Hantar Sampai Depan Pintu, itu Tanggung Jawabmu

Kerasnya kehidupan harus dihadapi manusia, bukan lagi untuk dihindari agar tidak tersisih. Kompetisi untuk terus survive membuat dan membentuk karakter yang kuat, keras, beringas atau menjadi seorang yang welas dan kalem hatinya. Nah hasil olah kehidupan ternyata dari fenomena tingkah laku, tutur kata dan pemikiran. Apa yang dilihat mata, belum tentu seperti yang kita duga. Pepatah mengatakan, dalamnya lautan bisa ditebak, tetapi dalamnya hati dan pikiran gak ada alat buat mengukur.

Belajar dari pengalaman hidup ternyata menyenangkan, sebab penuh keragaman. Ini sedikit cerita, bagaimana realita kehidupan itu ada dan nyata. Bukan mengada-ada, tetapi memang begitu adanya, siapa tahu bisa belajar untuk sesama. Bukan kisah yang besar, namun ada secuil kehidupan yang layak diangkat dalam sebuah cerita.

2 hari yang lalu dapat pesan singkat ”ikut ke jogja, ketemu di terminal A, jam 6 pagi”, kira-kira seperti itu pesannya. Budaya tertib waktu, coba dilakukan, makan jam 6 kurang sudah standby. Menunggu dan menunggu, ternyata jam 6 mereka baru mau berangkat. Okelah ditunggu ndak papa, namanya juga diajak. Ada pesan singkat muncul lagi, ”jangan ditunggu diterminal A, kita ganti arah”, akhirnya nurut juga untuk ganti haluan. Ternyata arahnya lewat depan rumah persih, yang jadi pertanyaan kenapa musti jauh-jauh ke terminal yang memakan waktu sekitar 1 jam, kalaupun jatuhnya lewat depan rumah ”ternyata rencana diganti mendadak” ndak apa-apa, namanya juga diajak.

Akhirnya sampai juga dilokasi wisata dan mereka asyik bermain layaknya wisatawan bule, lengkap dengan kaca mata plastiknya. Terdiam sambil geli melihat tingkah laku mereka, sambil sesekali melihat preview di LCD kamera dan hanya berkata ”udah seminggu kok gak ada perubahan ini tempat” maksud saya seminggu&2 hari yang lalu sudah kesini.

Akhirnya kelar juga wisata ala bule-bule, saatnya berbelanja. Tidak ada yang bisa dilakukan, kecuali melihat atau menunggu mereka belanja. Nafsu untuk ikut belanja juga gak ada, selain gak ada duit, gak ada yang menarik, kecuali toko alat gunung, sepeda ama kamera, kredit card gesekpun gak jadi masalah. Oke ndak usah bicarakan masalah belanja, bikin meriang kalo yang namanya masuk mall ama milah-milih belanjaan yang akhirnya gak kebeli, gak cocok harganya apa gak cukup duitnya? hanya mereka yang tahu.

Menjelang malam tiba saatnya pulang dengan seabreg belanjaan. ya ikut-ikut bantu bawain, namanya juga ikut dan nebeng lagi hehehe. Jam 9 malam pulang dengan wajah lelah dan puas buat mereka, lha saya yang deg-degan. Kendaraan yang kami tumpangi ternyata berjalan tidak searah waktu berangkat, dengan alasan lebih cepat. Saya hanya bisa kasih saran, Pak kalo lewat situ memang lebih cepat tapi resiko macet, jalan ditutup, dan saya yang jadi korban karena pulangnya harus mutar 2 kota, beda jika lewat jalan tadi saya bisa pulang, bebas macet, sepi walau cuma agak jauh.

Saran tidak diterima dan terus meluncur menembus malam. Didepan sana berjajar lamu rem yang menyala dan panjang sekali. Gerutu dibangku penumpang mulai terdengar. Perkiraan jalan macet memang benar adanya, tadi hujan dan ada lahar dingin yang turun. Jalan diberlakukan buka tutup. Hampir 2-3 jam berjalan pelan, dan saya bisa menebak semua sebel. Andaikata ikut saran saya yang seminggu 3 kali berkutat dengan jalanan, pasti dijamin sudah sampai rumah dan tidur nyenyak dijalan. Semua menggerutu dan saya deg-degan ntar turun jauh disana dan harus balik mutar 2 kota. Otak keras si sopir yang sok tahu telah mengorbankan banyak orang. Sopir dibayar untuk ngikut penumpang, tetapi ini kebalik sang sopir seenak ususnya, yang dia tahu penumpang diem dan duduk manis dikursi.

Akhirnya ditendang juga dari kendaraan dan harus berjuang sendiri untuk sampai rumah. Dalam hati cuma ndongkol, ”dasar ngajak-ngajak gak tanggung jawab, nie anak orang euy”, tapi gak apalah, cuma berharap jangan jadi kaya mereka. Pelajaran berharga saya petik dari kejadian ini. Disiplin, perencanaan yang matang hingga mengikuti sara dari orang yang lebih tahu dan paham. Sifat keras kepala sepertinya hanya akan menimbulkan korban bagi orang lain saja.

Saya diajari jika mengajak orang maka sepenuhnya harus bertanggung jawab sepenuhnya, namanya juga mengajak. Menjemput dan menghantar sampai depan pintu rumah, adalah hukum wajib sebagai wujud pertanggung jawaban, kalau perlu harus berbasa-basi dengan empunya rumah. Masalah isi perut okelah bisa sedikit diabaikan tetapi tidak boleh dilupakan, sebab yang namanya traveling dalam satu atap, tentunya harus memiliki satu visi dan misi serta satu nasib dan sepanggung. Akan aneh sekali jika tidak senasib, sepenanggungan dan sependeritaan, cilaka lahir batin itu tentunya. Cukuplah pengalaman hari ini buat pelajaran dan ambil hikmahnya agar bisa lebih baik dari mereka. Mari jalan-jalan, jajan, makan-makan, motret dan nulis untuk berbagi dengan sesama.

Salam

DhaVe
Kamar Kost, 31 Des 2010, 07:30

6 thoughts on “Hantar Sampai Depan Pintu, itu Tanggung Jawabmu

  1. dhave29 said: Saya diajari jika mengajak orang maka sepenuhnya harus bertanggung jawab sepenuhnya, namanya juga mengajak. Menjemput dan menghantar sampai depan pintu rumah, adalah hukum wajib sebagai wujud pertanggung jawaban, kalau perlu harus berbasa-basi dengan empunya rumah

    Hehehehe… saya jadi inget waktu masih yang-yangan dulu… Tiap mau malem minggon keluar, diwajibkan oleh ortu untuk selalu menjemput serta kasih tau mau kemana perginya kemudian wajib pula mengantar pulang anak gadisnya… Ngga oleh lewat jam 10 malem lagi..*ceritanya bagus, mas…

  2. dhave29 said: Masalah isi perut okelah bisa sedikit diabaikan tetapi tidak boleh dilupakan, sebab yang namanya traveling dalam satu atap, tentunya harus memiliki satu visi dan misi serta satu nasib dan sepanggung.

    Jangan lupa, Mas:We should come home from adventures, and perils, and discoveries every day with new experience and character – Henry David Thoreau

  3. dhave29 said: Masalah isi perut okelah bisa sedikit diabaikan tetapi tidak boleh dilupakan, sebab yang namanya traveling dalam satu atap, tentunya harus memiliki satu visi dan misi serta satu nasib dan sepanggung.

    Belajar dari pengalaman hidup oranglain menambah sisi kedewasaan seseorang:-)

  4. dhave29 said: Masalah isi perut okelah bisa sedikit diabaikan tetapi tidak boleh dilupakan, sebab yang namanya traveling dalam satu atap, tentunya harus memiliki satu visi dan misi serta satu nasib dan sepanggung.

    >pak De Dul;hahaha…iya saya masih inget… hahahaha.. betul jua..>sist Ave;makasih buat tambahan coretannya…>mBa Mifta;semoga makin baik dan baik…

  5. dhave29 said: Masalah isi perut okelah bisa sedikit diabaikan tetapi tidak boleh dilupakan, sebab yang namanya traveling dalam satu atap, tentunya harus memiliki satu visi dan misi serta satu nasib dan sepanggung.

    wah mirip sm aku..paling males diajak jalan2 tanpa juntrungan.. kagak kenal waktu dan “penuh improvisasi gila” di jalan.taktikku:1. Kalau ga jelas rencananya, bilang kalau ada rencana lain. GA ikut, meskipun pingin ke tempat tersebut2. ini yg penting: tidak mau lagi salah pilih teman seperjalanan…hehehhe. kalau perlu bawa kendaraan sendiriKe gunung aja yuk…. lebih indah pemandangannya dari mall yg super mewah sekalipun…😀

  6. widsumowijoyo said: wah mirip sm aku..paling males diajak jalan2 tanpa juntrungan.. kagak kenal waktu dan “penuh improvisasi gila” di jalan.taktikku:1. Kalau ga jelas rencananya, bilang kalau ada rencana lain. GA ikut, meskipun pingin ke tempat tersebut2. ini yg penting: tidak mau lagi salah pilih teman seperjalanan…hehehhe. kalau perlu bawa kendaraan sendiriKe gunung aja yuk…. lebih indah pemandangannya dari mall yg super mewah sekalipun…😀

    Setuju Om… setuju saya,,,,,, yuuuk mari dolan ke gunung wae lebih damai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s