Keong Mas antara Ancaman dan Peluang di Rawa Pening

Area perairan merupakan habitat dan surga bagi mahluk hidup yang menghuninya. Ada jejaring dan rantai makanan yang selalu berputar di area tersebut. Simbiosis yang sinergis maupun antagonis selalu menjadi penyeimbang kedua ekosistem tersebut. Salah satu mahluk hidup yang berperan di habitat perairan Rawa Pening adalah Keong Mas (Pomacea canaliculata Lamarck). Danau yang terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah dengan 19 anak sungai yang menjadi inputnya menjadi habitat yang baik baik Keong Mas. Area danau yang sekelilingnya menjadi lahan pertanian menjadi terguncang bila mana kehadiran Keong Mas menjadi hama. Hubungan yang sinergis dan antagonis antara Keong Mas dan habitatnya terjadi di Danau dan persawahan.

Keong Mas merupakan gastropoda yang banyak dijumpaimerata disetiap sisi Rawa Pening, tidak terkecuali area persawahan. Hewan lunak bercangkang tersebut menyebar dan seolah populasinya tidak terkendali. Predator alami seperti Biawak (Varanus salvator), Blekok (Ardeola ralloides speciosa), Kuntul (Bubulus coromandus) sudah nyaris hilang karena adanya perburuan besar-besaran untuk pemenuhan bahan konsumsi. Tidak adanya pemangsa alami ini, mengakibatkan tidak terkendalinya populasi Keong Mas. Ledakan Keong Mas diperairan Rawa Pening mengakibatkan ancaman bagi petani, sebab sawah mereka menjadi sasaran Keong Mas.

Keong Mas yang hidup sebagian besar waktunya dihabiskan didalam didalam air, kini menjadi ancaman serius bagi petani. Tanaman padi yang masih muda adalah makanan yang diincar Keong Mas, akibatnya banyak terjadi kegagalan pada saat penanaman. Tidak hanya tanaman padi yang masih muda, tetapi pucuk daun padi juga menjadi sasaran Keong Mas. Berbagai upaya telah dilakukan petani untuk mengendalikan populasi Keong Mas. Pemberian pestisida belum cukup efektif untuk bisa membunuh Keong Mas, sebab Keong mas bersembunyi di dasar lumpur.

Cara konvensional dilakukan dengan memutus mata rantai perkembang biakannnya dengan mengambil dan memusnahkan telur-telurnya. Keong Mas biasa bertelur di tangkai daun pada padi atau bebatuan yang tidak terendam air. Keong Mas yang sekali bertelur puluhan bahkan bisa seratus butir lebih menempatkan telurnya ditempat yang tidak tergenang air agar terbebas dari predator (ikan, katak) dan menghindarkan dari kebusukan. Petani mensiasatinya dengan menancapkan bilahan bambu untuk memancing Keong Mas bertelur di sana. Cara ini cukup efektif untuk sedikit memutus mata rantai perkembang biakan Keong Mas.

Keong Mas yang keberadaannya dianggap sebagai hama dan ancaman, namun kini sudah bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan dan pangan. Dalam tubuh Keong Mas mengandung 10-15% protein, dan mengandung omega 3, 6 dan 9. Hewan bercangkang ini juga kaya kalsium, sehingga bisa dijadikan pakan altenativ. Peternak itik memanfaatkan Keong Mas sebagai pakan tambahan dan memberikan hasil yang positiv dengan meningkatnya produksi telur. Keong Mas juga bisa dijadikan bahan tambahan untuk ransum atau pelet ikan, sehingga bisa menambah nilai kualitas pakan dan menurunkan pengeluaran pembelian pakan pabrik.

Kandungan protein dan unsur-unsur lain yang berguna, menjadikan Keong Mas sebagai bahan pangan yang layak konsumsi. Keong Mas kini sudah diburu untuk dijadikan bahan pangan yang cukup digemari. Pengolahan Keong Mas diawali dengan merebusnya dengan air kapur, kemudian dilakukan pemisahan antara badan dan cangkang. Pencucian berulang kali dilakukan untuk membersihkan tubuh Keong Mas yang kemudian diolah lebih lanjut. Keong Mas biasanya dijadikan sate, gecok, tumis dan lain sebagainya. Kini Keong Mas bukan lagi menjadi hama yang mengkawatirkan tetapi menjadi makanan khas yang cukup menjajikan.

Timbulnya minat masyarakat untuk mengkonsumsi Keong Mas juga akan menimbulkan masalah ekologi. Keberadaan Keong Mas sebagai salah satu rantai makanan akan terganggu dengan perburuan besar-besaran. Apabila dulu petani terancam dengan keberadaan Keong Mas yang mengancam padi mereka, kini Keong Mas yang teracancam keberadaannya sebagai sumber pakan dan pangan. Sebuah tindakan bijak jika tetap menjaga kelangsungan hidup Keong Mas dengan budi daya dan bijak dalam perburuan.

10 thoughts on “Keong Mas antara Ancaman dan Peluang di Rawa Pening

  1. sebenarnya yang saya miris bukan keong emas tetapi “keong-keong racun” hahahahaenceng gondok sebagai gulma mungkin menjadi masalah dan momok yang lebih serius. berapa jumlah penyusutan perairan rawapening setiap tahunnya akibat pendangkalan?? andai populasi enceng gondok bisa dikendaliakan dan menjadikan luas perairan rawa pening bisa dijaga, nilai lebih yang lain pasti bisa terangkat juga

  2. sulisyk said: sebenarnya yang saya miris bukan keong emas tetapi “keong-keong racun” hahahahaenceng gondok sebagai gulma mungkin menjadi masalah dan momok yang lebih serius. berapa jumlah penyusutan perairan rawapening setiap tahunnya akibat pendangkalan?? andai populasi enceng gondok bisa dikendaliakan dan menjadikan luas perairan rawa pening bisa dijaga, nilai lebih yang lain pasti bisa terangkat juga

    Yah… eceng gondok memang masalah krusial, tapi apa daya..? tak seimbangnya pemanfaatan dan ledakan eceng gondok membuat guncangan ekosistem, Pendangkalan, penyempitan luasan danau, berkurangnya O2 terlarut, penetrasi cahaya yang terhambat membuat semua serba terhimpit.

  3. sulisyk said: sebenarnya yang saya miris bukan keong emas tetapi “keong-keong racun” hahahahaenceng gondok sebagai gulma mungkin menjadi masalah dan momok yang lebih serius. berapa jumlah penyusutan perairan rawapening setiap tahunnya akibat pendangkalan?? andai populasi enceng gondok bisa dikendaliakan dan menjadikan luas perairan rawa pening bisa dijaga, nilai lebih yang lain pasti bisa terangkat juga

    wah bejo kie.. foto ketiga tidak diikutkan ndek sini… heehhee….

  4. sulisyk said: sebenarnya yang saya miris bukan keong emas tetapi “keong-keong racun” hahahahaenceng gondok sebagai gulma mungkin menjadi masalah dan momok yang lebih serius. berapa jumlah penyusutan perairan rawapening setiap tahunnya akibat pendangkalan?? andai populasi enceng gondok bisa dikendaliakan dan menjadikan luas perairan rawa pening bisa dijaga, nilai lebih yang lain pasti bisa terangkat juga

    dalam rantai makanan, menungsa tetep sing paling ganas ya Om?

  5. yswitopr said: dalam rantai makanan, menungsa tetep sing paling ganas ya Om?

    hama keong sudah dapet solusi kan dari itik dan manusiahama enceng, keknya warga tuntang banyak jg yg memanfaatkan tumbuhan ini untuk sumber mata pencaharian yg baru sbg kerajinan tangan. mungkin karena ini enceng ga bisa dihilangkan karena emang sengaja dibudidayakan?

  6. yswitopr said: dalam rantai makanan, menungsa tetep sing paling ganas ya Om?

    >Mo Wit; yah… pemangsa segala… kecuali lombok….>Om Sulis;hahaha… keong memang josss…>mBa Lala;bukan dibudidayakan, tetapi memang merajalela…hahahaaa…>mBa Setia;iyah nieh.. bikin ndut hehehe>Mo Wit;aman..aman… hehe.. ditetangga ada ntuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s