Sarjana Investasi Tambal Ban

Ayo tebak-tebakan pinter mana anak lulusan SMP apa S1?, kalo anda menebak S1 maka jawaban anda tepat, nah kalo pertanyaannya pinter mana dalam soal hidup jawaban akan sangat relatif sekali. Ini kisah nyata yang saya lihat dan alami, namun memberikan inspirasi yang luar biasa yang bisa memahami apa makna kehidupan. Tidak membandingkan siapa yang lebih pintar dari isi jeroan kepala, namun bagaimana menggunakan otak untuk hidupnya.

Alkisah seorang yang bernama Hary dan Doyo, seumuran dan seangkatan dalam sekolah, namun nasib berkata lain. Hary memiliki kesempatan untuk bisa sekolah di SMA favorit lalu lanjut di Perguruan Tinggi. Doyo yang nasibnya tidak seberuntung Hary, hanya mentok SMP lalu berprofesi sebagai kernet minibus. Kehidupan berlalu dan berlanjut dan saya sedikit banyak mengetahui sepak terjang mereka berdua.

Hary saat duduk dibangku kuliah berubah menjadi mahasiswa yang kritis, demonstrasi dan politik praktis dijalani. Studi juga tak kalah mentereng dengan topik skripsi yang sulit dijangkau otak mahasiswa lain. Menjadi orang nomer satu dikampus menjadi ambisinya, sampai akhirnya menjadi ujung tombak pimpinan dari 2000 lebih mahasiswa. Sepak terjang dan karir Hary memang luar biasa dan fenomenal, dan semua orang kampus mengenal dia, sungguh calon orang hebat nantinya.

Doyo, yang mentok S2, maksudnya SD, SMP saja tidak berubah nasibnya. Stiap hari Doyo bergelantungan di pintu minibus sambil berteriak menarik penumpang. Lembaran rupiah yang kumal dan lecek ditata rapi berdasarkan besaran nominal dan tak lupa uang recehan yang selalu ada disaku kantong. Cincin besar di jari tengahnya seolah pusaka andalan untuk menghentikan laju bis ”tek..tek..tek..kiri…kiri..” kira-kira begitu saat kaca pintu minibus diketok menandakan ada penumpang yang turun. Dari subuh hingga larut malam dilakoninya dari ujung kota satu kekota satunya tanpa bosan.

Suatu saat entah mengapa, yang namanya urusan politik praktis menjegal Hary sehingga harus lengser. Audit keuangan memposisikan sebagai orang yang dicurigai korupsi dana kampus. Politik kepentingan membuka aibnya ketika ada pembicaraan terselubung lewat lobi-lobinya. Kehidupannya yang dulu serba pas dan mepet sekarang sediki lebih berkecukupan dengan aji mumpung gratifikasi. Studi yang jauh melebihi kapasitas otaknya lepas dari genggaman dan harus ganti stir. Perubahan fenomenal begitu drastis menukik tajam dengan perubahan yang dinamis.

Nasib kernet minibus tak jauh berubah, masih berteriak dan bergelantungan dipintu dengan batu akik ijo dijemari tengahnya. Yang berubah hanya kulitnya yang semakin hitam, perawakan makin kekar, karena tiap hari fitnes dipintu bus dan angkat junjung barang bawaan penumpang. Anehnya, Doyo ini masih bertekun dalam profesinya sebagai kernet yang handal dan statis dipintu mnibus antar kota.

Hary akhirnya lulus, lalu melamar kerja dari perusahaan ke perusahaan. Latar belakang sebagai pentolan BEM dan mahasiswa cerdas, maka akan mudah sekali mencari pekerjaan. Sifat ambisius terkadang membuat harus keluar masuk kantor agar bisa menjalankan idealismenya. Sudah 3 tahun lebih kerja, namun sudah 6 kali ganti atap kantor. Berbeda dengan Doyo yang sudah 10 tahun lebih masih saja bergelantungan dipintu minibus.

Akhirnya masa indah dan suram itu datang, Hari kini terpuruk dengan idealismenya serta ambisi yang tak kunjung habis. Jika dikalkulasi, Hari telah mendapatkan pengalaman, ilmu dan Doyo hanya mendapat batu akik hijau dijari tengahnya dan uang sisa ngompreng. Catatan lembaran hidup dibuka, untuk menakar nilai investasi Hary dan Doyo. Hari telah menabung ilmu dan ambisi imajinernya, Doyo menabung pengalaman&perjuangan hidup serta ketekunan dari setiap uang receh.

Kini Hary jadi pengangguran karena tidak ada kantor yang cocok buatnya. Doyo sudah punya tambal ban dan kios bensin eceran, hasil recehan selama 10 tahun. Lembaran rupiah Doyo kini jadi warung kecil untuk jualan pulsa&sembako yang dijaga istri dan anaknya. Doyo masih setia dengan kernet bus dan batu akik ijonya, namun investasi jangka panjang sudah menjanjikan. Siapa tidak butuh tambal ban dan bensin eceran?. Bagimana dengan warung mungil saat anda butuh air mineral dan pulsa?. Ketekunan dan perjuangan hidup yang dijalani walau statis namun konsisten bisa dilatih tandingkan dengan mereka yang penuh kontroversi dan fenomenal. Ini masalah hidup, bukan pinter-pinteran….

Salam

DhaVe
KA, 21012011, 10:00

10 thoughts on “Sarjana Investasi Tambal Ban

  1. hehheh iya…sesungguhnya cari ilmu bukan cari gelar…gelar kadang bikin berat tuk melakukan apapun pekerjaan yang halal…padahal asalkan niat bekerja dan jujur semua akan sampai pada cita2…semoga

  2. siasetia said: hehheh iya…sesungguhnya cari ilmu bukan cari gelar…gelar kadang bikin berat tuk melakukan apapun pekerjaan yang halal…padahal asalkan niat bekerja dan jujur semua akan sampai pada cita2…semoga

    amiiin dan sepakaaaat……

  3. siasetia said: hehheh iya…sesungguhnya cari ilmu bukan cari gelar…gelar kadang bikin berat tuk melakukan apapun pekerjaan yang halal…padahal asalkan niat bekerja dan jujur semua akan sampai pada cita2…semoga

    Jarene om Goleman, EQ memang lebih berperan daripada IQ sebagai faktor penentu kesuksesan, mas.

  4. siasetia said: hehheh iya…sesungguhnya cari ilmu bukan cari gelar…gelar kadang bikin berat tuk melakukan apapun pekerjaan yang halal…padahal asalkan niat bekerja dan jujur semua akan sampai pada cita2…semoga

    Menjalani hidup apa adanya, berdaya upaya maksimal, tekun, ulet, pantang menyerah, tdk mlepas burung kenari dtngan walau mengejar burung rajawali, menabung, konsisten.. Seep, mkasih mas..

  5. siasetia said: hehheh iya…sesungguhnya cari ilmu bukan cari gelar…gelar kadang bikin berat tuk melakukan apapun pekerjaan yang halal…padahal asalkan niat bekerja dan jujur semua akan sampai pada cita2…semoga

    Life must go on

  6. otto13 said: Menjalani hidup apa adanya, berdaya upaya maksimal, tekun, ulet, pantang menyerah, tdk mlepas burung kenari dtngan walau mengejar burung rajawali, menabung, konsisten.. Seep, mkasih mas..

    iya om… betuul..betuul…makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s