Ayahku Juara Pertama Saat Aku Ditampar Sandal

Suara kumandang pertanda subuh santer terdengar dari ujung desa. Hawa dingin menjadi selimut dan obat tidur yang sangat nikmat dan hangat. Langkah kaki pelan terdengar tegas menuju kamar dan terdengar suara ”bangun..bangun..”, belum sempat kata ”bangun” yang ketiga, selimut ditarik paksa. Mata langsung melek dan 100% sadar walau nyawa belum genap 10%. Pria tua itu pergi dengan langkah pelannya menuju garasi, lalu bersama 2 adiku mengikuti dari belakang. Tiap pagi kami bangun pagi untuk pergi keladang, menyirami sayuran dan tanaman lain.

Suara garengpong ”cicada” menggemuruh disekeliling pekarangan rumah pertanda petang segera datang. Asyik bermain hingga lupa pulang dan tahu sendiri akibatnya. Masuk kerumah dengan mengendap-endap layaknya pencuri jemuran amatir yang kepergok juragan rumah. Suara lirih dan pelan dari kursi ruang baca ”sini….plaaaakkk”. Suara yang pelan dan rasa yang pedih dari pria tua itu. Ajakan kemari dikatakan dengan lirih disambut dengan keplakan sandal japit swallow warna hijau dipipi. Sebuah konsekwensi jika terlambat pulang, sebab bebek ama anjing peliaraan kelaparan, namun kenyataannya sekarang kenyang.

Ingin rasanya ikut teman-teman nonton layar tancap dikeluarahan. Mobil keliling menyiarkan malam ini layar tancap dengan film ”saur sepuh” akan diputar. Sebenarnya bukan film yang menjadi tujuan, namun suasana penonton dan aneka jajanan yang digelar menjadi daya tariknya. Niat hati ingin nonton, tapi lagi-lagi pak tua melarang dengan alasan ”besok test, belajar” dijawab dengan suara kalemnya. Nekat berangkat, wedalah malah celaka. Borgol pinjaman dari mandor polisi hutan terikat dikaki dengan tiang besi disudut halaman yang biasa untuk gantungan burung. Semalam diborgol disana dengan sebuah buku pelajaran dan lampu penerangan jalan.

Saat ini setelah 20 tahun masa itu terlewat, kangen rasanya selimut ditarik paksa saat subuh tiba, sandal swalow mampir dipipi atau diborgol dihalaman rumah. pak Tua adalah Ayah saya, yang tidak banyak bicara, tegas dan disiplin. Sesosok guru SD didaerah transmigran dipedalaman kalimantan. Mengajar, pelayanan gereja dan bercocok tanam adalah sebuah profesi yang digemari. Kata orang-orang adalah sebagai figur yang baik, tapi bagi saya ”dulu” sebagai sosok yang sadis dan tega, makan tak salah saya mengidolakan Adolf Hitler.

Setelah sekian lama berpisah, tak tahu mengapa ada kerinduan akan tindakannya yang kadang diluar kewarasan antara seorang anak dan ayah. Kesadaran muncul disaat mengerti apa yang dulu semua Ayah lakukan. Saat disekolah dulu, pernah ikut dijemur seharian gara-gara ketahuan nonton helikopter mendarat dilapangan kelurahan pada saat jam pelajaran. Pada saat itulah ayah bertindak sebagai guru yang disiplin dan tegas, yang menghukum saya seperti anak-anak lain, bahkan saya lebih dapat bonus lagi hukumannya saat sampai rumah.

Saat pengambilan keputusan kemana saya study, Ayah paling tidak mau tahu dan menyerahkan sepenuhnya kepada saya. Ibu yang ngotot saya masuk eknomi atau hukum disambut dengan ledekan Ayah ”kuliah kok kaya njodoke anak, bibitbebetbobot” lalu ditinggal pergi begitu saja. Saat kuliah masuk semester 14 dan belum juga lulus, ibu sudah memberi ultimatum dan ancaman beserta teguran keras. Ayah dengan santainya ”ntar lak yo kelar sendiri.. jalani.. selesaikan dan jangan sesali” yah kata petuah yang lebih sakit dari SP3 Ibu.

Selesai kulaih kebetulan langsung dapat kerja disebuah perusahaan asing. Walau jadi buruh, namun sudah dapat posisi dan gaji cukup mapanlah. Penghasilan dan pekerjaan sudah bisa dijadikan modal kawin, namun sebaliknya malah digunakan selayaknya ana muda dengan mainan kamera, sepeda dan naik gunung. Ibu nampak geram ingin seorang cucu mendesak untuk segera merit ”lha pacar aja gak punya gimana merit… kawin ama kamera, sepeda apa ransel?”. Lagi-lagi Ayah angkat bicara ”nabung dulu yang banyak untuk hidup, nabung kan tidak mesti uang, nanti banyak yang ngantri”. Perkataan lega dan akhirnya memutuskan berhenti kerja untuk melanjutkan studi lagi.

Menyirami sayuran dikala subuh, kini sudah berganti menyirami diri dengan keringat saat lari pagi. Kebiasaan bangun sebelum didahului mentari telah tertanam kuat. Tamparan sandal swallow saat ini menjadi pola disiplin dan tepat waktu serta sadar akan nilai-nilai hukum sebab akibat. Tanggung jawab kasih makan bebek dan memelihara anjing kini beralih kasih makan diri sendiri dan jaga diri. Disaat tangan diborgol kini menjadi ikatan untuk mengekang diri dari pergaulan yang amburadul dan ngawur. Tarikan selimut secara paksa, tamparan sandal, atau hanya sekedar diborgol kini menjadi kenyataan nyata dan realita yang lebih sakit dan kejam.

Andrea Hirata menjadikan sesosok ayahnya sebagai ”ayahku juara nomer satu” begitu juga ayah saya ”ayahku juara pertama”. Sesosok pendidik, pelayan Tuhan dan petani yang bekerja keras membawa anaknya di bangku magister, kepolisian dan strata 1, sungguh luar biasa. Langkah kaki pelan dan suara yang tenang menjadi pelajaran yang luar biasa. Saat saya terlambat pulang, ayah yang kasih makan bebek dan anjing, saat saya diborgol dihalaman ayah terjaga semalaman diteras rumah, saat saya ditampar batin ayah menangis, saat bangun pagi ayah sudah bangun duluan dan selalu terdepan saat mengayuh sepeda. Hari ini Ayah ulang tahun, tak ada kado atau ucapan, hanya doa dan menjalankan semua amanat beliau. Selamat ulang tahun pak tua, anakmu merindukanmu.

salam

DhaVe
Kamar Ademku, 12 Oktober 2010, 08:10

24 thoughts on “Ayahku Juara Pertama Saat Aku Ditampar Sandal

  1. Selamat Ulang Tahun untuk Ayahnya Dhave :), semoga Tuhan selalu menurunkan berkatnya buat beliau :).Iyah, kadang dulu yg dianggep keras, sekarang ternyata berguna.. atau baru ‘ngeh’ kalo itu perlu dilakukan .

  2. agungsudrajat said: Jadi kangen bapak saya juga Cak di kampung Halaman…Selamat Ulang Tahun Buat Bapaknya cak Danang…

    wah jadi inget almarhum bapak yang juga sangat keras dan sangat disiplin mendidik anak2nya, jadinya saya ga pernah dapat keluyuran malam2, ga bisa pacaran, dan hal2 yang sangat saya inginkan seperti yang biasa dilakukan anak sebaya saya karena dianggap bapak saya nggak ada gunanya.nderek ngaturaken tanggap warsa kagem Bapak om…

  3. agungsudrajat said: Jadi kangen bapak saya juga Cak di kampung Halaman…Selamat Ulang Tahun Buat Bapaknya cak Danang…

    >Om Havi; salam juga Om Havi…. kiranya jadi berkat buat semua….>Mo Wito; matur suwun sangeeet….>Mas SUlis; baru rasain sekarang… betapa manisnya tamparan….>mBa Mlati; amin..amin.. dan selalu amin…>mBa Agnes; makasih mBa..makasih… anake jian ciloko nobatek… tungkak wae.hahaha…balang cucur…>OmAno….; matursembah nuwun Om… salam>mBah Kung; makasih mBah Kung… sehat selalu ya mBah…>Mas Yang ngitung mundur; ya hari-hari dilewati dan tak pernah terlewati.. salam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s