Tuhan Tersenyum Melihat Pohon Natalku

Natal yang jatuh 25 Desember di seluruh penjuru dunia merayakan hari kelahiran Yesus. Entah kapan tepatnya Yesus lahir, namun semua sepakat 25 Desember. Bukan masalah perdebatan kapan Yesus lahir, tetapi ada apa dengan Natal itu sendiri. Sebuah budaya yang diambil dari Eropa dan diadopsi mentah-mentah dinegeri ini. Berkat misionaris budaya Natal masuk ke negeri ini, tanpa ada penyaringan dengan budaya setempat. Mungkin akan lebih lues seorang Sunan Kalijaga dalam mensyiarkan Islam dengan merangkul budaya setempat, namun Natal tak menyentuh budaya setempat, namun akhir-akhir ini sudah dikontaminasikan dengan budaya lokal.

Dalam perspektif budaya jawa tidak dikenal adanya sinterklas, namun akhirnya ada juga sinterklas yang memakai blangkon. Dalam setiap nyanyian gereja juga sudah memakai gamelan, begitu juga dengan bahasa pengantarnya. Dibalik penyesuaian budaya, masih ada permasalahan lain yang belum bisa digantikan yaitu dengan tetap mengandalkan budaya aslinya. Pohon terang atau pohon natal, sebagai simbol natal belum tergantikan peranannya hingga saat ini.

Pohon terang yang identik dengan cemara yang dihias lampu kerlap-kerlip, lelehan salju, bintang diujungnya hingga aksesoris lilin. Eropa banget bukan..? bagaimana jika saat itu budaya pohon terang ada di Timur Tengah sana. Sudah pasti akan menghias pohon kurma atau kaktus dihiasi dengan seting gurun dan unta. Berbeda pula jika berasal dari Gunung Merapi, yang ada hanya wedus gembel, abu vulaknik dan mBah Marijan. Nah darimana asal sumbernya bukanlah masalah, tetapi yang menjadi masalah saat ini adalah bagaimana mengadopsi budaya tersebut tanpa menimbulkan masalah.

Bolehlah di Eropa memakai pohon cemara sebagai pohon natal dengan segala bentuk boneka saljunya, lha kalau di Indonesia, apakah musti menggendong pohon cemara hingga puncak Jaya Wijaya agar bersalju?, tentu saja semua bisa diakali. Jaman dulu di Eropa memang banyak pohon cemara dan syah-syah saja di tebang untuk pohon terang, lha bagaimana dengan kondisi dinegeri kita. Sebuah pengalaman pahit disaat menjelang Natal tiba, yaitu saat menebang pohon cemara untuk pohon terang.

Golok beradu dengan batang cemara yang sudah yakin kalah dan sesaat kemudian rubuh. Burung-burung berterbangan dengan penuh kepanikan, namun bagi telur dan bayi burung yang disarang apa boleh buat dan akhirnya jatuh ditanah. Ironis memang disaat mau merayakan natal musti harus ada yang dikorbankan, namun jika tidak demikian kurang afdol sepertinya. Berapa banyak gereja, instansi, yayasan, toko, mall, rumah yang menebang pohon cemara untuk 25 Desember?. Apakah terbayang dibenak mereka tentang kerusakan ekosistem?.

Tak masalah jika memang banyak populasi cemara, tetapi jika setiap 25 Desember ditebang dan dipangkas sampai sekian 25 Desember berikutnya apakah akan jadi masalah. Pohon cemara lebih dari satu tahun untuk bisa jadi pohon terang yang bagus, tidak bisa menjadi tambal sulam tiap Natal tiba. Itu dari sisi pohon cemara, bagaimana dengan hewan-hewan yang menggantungkan hidupnya pada Cemara, apalagi menjelang musim dingin. Bagaimana pula dengan lingkungan, sebab pohon cemara menjadi penyusun dari ekosistem.

Apakah ada alternatif lain untuk pohon terang tanpa menganggu ekositem?. Bolehlah pohonn terang imitasi dari plastik, sebab sudah dijamin awet, murah meriah, serba guna dan tahan lama. Bagaimana dengan mengadopsi tanaman lain, yang lebih relevan dengan ciri khas daerah. Untuk orang Nusa Tenggara mungkin dengan pohon cendana, orang Temanggung bisa dengan Tembakau, atau orang Ternate dengan pohon cengkih. Dibalik makna filosofi pohon cemara yang bisa hidup dimana saja, tak bedanya dengan pohon kelapa, begitu juga dengan cengkih atau cendana, yang penting lingkungan aman. Lha sinterklas saja boleh memakai blangkon, masak cemara gak boleh diganti pohon cengkih?.

Bukan maksud mengada-ada yang tidak ada diada-adain, namun mencoba Natal dengan nuansa lain. Pesan Natal yang membawa kedamaian hendaknya diapresiasi dengan tetap membawa kedamaian untuk semua mahluk hidup, sehingga Yesus pun akan tersenyum dalam perayaan ulang tahunnya di bumi. Cemara bolehlah simbol dari eropa, mungkin kuba dengan opium, irak dengan kurma, jepang dengan sakura dan kita dengan tanaman asli Indonesia. Dirumah saya pohon natal dengan ranting cengkih kering…. banyak orang tertawa disaat melihat, walau aneh dan dijadikan bahan tertawa, setidaknya telah memberikan keceriaan dan kedamaian. Selamat menjelang Natal dan Tuhan Memberkati

salam

DhaVe
menjelang natal 24 Desember 2010, kamar ademku

14 thoughts on “Tuhan Tersenyum Melihat Pohon Natalku

  1. dhave29 said: bagaimana jika saat itu budaya pohon terang ada di Timur Tengah sana

    Tetep pohon cemara koq mas.. Tahun ini disini tengah dibikin pohon natal terbesar & termahal didunia, di Emirate Palace; Abu Dhabi. Dalam minggu – minggu ini, di setiap hotel, Mall dan tempat publik di Abu Dhabi selalu dijumpai pohon natal yang gemerlapan di sudut – sudutnya.BTW, Selamat merayakan hari Natal, masSemoga damai dan kasih selalu menyertai kita dimanapun kita berada

  2. dhave29 said: Dirumah saya pohon natal dengan ranting cengkih kering….

    INi sebenarnya dah menjadi trend minimalize pada perayaan Natal 3 tahun belakangan ini, terutama yang sempat saya lihat di Jakarta. Lain itu ada juga yang minimalize gaya Jepang, mirip Ikebana…..Sekali lagi Salam Damai Mas Dhanang…

  3. kangdul said: Tetep pohon cemara koq mas.. Tahun ini disini tengah dibikin pohon natal terbesar & termahal didunia, di Emirate Palace; Abu Dhabi. Dalam minggu – minggu ini, di setiap hotel, Mall dan tempat publik di Abu Dhabi selalu dijumpai pohon natal yang gemerlapan di sudut – sudutnya.BTW, Selamat merayakan hari Natal, masSemoga damai dan kasih selalu menyertai kita dimanapun kita berada

    matursuwun Kang Dul… salam

  4. ohtrie said: INi sebenarnya dah menjadi trend minimalize pada perayaan Natal 3 tahun belakangan ini, terutama yang sempat saya lihat di Jakarta. Lain itu ada juga yang minimalize gaya Jepang, mirip Ikebana…..Sekali lagi Salam Damai Mas Dhanang…

    matur suwun.. salam…”unik juga ya…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s