Pendidikan Instant Ala Karate Tanpa Kuda-kuda

Apa sih sekolah pinter-pinter kalo toh yang dicari pekerjaan, pertanyaan standar. Nah bagaimana jika ada pernyataan begini, orang pinter belum jaminan bisa sukses. Bagaimana juga dengan olok-olok, pengangguran semakin meningkat dan lapangan pekerjaan semakin sempit. Dari pernyataan tersebut, seolah bukti nyata pendidikan versus pekerjaan yang susah dicari benang merahnya.

Barusan saya mendapat 2 amplop yang isinya pengumuman lowongan pekerjaan disebuah perusahaan yang dititipkan teman saya. 2 buah posisi yang cukup bagus dan gaji yang lumayan, siap diperebutkan mereka yang hendak mencari pekerjaan. Diponsel saya juga ada permintaan 2 karyawan baru untuk mantan perusahaan saya. Saya jadi heran, kenapa 2 perusahaan itu susah sekali mencari karyawan dan musti ngubek-ngubek kampus. Hanya satu jawaban ”belum menemukan orang yang tepat”.

Berganti saat, berkunjung di mantan SMA saya dulu. Banyak siswa yang sibuk dengan pelajaran, less tambahan, dan kaca mata tebal serta buku bergelantungan ditas mereka. Saya yakin mereka orang-orang pinter, sebab untuk bisa sekolah di tempat ini saringannya cukup ketat. Yah saya yakin orang-orang pintar akan lahir ditempat ini. Menjadi pertanyaan, akan sukseskah siswa-siswa cerdas tersebut.

Kembali di dua perusahaan yang sedang mencari karyawan barunya. Sebenarnya pekerjaan di 2 perusahaan tersebut mudah, namun belum mendapatkan orang yang benar-benar tepat. Teman saya yang kasih lowongan tersebut, bukanlah orang yang cerdas, pintar dan otak yang mumpuni. Saya dan teman saya, yang menempuh studi S1 hampir 7 tahun menjadi bukti betapa tololnya kami, tetapi kenapa orang seperti itu yang dicari. Akan tidak fair jika saya membicarakan diri saya, mungkin lebih tepatnya teman saya jadikan contoh saja.

Kuliah mentok 7 tahun dan mendekati DO, mungkin bagi orang lain akan menjadi sebuah ketakutan dan frustasi, tetapi teman saya begitu tabah menjalani. Studi yang susah, bukan berati dia bodo, tetapi benar-benar menekuni apa yang dipelajari tanpa memikirkan lama studi. AKhirnya mendekati DO kelar juga, hasil studi tidak istimewa-istimewa dan layak dibanggakan, namun proses studi yang layak diacungi jempol.

Tabah, tahan banting, pantang nyerah, tekun dan mampu bangkit sudah menjadi menu keseharian selama studi. Saat mulai menginjak dunia kerja, menjadi bukti nyata disaat teman-teman seangkatan yang lulus cepat mulai berguguran. Awal kerjaan dengan gaji mepet, dibawah tekanan, dan banyak penyesuaian menjadi ujian terberat. Hanya mereka yang ditempa adalah yang bertahan, dan akhirnya sukses hingga saat ini.

Bagaimana dengan saat ini mereka yang pintar dengan cara instant?. Mereka tidak diajarkan bagaimana mendapatkan dan memahami sebuah konsep, namun langsung dijejali dengan hafalan. Haruskan masa studi diselesaikan secepat mungkin?. Ada beberapa proses yang saat ini dilompati, diacuhkan, diabaikan, agar segera selesai studinya. Ibarat belajar ilmu beladiri, langsung diajarkan jurus maut tanpa diajari kuda-kuda yang benar. Hasilnya tamparan telak dan mematikan, namun sekali saja, setelah itu rubuh karena kakinya tidak mampu menahan berat beban. Biarkan mereka melewati proses-proses yang musti dijalani dan diselesaikan, agar kelak mampu dan kuat menopang beratnya beban disaat harus berjalan sendiri.

Salam

DhaVe
Kamar Kost, 19012011, 17:30

10 thoughts on “Pendidikan Instant Ala Karate Tanpa Kuda-kuda

  1. Nice share Mba I like it somuch. Aku sering ngelamar kerja tanpa Ijaza, Hanya dengan pengalaman dapat diterima, bukan sombong tapi kenyataan didalam hidupku.Senang kita bisa saling berbagi disini.

  2. hm… emang. kalo di pikir2 rada nyesel juga aku gak mendalami ilmuku dulu (konsepnya maksudnya). karena aku kan rada tulalit plus pelupa (bukan alasan yang tepat ya rasanya?), kalo mencoba mendalami satu mata kuliah eh mata kuliah yang lain malah ngulang. akhirnya setelah 5 tahun di kampus eh kok otaknya standar-standar aja ya? yang makin parah, minggu kemaren pelupanya makin menjadi-jadi.aduuuh nulis apan sih aku nie??PS : Mas Rudal2008. Dhave ini cowok lho mas.. kok komennya mba?

  3. rudal2008 said: Nice share Mba I like it somuch. Aku sering ngelamar kerja tanpa Ijaza, Hanya dengan pengalaman dapat diterima, bukan sombong tapi kenyataan didalam hidupku.Senang kita bisa saling berbagi disini.

    Miantab Om… mantab…. saya harus belajar dari Om….yah pengalaman lebih berbicara dari pada ijazah

  4. lugusekali said: hm… emang. kalo di pikir2 rada nyesel juga aku gak mendalami ilmuku dulu (konsepnya maksudnya). karena aku kan rada tulalit plus pelupa (bukan alasan yang tepat ya rasanya?), kalo mencoba mendalami satu mata kuliah eh mata kuliah yang lain malah ngulang. akhirnya setelah 5 tahun di kampus eh kok otaknya standar-standar aja ya? yang makin parah, minggu kemaren pelupanya makin menjadi-jadi.aduuuh nulis apan sih aku nie??PS : Mas Rudal2008. Dhave ini cowok lho mas.. kok komennya mba?

    weh kita punya pengalaman yang sama…. pelupa adalah sebuah indikator otak sering dipakai buat mikir hahaha….haha… gara-gara HS ku yah…. ? jadi mba

  5. lugusekali said: hm… emang. kalo di pikir2 rada nyesel juga aku gak mendalami ilmuku dulu (konsepnya maksudnya). karena aku kan rada tulalit plus pelupa (bukan alasan yang tepat ya rasanya?), kalo mencoba mendalami satu mata kuliah eh mata kuliah yang lain malah ngulang. akhirnya setelah 5 tahun di kampus eh kok otaknya standar-standar aja ya? yang makin parah, minggu kemaren pelupanya makin menjadi-jadi.aduuuh nulis apan sih aku nie??PS : Mas Rudal2008. Dhave ini cowok lho mas.. kok komennya mba?

    Aku pelupa, kemampuan akademis yo standart ae..Tapi aku menikmati semua proses yang kujalani, panjang, berliku, melelahkan, dan itu masih blm berakhir, ini masih berproses..Mkasih mas atas tulisan yang indah ini, membuatku tidak lagi minder dengan mereka yang dulunya ber IP >=3 he.he..he….

  6. otto13 said: Aku pelupa, kemampuan akademis yo standart ae..Tapi aku menikmati semua proses yang kujalani, panjang, berliku, melelahkan, dan itu masih blm berakhir, ini masih berproses..Mkasih mas atas tulisan yang indah ini, membuatku tidak lagi minder dengan mereka yang dulunya ber IP >=3 he.he..he….

    Kita senasib….. dan jalan masih harus ditempuh,,,,’coba kita buktikan….!!! pasti bisamari berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s