Kepulan Asap Rokok yang Feminim

Rokok seolah menjadi budaya dimasyarakat, entah sudah menjadi kebutuhan pokok yang mengalahkan sembakau atau memang sudah menjadi menu wajib. Penikmat tembakau terkadang harus menyisihkan beberapa sisi keuangan asal bisa menghisap nikotin dan tar. Hidup dan dibesarkan dikomunitas petani tembakau yang mayoritas perokok, walau tidak semua perokok. Tiap setahun sekali panen tembakau dari hasil berjudi diladang. Tidak terbayang berapa banyak tembakau yang dihasilkan dan berapa besar yang dibayar lalu dibakar.

Hampir keluarga besar saya perokok, tidak peduli pria dan wanita, bahkan anak-anak selepas SMP sudah coba-coba dan akhirnya menjadi anggota tetap pengisap asap tembakau. Saya menyadari hidup dilingkungan yang beragam dan sensitiv dari singgungan jika dikaitkan dengan tembakau. Hidup kami juga dari rokok, berawal dari ladang hingga warung yang menjajakan rokok hingga ecerannya. Bisnis tembakau setidaknya bisa menopang hidup saya, tetapi saya tidak mau bergulat dengan asapnya.

Entah pikiran apa yang membuat saya begitu benci dengan asap Nicotina tabacum. Bermula dari coba-coba hisap rokok waktu SMA yang hanya beberapa sedotan langsung keringat dingin, pucat pasi dan batuk luar biasa. Awal yang buruk dan memahami resiko saat main bedah-bedahan melihat struktur paru-paru dibangku kuliah. Otak ini kadang berpikir, bersyukurlah mereka yang tidak tahu detail resiko rokok yang sesungguhnya.

Saat makan dikantin mahasiswa, pemandangan begitu riuhnya terutama berkaitan dengan rokok. Andaikata salah satu atap bocor dan sinar matahari menembus kedalam ruangan, maka akan terbentuk Ray of Light bias cahaya dan asap. Sebagian besar yang nangkring disana megang putung dengan ujung berapi serta mulut berasap. Kaum-kaum intelektual ternyata begitu kenyataannya. Tulisan kawasan bebas rokok seolah hanya hiasan belaka, namun itulah realita yang begitu adanya.

Bagi mahasiswa lelaki mungkin wajar nongkrong dikafe dengan mulut berasap, tetapi bagaimana dengan mahasiswi. Kesan cantik, anggun, dan feminim seolah hilang tertutup tabir nikotin disaat jari telunjuk dan tengan mengapit lintingan tembakau yang terbakar lalu menghisapnya. Andaikata itu tidak dilakukan dimuka umum mungkin menjadi hal yang biasa, tetapi kenyataannya berbeda. Budaya ketimuran yang memposisikan anak gadis disebuah koridor kesopanan seolah sudah terkikis oleh kemajuan jaman. Sesosok anak gadis sekarang seolah ingin mensejajarkan diri dengan pria dalam ranah pergaulan. Duduk semeja dengan asap rokok mengepul, kaki dilipat bertumpuk dengan tutur kata yang tak jauh beda dengan kaum adam.

Setiap orang punya kebebasan, namun budaya, adat, aturan atau norma menjadi sekat-sekat tersendiri. Sekat sudah menjadi kesepakatan bersama tanpa butuh nota MOU dan sudah tersosialisasi dengan baik. Pegangan etika begitu masih kental dan disaat etika itu ternodai maka kesan dan persepsi sudah berbeda. Entah otak saya yang salah atau keliru, disaat melihat cewek merokok ditempat umum serasa ada etika yang cidera.

Bisa dibayangkan tidak apa kata orang tua jika melihat fenomena anak gadis menarik rokok, terlebih lagi itu putri kesayangannya. Saya tidak menyalahkan mengapa mereka merokok, sebab itu bukan ranah saya. Saya hanya melihat dari sisi lain yang menurut saya menarik. Andaikata selepas subuh saya bisa mengajak gadis-gadis perokok tersebut berlari pagi dan saya sandingkan dengan cewek-cewek atlet marathon apakah mereka masih ingin mensejajarkan diri. Keberagaman memang indah dan begitu berwarna, andaikata sedikit susunan warna itu diatur dan diletakan dimana mestinya, maka harmoni perbedaan akan semakin indah. Merokok adalah sebuah pilihan dan tidak merokok adalah sebuah keputusan, mari hidup sehat dengan lari pagi yang bebas asap.

Salam

DhaVe
KK, 190311, 06.00

14 thoughts on “Kepulan Asap Rokok yang Feminim

  1. hahahahaha saya disindir nih, tapi pernah lihat saya deket2 orang merokok ga? kemarin PP semobil sama saya ga pernah sekalipun say merokok sambil nyetir kan.Meski saya perokok (ringan) saya sendiri sungkan merokok deket2 dengan orang lain karena saya juga tidak ingin mengganggu mereka dengan asap yang saya hembuskan.

  2. ohtrie said: merundukk…*ngindar dari asap rokok maksude*

    Merokok boleh Mas, asalkan jangan terlalu banyak, aku juga suka merokok tapi kadang-kadang saja sehari sebatang sudah cukup.Nice share I like it somuch.

  3. rudal2008 said: Merokok boleh Mas, asalkan jangan terlalu banyak, aku juga suka merokok tapi kadang-kadang saja sehari sebatang sudah cukup.Nice share I like it somuch.

    ya asal tau tempat dan waktunya,,is Ok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s