Sejenak Meninabobokan Tuhan dengan Kemunafikan

Gejolak dan dinamika kehidupan memang luar biasa jika dicermati. Ad sisi-sisi menarik jika dikaji lebih dalam akan menemukan kekusutan benang merah dan jika diurai luar biasa rumitnya. Bisa dikatankan manusia adalah ”top of evolution” namun tak bisa dipungkiri ketidak sempurnaannya. Kata pemuka agama, ”kesempurnaan memang milik Tuhan” dan itu memang nyata adanya. Hanya iman yang bisa mengukur arti dari sebuah kesempurnaan, sebab tidak ada parameter materi yang bisa dijadikan patokan.

Tentu sangat mudah mengatakan ”sempurna”, sebab lidah begitu licin. Sangat mudah juga mengatakan kepada Tuhan tentang kadar keimanan, sebab lidah begitu lincah. Berbicara mengenai lidah memang sangat menyusahkan, sebab panca indra yang satu ini memang komplek. Dalam konotasi lidah dijadikan penyambung otak dan hati, dengan mengeluarkan suara. Dengan lidahmu engkau dipuji dan dengan lidahmu engkau dimaki, begitu ayat sebuah kitab suci.

Sore sepulang kuliah, dari jauh terdengar suara panggilan. Tahu dan paham suara itu, maka langkah kaki segera dipercepat untuk sedikit menghindar. Tak lama berselang ada pesan singkat masuk ”ayo ibadah, ditunggu persekutuan doa”. Enggan rasanya untuk membalas pesan tersebut dan bergabungnya. Hampir setiap hari tertentu selalu ada saja ajakan untuk beribadah dan bahkan sedikit memaksa dan terpaksa ikut serta. Akhirnya pesan singkat dan ajakan itu tidak ada lagi, sebab dia harus menanggung perbuatannya. Bayi mungil kini ada dirahimnya dari hubungan yang terlarang.

Disaat masalah datang, entah ujian atau cobaan ada saja anak Tuhan yang datang. Bukannya menolong malah berkotbah yang membangkitkan rohani. Sebuah perkataan yang masih terngiang ”broo.. ingan Tuhan tidak pernah tidur, Dia selalu terjaga untukmu”. Kata yang sungguh indah sekali dan memberikat kekuatan semu yang luar biasa. Suatu malam, diperempatan pasar segerombolan pemuda yang menderita gejala sosial nampak asyik dibawah tiang listrik dengan lampu jalan yang remang-remang. Asap rokok mengepul menimbulkan imajinasi Ray of Light dari sorotan cahaya dibalik dedaunan. Botol miras bergelimpangan mengikuti gaya penenggaknya. Seorang yang dulu membangkitkan kini terpuruk akibat alkohol. Sebuah kata bijak saya kembalikan ”bro… kenapa kamu meninabobokan Tuhan, Dia tak mungkin mabuk alkohol 40%”.

Mencoba menyiapkan hati dan pikiran disebuah rumah Tuhan. Mendengarkan lantunan ayat suci dan pujian kepada Sang Khalik. Sebuah kejanggalan muncul saat ada nepotisme dalam penyampaian pesan kepada Tuhan. ”mohon dukungan doa buat sodari, A,B dan C yang besok mau ikut ujian PNS agar diterima dan jadi pegawai dan mari kita berdoa bersama buat mereka”. Asas kekeluargaan memang luar biasa, sebab ABC adalah kerbat yang sedang berkotbah didepan. Tugas yang didepan adalah mendoakan semua yang dikotbahinya, bukan sebaliknya. Seorang nabi tentunya memberikan semuanya untuk umatNya, bukannya minta dukungan doa ”rek spasi nabi kirim ke xxxx”. Kalo saya memberikan dukungan doa, lantas siapa yang mendoakan saya?, ya terpaksa mendoakan diri sendiri lagi.

Lucu dan terkesan dagelan jika diperhatikan. Lelucon yang acapkali tidak disadari, kalo orang Jawa bilang ”ora ngilo gitok” atau tidak berkaca diri. Sudah saya lakukankah dan benarkah apa yang saya katakan untuk orang lain?. Nabi tak mungkin berkhayal dalam berkotbah, tetapi telah menjalani semua laku spiritual lalu baru dibagikan kepada umatNya. Apakah kita hanya berkhayal dalam berkotbah ”Tuhan tidak tidur, tetapi dininabobokan” itu yang terjadi, sebab apa yang kau imani tanpa ada perbuatan itu gombal belaka.

Salam

DhaVe
Emperan, 23 Oktober 2010, 10:20

Advertisements

14 thoughts on “Sejenak Meninabobokan Tuhan dengan Kemunafikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s