Ponsel Jadulku lebih Cerdas Dibanding Smartphone

Hampir sebulan sudah tidak posting tulisan dirumah maya ini. Ada beberapa teman yang menanyakan, apakah sedang kasatan ide, tidak ada inpirasi atau memang lagi males. Tak satupun jawaban yang mendekati kebenaran, namun tetap ada benarnya juga. Ide dan inspirasi nulis tetap ada, namun hanya media untuk nulis itu yang tidak ada. Semangat dan pokok-pokok tuiisan sudah koar-koar namun apa daya tak bisa untuk dijangkau.

Bermula dari gonjang-ganjing harga koneksi internet yang semakin lama semakin menggila untuk kelas kantong saya. Saat ini koneksi internet hanya lewat ponsel dengan provider GSM. Beberapa kali sudah berganti provider untuk mencari yang paling miring harganya, namun yang namanya “ada harga ada rupa”. Harga murah belum tentu jaminan koneksi bagus, harga mahal juga tidak menjamin saya mampu memakai. Akhirnya solusi provider terpecahakan setelah acak-acakan fasilitas kartu GSM.

Kini masalah muncul kembali disaat piranti buat nulis kembali rewel. Ratusan artikel dan coretan bukanlah dari sebuah komputer atau note book, namun dari sebuah ponsel jadul yang mirip batu bata. Ponsel yang menjadi impian dan berhasil ditebus sekitar 4 tahun yang lalu saat awal-awal masuk kerja. Ponsel yang kadang mendapat cibiran dengan sebutan “bata merah, ulekan cobek, hingga ganjal pintu” diterima sebab tidak mungkin berani bersaing dengan ponsel-ponsel pintar keluaran sekarang,

Ponsel yang menemani dimana dan kapan saja dan merasa sungguh hebat ponsel ini, menurut saya. Hanya dengan membuka lipatannya, terus ketik sesuka hati apa yang ada didalam hati dan pikiran, setelah kelar lalu unggah di internet. Belum puas disiitu, bisa sesuka hati berbincang lewat tulisan atau menjelajah dunia maya. Andai saja bisa dibongkar, ponsel tersebut ada ratusan artikel, catatan penting selama kerja, hingga data-data rahasia kantor.

Ponsel yang cukup tangguh, sebab beberapa kali jatuh bahkan terlempar secara tidak sengaja. Pembungkus plastik bolehlah lepas berantakan, namun isi tetap wantek. Dengan penampilan yang pecah, retak disana-sini, namun tidak mempengaruhi kinerja dari ponsel andalan saya. Pernah suatu saat ponsel tersebut sekarat, ternyata kabel fleksibel mengalami gangguan. Sempat dibawa di servis ponsel dan disarankan untuk dijual murah-murahan, namun begitu pentingnya ponsel tersebut bagi saya, maka bagaimanapun harus sembuh. Hampir satu bulan nginap di lapak servis ponsel dan katanya onderdilnya sudah jarang yang jual.

Beberapa kali dilakukan upaya untuk menyelamatkan bata merah tersebut, namun usaha tetap saja gagal. Jalan terakhir adalah dengan kanibalisme ponsel serupa yang sudah tidak terpakai namun dengan beberapa komponen yang masih berfungsi. Persetujuan pun dimulai, dengan menebus dulu ponsel bekas yang harganya tidak sesuai, namun apa boleh buat demi ponsel ulekan beserta isinya. Akhirnya hidup juga, walau sekrang sudah tidak berfungsi secara maksimal, namun kinerja untuk nulis dan mengunggah tetap lancar jaya. Mungkin ponsel tersebut juga telah mengukir sejarah sebagai ponsel yang rakus akan pengisi batery. Sudah ada 8 charger yang setiap 2 hari sekali mencolokan diri diujung sisi bawahnya. Hampir setiap 3-4 bulan harus membelikan charger baru, baik bajakan maupun original.

Yeah dari ponsel butut tersebut saya mencoba menghiasi halaman multiply, kompasiana, facebook dan bersurat elektronik. Mungkin banyak orang dengan ponsel pintarnya jarang memakai semaksimal mungkin fitur-fiturnya untuk berkarya, tetapi hanya sebatas berkarya. Denang ponsel butut ini coba saya paksa untuk tetap menghasilkan karya dengan segala keterbatasan dan kekurangan disana-sini.

Dengan papan tombol qwerty yang mungil coba saya hadirkan buah-buah pikiran jongkok saya dalam cerita atau sebatas bualan belaka. Setiap hari satu atau 4 tulisan dalam satu minggu menjadi target saya untuk diunggah di dunia maya. Brain storming kaya orang gila kadang harus dilakukan didepan ponsel lipat tersebut layaknya orang frustasi cari ide.

Kini usai sudah tugas dari ponsel paling canggih dah hebat yang saya miliki. Masalh elektrik telah membawa dipenugasan akhir untuk melayani saya dalam dunia ketik mengketik. Masa paripurna sudah diambang mata, dan kini sudah tergeletak manis disudut kamar. Tidak ada jaminan pensiun, atau tanda jasa buat pengabdiannya selama ini, namun saya janji tidak akan pindah tangan dan biarkan menjadi kenangan. Hingga saat ini belum terpikirkan bagaimana mencari sesosok ponsel andalan saya, sebab belum menemukan pengganti yang pas baik dari segi fitur maupun duit untuk menebusnya. Sebagai penghormatan saya sebut NOKIA 9300 sebagai ponsel terhebat yang saya miliki, walau sering dapat cibiran, namun kinerja luar biasa untuk berkarya dan bekerja. Banyak karya sudah saya hasilkan dari ponsel tersebut dan berjuta inspirasi didalam tubuhnya. Trims COMUNICATOR-ku….

“ponsel pintar bukan jaminan membuat penggunanya cerdas, tetapi bagaimana pintar memanfaatkan fitur dari ponsel untuk berkarya dan mencerdaskan”

salam

DhaVe

14 thoughts on “Ponsel Jadulku lebih Cerdas Dibanding Smartphone

  1. hehehe…menurutku beli ponsel tergantung pemanfaatannya…bulan lalu saya juga sudah mengucapkan selamat tinggal COMMUNICATOR-ku setelah menemani hampir 5 tahun…,ternyata… sekarang bisa akses internet gratisan via Free WIFI hehehehe

  2. 3ojo said: hehehe…menurutku beli ponsel tergantung pemanfaatannya…bulan lalu saya juga sudah mengucapkan selamat tinggal COMMUNICATOR-ku setelah menemani hampir 5 tahun…,ternyata… sekarang bisa akses internet gratisan via Free WIFI hehehehe

    Betuul Om sesuai manfaatnya,,,,nah sekarang kan mikir manfaat Vs budget hehehe… itu yang belum kepikir hehe :Dweh 5 tahun… saya cuma 4,5 tahun udah pensiun

  3. 3ojo said: hehehe…menurutku beli ponsel tergantung pemanfaatannya…bulan lalu saya juga sudah mengucapkan selamat tinggal COMMUNICATOR-ku setelah menemani hampir 5 tahun…,ternyata… sekarang bisa akses internet gratisan via Free WIFI hehehehe

    HIBAH ..hibahkan ..hehhe :p

  4. dhave29 said: “ponsel pintar bukan jaminan membuat penggunanya cerdas, tetapi bagaimana pintar memanfaatkan fitur dari ponsel untuk berkarya dan mencerdaskan”salam

    yg smart itu usernya dhave, bukan ponselnya..yg pake BB jaman sekarang ini aja blm tentu ngerti gadgetnya bisa ngapain aja..jangan2 taunya cuma buat apdet fb, tlp ma sms thok. :Dv

  5. dhave29 said: “ponsel pintar bukan jaminan membuat penggunanya cerdas, tetapi bagaimana pintar memanfaatkan fitur dari ponsel untuk berkarya dan mencerdaskan”

    Ini yang saya sadari, mas! Maka saya juga tidak merasa perlu memiliki ponsel yang canggih-canggih zaman sekarang.

  6. vivianaasri said: yg smart itu usernya dhave, bukan ponselnya..yg pake BB jaman sekarang ini aja blm tentu ngerti gadgetnya bisa ngapain aja..jangan2 taunya cuma buat apdet fb, tlp ma sms thok. :Dv

    nah loh..bener iku mBa…. smart…ya orangnya…lha yang bikin aja menungsa…setujuh saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s