S2 Lebih Mudah daripada SMA

Andai waktu diputar lagi ke belakang 10 tahun yang lalu, dan saat itu saya masih dibangku SMA. Mungkin jika masa itu menjadi masa saat sini, mungkin tak sanggup saya menjalaninya. Kemarin, kebetulan pergi ke SMA yang dulu menjadi tempat saya belajar. Perubahan besar ada disana, bukan hanya bangunan, tetapi kondisi dan suasana yang berbeda. Kemajuan dan tuntutan jaman merubah itu semua, namun saat ingin melihat kilas balik hanya rasa ngeri dan tak sanggup itu yang terngiang.

Papan tulis ”blabak” dengan kotak kapur diujung kanan kirinya kini sudah berubah menjadi papan licin berwarna puting dengan spidol 3 warna. Meja guru yang dulu berisi jambangan bunga, buku presensi, kini sudah penuh sesak dengan CPU dan monitor komputer. Dinding kelas dan lantai yang dulu kusam, kini sudah berhiaskan keramik yang bisa buat ngaca. Dulu menjelang bubaran kelas, beberapa siswa yang kejatah piket bersih-bersih kelas, dari ngepel hingga mempersiapkan keperluan esok sudah berganti dengan petugas cleaning service. Sebuah kemajuan yang luar biasa dan kepala hanya bisa geleng-geleng.

Saat masuk 10 tahun yang lalu, uang gedung 75 ribu, kini minimal diangka 5 juta, SPP yang dulu perbulan cuma 12.500 perak, kini hampir 15 kali lipatnya. Di sisi lain, pada saat saya sekolah, pukul 13.30 sudah bel pulang sekolah, namun kin ditambah 1 jam lagi baru pulang. Ini contoh SMA saya, mungkin ada SMA lain yang jauh lebih canggih dan lebih mahal, serta jam sekolah yang melebihi pagawai Bank yang over time.

Berandai-andai saat ini saya duduk di SMA dengan kondisi seperti itu, busyet bisa gila tuju keliling. Mendengar curhatan adik-adik SMA saat ini semakin membuat merinding. Tuntutan dari pihak sekolah sangat tinggi, mengingat sebagai sekolah favorit di kota saya. Gengsi sekolah menjadi yang terdepan, terlebih lagi prestasi harus digeber jor-joran gas pol rem pol. Para siswa, pulang sekolah bukannya kembali ke rumah, tapi menuju tempat yang menyediakan pelajaran tambahan, bimbingan belajar, less privat dan semuanya berbayar. Belum lagi saat malam tiba, PR sudah menumpuk, besok ada ulangan, ada tugas, sampai beban kegiatan ekstra kurikuler. Kompetisi dikelas dan sekolah juga sangat ketat, dan semua pasti berharap tidak menjadi barisan terakhir saat menerima rapor.

Ujian nasional menjadi momok yang menentukan jeripayah hampir 3 tahun. UN yang sekian hari saja seolah bisa membalik semua harapan dan cita-cita siswa. Dulu jaman saya UN adalah garansi lulus, dengan mudah dan begitu mudahnya, namun sekarang adalah pertaruhan besar buat masa depan dan rasa malu siswa, orang tua dan sekolah. Kembali berkaca kepada diri sendiri dan saya mengungkapkan ketidak sanggupan saya jika harus berkilas balik. Untung saya sudah lulus duluan tanpa ada kawat berduri UN dan mahalnya sekolah.

Saya seolah kecil dihadapan anak-anak SMA saat ini. Betapa hebatnya mereka menguasai sekian mata pelajaran dalam waktu 3 tahun. Semua dipahami, ditekuni, dikejar hingga mencari guru privat dengan tujuan lulus dan bisa kuliah ditempat yang tepat. Berbeda dengan saya yang begitu dudulnya dengan menghabiskan 7 tahun untuk mempelajari satu bidang kajian dan sekarang semakin tolol saja untuk memperdalamnya. Iri melihat cemerlangnya otak-otak SMA yang encer dengan semua bidang ilmu yang diajar disekolah. Memang hebat anak SMA sekarang, saya salud dan acung jempol buat mereka….

Salam

DhaVe
kamar kost, 200102011, 07:30

12 thoughts on “S2 Lebih Mudah daripada SMA

  1. jahewangi said: sma dulu… Mudah kok, isinya cuman tidur di kelas. Pagi ngerjain pr di sekolah, siang bolos… *bukan contoh yang baik*

    Emang mengerikan, Mas…Dulu jaman SMA masih sempat kongkow-kongkow dengan teman di parkiran, sekarang, byuh…., mana sempat…Ngeri pokok-e…

  2. siasetia said: sempat sekolah 5 hari kerja…belajar ampe sore…..huhuhu

    SMA ku dulu kaya’ rumah sakit elit zaman kolonial … sekarang malah kaya’ rumah sakit nya bos bos koruptor .. beda kelas tapi tetap aja sama sama rumah sakit.. sama sama mahal digenerasinya .. wkkwkwkw

  3. savannahphoto said: SMA ku dulu kaya’ rumah sakit elit zaman kolonial … sekarang malah kaya’ rumah sakit nya bos bos koruptor .. beda kelas tapi tetap aja sama sama rumah sakit.. sama sama mahal digenerasinya .. wkkwkwkw

    minimal ada perubahan kan Mas….heheeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s