Rasa Memang Membodohi

Berkaitan dengan rasa, adalah suatu yang sulit sekali dilogika atau dirumuskan. Rasa tidak bisa diukur, digambarkan, namun bisa diekspresikan. Jadi jangan salah, setiap ekspresi yang muncul adalah ungkapan dari sebuah rasa. Namun, bagimana dengan rasa memiliki ”sense of belonging”, yang setiap saat menjadi bumerang jika tidak dikendalikan dan disertai tanggung jawab. Rasa yang kebablasan, acapkali menimbulkan kerugian bahkan korban, namun rasa tetaplah rasa.

Bonek atau Holigan, adalah sebuah kelompok pendukung sepak bola. Rasa memiliki yang begitu besar, hingga menjurus fanatik begitu terlihat disaat tim kesayangannya bertanding. Naik kereta barang, truk bak terbuka, jalan kaki hingga berlayar ratusan KM dilakoni demi mendukung tim kesayangannya. Tidak peduli dengan dirinya, yang penting adalah timnya. Urusan ribut, bentrok adalah konsekwensi logis disaat timnya diciderai. Rasa memiliki yang berlebihan, yang menjurus fanatisme membuat Bonek atau Holigan rela berkorban apa saja, asal bisa mendukung tim kesayangannya. Fanatisme telah membutakan logika dan akal sehat, namun itu kembali ke rasa.

Jangan salahkan teroris, dengan prilakunya yang membuat gusar masyarakat. Cuci otak dan doktrinasi untuk fanatik terhadap ajaran tertentu telah membuat orang yang polos menjadi segarang pelaku bom bunuh diri. Rasa memiliki yang kelewat batas tersebut, membuat mereka rela menarik detonator bom yang melekat dibadan mereka. Tidak ada pikir panjang lagi untuk melakukan martir atas nama ajaran, yang ada adalah menjalankan doktrinasi yang terlanjur fanatik.

Memang rasa tidak penah bohong, yang ada adalah kejujuran akan sebuah ekspresi yang dimanifestasikan dalam tindakan. Menumbuhkan rasa, apalagi memiliki memang susah-susah gampang, namun jika sudah merasuk, hilang sudah akal sehat ini. Tidak tahu mengapa, bawaanya senang dan tanpa beban walau acapkali menjadi korban bagi diri sendiri. Rasa sesal pasti ada, namun itu hanya babak akhir dari sebuah episode ”sense of belonging”. Rasa memiliki yang menjurus fanatisme tidak selamanya mengarah yang negtif dan tidak baik, dengan arah tujuan yang jelas semuan akan baik adanya.

Berlari dilapangan hijau selama 2×45 menit, kaki remuk redam, pulang masih pijitan, kena tagihan sewa lapangan dan hati tetap senang. Nah itulah ”sense of belonging” sesaat bisa menikmati rasa memiliki. Tidak peduli badan remuk, dompet kosong, yang penting senang dan puas. Rasa ini telah membutakan akal sehat, dan menimbun perhitungan matematis dengan rumus untung ruginya. Kata menyesal mungkin hanya penutup dari sebuah episode saja, disaat cidera atau tidak bisa main, selepas pulih memulai episode baru lagi.

Rasa ini membodohi dan bikin bodoh, entah mengapa banyak kaum muda yang dibodohi dengan embel-embel rasa untuk memiliki. Kaum terpelajar dengan mudah sekali diracuni rasa, tanpa pertimbangan logika. Rekruitmen ala NII dengan iming-iming rasa dan idealisme, yang menumbuhkembangkan fanatisme berbuah perlawanan. Rekruitmen teroris dengan doktrinasi untuk menjadi ”martbom” yang berbuah pada anarkisme. Rasa yang ditanam berbuah manis fanatisme, apabila yang ditabur akal sehat berbuah pengetahuan, namun perpaduan rasa dan akal sehat menumbuhkembangkan seni dan ilmu pengetahuan, jika dibumbui akhlak, jadilah pencerah.

Salam

DhaVe
KK020511, 18:45

24 thoughts on “Rasa Memang Membodohi

  1. dhave29 said: Memang rasa tidak penah bohong,

    memang rasa tidak pernah bohong dan gak bisa dibohongi…dan kadar ambang rasa tiap orang beda-beda….**rasa pedes, mau dibilang ga pedes, yo tetep pedes…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s