Lidah Vs Usus dan Tubuh Taruhannya

Lidah memang tak pernah bohong, tetapi usus halus selalu jujur. Apakah hakekat orang makan, apa hanya sekedar kenyang, memanjakan lidah atau memberikan asupan nutrisi bagi tubuh. Rasa kenyang, memanjakan lidah, dan asupan nutrisi menjadi alasan kenapa harus makan. Tubuh ini memang sudah dirancang begitu hebatnya. Semua respon dari dalam tubuh dikirim ke otak lalu di lanjutkan ke tubuh. Saat lapar, mata berkunang-kunang, keringat dingin, badan lemes, perut keroncongan maka semua rangsang tersebut dilempar ke otak lalu ditendang ke organ lain supaya makan. Begitu rahang mulai mengunyah dan lidah merasakan nikmatnya makanan lalu lambung terisi, maka selesai sudah kerja otak dalam menyampaikan pesan singkat yang di akhiri kata ”stop” begitu kenyang

Lidah yang tak pernah bohong ternyata mampu membohongi usus, mengapa demikian?. Makanan yang dianggap enak oleh lidah ternyata membuat usus menjadi muntah, sebab ususlah yang bertanggung jawab memakan sari makanan untuk tubuh. Kenapa anda diare, apakah lidah bisa merasakan apa yang dimakan menyebabkan diare, tidak terpikirkan buka, sebab lidah hanya merasakan rasa. Berbeda dengan usus, saat makanan tidak bisa di cerna, diserap maka langsung dibuang begitu saja. Andai usus bisa berkata akan berbicara sambil menjulurkan lidah ”tidak enaaaakkk…”.

Lidah siapa yang tidak tergiur makanan lezat, tetapi apakah usus merasakan lezatnya makanan, jawabannya tidak tahu dan akan terjawab saat buang air besar. Apakah kriteria makanan yang lezat bagi usus, sudah pasti; mudah dicerna, diserap, tidak beracun. Gejalan diare menjadi indikator, makanan tidak bisa dicerna, diserap atau ada toksin, sehingga tubuh menanggapinya dengan langsung membuang mentah-mentah, nah kalau sampai diserap maka cilaka 13 yang punya usus.

Makanan yang mudah diserap, dicerna dan aman sangat disukai usus, namun apakah lidah juga suka, belum tentu. Tidak semua orang suka yogurt, tetapi yogurt adalah salah satu makanan yang mudah dicerna, diserap dan aman dalam takaran normal. Berbeda dengan pecinta kuliner yang berbau pedas, banyak daging, bumbu lengkap dengan hiasan garnis yang menawan. Perut kenyang selesai santap makan dan keesokan harinya dah bermenit-menit buang air besar karena diare.

Seperti apakah profil makanan yang baik? silahkan tanya ke ahli nutrisi dan kalau ingin bukti lebih janganlah tidur dihotel dan makan disana, tetapi menginaplah dirumah sakit dan makan makanan yang disediakan. Mana ada makanan dirumah sakit yang enak….? tetapi itulah profil makanan yang baik, mudah dicerna, diserap dan aman. Tidak mungkin mereka yang sakit diberi tengkleng, rujak cingur, kambing guling, dan lain sebagianya, sebab bisa mencret-mencret, darah tinggi dan atau penyakit lainnya.

Mengapa para atlet tidak boleh sembarang makan, mengapa para selalu sehat dan panjang umur? menjadi bukti nyata kenapa makanan sangat berperan penting. Dari makanan semua bisa dibuktikan, dan kondisi tubuh menjadi jawaban. Makanan tidak harus lezat dan nikmat, tetapi harus bergizi, mudah dicerna, diserap dan aman. Lidah memang tidak pernah bohong, tetapi usus juga selalu jujur. Nikmatnya makanan hanya sepangkal lidah, kecuali anda mahluk memamah biak yang mengeluarkan makanan untuk dikunyah kembali. Jangan bohongi usus hanya sekedar mengejar rasa lezat semata, tubuh menjadi taruhan pertarungan lidah dan usus.

Salam

DhaVe
ka, 190711,0749

20 thoughts on “Lidah Vs Usus dan Tubuh Taruhannya

  1. dhave29 said: Lidah yang tak pernah bohong ternyata mampu membohongi usus, mengapa demikian?

    lidah ga pernah bohongnya juga relatif kok, buktinya?? ada yang suka makan jengkol, menururt mereka rasa jengkol itu sedemikian lezatnya sehingga setiap hari harus makan jengkol, sementara yang lain baru mencicipi sedikit sudah muntah2 :))buat saya makanan yang too spicy, terlalu berbumbu seperti makanan di rumah makan padang itu enggak banget….

  2. dhave29 said: Lidah yang tak pernah bohong ternyata mampu membohongi usus, mengapa demikian?

    Sesekali makan yang kurang sehat tidak apa2, menurut saya. Asalkan tetap mengutamakan makan sehat dan olahraga teratur🙂

  3. sulisyk said: lidah ga pernah bohongnya juga relatif kok, buktinya?? ada yang suka makan jengkol, menururt mereka rasa jengkol itu sedemikian lezatnya sehingga setiap hari harus makan jengkol, sementara yang lain baru mencicipi sedikit sudah muntah2 :))buat saya makanan yang too spicy, terlalu berbumbu seperti makanan di rumah makan padang itu enggak banget….

    sekarang tinggal lidahnya siapa..?kata orang pedes itu nikmat..bagi saya itu bisa bikin kualat😦

  4. m4s0k3 said: Sesekali makan yang kurang sehat tidak apa2, menurut saya. Asalkan tetap mengutamakan makan sehat dan olahraga teratur🙂

    salah satu cara menjaga kesehatan.. sepakat Om..sepakat

  5. m4s0k3 said: Sesekali makan yang kurang sehat tidak apa2, menurut saya. Asalkan tetap mengutamakan makan sehat dan olahraga teratur🙂

    sebetulnya siapa sih yg merumuskan makanan itu enak/enggak? misal nih ya, dr kecil gak tau makan makanan yg tidak sehat, tentu makanan yg dimakan itu udah paling enak, misal makan byk sayur dan buah, dimasak minimal, lemak2an dan protein dr nabati. Kenapa ketika anak2 kita diharuskan makan daging2an katanya supaya pinter, bgtu 30an, stop gak boleh byk2 makan daging, akan lbh gampang kalo dr kecil udah dibiasakan gak komsumsi makanan trsebut.Nek temenku bilang, lidah ini wes kebablasan, keseringan ngerasain yg enak2, bgtu sakit , dan harus diet dan sbg, sudah susah utk merasakan makanan yg sehat2, yg cenderung hambar itu.

  6. pennygata said: sebetulnya siapa sih yg merumuskan makanan itu enak/enggak? misal nih ya, dr kecil gak tau makan makanan yg tidak sehat, tentu makanan yg dimakan itu udah paling enak, misal makan byk sayur dan buah, dimasak minimal, lemak2an dan protein dr nabati. Kenapa ketika anak2 kita diharuskan makan daging2an katanya supaya pinter, bgtu 30an, stop gak boleh byk2 makan daging, akan lbh gampang kalo dr kecil udah dibiasakan gak komsumsi makanan trsebut.Nek temenku bilang, lidah ini wes kebablasan, keseringan ngerasain yg enak2, bgtu sakit , dan harus diet dan sbg, sudah susah utk merasakan makanan yg sehat2, yg cenderung hambar itu.

    tidak jelas juga definisi enak… mungkin yang paling banyak di gemari atau apa ya….?lidah udah terkadung karatan Bu… katakanlah biasa makan nasi ngga makan sehari aja sudah meriang senin kamis, atau biasa makan pake sambel begitu ngga ada serasa bilang bumbu kurang garam… ah memang lidah tak bertulang…

  7. pennygata said: sebetulnya siapa sih yg merumuskan makanan itu enak/enggak? misal nih ya, dr kecil gak tau makan makanan yg tidak sehat, tentu makanan yg dimakan itu udah paling enak, misal makan byk sayur dan buah, dimasak minimal, lemak2an dan protein dr nabati. Kenapa ketika anak2 kita diharuskan makan daging2an katanya supaya pinter, bgtu 30an, stop gak boleh byk2 makan daging, akan lbh gampang kalo dr kecil udah dibiasakan gak komsumsi makanan trsebut.Nek temenku bilang, lidah ini wes kebablasan, keseringan ngerasain yg enak2, bgtu sakit , dan harus diet dan sbg, sudah susah utk merasakan makanan yg sehat2, yg cenderung hambar itu.

    jare simboku sluman slumun slametpiye jal, wis tak larang nganggo moto tetep ngototjare ilate wis gathok

  8. dhave29 said: Makanan tidak harus lezat dan nikmat, tetapi harus bergizi, mudah dicerna, diserap dan aman.

    Akhirnya memang kita makan agar hidup, bukan kita hidup untuk makan. Makan kita lakukan hanya agar kita jadi sehat, dapat hidup lebih baik, bukan untuk memanjakan lidah kita.

  9. hardi45 said: Akhirnya memang kita makan agar hidup, bukan kita hidup untuk makan. Makan kita lakukan hanya agar kita jadi sehat, dapat hidup lebih baik, bukan untuk memanjakan lidah kita.

    sepakat dengan Om HArdi…. lidah… semoga bisa memanipulasi hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s