dikemukakan. Lantas saya bertanya, mengapa bisa di bilang Teroka itu narsis. Ternyata banyaknya peralatan yang tidak di gunakan secara maksimal dan terlalu banyak di ekspose. Seolah peralatan yang digunakan hanya menjadi gaya-gayaan kru yang terlibat dalam liputan, walau sebenarnya wajib menjadi ”prosedur standar operasi”. Alat yang canggih, mewah, bagus lebih banyak masuk dalam frame daripada apa yang seharusnya menjadi liputan.

Pertanyaan dilanjut, katanya ada teman yang tidak bisa orgasme, karena belum sampai puncak sudah ganti posisi. Maksud dari pernyataan tersebut, liputan dari masing-masing lokasi hanya sekelumit saja, padahal didalamnya masih bisa digali potensi-potensi yang luar biasa dan menarik. Saat perjalanan di beberapa daerah, seoalah hanya secuil saja yang di ambil terus pindah dan pindah lagi. Disaat pemirsa dimanjakan dan rasa ingin tahu yang lebih dalam, tiba-tiba harus di akhiri dan liputan berpindah di tempat lain. Gagal orgasme gara-gara sering ganti posisi, kira-kira begitu analoginya untuk menggambarkan kekecewaan dari rasa penasaran yang layu sebelum berkembang.

Saya pribadi berpendapat, Teroka ibarat skripsi atau thesis yang baru tahap bahan dan metode, sedangkan pembahasan, kesimpulan dan saran tidak ditemukan. Dari awal tayangan, dengan narasi yang sangat bagus ibarat pendahuluan sebagai pintu gerbang liputan. Selesai pendahuluan kemudian masuk dalam tinjauan pustaka yang sangat gamblang menjelaskan secara teori dari sisi ilmiahnya. Simulasi lewat lukisan animasi membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah dimengerti. Alhirnya masuk dalam bahan dan metode yang membuat banyak orang iri dan tergila-gila, termasuk saya. Langkah demi langkah dilakukan dengan jelas, terstruktumr seolah semua sudah disusun secara sistematis. Sebelum Kompas Tv diluncurkan, beberapa ”behind the scene” sempat di tayangkan, betapa luar biasanya saat peliputan di lakukan. Siapa yang tidak iri melihat sinematografi landscape yang bagus denga lensa wide, beberapa obyek yang diisolasi dengan ruang tajam yang dangkal, serta komposisi yang menarik. Luar biasa eksekusi yang dilakukan juru kamera. Namun semua seolah tak lengkap dengan hasil dan pembahasan untuk mendapatkan jawban dan kesimpulan.

Sesuatu yang saya ditunggu seolah hanya sebatas wacana dari setiap perjalanan yang menyisakan tanda tanya besar. Saat narator berkata ”bagaimana mengalirkan potensi sungai bawah tanah yang melimpah ke atas..?”, hanyalah sebuah pertanyaan belaka. Setidaknya dari setiap peliputan ada penyajian hasil, bagaimana menjawab tujuan dari setiap ekspedisi. Walau hanya sebatas penjelajahan, tetapi beberapa pertanyaan pada saat awal tayangan seyogyanya mendapat jawaban. Teroka sebuah ekspedisi untuk mencari solusi dari setiap topik yang diangkat, akan menjadi akhir catatan yang manis.

Namun dibalik itu semua, saya kasih 3 jempol, dua jempol saya dan satu jempol anda untuk ”like this” untuk Teroka. Dibalik segala ketidak puasan, entah gagal orgasme, narsis atau tidak selesai hingga bab terakhir setidaknya banyak informasi luar biasa yang dipetik. Kami tunggu episode selanjutnya, angkat topi buat Mas Cahyo dan rekan agar terus menginspirasi Indonesia.

salam

DhaVe

22 thoughts on “Teroka Ekspedisi Mencari Solusi

  1. yang jelas kehadiran kompas tv bisa menggeser chanel2 lain yang hanya berisi sinetron ga jelas atau berita politik yang membosankankhusus untuk acara petualangan macam teroka, tanah air, fotografi, pokoke jalan2 membuka cakrawala tersendiri tentang indahnya negara ini yang belum pernah dijajaki manusia modern.tadi sempet liat acara ini, kesan ganjil yang aku rasa cuman cara pembacaan narasi, kok kesane seperti narasinya acara dunia lain hehehe tapi tetep aku setuju bahwa untuk semua kekurangan disana sini tetep saja ada wawasan baru tentang dunia luar sana.dan khusus acara teroka hari ini ada pertanyaan tentang ‘bukan buah sejati’ada dalam narasi meski bukan point utama yang mengulas gua bawah tanah

  2. nurinautami said: Tadi kayaknya liat sebentar, ceita tentang aliran sungai dibawah apa gt lupa aku

    gunung kidul gua karst …saya terpikir klo daerah gunung kidul kering namun dibawahnya subur, apa ga ada yang mengeksekusi tuh biar air dibawah naik ke atas?

  3. rembulanku said: yang jelas kehadiran kompas tv bisa menggeser chanel2 lain yang hanya berisi sinetron ga jelas atau berita politik yang membosankan

    ah.. belum nemu channelnya kompasTV 😦 jadi hanya membayangkan apa yg ditulis mas dhave..

  4. rembulanku said: yang jelas kehadiran kompas tv bisa menggeser chanel2 lain yang hanya berisi sinetron ga jelas atau berita politik yang membosankan

    Setuju Om Dhave, memang pandangan lanscape yang lebar dan hampir melengkung membuat diri ini ngiler. Kamera dicebur2in kesana kemari juga membuat kagum. Saya kira Teroka adalah bayi samson yang baru lahir, latihan berjalan sekaligus berlari, sebentar lagi akan jadi samson sungguhan! Menginspirasi!Kita tunggu saja episode mendatang..😀

  5. rembulanku said: yang jelas kehadiran kompas tv bisa menggeser chanel2 lain yang hanya berisi sinetron ga jelas atau berita politik yang membosankankhusus untuk acara petualangan macam teroka, tanah air, fotografi, pokoke jalan2 membuka cakrawala tersendiri tentang indahnya negara ini yang belum pernah dijajaki manusia modern.tadi sempet liat acara ini, kesan ganjil yang aku rasa cuman cara pembacaan narasi, kok kesane seperti narasinya acara dunia lain hehehe tapi tetep aku setuju bahwa untuk semua kekurangan disana sini tetep saja ada wawasan baru tentang dunia luar sana.dan khusus acara teroka hari ini ada pertanyaan tentang ‘bukan buah sejati’ada dalam narasi meski bukan point utama yang mengulas gua bawah tanah

    hehe….setuju dengan mba Lala…bukan dunia lain, tetapi “ekspedisi alam gaib” hahahha….untuk bukan buah sejati saya PM..yah….. ini orang biologi yang jawab deh

  6. siasetia said: gunung kidul gua karst …saya terpikir klo daerah gunung kidul kering namun dibawahnya subur, apa ga ada yang mengeksekusi tuh biar air dibawah naik ke atas?

    itu yang menjadi pertanyaan saya, sebatas wacana saja, kalo dibawah ada banyak air kenapa tidak di angkat ke atas,,,

  7. daniartana said: Setuju Om Dhave, memang pandangan lanscape yang lebar dan hampir melengkung membuat diri ini ngiler. Kamera dicebur2in kesana kemari juga membuat kagum. Saya kira Teroka adalah bayi samson yang baru lahir, latihan berjalan sekaligus berlari, sebentar lagi akan jadi samson sungguhan! Menginspirasi!Kita tunggu saja episode mendatang..😀

    Saya dengan setia selalu menunggu…. Ayo Mas Cahyoo,,,,

  8. dhave29 said: Sebuah acara dengan penyajian sinematografi, narasi dan pemilihan lokasi yang sangat menarik, bahkan menurut saya terbaik dibanding dengan acara serupa dibeberapa stasiun tetangga.

    Setuju mas Dhave! Saya senang dengan photo-photo dan lokasinya yang menarik. Mudah-mudahan “Teroka” akan semakin baik dan berarti, bukan saja bagi pemirsa, tetapi juga bagi masyarakat umum, serta masyarakat di lokasi yang bersangkutan.

  9. hardi45 said: Setuju mas Dhave! Saya senang dengan photo-photo dan lokasinya yang menarik. Mudah-mudahan “Teroka” akan semakin baik dan berarti, bukan saja bagi pemirsa, tetapi juga bagi masyarakat umum, serta masyarakat di lokasi yang bersangkutan.

    Amin Om Hardi….. saya berharap juga demikian…salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s