Makan Sisa Ulat, Siapa Takut..?

Saat berjalan disebuah pasar swalayan atau tradisional dibagian divisi sayur akan dijajakan beraneka macam jenis sayuran. Saat bersantap makan disebuah rumah makan maka sayuran juga akan mudah ditemukan. Sayuran seolah tidak lepas dari menu makan sesehari. Kandungan vitamin, mineral dan serat banyak ditemukan dari sayuran yang dikonsumsi. Dibalik tampilan sayuran yang ranum, hijau dan segar yang begitu menggoda apakah yakin dengan keamanannya?.

Dipasar atau rumah makan, tampilan tampak luar dari sebuah sayuran adalah pemikat daya beli konsumen. Tampilan dengan warna yang menarik dan nampak segar tentu saja menjadi pilihan dibanding dengan warna pucat dan tidak segar. Keutuhan fisik sayur juga ikut menentukan, sebab konsumen memilih dengan bentuk yang masih mulus dan utuh dibanding dengan yang habis dimakan ulat atau sobek. Memang tidak salah memilih sayuran yang berkualitas dengan hanya melihat tampak luarnya, tetapi apakah sudah dijamin kualitasnya?.

Jika mau sedikit berjalan-jalan didesa mungkin akan tahu dari mana sumber sayuran yang terpampang manis dikota. Sayuran ditanaman diperkebunan penduduk yang dibudidayakan secara tradisional. Beragam cara dilakukan untuk menghasilkan panen yang bagus. Pengolahan lahan, pemilihan bibit, perawatan tanaman hingga pengendalian penyakit. Salah satu aspek penting yang sering diabaikan adalah dalam pengendalian penyakit, baik hama maupun gulma. Penggunaan pestisida, fungisida dan herbisida menjadi solusi yang cepat, namun terkadang penggunaan diluar kendali akan menimbulkan masaslah.

Petani kadang tidak memikirkan dampak penggunaan pestisida, herbisida dan fungisida terhadap ekologi. Bahan-bahan kimia sintesis yang menjadi andalan petani sebagai kunci sukses dalam panen bisa menimbulkan dampak buruk bagi ekologi dan kesehatan. Tidak terhitung seberapa banyak bahan-bahan yang bersifat racun tercuci dalam air tanah dan mencemari sungai dan air bawah tanah. Tidak dibayangkan ada mata rantai makanan yang terputus akibat salah satu spesies keracunan atau bahkan menimbulkan kekebalan bagi organisme itu sendiri. Efek palingg bahaya adalah keracunan pada manusia yang mengkonsumsi produk pertanian.


Dalih penggunaan pestisida organik dan ramah lingkungan, tetapi yang namanya racun tetaplah racun dan tidak baik buat manusia. Mungkin orang akan memilih sayuran yang sempurna dan tak bercacat dibanding yang berlobang sisa konsumsi ulat daun. Ada sebuah indikator alami yang terlewat begitu saja. Sayur yang dikikis oleh ulat bisa dikatakan aman dikonsumsi, sebab ulat saja mau memakan sebab tidak ada pestisida yang menempel. Sayur yang mulus ada dua kemungkinan, memang sudah bebas dari hama atau ada racun sehingga hama tidak bisa memakannya. Sebuah ide bijak jika bisa menyikapi indikator alam ini. Jika ulat saja bisa memakan sayur apalagi manusia. Memang tidak ada jaminan 100% bebas bahan kimia beracun, setidaknya bisa sedikit mengurangi resiko. Efek racun yang tidak secara langsung berpengaruh, tetapi akan bersifat permanen dan terakumulasi yang efeknya dalam jangka panjang.

Penggunaan pertanian organik saat ini dikembangkan untuk mengatasi permasalah serangan hama dan gulma. Proteksi dan isolasi tanaman dari lingkungan luar digunakan untuk membatasi penyiaran hama dan gulma. Penerapan green house adalah salah satu caranya, sehingga menghasilkan produk yang diinginkan. Biaya investasi untuk sebuah green house mungkin teramat mahal dan sangat tidak terjangkau bagi petani, tetapi tetap ada alternatif lain. Penggunaan bahan kimia sintetis dengan bijak dan terkendali setidaknya bisa meminimalisir dampak toksit pada lingkungan dan manusia.

Belajar dari indikator alam tentunya bisa menjadi acuan bahwa sayuran yang bekas dimakan ulat itu buruk dan sayuran yang mulus itu aman untuk dikonsumsi. Pelajaran terbaik adalah dari alam untuk mengetahui setiap fenomena yang ada. Ada kalanya memakan sisa dari ulat, dan berhati-hati serta tetap bijak dalam memilah dan memilih sayuran. Saya kira setiap swalayan atau pasar sudah memiliki standarisasi sendiri dan semoga aman.

Salam

DhaVe
GdG Lt3, 170311, 10:10

Advertisements

20 thoughts on “Makan Sisa Ulat, Siapa Takut..?

  1. dhave29 said: kalo bisa jangan bekase,,,, bekase yang belum kemakan ajah hehehe

    Kalau saya dikasih tahu sama nenek saya begini: makanan yang makin awet (tidak cepat busuk, tidak dimakan ulat, tidak bla bla bla) umumnya makin berbahaya (karsinogen). Sebaliknya makanan yang cepat rusak (busuk, dimakan ulat, bla bla bla) umumnya makanan yang baik

  2. dhave29 said: kalo bisa jangan bekase,,,, bekase yang belum kemakan ajah hehehe

    seneng kalau lihat perkebunan sayur organik, bahkan ada ulat di salah satu sayuran saja tidak disingkirkan, salah satunya dengan cara tumpang sari untuk mengatasi serangan hama dan tanpa pestisida sama sekali. btw di kebun rumah juga ditanem macem2 sayuran tanpa pupuk buatan, kalau mau masak petik dalm keadaan segar rasanya memang lebih segar

  3. bambangpriantono said: Ya iyalah..berarti sing wis kepangan codot artine wis mateng

    sing genah ora sisane ulil tho mas hahahahabtw, emang liat sayuran di supermarket menggiurkan dengan tampilan yang wah tapi pertimbangan utama bukan tampilannya doang yaitu harganya πŸ˜€ toh dipasar tradisional kalo pinter milih juga dapet yg bagus.soal penggunaan pestisida, well… berjaga2 saja dengan pengolahan yang baik dan benar. cuci sebelum dimasak

  4. simbokdhe said: emang gak ada penyuluhan buat petani bagaimana penggunaan pestisida yang benar?kita nimbun racun tiap saat nih …

    ada tapi ya getu dah hasilnya,,,, yang penting panen”kapan panen racunnya..?”

  5. fmpx said: Kalau saya dikasih tahu sama nenek saya begini: makanan yang makin awet (tidak cepat busuk, tidak dimakan ulat, tidak bla bla bla) umumnya makin berbahaya (karsinogen). Sebaliknya makanan yang cepat rusak (busuk, dimakan ulat, bla bla bla) umumnya makanan yang baik

    Sepakat Om..sepakat….

  6. sulisyk said: seneng kalau lihat perkebunan sayur organik, bahkan ada ulat di salah satu sayuran saja tidak disingkirkan, salah satunya dengan cara tumpang sari untuk mengatasi serangan hama dan tanpa pestisida sama sekali. btw di kebun rumah juga ditanem macem2 sayuran tanpa pupuk buatan, kalau mau masak petik dalm keadaan segar rasanya memang lebih segar

    betol..betool Om…setuju saya,,,.,,

  7. sulisyk said: seneng kalau lihat perkebunan sayur organik, bahkan ada ulat di salah satu sayuran saja tidak disingkirkan, salah satunya dengan cara tumpang sari untuk mengatasi serangan hama dan tanpa pestisida sama sekali. btw di kebun rumah juga ditanem macem2 sayuran tanpa pupuk buatan, kalau mau masak petik dalm keadaan segar rasanya memang lebih segar

    Bukannya itu lebih baik khanJadi kita tau itu masih alamicoba kalo yang mulus mulus wah bahan pestisidanya seabrek NGERI NGERI NGERI πŸ™‚

  8. sulisyk said: seneng kalau lihat perkebunan sayur organik, bahkan ada ulat di salah satu sayuran saja tidak disingkirkan, salah satunya dengan cara tumpang sari untuk mengatasi serangan hama dan tanpa pestisida sama sekali. btw di kebun rumah juga ditanem macem2 sayuran tanpa pupuk buatan, kalau mau masak petik dalm keadaan segar rasanya memang lebih segar

    nggak takut tuh πŸ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s