Pakan Ayam Ternyata Enak Juga

Sudah 3 minggu ini ada yang aneh dengan Rice cooker yang ada di rumah. Entah mengapa setiap kali saya menanak nasi, tak ada satupun yang menyentuhnya, hanya saya dan si Moly anjing kampung yang habisin nasi sampai butir terakhir. Akhirnya misteri nasi dalam rice cooker yang tak tersentuh terkuak juga. Kata salah satu orang rumah, beras yang saya tanak adalah beras untuk makanan ayam, dan karena mereka sungkan bilang makanya dibiarkan saja. Wah 3 minggu makan beras untuk pakan ayam, hemm enak juga ternyata.

Selesai kejadian tersebut muncul beberapa komentar ”gimana pakan ayamnya enak..?” dengan wajah jijik. Mungkin gara-gara tidak tahu, itu beras untuk pakan ayam jadi tidak ada masalah. Andaikata tahu, itupun juga tidak terlalu menjadi masalah, daripada kelaparan. Bagi orang lain, mungkin yang sudah terbiasa makan beras berkualitas baik akan jijik bahkan muntah dengan beras buat pakan ayam. Beras dengan warna yang sudah agak abu-abu, hancur tidak karuan, ada campuran bulir padi, dan kalau dicuci keruh minta ampun. Pantas saja untuk pakan ayam, andaikata ayam tahu, mungkin akan enggan untuk mematuknya.

Sekitar tahun 1985, masih terngiang walau samar-samar di otak. Masa tersulit disaat Bapak memutuskan transmigrasi di Kalimantan Tengah. Disaat jatah beras dan lauk dari negara sudah habis, baru merasakan sengsaranya hidup. Beras yang jadi andalan kini harus menunggu padi yang masih tumbuh hijau diladang. Lauk pauk berupa ikan asin, sangat tidak mungkin diperoleh dipedalaman Kalimantan. Inisiatif dari bapak agar tetap survive dengan mengupayakan apa yang ada agar menjadi makanan. Singkong di sulap menjadi gaplek dan nasi tiwul. Jagung dirubah menjadi nasi jagung atau ”grontol”. Untuk sayurannya mencari tumbuhan yang bisa dimasak di belantara Kalimantan. Lauk pauk beruba daging dari hewan-hewan buruan seperti; Babi Hutan, Kijang, Buaya, Biawak hingga Ular. Saat itu yang penting kenyang dan mampu bertahan hidup yang serba kekurangan. Masa-masa yang penuh keprihatinan akhirnya belalu dan mulai pelan-pelan bisa menata kehidupan.

Badai juga belum genap beranjak kini kembali datang. Seorang diri harus meninggalkan pedalaman kalimantan demi mengejar ijazah. Disaat kiriman uang terlambat, atau deposit habis ditengah bulan harus pintar dalam mensiasati keadaan. Lupakan makan enak di warung yang semua sudah tersedia. Kini saatnya memanfaatkan apa yang bisa dimakan. Memutar isi kepala agar isi perut terisi dan mulut tidak menganga. Beras 1kg cukup tidak cukup untuk 1 minggu, sehari makan dua kali, atau terpaksa mengencangkan ikat pinggang dengan berpuasa. Mungkin orang menjalankan puasa adalah wujud ibadah, tetapi puasa kali ini adalah keadaan.

Badai akhirnya berlalu, kini tinggal angin sepoy-sepoy yang meninabobokan dengan belaian lembutnya. Makanan ayam yang dianggap tidak layak, terasa tak ada bedanya dengan nasi pulen. Bukan masalah enak atau tidak enak, tetapi coba lihat masa lalu, pandang sodara kita yang belum beruntung, atau mereka yang masih saja penuh keterbatasan. Jika mengikuti lidah, makan masakan ala chef terkenalpun tak akan pernah bisa memuaskan. Lantas apa yang bisa memuaskan lidah?. Sebuah rasa syukur masih ada yang bisa dimakan, rasa syukur lidah tidak sariawan, rasa syukur punya rasa lapar, rasa syukur buat nafsu makan dan rasa syukur karena Dia sudah memberi makanan kami yang secukupnya buat hari ini. Dibalik rasa syukur tersebut, ternyata ada yang menggerutu sambil berkokok ”petook..petook..sialan jatah makanku diembat manusia, jangan-jangan habis ini aku yang dimakan”.

Salam
DhaVe
KA, 250711, 17.30

16 thoughts on “Pakan Ayam Ternyata Enak Juga

  1. jiahhh koq makan jatah ayam siy, kasian ayam :Phmm aku makan pakan babilah di flores dulu, pepaya adalah makanan babi. orang sana ga ada yang mo nyentuh pepaya, walau manis sekalipunbtw, yang penting bisa makan aja dah bersyukur :)Aminnnnn—cuma yo koq ga ada yang ngasih tau samsek siy.. ckckckck, 3 minggu , kebangetan jg

  2. dhave29 said: Sudah 3 minggu ini ada yang aneh dengan Rice cooker yang ada di rumah. Entah mengapa setiap kali saya menanak nasi, tak ada satupun yang menyentuhnya, hanya saya dan si Moly anjing kampung yang habisin nasi sampai butir terakhir. Akhirnya misteri nasi dalam rice cooker yang tak tersentuh terkuak juga. Kata salah satu orang rumah, beras yang saya tanak adalah beras untuk makanan ayam, dan karena mereka sungkan bilang makanya dibiarkan saja. Wah 3 minggu makan beras untuk pakan ayam, hemm enak juga ternyata.Selesai kejadian tersebut muncul beberapa komentar ”gimana pakan ayamnya enak..?” dengan wajah jijik. Mungkin gara-gara tidak tahu, itu beras untuk pakan ayam jadi tidak ada masalah. Andaikata tahu, itupun juga tidak terlalu menjadi masalah, daripada kelaparan. Bagi orang lain, mungkin yang sudah terbiasa makan beras berkualitas baik akan jijik bahkan muntah dengan beras buat pakan ayam. Beras dengan warna yang sudah agak abu-abu, hancur tidak karuan, ada campuran bulir padi, dan kalau dicuci keruh minta ampun. Pantas saja untuk pakan ayam, andaikata ayam tahu, mungkin akan enggan untuk mematuknya.Sekitar tahun 1985, masih terngiang walau samar-samar di otak. Masa tersulit disaat Bapak memutuskan transmigrasi di Kalimantan Tengah. Disaat jatah beras dan lauk dari negara sudah habis, baru merasakan sengsaranya hidup. Beras yang jadi andalan kini harus menunggu padi yang masih tumbuh hijau diladang. Lauk pauk berupa ikan asin, sangat tidak mungkin diperoleh dipedalaman Kalimantan. Inisiatif dari bapak agar tetap survive dengan mengupayakan apa yang ada agar menjadi makanan. Singkong di sulap menjadi gaplek dan nasi tiwul. Jagung dirubah menjadi nasi jagung atau ”grontol”. Untuk sayurannya mencari tumbuhan yang bisa dimasak di belantara Kalimantan. Lauk pauk beruba daging dari hewan-hewan buruan seperti; Babi Hutan, Kijang, Buaya, Biawak hingga Ular. Saat itu yang penting kenyang dan mampu bertahan hidup yang serba kekurangan. Masa-masa yang penuh keprihatinan akhirnya belalu dan mulai pelan-pelan bisa menata kehidupan.Badai juga belum genap beranjak kini kembali datang. Seorang diri harus meninggalkan pedalaman kalimantan demi mengejar ijazah. Disaat kiriman uang terlambat, atau deposit habis ditengah bulan harus pintar dalam mensiasati keadaan. Lupakan makan enak di warung yang semua sudah tersedia. Kini saatnya memanfaatkan apa yang bisa dimakan. Memutar isi kepala agar isi perut terisi dan mulut tidak menganga. Beras 1kg cukup tidak cukup untuk 1 minggu, sehari makan dua kali, atau terpaksa mengencangkan ikat pinggang dengan berpuasa. Mungkin orang menjalankan puasa adalah wujud ibadah, tetapi puasa kali ini adalah keadaan.Badai akhirnya berlalu, kini tinggal angin sepoy-sepoy yang meninabobokan dengan belaian lembutnya. Makanan ayam yang dianggap tidak layak, terasa tak ada bedanya dengan nasi pulen. Bukan masalah enak atau tidak enak, tetapi coba lihat masa lalu, pandang sodara kita yang belum beruntung, atau mereka yang masih saja penuh keterbatasan. Jika mengikuti lidah, makan masakan ala chef terkenalpun tak akan pernah bisa memuaskan. Lantas apa yang bisa memuaskan lidah?. Sebuah rasa syukur masih ada yang bisa dimakan, rasa syukur lidah tidak sariawan, rasa syukur punya rasa lapar, rasa syukur buat nafsu makan dan rasa syukur karena Dia sudah memberi makanan kami yang secukupnya buat hari ini. Dibalik rasa syukur tersebut, ternyata ada yang menggerutu sambil berkokok ”petook..petook..sialan jatah makanku diembat manusia, jangan-jangan habis ini aku yang dimakan”.SalamDhaVeKA, 250711, 17.30

    Dhave masih untung gak makan Gabah………hehehehe ono ono wae…

  3. dhave29 said: Sudah 3 minggu ini ada yang aneh dengan Rice cooker yang ada di rumah. Entah mengapa setiap kali saya menanak nasi, tak ada satupun yang menyentuhnya, hanya saya dan si Moly anjing kampung yang habisin nasi sampai butir terakhir. Akhirnya misteri nasi dalam rice cooker yang tak tersentuh terkuak juga. Kata salah satu orang rumah, beras yang saya tanak adalah beras untuk makanan ayam, dan karena mereka sungkan bilang makanya dibiarkan saja. Wah 3 minggu makan beras untuk pakan ayam, hemm enak juga ternyata.Selesai kejadian tersebut muncul beberapa komentar ”gimana pakan ayamnya enak..?” dengan wajah jijik. Mungkin gara-gara tidak tahu, itu beras untuk pakan ayam jadi tidak ada masalah. Andaikata tahu, itupun juga tidak terlalu menjadi masalah, daripada kelaparan. Bagi orang lain, mungkin yang sudah terbiasa makan beras berkualitas baik akan jijik bahkan muntah dengan beras buat pakan ayam. Beras dengan warna yang sudah agak abu-abu, hancur tidak karuan, ada campuran bulir padi, dan kalau dicuci keruh minta ampun. Pantas saja untuk pakan ayam, andaikata ayam tahu, mungkin akan enggan untuk mematuknya.Sekitar tahun 1985, masih terngiang walau samar-samar di otak. Masa tersulit disaat Bapak memutuskan transmigrasi di Kalimantan Tengah. Disaat jatah beras dan lauk dari negara sudah habis, baru merasakan sengsaranya hidup. Beras yang jadi andalan kini harus menunggu padi yang masih tumbuh hijau diladang. Lauk pauk berupa ikan asin, sangat tidak mungkin diperoleh dipedalaman Kalimantan. Inisiatif dari bapak agar tetap survive dengan mengupayakan apa yang ada agar menjadi makanan. Singkong di sulap menjadi gaplek dan nasi tiwul. Jagung dirubah menjadi nasi jagung atau ”grontol”. Untuk sayurannya mencari tumbuhan yang bisa dimasak di belantara Kalimantan. Lauk pauk beruba daging dari hewan-hewan buruan seperti; Babi Hutan, Kijang, Buaya, Biawak hingga Ular. Saat itu yang penting kenyang dan mampu bertahan hidup yang serba kekurangan. Masa-masa yang penuh keprihatinan akhirnya belalu dan mulai pelan-pelan bisa menata kehidupan.Badai juga belum genap beranjak kini kembali datang. Seorang diri harus meninggalkan pedalaman kalimantan demi mengejar ijazah. Disaat kiriman uang terlambat, atau deposit habis ditengah bulan harus pintar dalam mensiasati keadaan. Lupakan makan enak di warung yang semua sudah tersedia. Kini saatnya memanfaatkan apa yang bisa dimakan. Memutar isi kepala agar isi perut terisi dan mulut tidak menganga. Beras 1kg cukup tidak cukup untuk 1 minggu, sehari makan dua kali, atau terpaksa mengencangkan ikat pinggang dengan berpuasa. Mungkin orang menjalankan puasa adalah wujud ibadah, tetapi puasa kali ini adalah keadaan.Badai akhirnya berlalu, kini tinggal angin sepoy-sepoy yang meninabobokan dengan belaian lembutnya. Makanan ayam yang dianggap tidak layak, terasa tak ada bedanya dengan nasi pulen. Bukan masalah enak atau tidak enak, tetapi coba lihat masa lalu, pandang sodara kita yang belum beruntung, atau mereka yang masih saja penuh keterbatasan. Jika mengikuti lidah, makan masakan ala chef terkenalpun tak akan pernah bisa memuaskan. Lantas apa yang bisa memuaskan lidah?. Sebuah rasa syukur masih ada yang bisa dimakan, rasa syukur lidah tidak sariawan, rasa syukur punya rasa lapar, rasa syukur buat nafsu makan dan rasa syukur karena Dia sudah memberi makanan kami yang secukupnya buat hari ini. Dibalik rasa syukur tersebut, ternyata ada yang menggerutu sambil berkokok ”petook..petook..sialan jatah makanku diembat manusia, jangan-jangan habis ini aku yang dimakan”.SalamDhaVeKA, 250711, 17.30

    Tiada beras, jatah ayam pun jadi.

  4. dhave29 said: Sudah 3 minggu ini ada yang aneh dengan Rice cooker yang ada di rumah. Entah mengapa setiap kali saya menanak nasi, tak ada satupun yang menyentuhnya, hanya saya dan si Moly anjing kampung yang habisin nasi sampai butir terakhir. Akhirnya misteri nasi dalam rice cooker yang tak tersentuh terkuak juga. Kata salah satu orang rumah, beras yang saya tanak adalah beras untuk makanan ayam, dan karena mereka sungkan bilang makanya dibiarkan saja. Wah 3 minggu makan beras untuk pakan ayam, hemm enak juga ternyata.Selesai kejadian tersebut muncul beberapa komentar ”gimana pakan ayamnya enak..?” dengan wajah jijik. Mungkin gara-gara tidak tahu, itu beras untuk pakan ayam jadi tidak ada masalah. Andaikata tahu, itupun juga tidak terlalu menjadi masalah, daripada kelaparan. Bagi orang lain, mungkin yang sudah terbiasa makan beras berkualitas baik akan jijik bahkan muntah dengan beras buat pakan ayam. Beras dengan warna yang sudah agak abu-abu, hancur tidak karuan, ada campuran bulir padi, dan kalau dicuci keruh minta ampun. Pantas saja untuk pakan ayam, andaikata ayam tahu, mungkin akan enggan untuk mematuknya.Sekitar tahun 1985, masih terngiang walau samar-samar di otak. Masa tersulit disaat Bapak memutuskan transmigrasi di Kalimantan Tengah. Disaat jatah beras dan lauk dari negara sudah habis, baru merasakan sengsaranya hidup. Beras yang jadi andalan kini harus menunggu padi yang masih tumbuh hijau diladang. Lauk pauk berupa ikan asin, sangat tidak mungkin diperoleh dipedalaman Kalimantan. Inisiatif dari bapak agar tetap survive dengan mengupayakan apa yang ada agar menjadi makanan. Singkong di sulap menjadi gaplek dan nasi tiwul. Jagung dirubah menjadi nasi jagung atau ”grontol”. Untuk sayurannya mencari tumbuhan yang bisa dimasak di belantara Kalimantan. Lauk pauk beruba daging dari hewan-hewan buruan seperti; Babi Hutan, Kijang, Buaya, Biawak hingga Ular. Saat itu yang penting kenyang dan mampu bertahan hidup yang serba kekurangan. Masa-masa yang penuh keprihatinan akhirnya belalu dan mulai pelan-pelan bisa menata kehidupan.Badai juga belum genap beranjak kini kembali datang. Seorang diri harus meninggalkan pedalaman kalimantan demi mengejar ijazah. Disaat kiriman uang terlambat, atau deposit habis ditengah bulan harus pintar dalam mensiasati keadaan. Lupakan makan enak di warung yang semua sudah tersedia. Kini saatnya memanfaatkan apa yang bisa dimakan. Memutar isi kepala agar isi perut terisi dan mulut tidak menganga. Beras 1kg cukup tidak cukup untuk 1 minggu, sehari makan dua kali, atau terpaksa mengencangkan ikat pinggang dengan berpuasa. Mungkin orang menjalankan puasa adalah wujud ibadah, tetapi puasa kali ini adalah keadaan.Badai akhirnya berlalu, kini tinggal angin sepoy-sepoy yang meninabobokan dengan belaian lembutnya. Makanan ayam yang dianggap tidak layak, terasa tak ada bedanya dengan nasi pulen. Bukan masalah enak atau tidak enak, tetapi coba lihat masa lalu, pandang sodara kita yang belum beruntung, atau mereka yang masih saja penuh keterbatasan. Jika mengikuti lidah, makan masakan ala chef terkenalpun tak akan pernah bisa memuaskan. Lantas apa yang bisa memuaskan lidah?. Sebuah rasa syukur masih ada yang bisa dimakan, rasa syukur lidah tidak sariawan, rasa syukur punya rasa lapar, rasa syukur buat nafsu makan dan rasa syukur karena Dia sudah memberi makanan kami yang secukupnya buat hari ini. Dibalik rasa syukur tersebut, ternyata ada yang menggerutu sambil berkokok ”petook..petook..sialan jatah makanku diembat manusia, jangan-jangan habis ini aku yang dimakan”.SalamDhaVeKA, 250711, 17.30

    aku suka makan jatah makan kambing wong sukanya makan daun2an asal bukan daun pintu saja hehehe**jangan pernah berkecil hati, saya juga pernah mengalami ga punya duit sepeserpun untuk makan, untuk transport entah gimana caranya Tuhan selalu menunjukkan jalan disaat keadaan sangat kritis, ajaib memang, dan kejadian ini ga sekali dua kali. Mensyukuri apa yang kita peroleh adalah jalan menuju keadaan yang lebih baik**

  5. dhave29 said: Sudah 3 minggu ini ada yang aneh dengan Rice cooker yang ada di rumah. Entah mengapa setiap kali saya menanak nasi, tak ada satupun yang menyentuhnya, hanya saya dan si Moly anjing kampung yang habisin nasi sampai butir terakhir. Akhirnya misteri nasi dalam rice cooker yang tak tersentuh terkuak juga. Kata salah satu orang rumah, beras yang saya tanak adalah beras untuk makanan ayam, dan karena mereka sungkan bilang makanya dibiarkan saja. Wah 3 minggu makan beras untuk pakan ayam, hemm enak juga ternyata.Selesai kejadian tersebut muncul beberapa komentar ”gimana pakan ayamnya enak..?” dengan wajah jijik. Mungkin gara-gara tidak tahu, itu beras untuk pakan ayam jadi tidak ada masalah. Andaikata tahu, itupun juga tidak terlalu menjadi masalah, daripada kelaparan. Bagi orang lain, mungkin yang sudah terbiasa makan beras berkualitas baik akan jijik bahkan muntah dengan beras buat pakan ayam. Beras dengan warna yang sudah agak abu-abu, hancur tidak karuan, ada campuran bulir padi, dan kalau dicuci keruh minta ampun. Pantas saja untuk pakan ayam, andaikata ayam tahu, mungkin akan enggan untuk mematuknya.Sekitar tahun 1985, masih terngiang walau samar-samar di otak. Masa tersulit disaat Bapak memutuskan transmigrasi di Kalimantan Tengah. Disaat jatah beras dan lauk dari negara sudah habis, baru merasakan sengsaranya hidup. Beras yang jadi andalan kini harus menunggu padi yang masih tumbuh hijau diladang. Lauk pauk berupa ikan asin, sangat tidak mungkin diperoleh dipedalaman Kalimantan. Inisiatif dari bapak agar tetap survive dengan mengupayakan apa yang ada agar menjadi makanan. Singkong di sulap menjadi gaplek dan nasi tiwul. Jagung dirubah menjadi nasi jagung atau ”grontol”. Untuk sayurannya mencari tumbuhan yang bisa dimasak di belantara Kalimantan. Lauk pauk beruba daging dari hewan-hewan buruan seperti; Babi Hutan, Kijang, Buaya, Biawak hingga Ular. Saat itu yang penting kenyang dan mampu bertahan hidup yang serba kekurangan. Masa-masa yang penuh keprihatinan akhirnya belalu dan mulai pelan-pelan bisa menata kehidupan.Badai juga belum genap beranjak kini kembali datang. Seorang diri harus meninggalkan pedalaman kalimantan demi mengejar ijazah. Disaat kiriman uang terlambat, atau deposit habis ditengah bulan harus pintar dalam mensiasati keadaan. Lupakan makan enak di warung yang semua sudah tersedia. Kini saatnya memanfaatkan apa yang bisa dimakan. Memutar isi kepala agar isi perut terisi dan mulut tidak menganga. Beras 1kg cukup tidak cukup untuk 1 minggu, sehari makan dua kali, atau terpaksa mengencangkan ikat pinggang dengan berpuasa. Mungkin orang menjalankan puasa adalah wujud ibadah, tetapi puasa kali ini adalah keadaan.Badai akhirnya berlalu, kini tinggal angin sepoy-sepoy yang meninabobokan dengan belaian lembutnya. Makanan ayam yang dianggap tidak layak, terasa tak ada bedanya dengan nasi pulen. Bukan masalah enak atau tidak enak, tetapi coba lihat masa lalu, pandang sodara kita yang belum beruntung, atau mereka yang masih saja penuh keterbatasan. Jika mengikuti lidah, makan masakan ala chef terkenalpun tak akan pernah bisa memuaskan. Lantas apa yang bisa memuaskan lidah?. Sebuah rasa syukur masih ada yang bisa dimakan, rasa syukur lidah tidak sariawan, rasa syukur punya rasa lapar, rasa syukur buat nafsu makan dan rasa syukur karena Dia sudah memberi makanan kami yang secukupnya buat hari ini. Dibalik rasa syukur tersebut, ternyata ada yang menggerutu sambil berkokok ”petook..petook..sialan jatah makanku diembat manusia, jangan-jangan habis ini aku yang dimakan”.SalamDhaVeKA, 250711, 17.30

    yen pas ndak ada apa-apa di rumah, ikan yang buat jatah kucing, tak maem…. hehehe….

  6. rirhikyu said: jiahhh koq makan jatah ayam siy, kasian ayam :Phmm aku makan pakan babilah di flores dulu, pepaya adalah makanan babi. orang sana ga ada yang mo nyentuh pepaya, walau manis sekalipunbtw, yang penting bisa makan aja dah bersyukur :)Aminnnnn—cuma yo koq ga ada yang ngasih tau samsek siy.. ckckckck, 3 minggu , kebangetan jg

    kalo kebo kasih spageti gimana ya Sist hehhehe….emang terlalu hehehe 😀

  7. sulisyk said: aku suka makan jatah makan kambing wong sukanya makan daun2an asal bukan daun pintu saja hehehe**jangan pernah berkecil hati, saya juga pernah mengalami ga punya duit sepeserpun untuk makan, untuk transport entah gimana caranya Tuhan selalu menunjukkan jalan disaat keadaan sangat kritis, ajaib memang, dan kejadian ini ga sekali dua kali. Mensyukuri apa yang kita peroleh adalah jalan menuju keadaan yang lebih baik**

    herbivor Om….sepakatdan Indah pada waktuNya…. dengan syukur…

  8. dhave29 said: Lantas apa yang bisa memuaskan lidah?. Sebuah rasa syukur masih ada yang bisa dimakan, rasa syukur lidah tidak sariawan, rasa syukur punya rasa lapar, rasa syukur buat nafsu makan dan rasa syukur karena Dia sudah memberi makanan kami yang secukupnya buat hari ini.

    Bersyukur, berterima kasih inilah yang bisa membuat apa yang kita makan jadi enak. Semoga mas selalu bisa menikmati makanan, rezeki yang diberikan pada hari ini secukupnya. GBU.

  9. hardi45 said: Bersyukur, berterima kasih inilah yang bisa membuat apa yang kita makan jadi enak. Semoga mas selalu bisa menikmati makanan, rezeki yang diberikan pada hari ini secukupnya. GBU.

    makasih Om Hardi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s