Warkop, Soentoek ,Nol9 di Rumah Tua dalam Bingkai Keindahan


Puji syukur kepada Tuhan dan terimakasih kepada teman-teman, itu yang bisa diungkapkan pada saat penutupan pameran fotografi. Diawali dengan rasa deg-degan menjelang tanggal 4, April pembukaan pameran, sebab baru tanggal 1 foto dari Malang sampai. Hanya efektif 2 hari kerja untuk mencari tempat, ijin dan publikasi. Akhirnya dengan segala cara dan memanfaatkan apa yang ada, pembukaan pameran Fotografi dilakukan.

Tanggal 4 dan 5 adalah pameran di Kampus Universita Kristen Satya Wacana, Salatiga dan sebagai penyelanggaranya adalag Fakultas Teknologi Informasi dengan Komunitas “Soentoek”fotografi yang digawangi dosennya langsung, Anthony Tumimomor S.Kom. Pameran dengan mengambil tema “Keindagan di Rumah Tua” dengan symbol foto seorang nenek yang menjenguk lewat jendela. Aksen wajah nenek dan ornamen jendela yang terkesan tua menambah kuat karakter dari pameran ini. Dilakukan disebuah gedung tua di samping Kantor Fakultas FTI, yang sebenarnya hendak direnovasi. Atas permintaan dari pak Anthony, maka renovasi bagian dalam diurungkan selama 2 hari sebab untuk lokasi pameran.

Tembok rapuh, dinding kusam dan cat yang mengelupas menambah suasana semakin mendukung dengan konsep acara. Lokasi peletakan foto sudah diatur dengan membentangkan kawat didinding, yang kemudian dijadikan tempat pengait frame demi frame foto. Sudah layaknya seorang dosen Disain Komunikasi Visual yang satiap hari bermain dengan komposisi dan art, mana akan begitu mudahnya meletakan foto agar pas dari segalam macam sudat pandang. Ada sekitar 159 foto yang dipamerkan dalam acara ini, dengan komposisi 110 dari warkop dan 49 dari Komunitas Soentoek FTI UKSW.

Hari pertama pembukaan, langsung diserbu oleh teman-teman komunitas Soentok, dan FTI, karena gedung yang saling berdekatan. Dalam gedung dengan frame-frame yang menempel, puluhan bola mata melototi satu persatu hasil bidikan lensa. Ada wajah senyum, cemberut, dahi mengernyit atau hanya sekedar geleng-geleng kepala. Sebagai penyelenggara pak Anthon dan saya mau tidak mau harus turun ke lapangan untuk membantu pengunjung menjelaskan beberapa foto yang dianggap susah dimengeri. Sesi tanya jawab seputar cerita dibalik gambar dan hingga mengira-ngira teknik apa yang dipakai, menjadi sebuah komunkasi yang sehat untuk saling berbagi ilmu seputar fotografi.

Lain pengunjung lain pula pertanyaanya, dan semua harus dengan legowo diterima. Ada yang mengangguk-angguk puas dengan beberapa gambar, ada yang mencibir gambar, bahkan hingga melirik saja rasanya enggan. Beberapa masukan yang berharaga dari pengunjung baik yang paham betul tentang fotografi, paham setengah, tidak paham atau yang sok tahu, setidaknya menjadi harta yang berharga untuk pemeran mendatang. Kritik yang manis, santun hingga yang membuat telinga merah, harus dengan lapang dada diterima sebagai masukan yang positif. Kesan dan apresiasi yang besar dengan pujian seoalah memperlebar sayap untuk terus berkarya, namun tetap harus konsisten dengan kwalitas akan sebuah karya.

Hari kedua pameran, disisi dengan share dari Pak Heru Wijaya. Beliau adalah salah seorang pentolan fotografer di Salatiga yang di daulat Pak Anthony untuk menyampaikan ilmu fotografi. Dengan topik ‘memotret makro dengan biyaya mikro”, sebauh topik yang relevan dengan kantong mahasiswa dan pengunjung lainnya. Materi disampaikan dengan apik dan bahasa yang mudah dipahami, sehingga semua sepakat dan manggut-manggut untuk mencerna ilmu dari beliau. Beberapa ekstensi dan filter close up digelar untuk bebas digunakan memotret benda-benda makro yang sudah disediakan. Antusias peserta dengan kameranya masing-masing sungguh luar biasa. Perwakilan dari Yogyakarta, Jakarta, Semarang, Magelang terlihat disela-sela sesi pemotretan hewan mungil dihalaman gedung pameran.

2 hari pameran di gedung yang hampir di rubuhkan akhirnya berakhir dan harus siap berkemas untuk menuju lokasi selanjutnya. Gedung tua disamping bangunan megah 4 lantai menjadi saksi bisa kolaborasi 2 komunitas yang merangkai keindahan dibangunan tua. Tidak hanya kolaborasi karya, namun dibawah atap reyot tersebut telah mempertemukan sekan-rekan dari luar kota dari berbagai generasi dan profesi yang bersatu dalam lingkaran kaca lensa. Kini frame demi frame sudah dipacking dan siap diangkut di Galery Kayoe, Salatiga.

Galery Kayoe, didirakan beberapa tahun yang lalu oleh salah satu panglima kartun Indonesia, beliau adalah Bapak Pramono R. Pramoedjo. Kartunis yang selalu menghiasi beberapa media massa memberikan Galerinya untuk tempat pemeran. Bekerja sama dengan komunitas NolSembilan yang didirijeni Vandi, maka persiapan pameran dimulai. Dalam rintik hujan menjelang malam, puluhan paku ditancapkan di tembok untuk mengaitkan frame demi frame foto. Komunitas dengan orang-orang seni, bekerja sungguh luar biasa. Tanpa diperintah dan dikomando semua melakukan tugasnya masing-masing. Seolah mereka sudah paham dan memang paham apa yang mereka lakukan. Dibantu mereka yang berkarya di Galery Kayoe seolah menjadikan kerja semakin cepat dan sangat artistik dari segi penataan dan tata ruangnya. Dengan teman “Membingkai Keindahan dalam Perbedaan” mencoba menyandingkan 3 komunitas yang berbeda dan sebau aliran seni menjadi sebuah keindahan dalam sebuah gedung kriya. 4 kombinasi yang menjadikan pameran semakin lengkap dan berkesan bagi setiap yang berkunjung.

Pagi menjelang, mata seolah dikejutkan dengan hasil karya mereka yang luar biasa bagusnya. Dengan ruangan yang serba terbatas ditata sedemikian rupa, sehingga tiap celah dan sudut selah tidak ada yang tersisa. Tak hentinya pemilik galery yang biasa dipanggil Pak Pram memberikan masukan dan arahan-arahan kepada generasi muda. Kolaborasi foto Warkop, Soentoek dan NolSembilan ditambah dengan buah karya tangan dingin berupa kreasi dari galery Kayoe menjadikan pameran lebih lengkap dan bermakna.

Hari pertama dibuka dengan langit mendung dilangit, setidaknya menjadi awal untuk suasana cerah. Dengan semangat dan antusias tinggi para kru NolSembilan melayani setiap pengunjung yang datang, sehingga memberikan suasanya yang hangat dirumah antik. Tidak hanya pameran fotografi dan kerajinan tangan yang ditampilkan di Galery, namun masih tetap ada share fotografi, fotogratis dan belar motret bareng. Share fotografi dengan teman “Berjalan dengan Kamera Berjalan di Jalanan”, dengan sesi tanya jawab hingga ngelatur dengan teman-tema yang lain. Sesi selanjutnya adalag fotogratis, dari mulai foto KTP, narsis hingga sesuai permintaan pengunjung. Dengan modal beberapa lampu flash dan 2 bah soft box sesi foto gratis hingga belajar motret model semua berlangsung dengan lancar.

Antusias mereka yan baru megang kamera terlihat disaat gadis-gadis canti di make up dengan balutan busana di sandingkan dengan beberapa benda seni Galery Kayoe. Dengan lighting yang cukup baik bebera spot di ekplorasi ruang dem ruang. Semua bebas mengepresikan diri dengan kamera dan model, dan dengan arahan beberapa yang telah berpengalam dibidangnya. Ajang berfoto bersama dan berbagi bersama dalam frame pameran fotografi. Akhirnya hari minggu 10 April pameran harus di tutup dengan tepukan tangan tanda selamat dan sukses.

Terimakasih kepada
Warkop malang, yang berkenan pameran di Salatiga
Pak Anthony Tumimomor, yang total dan habis-habisan buat pemeran ini
Mas vandi dan Komunitas NolSembilan, kalian luar biasa dan penuh semangat
Om Sulis, Makasih Om langsung dari Jakarta walau harus bolos kerja
Romo Wito, maaf menyita waktu pelayanannya untuk melayani kami
mBa Endah, yang terpaksa saya culik 1 hari untuk membatu persiapan pameran
Pak Pramono R.Pramoedjo, untuk Galery Kayoe yang bebas kami gunakan
Pak Adjie dan Mas Koko, yang selalu mendampingi kami
mBa Yua, makasih selalu hadir di acara, maaf kain bakal batiknya saya rusak
mBa Intam dan Sandra, sudah bantu angkut-angkut
Angga, Dika, Leo dari UDINUS, maaf gak bisa temui kalian dan jangan kapok datang lagi
Komunitas Soentoek, karya kalian luar biasa, yang muda yang berkarya
Om Heru Wijaya, terimakasih sharing dan bagi-bagi ilmunya
dan Semua pihak yang membantu dalam “Keindahan di Rumah Tua dan Membingkai Keindahan dalam Perbedaan”

Salam
DhaVe

30 thoughts on “Warkop, Soentoek ,Nol9 di Rumah Tua dalam Bingkai Keindahan

  1. rembulanku said: Puji Tuhan semua berjalan lancar :Dsukses untuk semua kru penyelenggara dan pesertaserta pengungjung😀 salut malut pokoke buat semuanya

    makasih mba… oh ya lupa kasih thanks to buat gorengannya

  2. rembulanku said: Puji Tuhan semua berjalan lancar :Dsukses untuk semua kru penyelenggara dan pesertaserta pengungjung😀 salut malut pokoke buat semuanya

    “Perwakilan dari Yogyakarta, Jakarta, Semarang, Magelang terlihat disela-sela sesi pemotretan hewan mungil dihalaman gedung pameran.”menebarkan raconn Om.. hahahhahaa

  3. yswitopr said: “Perwakilan dari Yogyakarta, Jakarta, Semarang, Magelang terlihat disela-sela sesi pemotretan hewan mungil dihalaman gedung pameran.”menebarkan raconn Om.. hahahhahaa

    sayange aku ndelik di alas Curug Lawe😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s