Tamu adalah Raja antara Ada dan Tiada

Tamu adalah raja, sebuah pepatah berkata demikian, tetapi bagaimana jika dilihat dari status sosial dan latar belakang. Setiap tuan rumah pasti memiliki caranya sendiri-sendiri dalam menyambut dan menjamu tamunya. Begitu juga dengan tamu akan menilai yang empunya rumah. Ada banyak kecenderungan dan perbedaan yang dominan jika dilihat dari status sosial dan latar belakang tuan rumah untuk menggelar karpet merah bagi sang raja yang hendak bertandang.

Pernah suatu saat berkunjung disebuah daerah tandus, kering, sulit air dan terpencil. Seperti biasa, sapa warga yang hangat untuk membelokan arah jalan agar mau mampir sebentar. Entah sekedar basa-basi atau memang punya niat agar ada yang barang sebentar mampir dikediamannya. Akhirnya rumah berdinding papan, beratap genting yang mulai lapuk, beralaskan tanah yang keras menjadi tempat naungan yang nyaman. Begitulah mereka adanya, sebuah kultur di sisi selatan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Disaat bertatap muka didepan pintu, sambutan ramah dan jabat tangan menghampiri layaknya selembar karpet merah, kalungan bunga dan ”welcome drink”. Cuaca panas, kering saat diluar sana, menjadi sejuk disaat duduk sebuah ruang tamu berbentuk limas yang luas untuk ukuran rumah saat ini. Pembicaraan dengan tuan rumah belum dimulai, suguhan dan jamuan sudah mengalir. Teh panas menjadi minuman pembuka, lalu disusul dengan kacang tanah yang baru saja diangkat dari air mendidih dan camilan rempeyek kedelai. Pembicaraan semakin hangat lalu datang lagi menu selanjutnya, sebuah bebuahan dari pohon jambu dan kedongdong menghiasi meja untuk disantap. Tatap mata ini dikejutkan oleh sebuah botol kaca berwarna hijau dengan buih-buih soda yang menggoda disaat cuaca panas.

Jamuan belum berakhir, menjelang pamitan pulang, pergelangan tangan ini dipegang tuan rumah sembari berkata ”ayo makan”. Sangat tidak menghargai tuan rumah jika harus menolak ajakan untuk bersantap makan. Di bale-bale beralaskan tikar, ”amben” biasa disebut, sepiring ayam goreng, nasi hangat dalam ”entik” bakul bambu, semangkuk sayuran, dan berlembar-lembar kerupuk, tidak lupa air dalam kendi menjadi ciri khasnya. Makan sudah usai, perut kenyang dan bersiap untuk pulang.

Mata mencoba mengamati, dari mana asal semua makanan lezat tersebut dari rumah yang sangat sederhana. Tidak ada kulkas yang menyedianakan soft drink, dan bebuahan, tak ada dapur yang bagus untuk memasak ayam goreng, atau tumpukan kacang tanah yang habis dipanen dari ladang. Tidak ditemukan dari mana asal makanan lezat tersebut, yang terlihat hanya ”pawon” tungku yang masih menyisakan bara api dan kepulan asap. Pertanyaan berhenti disana dan saatnya berpamitan pulang dan menghaturkan banyak terimakasih untuk jamuannya.

Saatnya mengunjungi teman didaerah yang dianggap mapan, dari sisi geografis, ekonomi dan kemajuan daerahnya. Rumah yang cukup mewah, dan perlengkapan luxs menghiasi tiap sudut rumah. Berkali-kali bel dipencet dari luar pagar, namun tak ada jawaban dari penghuninya. Akhirnya sisa pulsa yang tinggal ratusan perak terpaksa dipertaruhkan untuk menelpon tuan rumah, bahwa ada tamu sudah sampai di pagar rumah. Tak ada sambutan, hanya ”say hello” dengan celana pendek dan kaos, sembari mempersilahkan duduk diteras rumah. Tidak ada yang istimewa yang disuguhkan, kecuali segelas air mineral dan beberapa biji kembang gula dalam setoples.

Sesaat memohon ijin tuan rumah untuk numpang di kamar mandi. Maka layaknya pejabat, perjalanan ke kamar mandi dijaga ketat dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dimeja makan, wow banyak sekali makanan, dan kulkas besar sepertinya berjejal penuh isinya, dengan bebuahan, aneka minuman, dan makanan-makanan lainnya. Dapur mewah dengan perlengkapan masak yang komplit sepertinya pas untuk membuat sepiring makanan. Tidak tahu mengapa, seolah ada yang menarik pergelangan tangan dan sebuah kata lembut mampir ditelinga ”ayo pulang”, ”apa ayo makaan..?, ”bukan ayooo pulang..!!!”.

Kaki gontai melangkah berpamitan pulang, dan selangkah dari teras pintu ditutup rapat sambil berteriak ”jangan lupa pagar dikunci sekalian”. Ingin rasanya kembali ke Gunung Kidul, didaerah tandus namun ramah dalam menyambut raja tanpa rakyat. Tidak ada hidangan, dicoba diada-adakan, tidak ada suguhan namun diimbangi kehangatan, tak ada jamuan namun ditarik dengan ajakan makan dan tak ada kemewahan, namun sambutan dan keramahan sudah lebih dari cukup.

salam

DhaVe
Lab, 180711,08:15

19 thoughts on “Tamu adalah Raja antara Ada dan Tiada

  1. Duh, mikir mau komen, MasBetapa pemikiran manusia moderen kadang sangat jauh dengan amsyarakat pedesaan. Nggak ada euh pakewuh atau apalah namanya. Di kota2 besar, kita sering menjumpai yang serupa kejadian terakhir, tapi untuk kejadian pertama, maha suci Allah, sungguh ketulusan dari sebuah kesederhanaan. Luar biasa!

  2. anazkia said: Duh, mikir mau komen, MasBetapa pemikiran manusia moderen kadang sangat jauh dengan amsyarakat pedesaan. Nggak ada euh pakewuh atau apalah namanya. Di kota2 besar, kita sering menjumpai yang serupa kejadian terakhir, tapi untuk kejadian pertama, maha suci Allah, sungguh ketulusan dari sebuah kesederhanaan. Luar biasa!

    enak kan hidup di desa…. dimuliakanlah tamu

  3. rembulanku said: wih wih…. cepake gilingan molen*kanggo kulit pastele*

    Bapa juga menyadari keramahan orang-orang kecil di kampung. Paling tidak itu yang bapa alami kalau pulang kampung atau menemui kenalan-kenalan di dusun di daerah Yogya dan sekitarnya. Tetapi memang ketika kita di Jakarta menerima tamu, sulit sekali berbuat seperti mereka. Keterbatasan pendapatan, waktu dan kesempatan membuat kita agak “zakelijk”. sulit berbasa basi. Yang kita suguhkan ya cuma yang ada yaitu air putih. Nyamikan? Kita juga jarang berkesempatan menikmatinya di rumah. Yah …… memang memprihatinkan.

  4. hardi45 said: Bapa juga menyadari keramahan orang-orang kecil di kampung. Paling tidak itu yang bapa alami kalau pulang kampung atau menemui kenalan-kenalan di dusun di daerah Yogya dan sekitarnya. Tetapi memang ketika kita di Jakarta menerima tamu, sulit sekali berbuat seperti mereka. Keterbatasan pendapatan, waktu dan kesempatan membuat kita agak “zakelijk”. sulit berbasa basi. Yang kita suguhkan ya cuma yang ada yaitu air putih. Nyamikan? Kita juga jarang berkesempatan menikmatinya di rumah. Yah …… memang memprihatinkan.

    Memprihatikan, semoga kita bisa banyak belajar dari meraka yang didesa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s