Berhentilah Jika Sudah Sampai

Sungai kotor, tercemar, berbau busuk dan penuh dengan polutan menjadi tujuan kami untuk melakukan riset. DAri hulur hingga hilir, kami mencoba munyusir dari tepian, hingga acapkali harus menyeberang disaat menemui jalan buntu. Resiko terpeleset, basah kuyup hingga ancaman sakit gatal-gatal adalah konsekwensi logis yang harus diterima menjadi suatu kenyataan. Bertemu dengan penjaga bendungan hingga hampir saja diajak baku hantam, karena curiga pada kami dengan peralatan laboratorium dan tindakan kami yang tidak wajar. BErdebat dengan penjaga temapt-tempat yang dianggap sakral, harus kami lakukan demi mendapatkan sampel air walau badan merinding juga mendengar cerita-cerita mistis yang sering terjadi. Resiko dari sebuah kajian ilmiah untuk mengungkap ada apa dibalik sungai yang dulu jernih sekarang seolah menjadi tidak layak lagi.

Dengan 4 sepeda kami mencoba kembali menyusuri sungai-sungai lewat jalan raya. Dengan panduan peta dan GPS kami mencoba menemukan titik-titik pertemuan sungai dan anak sungai kemudian kami teliti dan ambil sampel. Dari jalan raya, kami masuk lewat jalan setapak dan disaat sudah tidak ada jalan, terpaksa kami menuntun bahkan memanggul sepeda hingga tepian sungai. Ditepian sungai kembali ritual kami lakukan; ploting lokasi dengan GPS, keluarkan pH meter, botol-botol sample, dan semua bekerja dengan tugasnya masing-masing. Seperti anak kecil yang sedang mainan air, tetapi inilah kami. Resiko terpeleset dan terbawa arus sudah biasa, kaki nginjak pecahan kaca menjadi hal yang wajar hingga jari jemari beradu dengan bebatuan.

Sekian banyak titik sudah kami ambil contoh air, hewan air, tanaman hingga tanah yang nantinya akan kami eksekusi dilaboratorium untuk mendapatkan jawaban. Saatnya kembali ke laboratorium yang menjadi titik awal perjalanan kami. Jarak hampir 40km versi GPS dengan kontur jalan menurun sangat membuat kami semangat untuk mengawali perjalanan hingga kek titik-titik tujuan. Kebut-kebutan dijalanan sepi dengan sepeda kami lakukan dengan saling mendahuli. Seperti saat masa kecil bermain sepedaan dengan teman-teman, tetapi ini bermain, belajar, bekerja, berolahraga serta menyalurkan hobi bersepeda.

Saat pulang adalah kekawatiran bagi kami, karena sudah terlena saat berangkat dengan jalan menurun. Tanjakan siap menanti kami, dengan matahari yang sudah condong kebarat. Dengan susah payah coba kami kayuh dan hasilnya tetap sama saja, kamu turun dan menuntun sepeda berkilo-kilo meter setiap ada tanjakan. Beban dipunggung berisi sampel dan peralatan lab membuat semakin berat dan harus ekstra hati-hati. Tidak terhintung berapa banyak kami mampir diwarung, atau hanya sekedar meluruskan kaki dan menaruh pantat serta mengambil dalam-dalam oksigen. Yang ada dikelapa, hanya mikir, kapan bisa sampai, bahkan sempat terbesit di pikiran kami untuk naik truk atau angkutan. Mental kami yang di uji untuk menyelesaikan perjajalan ini. Setelah hampir 10 jam mengayuh sepeda dan menysusuri sungai, sampai juga di tujuan. Kami berpisah untuk kembali kekost kami masing-masing, istirahat dan keesokan harinya kembali berkutat dilaboratorium. Sebagian perjalanan sudah selesai, namun didepan sana masih jauh terbentang jalan yang harus kami lalui. Sebuah kata bijak, menjadi asa kami “berhentilah jika sudah sampai”.

Thanks: Jesus Christ, Pak RObert, Samuel dan Krist.

Salam
Dhave

26 thoughts on “Berhentilah Jika Sudah Sampai

  1. dhave29 said: Bertemu dengan penjaga bendungan hingga hampir saja diajak baku hantam, karena curiga pada kami dengan peralatan laboratorium dan tindakan kami yang tidak wajar.

    sering banget ya kejadian seperti ini, mereka seperti merasa terintimidasi oleh kehadiran kita, seoalh-olah kita hendak memata-matai mereka dan membuat reportase buruk..

  2. dhave29 said: Bertemu dengan penjaga bendungan hingga hampir saja diajak baku hantam, karena curiga pada kami dengan peralatan laboratorium dan tindakan kami yang tidak wajar.

    beli sepeda lipat aja om… bisa dilipat rus naik angkot kalo capek

  3. sulisyk said: sering banget ya kejadian seperti ini, mereka seperti merasa terintimidasi oleh kehadiran kita, seoalh-olah kita hendak memata-matai mereka dan membuat reportase buruk..

    begitulah ceritannya. tanpa sadar anak mereka juga sekolah dan bagaimana jika ana mereka diperlakukan seperti orang tuanya memperlakukan anak sekolahan seperti kami. Karma tetap ada..

  4. anazkia said: Eh, heheheeJadi ngekek, “oyi, saya lagi di lapangan. penelitian hehehe”Jangan2 bales SMS itu sambil ngeggoes sepeda, atau sambil nyemplung ke aer😀

    hahaha…tau ajah….. tapi yang namanya SMS wajib di baca dan dibalas apapun kondisinya,selama memungkinkan untuk dibalas. SMS yang walau satu dua kata adalah pesan, amanat, dan menjalankan pesan, amanat serta membalasnya adalah salah satu ibadah. Mungkin yang disana berharap-harap dan berdoa agar segera sms dibalas, nah dengan membalas sms menjadi salah satu cara menjawab doa-doa dan Tuhan pun tersenyum hehehhe :Dkemarin gak nemu genjer…udah mati kena limbah hahaha😀

  5. dhave29 said: hahaha…tau ajah….. tapi yang namanya SMS wajib di baca dan dibalas apapun kondisinya,selama memungkinkan untuk dibalas. SMS yang walau satu dua kata adalah pesan, amanat, dan menjalankan pesan, amanat serta membalasnya adalah salah satu ibadah. Mungkin yang disana berharap-harap dan berdoa agar segera sms dibalas, nah dengan membalas sms menjadi salah satu cara menjawab doa-doa dan Tuhan pun tersenyum hehehhe :Dkemarin gak nemu genjer…udah mati kena limbah hahaha😀

    Baru kali ini ada yang menjawab dan membahas jawaban SMS dengan alasan yang bisa diterima, jadi inget nasib diri yang selalu fakir miss call dan jarang banget balas SMS :DLahhh, kok sekarang yang ngefans genjer jadi sampeyan tho?😛

  6. anazkia said: Baru kali ini ada yang menjawab dan membahas jawaban SMS dengan alasan yang bisa diterima, jadi inget nasib diri yang selalu fakir miss call dan jarang banget balas SMS :DLahhh, kok sekarang yang ngefans genjer jadi sampeyan tho?😛

    nah loh ketauan nie… makane gak terbit-terbit… lha jawab doa-doa lewat SMS aja jarang… balas dulu tiap ada pesan..baru dah Tuhan kasih sentilan pada penerbit buat mencet tombol “print 10.000.000 copy” hehehe….dari genjer aku tahu +601 adalah negeri jiran hhahahaha😀

  7. dhave29 said: nah loh ketauan nie… makane gak terbit-terbit… lha jawab doa-doa lewat SMS aja jarang… balas dulu tiap ada pesan..baru dah Tuhan kasih sentilan pada penerbit buat mencet tombol “print 10.000.000 copy” hehehe….dari genjer aku tahu +601 adalah negeri jiran hhahahaha😀

    HUaaaaaaaaaaaaaa….Mas Dhave mau saya buka2an tentang penerbitan?Nanti, nanti saya ceritain kalau dah terbit…Aku muak sama penerbit itu :((

  8. anazkia said: HUaaaaaaaaaaaaaa….Mas Dhave mau saya buka2an tentang penerbitan?Nanti, nanti saya ceritain kalau dah terbit…Aku muak sama penerbit itu :((

    ditunggu PMnya apa obrolannya hehehe..tapi jangan suruh telp +60 yah.. mahal..gak kuat akuh hehhehe musti jual genjer dulu yang bebas e coli ke eropa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s