Minimarket yang Tumbuh seperti Gulma di Tiap Kecamatan

2 minggu waktu pulang kampung, lahan disebelah kiri rumah nampak lengang, hanya nampak Agerantum, Cromolena atau Mimosa yang tumbuh liar. Ada slentingan, lahan tersebut hendak dibuat minimarket, namun hanya sebatas angin lalu saja. 2 minggu berlalu akhirnya waktunya balik kampung, namun tanaman gulma yang tumbuh dilahan sebelah rumah sudah menjadi halaman ber-paving dan bangunan. Lahan yang dulu teronggok sepi, kini sudah hinggar bingar karena sudah berdiri minimarket. Dalam waktu 14 hari sudah mengubah segalanya, lahan tidak produktif kini menjadi lumbung duit pengusaha minimarket.

Minimarket yang ada saat ini dengan 2 nama besar menjelma sebagai penguasa baru kaum terpaksa, prestise dan praktis. Hampir setiap kecamatan sudah dipastikan berdiri ”maret-mart” yang menjajakan segala kemudahan. Jangankan kecamatan, kampus ditempat saya mengais ilmu juga ada, dah luar biasa sekali jangkauan minimarket tersebut. Apa yang menjadi keistimewaan toko swalayan kecil tersebut dan kenapa begitu laris manis layaknya jual petasan menjelang hari raya.

Toko swalayan dengan memberikan kemudahan, dalam memilah, memilih dan membayar. Beragam jenis barang tersedia dengan aneka merk, bermacam fasilitas bayar tunai, debit atau kredit juga dilayani. Pelayanan ekstra ramah, ruang bersih dan terang, penataan barang yang rapi dan mudah dicari. Lokasi yang strategis, area parkir cukup memadai, jam buka yang luar biasa panjang hingga 24 jam, up date barang yang selalu ada. Segala kemudahan yang ada menjadi daya tarik mengapa datang kesana, walau hanya membeli sabun atau sebungkus es krim.

Masalah harga, jangan tanya, mampu bersaing dengan toko-toko kecil atau grosir. Bersaing dalam artian mahal-mahalan, atau minimal mematok harga eceran tertinggi. Saya mungkin berfikir ulang kali untuk membeli, diwarung swalayan modern tersebut, karena pengalaman pahit saat sedang sakit. Sudah badan sakit, duit tinggal sedikit, kondisi pailit dan paceklik, eh begitu beli obat rasanya tercekik. Biasa saya beli sirop sachet anti masuk angin diwarung seharga 1500 perak, begitu masuk toko modern, duit 5000 cuma dapat dua biji. Sesek rasanya melihat betapa mahalnya, namun itulah pasar yang menjual permainan terpaksa ”siapa yang butuh mari sini”. Andai ada warung 5000 perak dapat 3 bungkus sisa 500 perak, itu saja diambilkan penjulanya dan saya tinggal omong doank.

Dari pengalaman tersebut, sekarang mencoba manjadi juru taksir dalam berbelanja, jika amat sangat tidak terpaksa, harus jalan sebentar ke warung kecil untuk harga yang terjangkau. Kebetulan dirumah punya warung kelontong, jadi tahu estimasi harga dari grosir berapa, lalu dijual kekonsumen dengan harga pasaran berapa. Katakanlah untuk minuman isotonik, per botol ukuran 600ml dari grosir 4500perak, lalu dujual kekonsumen 5000perak, nah di swalayan sebelah sudah 6100 perak.

Besarnya biaya produksi dan investasi yang ada menjadikan harga dibuat sedikit naik dari harga normal. Konsumen yang lagi-lagi menjadi korban permainan harga tersebut. Untuk sebuah toko kelontong, cukup 1 atau 2 karyawan dengan peralatan seadanya, sedangkan swalayan mini minimal 3 orang karyawan, mesin hitung, pajak, beban listrik, dan masih banyak lagi beban oprasional. Swalayan mini kini berlomba menarik konsumen bagaimanapun caranya, dengan iming-iming diskon, keanakeragaman produk hingga sapa ramah pegawainya. Harga mahal yang harus dibayar, tetapi mau bagaimana lagi, semua butuh layaknya simbiosis mutualisme. Segmen warung dan toko tetap terjaga, karena beberapa produk tidak dijual di minimarket, selain dengan harga miring dan bisa utang.

Keputusan ada ditangan konsumen yang memegang duit dan butuh. Kata ”bijak dan konsumtif” sudah usang digerus kebutuhan, yang penting ada uang ada barang, maka saya beli, soal harga nanti saja. Bagi mereka yang masih memegang prinsip ekonomi ala pelajaran saat di bangku SMP, akan berpikir ulang dalam berbelanja dan berhati-hati dalam membayar sebuah harga. Semua ada pasarnya, semua punya target dan strateginya, siapa yang kalah dan menang, itu bukan urusan, yang penting tetap bertahan dan ada pelanggan.

Salam

DhaVe
KA, 230411, 15:00

4 thoughts on “Minimarket yang Tumbuh seperti Gulma di Tiap Kecamatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s