Berkorban Tanpa Ada Korban

Sudah seminggu lebih paska ledakan bom di Masjid Mapolresta Cirebon. Pelaku bom bunuh diri juga sudah diketahui, dan sudah dimakamkan, walau jenazahnya ditolak untuk dikebumikan di Cirebon. Seminggu berlalu, namun rentetan teror bom masih saja berlangsung dan terus mengancam. Sasaran kini bukan lagi warga asing, namun pemerintahan, gedung ibadah dan fasilitas umum. Apa makna sebua dibalik teror dan siapa dalang dibalik itu yang seolah resah dengan keadaan yang ada.

Ancaman bom kemarin di Serpong yang mengancam pipa gas Pertamina dan sebuah Gereja. Menyelam sambil minum susu jahe sepertinya, sebab jika semua terjadi, negara rugi akibat asetnya rusak, Polisi kalang kabut, Gereja terpaksa urung mengadakan kegiatan ibadah. Kini rakyat kecil seolah menjadi sasaran dari teroris, dengan menciptakan keresahan-keresahan. Umat islam berpikir dua kali jika harus sembahyang dimasjid komplek Kepolisian, begitu juga umat Kristiani yang was-was karena setiap saat menjadi sasaran empuk.

Kenapa semua ini terjadi?, apakah ibadah sambil dikawal aparat keamanan menunjukan kebebasan dan keamanan menjalankan ibadah. Hendak masuk ruang ibadah harus melewati beberapa kali pemeriksaan, seolah ada kejanggalan dari adat yang ada, namun inilah SOP yang ada demi kebaikan bersama. Hampir semua sudut tempat ibadah disisir aparat untuk memastikan semua aman, begitu juga dikawasan luarnya.

Menjelang Paskah yang dimaknai sebagai pengorbanan dan ketulusan. Paskah tidak hanya milik umat Kristiani jika dimaknai secara mendalam. Umat Islam rela menyisihkan harta untuk kaum duafa, terlebih lagi saat idul Adha, semua berkorban untuk mereka yang kurang beruntung. Umat Budha lewat ajaran Sidharta mengajarkan pengorbanan welas asih bagi kaum papa. Umat Hindu harus mengalahkan hinggar bingar kehidupan untuk sesaat Nyepi, dengan mengorbankan keduniawian. Umat Kristiani lewat pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib untuk keselamatan umatNya, diajarkan bagaimana harus berkorban dengan penuh ketulusan.

Ditengah kondisi yang carut marut dengan ancaman teroris dimana-mana masih saja ada yang memanfaatkan situasi yang ada. Rakyat yang merintih kelaparan, meringis kesakitan atau menggelandang tanpa tempat tinggal, disana wakil rakyat masih ngotot membuat gedung baru. Disaat pemerintah menggemborkan penghematan dan efisiensi dan rakyat menjadi targetnya, tetapi anggota legislatif malah menghamburkan anggaran untuk bertandang di negeri seberang untuk studi banding. Seniman yang digencet dengan undang-undang pornografi dan rakyat harus taat, namun yang terhormat di Gedung DPR asyik nonton film syur dan mainan syafwat seenak usus mereka.

Mungkin teroris perlu melek berita juga, siapa yang mereka ancam dan teror. Apakah salah Polisi yang seharian ditanam dengan rutinitas yang membosankan?, apakah keliru jika umat bergama bersembahyang ditempat ibadah, ada apa dengan fasilitas negera yang menghidupi hajat hidup orang banyak. Apakah benar juga mereka yang menyuruh rakyat mengencangkan ikat pinggang, tetapi yang menyuruh malah ikat pinggangnya putus tak mampu menahan kekuasaan, uang dan wanita. Apakah benar juga mereka yang berfoya-foya dengan fasilitas negara yang tidak mikir bagaimana rakyat kenyang, sehat dan hidup layak.

Lewat momment Paskah, kiranya sedikit merenung bagaimana harus berkorban dengan ketulusan. Idul Adha berkorban tanpa mengorbankan orang lain, Sidharta merelakan dirinya turun dari nikmatnya keduniawian, Umat Hindu menyingkir dari gemerlapnya kehidupan untuk sesaat menyepi, dan Yesus Kristus mengorbankan diri untuk umatnya. Sebuah contoh bagaimana berkorban dengan ketulusan tanpa mengorbankan orang lain. Bom meledak, semua menjadi korban, tak ada bedanya dengan mereka yang masih nikmat berjalan diatas puing-puing penderitaan rakyat. Teroris berjas rapi, bertebaran dimana-mana sambil membawa ancaman dan bom waktu. Saat meledak semua bisa menderita. Mari berkorban dengan penuh ketulusan untuk sesama, tanpa menimbulkan korban. Salam Paskah

Salam

DhaVe
KA, 230411, 06:45

Advertisements

16 thoughts on “Berkorban Tanpa Ada Korban

  1. njenengan meryakan Paskah mas? kalau iya, saya dengan damai mengucapkan selamat merayakan Paskah, selamat memperingati Tri Hari suci sebagai momen peringatan sebagai kesiapan kita rela berkorban (sacrifice) tanpa korban (victim)..sayang sekali kebanyakan orang tidak bisa membedakan sacrifice dan martirdom…

  2. bimosaurus said: njenengan meryakan Paskah mas? kalau iya, saya dengan damai mengucapkan selamat merayakan Paskah, selamat memperingati Tri Hari suci sebagai momen peringatan sebagai kesiapan kita rela berkorban (sacrifice) tanpa korban (victim)..sayang sekali kebanyakan orang tidak bisa membedakan sacrifice dan martirdom…

    terimakasih Om…Bimo..makasih..makasih….. :Dsalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s