Nikmatnya Kotoran Ayam dibanding Mie Instant

” 2 MINGGU SUDAH TIDAK MENARI DIATAS Key Board, KINI SAATNYA KEMBALI CELOTEHAN SEHABIS MERAPAT DI MERAPI ”

Kata guru PMP saya, ”kalo nolong orang jangan diberi ikannya, tetapi kailnya” mungkin maksudnya adalah biar ada usaha yang ditolong. Mungkin kata guru saya memang sah dan benar adanya untuk kondisi tertentu, tetapi untuk saat ini ”erupsi Merapi” semua bisa dimentahkan. Kondisi yang menuntut orang untuk kreatif berpikir untuk menolong, sebab jangan sampai ”tulung mentung” atau menolong tetapi menambah kesusahan.

Mutar-muter dan keliling kampung yang penuh dengan debu vulkanik yang ada hanya tatapan kosong penduduknya. Mereka tak tahu harus memulai apa dan bagaimana. Bolehlah saat ini perut mereka kenyang, namun hati dan pikiran mereka kosong. Tidak mungkin menyuapi mereka dengan mie instant terus menerus, tetapi mencoba memberi mereka sedikit sentilan agar sedikit bisa keluar dari kekosongan.

Sumber kehidupan mereka bukanlah dari mie instant, air mineral dan pembalut yang disumbangkan dermawan, tetapi investasi hasi bumi yang menjadi andalannya. Mayoritas mereka adalah petani dan penggarap ladang, nah dari situlah coba untuk sedikit digelitik agar lekas bangkit dari keterpurukan. Sedikit celotehan, ”pak mau nanam apa..?”, beragam jawaban muncul demikian juga permintaan. Maka sebuah kesepakatan kontral moral pun diteken, mereka mulai menggarap ladang dan kita mencari alat bahannya.

Saat ini mereka tidak butuh mie instant, mereka bisa mengganti dengan singkong, tetapi saat ini mereka butuh kotoran ayam. Yah kotoran ayam menjadi pupuk yang ampuh untuk lahan pertanian sayur. Maka kami mencoba mengirim kotoran ayam dan sambutan dan raut wajah sumringah disaat ratusan karung ”mbelek” datang. Tenggang waktu kami berikan untuk menggarap lahan agar kembali dalam kondisi normal agar siap tanam dan setelah beres semua maka langkah selanjutnya suplay bibit.

Beragam jenis sayuran yang cocok ditempat itu dan petani juga mampu menggarap kami kirimkan. Tak seperti saat pembagian nasi bungkus saat diposko, kali ini lebih meriah sebab dengan modal bibit sayur bisa buat beraneka macam nasi bungkus. Bibit sayuran sudah terdistribusi dengan baik dan saatnya mereka mulai bercocok tanam untuk memulai menyemai kehidupan baru.

Belum selesai sampai disini, sayuran tak mungkin lepas dari penyubur dan pembasmi hama ”pestisida”. Maka mencoba sedikit memanjakan mereka dengan hadiah obat hama dan penyubur. Kali ini sudah cukup apa yang telah diupayakan untuk membantu mereka untuk memulai aktivitas seperti sedia kala. Wajah kosong dan hampa kini berubah menjadi tetesan keringan dan peluh semangat.

Untung saja waktu itu nilai PMP saya jeblok, sehingga tak memberi kail untuk petani. Petani tak mungkin diberi kail untuk kondisi seperti itu, mereka butuh umpan, bubu, jaring, jala dan kolam yang ada ikannya. Coba dibayangkan jika diberi kail, mau mancing apa mereka? apakah mau mancing kerusuhan…

Sambil menunggu panen dikolam sayuran, kini mencoba merenun, kira-kira umpan, kail, jala, jaring apa yang cocok untuk kolam sayur mereka?. Merak tak butuh ikan rasa mie instant, tetapi sebuah perahu untuk melintasi samudra keterpurukan. Kiranya semua baik adanya dan menjadi berkat.

Salam

DhaVe
r.mkn 17 Des 2010

Advertisements

11 thoughts on “Nikmatnya Kotoran Ayam dibanding Mie Instant

  1. mudah2an segala kail,kolam, bubu, jaring kapal apalah namanya, bisa bikin mereka bangkit lagi.Kalo gak dikasih semua bgtu, apa yg mau diusahakan, wong dah gak punya apa2 gitu koq…

  2. >mBah Kakung; subur buat nantinya mBah.. kalo sekarang masih kaya watu… atos dan perlu waktu yang cukup lama buat ngolahnya….>mBa Agatha; amiin..kiranya semua makin baik adanya.. makasih mBa

  3. dhave29 said: >mBah Kakung; subur buat nantinya mBah.. kalo sekarang masih kaya watu… atos dan perlu waktu yang cukup lama buat ngolahnya….>mBa Agatha; amiin..kiranya semua makin baik adanya.. makasih mBa

    Habis kalau aku baca POStingan2 mengenai Merapi selalu lahar dingin mengalir…gitu…jadi inget jaman kecilku di >Minggir..disuruh eyang ngumpulin DEBU MERAPI…semoga rakyat disana kembali makmur, mana janji SBY???

  4. dhave29 said: >mBah Kakung; subur buat nantinya mBah.. kalo sekarang masih kaya watu… atos dan perlu waktu yang cukup lama buat ngolahnya….>mBa Agatha; amiin..kiranya semua makin baik adanya.. makasih mBa

    Kabarnya merapi sedang rehabilitasi, mungkin kalau dapat tiket saya akan ke sana 😀

  5. dhave29 said: >mBah Kakung; subur buat nantinya mBah.. kalo sekarang masih kaya watu… atos dan perlu waktu yang cukup lama buat ngolahnya….>mBa Agatha; amiin..kiranya semua makin baik adanya.. makasih mBa

    >cak Nono;amiiin Cak>mBah Kung;kalu abunya 2cm bakal subur mBah..lha kalo 50cm kan jadi ciloko hehe.. sby lagi mesem melihat ada rakyatnya yang kurang kerjaan bantuin tugasnya…>sist Ave;woke.. kontak saya ya….

  6. dhave29 said: >mBah Kakung; subur buat nantinya mBah.. kalo sekarang masih kaya watu… atos dan perlu waktu yang cukup lama buat ngolahnya….>mBa Agatha; amiin..kiranya semua makin baik adanya.. makasih mBa

    pengen melu macul ngrasakke adus kringet, boyok putung 🙂

  7. dhave29 said: >mBah Kakung; subur buat nantinya mBah.. kalo sekarang masih kaya watu… atos dan perlu waktu yang cukup lama buat ngolahnya….>mBa Agatha; amiin..kiranya semua makin baik adanya.. makasih mBa

    >mas Sulis;cepak parem…

  8. dhave29 said: >mBah Kakung; subur buat nantinya mBah.. kalo sekarang masih kaya watu… atos dan perlu waktu yang cukup lama buat ngolahnya….>mBa Agatha; amiin..kiranya semua makin baik adanya.. makasih mBa

    gut lak Mas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s