Pintar Kok Egois

Mungkin dibudaya kita kategori ”pintar” hanya untuk Paranormal. Tanpa diketahu apa latar belakang pendidikan dan kepakaran, orang sudah sepakat menyematkan Sang Dukun sebagai ”orang pintar”. Nah bagaimana jika bukan Dukun atau Paranormal tetapi orang biasa yang mendapat julukan pintar. Pintar dalam arti ini bukan bisa segala-galanya, namun hanya secuil kemampuan lebih yang orang lain tidak kuasai. Lewat lembaga pendidikan formal atau non formal biasanya ilmu tersebut diperoleh hingga menjadi pakar dibidangnya lalu mendapat julukan pintar.

Apakah teman saya yang sejak kelas 1 SD hingga 3 SMA selalu mendapat rangking 3 besar sudah dikatakan pintar, tentu saja boleh untuk bidang pendidikan. Bagaimana dengan seorang dosen yang sebentar lagi menggenggam gelar profesor yang sudah 3/4 usianya dihabiskan di bangku sekolahan apakah sudah layak disebut pintar. Pintar memang layak disematkan buat mereka yang mempunyai prestasi dibidang akademik formal, namun apakah hanya dari sisi akademin sebutan pintar itu layak disematkan?.

Simbah saya pintar membuat Gudeg yang lezat, namun Simbah hanya lulusan Sekolah Rakyat sampai tingkat 3. Atau PakDhe saya yang pintar membuat Bangunan, karena beliau hanyalah Tukang Kayu yang tak tamat SD. Lantas apa bedanya Teman saya yang selalu 3 besar rangkingnya, Dosen dengan gelar akademik yang tidak muat di KTP dengan Simbah dan Pakde saya, kalau sama-sama pintar. Bedanya anatar sekolah dan tidak, beda lagi di bidang kepakarannya sendiri-sendiri.

Dosen saya akan berkeringat dingin saat suruh masak nangka muda, begitu juga dengan Pakde saya akan pusing tujuh keliling disaat menemukan rentetan untaian DNA. Apakah layak disebut pintar seorang Dosen yang tidak bisa masak atau Anak rangking 1 yang suruh ngitung anggaran untuk membuat sebuah gapura. Pintar memang sangat relatif dan saat naif jika harus identik dengan bangku sekolahan formal. Orang mengatakan bisa karena biasa, ahli karena menekuni, dan cerdas disaat luwes menerapkan kepintaraannya.

Dosen saya yang pintar bukan main otaknya, lantas tidak mengajari sendiri anaknya dalam belajar, tetapi tetap menyekolahkan di sekolahan umum. Disaat pulang rumah, jatah les diserahkan kepada guru les-nya, bukankah dosen sudah pintar? mengapa harus menyekolahkan dan meng-less kan anaknya. Terjawab sudah, siapa yang pintar dan tidak…?, ini bukan masalah bodoh atau otak cemerlang, tetapi keluwesan dalam transfer ilmu.

Mungkin seorang Tukang akan sangat susah menjelaskan konsep yang ada di otak dia kepada simbah yang suka masak, begitu juga dengan dosen yang kelewat pinter akan susah menjelaskan untaian DNA kepada kuli bangunan. Andaikata kepintaran tersebut bersifat luwes maka akan dengan mudah ”transfer knowledge”, karena justru disitulah letak orang pintar. Keluwesan memang bakat alam ”talenta” tetapi tetap bisa dipelajari karena itu wujud manisfestasi budaya manusia.

Saya tidak yakin seorang profesor bisa mengajari anak ingusan untuk belajar membaca dan mengeja, tetapi hanya seorang ibu yang polos dengan pendidikan yang pas-pasan akan dengan mudah mengajari seorang anak kecil untuk belajar. Kepakaran memang memiliki pasarnya sendiri-sendiri, dan tidak perlu dan wajib semua orang tahu. Andai saja secuil dari kepakaran tersebut bisa dibagikan dengan cara yang pinter, yaitu dengan keluwesan dalam transfer ilmu, setidaknya bisa memberikan pencerahan khazanah pengetahuan kepada orang lain dan saling melengkapi. Pintar terkadang egois, sebab andai semua pintar tidak ada rangking 1, 2, 3 dan seterusnya, hanya mereka yang luwes dan mau berbagi yang sesungguhnya layak disebut pintar.

salam

DhaVe
Ka, 260711, 13:15

18 thoughts on “Pintar Kok Egois

  1. dhave29 said: Kepakaran memang memiliki pasarnya sendiri-sendiri, dan tidak perlu dan wajib semua orang tahu. Andai saja secuil dari kepakaran tersebut bisa dibagikan dengan cara yang pinter, yaitu dengan keluwesan dalam transfer ilmu, setidaknya bisa memberikan pencerahan khazanah pengetahuan kepada orang lain dan saling melengkapi. Pintar terkadang egois, sebab andai semua pintar tidak ada rangking 1, 2, 3 dan seterusnya, hanya mereka yang luwes dan mau berbagi yang sesungguhnya layak disebut pintar.

    setuju sangat, mas. kita yang paham soal ini harus membagikan pemahaman ini kepada orang-orang di dekat kita. jangan sampai pinter itu cuma bersifat “akademis” tapi ga tau hal lain. tiap orang punya talenta masing-masing. terima kasih untuk pencerahan dari mas dhave ^_^

  2. dhave29 said: Kepakaran memang memiliki pasarnya sendiri-sendiri, dan tidak perlu dan wajib semua orang tahu. Andai saja secuil dari kepakaran tersebut bisa dibagikan dengan cara yang pinter, yaitu dengan keluwesan dalam transfer ilmu, setidaknya bisa memberikan pencerahan khazanah pengetahuan kepada orang lain dan saling melengkapi. Pintar terkadang egois, sebab andai semua pintar tidak ada rangking 1, 2, 3 dan seterusnya, hanya mereka yang luwes dan mau berbagi yang sesungguhnya layak disebut pintar.

    Semua ada kapasitasnya masing2 sih…

  3. dhave29 said: Saya tidak yakin seorang profesor bisa mengajari anak ingusan untuk belajar membaca dan mengeja, tetapi hanya seorang ibu yang polos dengan pendidikan yang pas-pasan akan dengan mudah mengajari seorang anak kecil untuk belajar.

    aku setujuh iki hehehe,dadi yen pinter mbok yo dibagi2, jare ilmu ki ora ilang yen dibagi2 malah tambah

  4. dhave29 said: Saya tidak yakin seorang profesor bisa mengajari anak ingusan untuk belajar membaca dan mengeja, tetapi hanya seorang ibu yang polos dengan pendidikan yang pas-pasan akan dengan mudah mengajari seorang anak kecil untuk belajar.

    ntar.. nyambung antara judul dg isinya opo ya?benarkah pintar?egois di?

  5. dhave29 said: Saya tidak yakin seorang profesor bisa mengajari anak ingusan untuk belajar membaca dan mengeja, tetapi hanya seorang ibu yang polos dengan pendidikan yang pas-pasan akan dengan mudah mengajari seorang anak kecil untuk belajar.

    hehheh pakai hati ya mas dhave :p

  6. dhave29 said: Saya tidak yakin seorang profesor bisa mengajari anak ingusan untuk belajar membaca dan mengeja, tetapi hanya seorang ibu yang polos dengan pendidikan yang pas-pasan akan dengan mudah mengajari seorang anak kecil untuk belajar.

    hmm…tiap orang punya porsi masing-masing…yen durung tuwuk, isih entuk tanduk kok…πŸ˜€

  7. dhave29 said: Saya tidak yakin seorang profesor bisa mengajari anak ingusan untuk belajar membaca dan mengeja, tetapi hanya seorang ibu yang polos dengan pendidikan yang pas-pasan akan dengan mudah mengajari seorang anak kecil untuk belajar.

    laik dis

  8. m4s0k3 said: setuju sangat, mas. kita yang paham soal ini harus membagikan pemahaman ini kepada orang-orang di dekat kita. jangan sampai pinter itu cuma bersifat “akademis” tapi ga tau hal lain. tiap orang punya talenta masing-masing. terima kasih untuk pencerahan dari mas dhave ^_^

    kembali kasih….mari berkarya dan berbagi dengan sesama….

  9. wayanlessy said: saya selalu membayangkan ‘kepintaran’ seseorang itu seperti barcode yg mengidentifikasi otak..tipis tebal garis garis yg berjajarnya di area yg beda beda..

    hahaa…. yah,,, yah,,, boleh-boleh… lau di scaning di kasir dan tau berapa harganya,,,hehehenice idea….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s