Jangan Melihat Buku dari Sampul, tetapi Bacalah Dulu Sebelumnya

Memang benar, kata host 4 mata Tukul Arwana, dont look a book from the cover. Tetapi, ada sedikit salah juga, mungkin dari cover orang akan tertarik untuk membuka buku tersebut. Buku bagus dengan cover ala skripsi mungkin nyaris tak akan tersentuh, kecuali mereka yang berburu isi tulisan, sedangkan buku dengan cover bagus tanpa isi yang jelas siap-siap mengecewakan orang. Begitu juga melihat orang bisa saja dari tampang lalu sedikit bisa menarik kesimpulan isi dari orang tersebut, tetapi tidak sedikit yang salah menafsirkan.

Hari ini mungkin sedikit jengkel dengan orang-orang yang melihat buku hanya dari sampulnya saja tanpa membaca judul atau pengarang buku. Dengan tergopoh-gopoh kaki ini melangkah ke sebuah studio foto untuk mencetak berlembar-lembar foto sebagai bahan lomba. Karena entah di mana flash disk lupa naruh, akhirnya pakai memory ponsel mikro SD dengan converternya. Dari chip yang kecil tersebut lalu saya sodorkan kepada mbak-mbaknya agar di salin file-nya. Tanpa mikir panjang, mBae bertanya ”mau cetak poto dr HP disana aja Mas..” sambil nunjukin bok putih bisa kok pake blue tooth.

Busyet, file hampir 100 MB pake blue tooth, bisa sehari jadi pertapa, pikir saya. Nda Kok pake ini aja mBa biar cepet, tetep maksa nyodorin micro SD, mBae agak kesal juga sepertinya. ”emang mau nyetak ukuran berapa mas..”, ”cetak ukuran sisi panjang 25-30cm lebar menyesuiakan” jawab saya, ”ntar pecah loh gambarnya” sambil nerocos aja nie mulut mbae. Akhirnya di colokin juga ntuh micro SD dengan converternya di card reader dan akhirnya manggut-manggut mbae. ”Wah kamera hape bisa sebagus ini, pake hape apa mas..?” tanya mbae saat melihat deretan file yang akan di cetak. ”owh ini saya pake hape CENON Photokopi kok mBa.. pake lensa 55-250mm”. Gara-gara micro sd, gambar dari DSLR turun derajat jadii kamera vga, emang benar micro sd emang untuk ponsel dan pelajaran berharga ”besok bawa Hard Disk eksternal, FD atau CD” biar kaya Cenon Photographer.

Tak berapa lama kemudian pindah ke kantor pos, untuk bayar uang kuliah. Biasanya Mahasiswa di kampus suka membayar uang kuliah di bank-bank ternama, biar keren dan bisa menggoda teller yang aduhay, walau harus rela antre kaya kereta ekonomi panjangnya. Kantor pos adalah pilihan yang tepat buat mereka yang tidak mau antre dan tidak gengsi. Rambut acak-acakan, karena semalam melototin layar komputer buat editing gambar. ”mau apa dik” tanya petugasnya, sebnarnya mau bilang ”mau beli semen 2 ons, makan disini”. Lah duduk di loket pembayaran ya jelas mau bayar, masak mau antre BLT ”yang benar saja Pak” rada sensi, karena mau setor duit buat kampus yang komersil terhadap pendidikan.

”ini pak tagihannya” sambil menyodorkan print out tagihan, dengan gaya sok serius petugasnya geleng-geleng kepala sambil mencet kalkulator. ”wah ini tagihannya banyak, dan telat..dendaanya banyak loh dik..!” dengan nada tinggi. ”ini gimana kok sampai telat, dendanya banyak sekali..waduh..waduuh…” kembali seolah menyalahkan gara-gara telat bayar dan harus kena denda. ”emang dendanya berapa tho pak..?” tanya saya, ”bentar saya hitung ulang lagi” seolah tidak percaya apa yang telah dia hitung. ”ini dik..banyak loh…155ribu” kembali bapaknya sambil nunjukin kalkulator, ”owalah ini pak 3 lembar 50 ribu dan selembar 5ribu..pas kan..?”. ”langsung dilunasin dik” kembali tanya bapaknya, busyet mau bilang ”ngga pak..mau saya angsur sehari seribu pak..ya lunasiiin lah..!”, tapi yang terucap ”iya pak biar gak punya tanggungan lagi nantinya”. Dok..dok…stempel dan kelar sudah, emang besok lagi kayaknya harus ikut antri di bank biar ngobrol sama teller yang cantik-cantik.

Usai sudah, masalah di studio dan kantor pos, sekarang makan dulu sebelum kuliah. Di kafe kampus, pesan makanan dan duduk bareng dengan mahasiswa lain yang sedang makan. ”woi..lama gak kelihatan..kok baru muncul” sapa karyawan kafe. ”gimana udah lulus..?”, ”belum masih penelitian” jawab saya. ”kamu ini loh, dari dulu saya jadi tukang cuci piring hingga naik pangkat jadi pelayan, kok penelitian wae..kapan lulusnya” tanya dia dengan suara keras, busyet dah banyak yang dengan dan perhatikan. ”kamu kan angkatan 2001, jadi udah 10 tahun belum lulus.. wah lama-lama di kampus bisa diangkat jadi rektor kamu” kembali berkicau nie manusia satu dan saya tetap menikmati teh hangat.

”gak bosen apa kuliah terus, dan gayane penelitian padahal naik gunung, main bola ama motret, iya kan hayooo” dasar ni pelayan kurang kerjaan dan terus nerocos. ”bro beda sekarang, dulu waktu es satu emang gitu, sekarang aku kuliah lagi ambil es teh, jadi sekarang diam dan cepet pesenanku ambilin dan..timbang tak telen kotak-kotak”. ”owalah gayane sok sok an.. wisuda aja belum sok gaya jadi mahasiswa s2..dah ini sotone”. Wah lega juga nie pelayan sudah pergi. Yah gitu dah, untung kuliah ini gak pake seragam dan tanda angkatan. Memang dont look a book from the cover, but please read before.

salam
DhaVe

Advertisements

22 thoughts on “Jangan Melihat Buku dari Sampul, tetapi Bacalah Dulu Sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s