Orang Gila Layaknya Kartu Memori Kehidupan

Kata orang, manusia diciptakan untuk melengkapi satu sama lain, karena memiliki sisi lemah dan kelebihan dari tiap individunya. Nah berbicara melengkapi, makan akan berbicara dengan barang komplementer. Barang komplementer, memang ada yang sederhana, tapi jika kurang satu itu akan sangat fatal akibatnya, walau ada tolerasi dan cara untuk mengganti dan mengakalinya. Belajar dari setiap pengalaman, namun masih ada saja yang ketinggalan barang yang sepele, namun tanpa keberadaanya semua sia-sia, walau tetap ada solusi jitunya.

Pernah suatu kali naik gunung, semua barang sudah terkemas rapi dan lengkap sesuai daftar kebutuhan. Saatnya berangkat, namun ada-ada saja kejadian yang nyaris membuat suasana kacau balau. Disaat tim terpaksa dipecah menjadi 2, dimana tim yang didepan bertugas jalan duluan dengan perlengkapan tim. Tugasnya mendirikan tenda dan membuat makan malam. Namun disaat hendak mendirikan tenda, terlupa bahwa frame tenda ada di tim belakang. Maka acara mendirikan tenda untuk sementara ditunda 1 jam lagi hingga tim belakang sampai. Acara diganti masak, semua bekal makanan dikeluarkan dan siap diolah. Kompor trangia sudah siap untuk dinyalakan, namun dengan alasan ”saya tidak merokok” maka korekpun tidak ada. Ya alasan yang tepat, saya tidak merokok maka saya tidak bawa korek, namun tidak dibenarkan sebab korek hukumnya wajib. Akhirnya diakali dengan mengoprek pematik kompor gas, itupun sangat susah daripada nunggu halilintar atau semut api.

Kejadian selanjutnya tidak kalah tragis, namun sangat membuat deg-deg an luar biasa. Sudah diwanti-wanti jauh hari ”jangan lupa bawa kamera” dan pesan itu ada diotak. Kamera dibawa dan siap jeprat-jepret sepuasnya, namun LCD kamera mengirim pesan ”NO CARD”. Kamera memang terbawa, namun memory card masih menancap dilaptop. Tidak tahu harus bagaimana ngakali ini kamera, agar bisa merekam setiap moment. Tidak mungkin juga mencari toko komputer atau kamera yang menjual aksesoris kamera. Mutar otak, akhirnya ketemu juga, di tas ada ekstensi atau converter MMC, maka memory card ponsel harus dikorbankan. Lumayan 1 GB daripada tidak ada sama sekali, walau memory ponsel harus dipaksa hapus.

Sederhana, namun menyakitkan dan menyusahkan. Nah itu baru piranti kecil, bagaimana dengan eksistensi manusia yang nota bene homo homini socius. Hidup saling berdampingan dan saling melengkapi, bila kurang satu saja ibarat ”sayur itu cemplang” rasanya aneh. Walaupun semua masalah bisa ditutupi dan diatasi, tetap saja akan mengganggu sebuah sistem yang sudah berjalan apik. Bolehlah, pematik gas harus di oprek dan mmc ponsel diperkosa untuk kamera, namun sudah sangat jelas akan mengganggu. Apakah manusia juga harus dioprek untuk sebuah komplementer, saya kira akan sangat kurang bijak. Apapun kelemahan manusia akan sangat berarti jika sangat dibutuhkan. Bolehlah orang gila atau glandangan dijalanan tanpa identitas sebagai orang yang tidak berguna, namun mahasiswa kedokteran akan sangat tertolong akan peran mereka saat setelah tiada. Apapun dan bagaimanapun keberadaan manusia tetap memiliki eksistensi, baik dimata manusia begitu juga dihadapan Tuhan.

Salam

DhaVe
SPBU Bawen, 30 Des 2010 otw Jogja

4 thoughts on “Orang Gila Layaknya Kartu Memori Kehidupan

  1. asem banget lu Dhave………..aku sangat tertark dengan judulmu karena ada kata orang gila…………baca satu persatu……jebuse di alenia terakhir baru ada…..itupun sebagai pelengkap analogi di alenia sebelum-sebelumnya.asem…..ketipu……hampir aja pesan tiket ke Semarang utk motret orang gila !

  2. boljugeyesight said: asem banget lu Dhave………..aku sangat tertark dengan judulmu karena ada kata orang gila…………baca satu persatu……jebuse di alenia terakhir baru ada…..itupun sebagai pelengkap analogi di alenia sebelum-sebelumnya.asem…..ketipu……hampir aja pesan tiket ke Semarang utk motret orang gila !

    Hahaha Om Boljug…. santai nanti ada episode orang gila dan pasar….hahaha

  3. boljugeyesight said: asem banget lu Dhave………..aku sangat tertark dengan judulmu karena ada kata orang gila…………baca satu persatu……jebuse di alenia terakhir baru ada…..itupun sebagai pelengkap analogi di alenia sebelum-sebelumnya.asem…..ketipu……hampir aja pesan tiket ke Semarang utk motret orang gila !

    Ngelihat orang gila dskitar SPBU tha, Mas..??Ech.., jadi itu jasad orang gila ya yang jadi bahan praktikum..??Baru tahu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s