Bisa Rumangsa atau Rumangsa Bisa

Kisruh mencari kapten dijajaran PSSI, ribut mencari teroris hingga insiden salah tembak, galau mencari penggelap dana wisma atlet, hingga isu gempa dasyat di ibu kota. Semua orang membicarakan apa yang terjadi di negeri ini. Layaknya melihat drama, dagelan, arena bermain atau uji nyali saat melihat fenomena yang ada. Manusia memang aneh dengan beraneka ragam kelakuannya. Apabila dirunut ujung pangkalnya, maka rasa adalah bagian paling tepi yang mendasari itu semua.

Dari rasa semua bisa terjadi, baik hal positif ataupun negatif. Rasa telah mengacaukan semuannya, tetapi dari rasa semua bisa dikendalikan. Awal manusia masuk dalam jurang dosa disaat dua anak manusia memakan buah larangan, tetapi karena rasa pula semua bisa terhadi. Memang rasa diciptakan Tuhan untuk membedakan dengan ciptaan lainnya, namun acapkali rasa itu dipermainkan begitu saja tanpa melihat efek yang ditimbulkan.

Berawal dari rasa manusia itu tercipta. Sepasang sejoli yang dimabuk asmara, atau menikmati malam pertama maka timbulah rasa. Rasa dari dua jenis kelamin berbeda menjadikan awal manusia itu ada. Tanpa rasa mustahil manusia itu ada, walaupun dengan teknik bayi tabung, sebab ada rasa menginginkan kehadiran seorang anak manusia. Berkat rasalah kita semua ada dan terlahir didunia sebagai anak manusia.

Manusia tumbuh berkembang dan belajar tentang kehidupan. Maka rasa itu muncul kembali disaat manusia menemukan kemampuan dirinya. Kemapuan dalam wujud bakat atau kelebihan dirinya acapkali timbul rasa ”merasa”. Ekspresi ”merasa” merupakan perwujudan manusia merasa bisa, mampu atau ahli. Jika sudah mencapai tahap ”merasa” maka itulah puncak dari manusia atas kemampuannya, sehingga apapun dilakukannya. Yang berwatak baik maka akan berjalan dikoridor yang berpayungkan etika, sedangkan yang buruk akan menjadi monster yang ”adigang, adigung dan adiguna”.

Merasakan atau jika diistilahkan dalam bahasa jawa ”rumangsa bisa” menjadi momok saat ini yang menakutkan. Kekacauan yang terjadi disaat semua ”rumangsa bisa tanpa ngaca”, atau merasa bisa tanpa berkaca. Dengan kemampuan dan kekuasaan, maka semua akan dilakukan walau harus berdiri dan menginjak norma-norma yang ada. Sebuah tahapan terberat dalam siklus kehidupan manusia saat berada diposisi ”rumangsa bisa”.

Disaat manusia sudah puas atau terbentur dengan kemampuannya barulah rasa itu berubah menjadi ”bisa rumangsa”. Bisa merasakan atau bila diterjemahkan menjadi sebuah rasa bisa menyadari. Manusia sadar apa yang telah diperbuat atau apa yang akan menjadi kehendak. ”bisa rumangsa” menjadi titik balik bagaimana manusia itu mempunyai rasa hakekatnya manusia. Kini ”bisa rumangsa” menjadi ”pameling, pameleh, pambagyo dan panggulo wentah”. Untuk menjadi ”bisa rumangsa” bisa tidak harus beruban dulu rambutnya, tetapi belajar dari apa kata hati, sebab semua rasa ada disana.

Dari rasa, lalu merasakan ”rumangsa bisa” hingga ”bisa rumangsa” sebuah perjalanan hidup manusia yang bisa dicampur aduk dalam aneka rasa. Berdiri dan berbuat dengan rasa apa harus ”bisa rumangsa” untuk menekan ”rumangsa bisa” agar semua baik adanya. Selamat berakhir pekan, mari rasa ini biar menjadi ”bisa rumangsa” agar tidak menjadi budak ”rumangsa bisa”.

salam

DhaVe
kk22052011, 08.00

10 thoughts on “Bisa Rumangsa atau Rumangsa Bisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s