Perpusku Malang Wifi-ku Datang

Disebuah ruangan dengan rak-rak kayu berjajar buku-buku yang diujung nampak seorang lelaki melamun sambil sesekali menerang keluar jendela. Ruangan berjuta ilmu itu nampak sepi dan lengang, hanya beberapa gelintir orang yang nampak kebingungan untuk mencari, memilah dan memilih 1 dari ribuan buku. Disisi lain dibawah sana, suasana begitu ramai dengan hiruk pikuk pengunjungnya. Orang bersigap dan sibuk melayani pengunjungnya, walau kadang hanya membeli segelas teh manis atau sebatang rokok saja. Beraneka komputer jinjing berebut sinyal wifi untuk beradu cepat mengakses dunia maya. Semua mata melotot layar monitor masing-masing seolah tak peduli lagi dengan lingkungan sekitar.

Fenomena sepinya perpustakaan dan ramainya area hot spot seolah homeostatis dari ekosistem edukasi. Keseimbangan terjadi disaat orang-orang menjebakan diri dalam ranah pendidikan mencoba mengadaptasikan diri untuk eksis dan bertahan hidup. Mereka seolah tak peduli lagi dengan literatur-literatur yang berjajar rapi di perpustakaan, namun memilih e-book yang bisa dicari dengan mudah.

Evolusi salah satu gaya pendidikan sudah merambah hampir seluruh dunia pendidikan. Perpustakaan seolah hanya pelangkap dari institusi pendidikan atau perkantoran, namun area hot spot seolah menjadi program wajibnya. Kini sudah tidak jamannya menenteng kartu anggota perpustakaan dan sibuk dengan berburu dikotak katalog lalu melacayaknya dijajaran rak buku, namun cukup dengan ponsel pintar atau komputer jinjing sudah bisa menjelajah semua rak buku diseluruh penjuru dunia dimanapun dan kapanpun.

Mudahnya akses informasi dari dunia maya, seolah menjadi andalah untuk mencari sumber-sumber pustaka. Budaya salin-pindah, mengunduh, atau cetak layar menjadi hal yang biasa, namun fotocopy lembaran artikel atau meringkas dan memindahkan lewat tulisan pena seolah hanya menghabiskan waktu dan tenaga saja. Beragamnya kemudahan saat ini banyak sekali nilai positfnya, namun yang namanya teknologi tetap saja ada dampak negatifnya.

Dahulu sebelum dunia maya menjamur, perpustakaan adalah arena kompetisi untuk berebut ilmu. Buku-buku yang terbatas jumlahnya nampak lusuh akibat dibolak-balik secara berulang, bahkan harus lepas halamannya. Nama-nama peminjam nampak berjubel halaman paling belakang. Buku seolah film laris, yang terus diperpanjang masa pinjamnya atau begitu kembali sudah banyak daftar tunggu yang hendak meminjam. Perpustakaan menjadi ekositem ilmu yang berjalan sinergis dengan penghuninya. Kini perpustakaan seolah menjadi zombie yang selalu menghantui mahasiswa disaat mendapat tugas mencari pustaka-pustaka tertentu dengan ratusan lembar halaman berbahasa asing.

Arena dengan pancaran Wifi, kini menjadi pilihan sebagai perpustakaan onlin yang pengunjungnya bebas membawa tas, makanan, ngobrol atau mendengarkan musik sambil berjoget ria. Alternatif lain dengan menggunakan jaringan internet sendiri atau memakai ponsel pintar yang sudah menjamur dengan harga terjangkau. Setiap orang bisa mengakses dan bisa langsung mencari apa yang diinginkan, tapan harus berspekulasi dikotak kataloh lalu merunut dibarisan rak-rak buku. Dengan kemampuan menyimpan data yang sangat besar, semua artikel bisa disedot lalu di salin dan tempel dilaporan yang sangat begitu mudahnya. Apabila tulisan berbahasa asing, hanya dengan sekian detik sudah bisa diterjemahkan dengan beraneka ragam bahasa walau hasilnya amburadul tidak karuan.

Menjadi pertanyaan sekarang, apakah perpustakaan masih relevan dibandingkan dengan dunia maya?. Diperpustakaan dituntut daya juang untuk mencari apa yang diinginkan, walau hanya sebaris kalimat. Berjuang mencari buku, lalu menari literatur yang dimaksud, setelah itu berusaha memahaminya dan membandingkan dengan artikel lain. Sumber pustaka, baik nama pengarang, judul, tahun, dan penerbit terpampang jelas sehingga dapat mudah dilacak. Bagaimana dengan dunia maya dengan mesin pencari yang dasyat, cepat dan tepat sasaran serta banyak pilihan, lalu tinggal simpan dengan begitu mudahnyanya. Dalam dunia maya siapa saja boleh mengunggah tulisan, gambar, video dan bisa diakses siapa saja, namuan apakah cukup kredibel untuk dijadikan sumber pustaka?. Apakah sepenuhnya bisa dipertanggungjawabkan jika menyedot habis dari sumber yang kadang tidak jelas asal-usulnya dan apakah bisa dilacak kembali, sebab setiap saat postingan bisa disunting.

Seolah gengsi jika harus menginjakan kaki di gudang ilmu dan lebih memilih hingar bingar dunia maya yang lebih hi-tech. Perpustakaan kini hanya menjadi konsumsi kalangan-kalangan tertentu yang mungkin masih ingin mempertahankan sisi positif edukasi, atau memang mengalami hambatan teknologi dunia maya. Semua kembali pada tingkat kebutuhan dan kemahiran dalam memerankan sisi proses edukasi dan teknologi, dan bagaimana jika dikolaborasikan dengan bijak “betapa gudang ilmu itu semakin melimpah”.

salam

DhaVe
GdG Lt3, 120311, 10:00

12 thoughts on “Perpusku Malang Wifi-ku Datang

  1. hardi45 said: Kebetulan perpustakaan di sekolah itu ada di samping kantor saya. Akibatnya saya sering masuk ke sana, sekurangnya meminjam kamus bahasa Inggris, he,he,he!

    wah joss iku Om Hardi…mantebs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s