Aku Menjadi Saksi Saat Tuhan Merangkai Kehidupan

Dalam lorong gelap, aku berpacu dengan waktu dan harus bersaing dengan ratusan juta sodara-sodaraku. Berlari, berenang, melompat tanpa sedikitpun berhenti ataupun menoleh. Yang ada hanya kedepan secepat mungkin dan jadilah pemenang. Banyak sodaraku berguguran ditengah jalan dan melaimbaikan tangan pertanda, dia pantas memberikan yang terbaik untuk yang terbaik. Gumpalan berbentuk bulat yang menempel erat pada sebuah dinding menjadi akhir dari semua ini. Alam ini kejam, karena memprasyaratkan hanya satu yang jadi pemenang dan tidak ada toleransi buat juara 2, 3 atau harapan.

Akhirnya setelah lelah berjuang, tenaga serasa habis dan ada sebuah jendela kecil lalu mencoba menyusup didalamnya. Disaat sudah didalam dan jendela tertutup, keajaiban terjadi. Seolah semua bergejolak dan sistem gugur terjadi. Semua sodara saya tewas sia-sia dan saya jadi seorang pemenang tunggal. Tuhan telah memilih saya dari yang terbaik untuk yang terbaik.

Disaat masuk dalam sebuah gumpalan daging kecil, dengan ekor yang terputus saya menemukan satu-satunya pasangan hidup saya. Tiba-tiba ada pisau besar yang mengiris tubuh saya dan keluarlah isi yang ada didlamnya. Cairan dan segala isinya tumpah ruah didalamnya, seolah hidup ini tinggal separonya. Disaat butuh ini tercerai-berai, ada sesuatu hal aneh yang terjadi. Ada sebuah tangga yang berpilin tiba-tiba terbelah menjadi 2 bagian. Beberapa anak tangga putus tercabut, dan itulah tangga kehidupan pemberian ayah. Yah wajah serupa ayah ada disana, dan mirip sekali, sesosok sifat ayah ada dalam pecahan anak tangga.

Anak tangga yang terputus dan melayang-layang tak karuan dalam sebuah cairan yang gelap. Disaat melayang tak menentu arah, tiba-tiba nampak sebuah pecahan tangga yang nyaris berbentuk mirip punya ayah, namun yang terlihat sesosok wanita. Sungguh luar biasa yang terjadi saat itu. Ada 2 tangga yang terbelah yang melayang-layang dan kini seolah bergerak perlahan. Anak tangga milik ayah yang putus tibak-tiba disisipi anak tangga milik sesosok wanita, begitupula sebaliknya. Lebuh hebatnya lagi, semua ukurannya sama, presisi, tak ada yang terbalik atau tertukar. Kini anak tangga sudah digabungkan dan ada 2 tangga yang menyatu. Tiba-tiba anak tangga itu menampakan sebuah wajah dan saya tak percaya ”itu wajahku”.

Tangga baru itu diberikan kepada saya, sebagai wujud baru diri saya. Tak henti-hentinya memandang sifat-sifat ini dan tak sabar rasanya untuk segera melihat apa yang terjadi selanjutnya. Saya yang sedang duduk di anak tangga tiba-tiba suasana bergejolak luar biasa. Semua bergerak pelan namun pasti. Saya tiba-tiba terbelah dan ada ada kembaran saya disana-sini. Pada awalnya timbul rasa cemburu, kenapa awalnya satu, namun sekarang saya terbelah dan terbelah menjadi banyak sekali. Disaat meratapi saya yang tercerai berai, saya melihat bahwa saya menjadi sesuatu yang lain dan berbeda. Saya menjadi aneka bentuk, rupa dan fungsi yang terikat dan dialiri cairan berwarna merah.

Pecahan-pecahan saya seolah saling terhubung satu dengan yang lainnya. Ada komunikasi dengan para kembaran saya, tak terbayangkan berapa banyak koneksi yang ada. Waktu semakin berjalan dan selalu diiringi dengan pembelahan dan membelah. Kini saya seperti seekor ikan yang melayang-layang dalam air. Ada sebuah nafas dari seutas tali yang ditanam dipusar saya yang setiap saat mengirimkan sumber-sumber kehidupan. Iseng-iseng untuk melepaskan otot, kaki ini rasanya ingin menendang-nendang. Diluar sana ada suara menggema yang tak jelas dan samar-samar. Disebuah dinding sana terasa sentuhan halus yang memberikan getaran kasih sayang dan ciuman kasih. Ingin rasanya dimanja dan dijaga selalu, ada kedamaian disini walau hidup dalam air.

”nak waktunya telah tiba, pergilah ke dunia” ada suara lembut dan saya tahu ”Dialah yang memilih saya”. Saat-saat yang menentukan antara hidup dan mati, tetapi kali ini ada 2 tubuh yang saling bertaruh untuk kehidupan yang baru. Hidung ini sesak rasanya, hawa dingin menyeruak dalam tubuh. Sekujur tubuh beku rasanya, dan baru kali ini saya rasakan sakit yang luar biasa. Banyak mata melihat saya yang berlumuran darah dan cairan, lalu membelai lembut saya dan diluar sana nampak heboh penuh rasa gembira. Disebuah tempat tidur terkulai lemas namun mulutnya penuh senyum kebahagiaan dan air mata mengalir pelan dipipi.

Seorang lelaki nampak mendekati saya dengan sebuah tatapan tajam disaat mata ketemu mata. Kembali teringat waktu tangga hancur, dia mirip saya. Belum sempat ingatan itu kembali, kehangatan menyelimuti tubuh ini lewat sebuah pelukan dan ciuman sesosok wanita. Saya tak kenal mereka, namun saya tahu mereka ada didalam tubuh saya yang terangkai dalam anak-anak tangga. Luar biasa yang terjadi masa lalu, saya menjadi saksi betapa besar tangan dingin Tuhan yang merangkai kehidupan yang tercerai-berai dan kini menjadi diri saya seutuhnya. Aku sudah menjadi pemenang dan sekarang hidup sebagai seorang pemenang. Terimakasih Tuhan telah memenangkan saya.

Salam

DhaVe
Kamar Ademku, 10 Okt 2010, 08:30

14 thoughts on “Aku Menjadi Saksi Saat Tuhan Merangkai Kehidupan

  1. >mBa Agatha; wehehe ajaibkan Tuhan…. ya saya lagi belajar molekuler…. hehehe>Sist Ave; yups.. tapi Tuhan membuat sebuah mekanisme hening yang tak kita sadari…. sangat menarik untuk dipelajari lebih dalam… lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s