Telepon Rumah dan Tanda Bintang*

Memang susah bagi orang yang berdomisili di desa yang jauh dari kota. Namanya juga desa, sudah tentu memiliki keterbatasan segala-galanya termasuk akses komunikasi. Mungkin yang bisa masuk untuk masalah komunikasi hanya pancaran gelombang radio RRI, sedangkan radio lokal suaranya berisik, apalagi televisi yang runyam tidak karuan. Permasalahan lain adalah sinyal ponsel, dari yang mengaku sinyal kuat, hingga jangkauan luas, sama saja tidak ada yang nyangkut. Apabila hendak nelpon atau sms, lari dulu ke ujung desa dibalik punggungan untuk mencari sinyal.

Masa jahiliah komunikasi sudah berlalu, siaran televisi mulai bisa ditangkap, sinyal ponsel kencar-kencar dan buat online pun lancar. Sebuah kemajuan dalam bidang komunikasi bagi sebuah desa terpencil, kini sudah bisa menembus batas berkomunikasi. Permasalahan belum usai, dengan masalah komunikasi, entah apa yang menjadi pertimbangan dari beberapa pihak yang menganggap telepon rumah sangat penting dan vital.

Suatu saat di sebuah bank swasta, ingin mengajukan aplikasi kartu kredit. Salah satu prasyarat adalah no telpon rumah agar aplikasi bisa diteruskan kemanajemen bank. Jangankan telepon rumah, tiang teleponnya pun tak ada, maka dengan berat hati pengajuan tersebut diaborsi oleh customer servis. Mungkin saja, urusan perbangkan yang berhubungan dengan duit, telepon rumah sangat vital sebagai komunikasi yang terjamin.

Sejenak pindah, disebuah kompotesi yang menyeleksi pemuda-pemudi untuk ikut dalam perjalanan keliling Indonesia yang dibayari oleh pihak swasta. Dari sekian seleksi akhirnya ikut dalam 100 besar, yang akan disortir lagi menjadi 60an peserta. Dalam hati yakin lolos jika melihat potensi diri yang suka klayapan di alam bebas, hobi nulis dan jurnalistik, fisik oke, fotografi tidak jelek-jelek amat, masih status mahasiswa. Melihat pesaing-pesaing lain sepertinya cukup mudah untuk lolos. Lagi-lagi terbentur dengan masalah adminsitrasi berkaitan dengan telepon rumah. Saya tinggal di kampung yang jauh dari kabel tembaga milik telkom, dan akhirnya gugur gara-gara telpon rumah.

Beberapa kali perlombaan, acara atau event lain yang salah satu formulirnya ada kolom (telpon rumah*), nah tanda * artinya wajib diisi. Menjadi pertanyaan sekarang, mau saya isi apa itu kolom, karena tidak punya. Beberapa kali nekat saya lewatkan kolom nomer telpon rumah* dan akhirnya di tolak karena wajib diisi. Sepertinya harapan pupus ditengah jalan dan tidak mungkin memasukan nomer telpon fiktif. Dibalik asa yang pupus gara-gara nomer telpon, akhirnya terbesit ide yang adu untung-untungan.

Disaat mendaftarkan diri disebuah seminar internasional, yang mewajibkan mengisi nomer telpon rumah, iseng masukan nomer telpon kampus. Nah dijamin tidak fiktif dan terdaftar sebagai mahasiswa, bisa dihubungi dan dikroscek kalau tidak percaya. Entah apa yang terbesit dibenak penyelenggara yang mewajibkan mengisi nomer telepon rumah. Apakah membatasi peserta dan yang boleh ikut hanya yang memiliki telpon rumah, dan yang pasti orang kota. Apakah ada tujuan lain sebagai jaminan komunikasi. Bagaimana peranan ponsel yang kemana saja dibawa, mungkin jauh lebih efektif dibanding dengan telepon rumah dalam urusan komunikasi.

Semenjak punya ponsel hampir 6 tahun yang lalu, belum sekalipun ganti nomer. Begitu juga email, tak berubah semenjak jaman awal bikin email 10 tahun yang lalu. Ponsel 24 jam standby jadi bisa dihubungi kapan saja dimana saja, asal ada sinyal dan setrum. Fasilitas ponsel pintar dengan memberi penanda disaat ada emai masuk juga menambah nilai fungsi dan pakai surat elektronik. Apakah ada jaminan menghubungi telepon rumah dan langsung diangkat, apabila empunya sedang hunting matahari terbit di puncak gunung. Jauh lebih efektif lewat hubungi ponsel pintar yang walaupun jadul bisa tetap terkoneksi dengan provider dan internet. Jangankan balas telepon atau pesan singkat, upload artikel dan gambar pun bisa, telepon rumah ntar tunggu saya pulang dan pasang, tapi narik kabel dulu dari kota hingga rumah sejauh 13KM. Lebih cepat angkat telepon rumah apa balas komentar status situs jejaring sosial…?

Salam

DhaVe
KK,170811, 13.09

5 thoughts on “Telepon Rumah dan Tanda Bintang*

  1. pernah punya telpepon rumah tapi karena jarang kepake akhirnya dibabat (ga nerusin langganan) kakak saya pun demikian karena fungsinya sebagai alat komunikasi tidak pernah terjamah otomatis akhirnya harus disingkirkan drpd bayar abonemen tapi ga pernah kepake.

  2. sulisyk said: pernah punya telpepon rumah tapi karena jarang kepake akhirnya dibabat (ga nerusin langganan) kakak saya pun demikian karena fungsinya sebagai alat komunikasi tidak pernah terjamah otomatis akhirnya harus disingkirkan drpd bayar abonemen tapi ga pernah kepake.

    nah yang terjangkau aja begitu..bagaimana yang tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s