Menciptakan dan Menambah Masalah dengan Mempersulit yang Mudah

Konsep homo homini lupus dan homo homini socius, yang bermakan manusia memakan sesamanya dan manusia sebagai mahluk sosial memang benar adanya. Interaksi antar manusia acapkali menimbulkan gesekan-gesekan yang berakhir dengan konflik. Konflik terjadi disaat tidak adanya kesepakatan antar kedua pihak atau lebih yang tetap ingin mempertahankan keinginannya untuk diterima pihak lain. Penyelesaian konflik dari yang sederhana hingga yang komples dalam skala besar bisa menimbulkan peperangan. Manusia yang acapkali memaknai konflik sebagai perwujudan pertahanan diri menganggap jalur yang ditempuhnya adalah yang terbaik walau pada akhirnya menyulitkan dirinya sendiri atau kelompoknya.

Contoh sederhana dari konflik adalah saat berurusan dengan aparat hukum. Andai anda terkena razia kendaraan bermotor dan pada saat itu anda tidak memenuhi ketentuan maka anda layak dipersalahkan atas nama hukum. Anda tidak membawa SIM, Helm atau apalah sehingga aparat memberi sanksi. Timbulah konflik antara anda dan aparat, beragam pembelaan anda ajukan dan aparat tetap kekeh dengan pendirian prinsip hukum.

Saatnya menyelesaikan konflik antara anda dan aparat. Bisa anda yang menang dengan bersilat lidah hingga membuat aparat tak bisa berkata-kata dan mempersilahkan anda melanjutkan perjalanan. Anda bisa juga terpuruk pasrah dengan segalam macam tuduhan terhadap anda sesuai hukum yang ada. Solusi lain adalah anda berdamai dengan aparat walau tidak ada pihak yang di untungkan. Dengan memberi uang damai maka, anda bebas dari segala tuntutan dan konsekwensinya anda kehilangan sejumlang uang, aparat bebas dari pekerjaan untuk menahan anda dan konsekwensinya hukum sedikit dibutakan dengan tindakan haram.

Jalan damai adalah kemungkinan yang terbaik saat itu dimana anda bisa selamat dari jeratan hukum dan aparat dapat uang rokok, walau ada efek negativ dari tindakan ”damai”. Seperti yang saya tulis beberapa waktu yang lalu ”berdiri ditengan jalan raya antara hukum dan air mata”, nah yang terjadi saat ini jauh lebih ironis dimana dalam menyelesaikan konflik malah mempersulit kedua pihak. Kecelakaan yang mengakibatkan ponakan mengalami patah kaki saat tertabrak sepeda motor.

Disaat jalan damai tidak ada kesepakatan, maka jalur hukum ditempuh untuk menyelesaikan konflik antara pihak korban dan pelaku. Ranah hukum dirambah dengan harapan konflik bisa selesai, namun yang terjadi sungguh diluar dugaan. Motor korban jadi barang bukti, pelaku yang masih ABG menjalani proses hukum dan pemeriksaan dari aparat dan korban yang tak kunjung jelas nasib biaya pengobatannya. Terjadi penambahan masalah yang pada akhirnya terjerumus pada situasi yang lebih kompleks.

Berandai-andai saja, jika saja pelaku mau memberikan santunan yang tak lebih dari harga motor lalu ada kesepakatan hitam diatas putih agar masalah selesai, maka usai sudah. Nah disaat pelaku tetap kekeh dirinya benar dan saat ini sudah dilingkup ranah hukum, maka semua bisa terjadi. Motor yang belum lunas ditahan jadi barang bukti, pelaku dijadikan pesakitan dirumah hukum. Nah andaikata asuransi keluar, maka sepenuhnya milik sikorban. Menjadi pertanyaan bagaimana nasib motor dan pelaku?, tentu saja tidak semudah yang dibayangkan. Untuk menebus motor agar bisa bebas perlu biaya. Untuk membebaskan pelaku juga perlu biaya.

Kerugian secara materi untuk menebus motor dan pelaku mungkin bisa dibayar entah bagaimana caranya. Apa terpikir kerugian lain, yakni nilai pakai dan fungsi motor. Andai motor dipakai untuk mempercepat waktu tempuh dan menghemat pengeluaran transportasi tentu menjadi kerugian tambahan. Motor yang dipakai untuk meringankan pekerjaan kini menambah beban pekerjaan. Pelaku yang masih duduk dikursi SMA kini harus kehilangan waktu belajar, bermain yang lebih parah lagi beban mental dan moral. Sungguh kerugian yang apabilan dikalkulasi bisa dikatan lebih dari harga motor, materai 6000 dan selembar kertas A4 untuk surat damai.

Permasalahan sederhana yang dipersulit hanya untuk membela diri dan mendapatkan kemenangan dari sebuah konflik. Jalan damai mungkin jalan yang terbaik dengan landasan ketulusan memaafkan dan tetap memberikan tanggung jawab sepenuhnya. Jalan hukum menjadi alternativ disaat kesepakatan damai tidak tercapai yang pada akhirnya ada konsekwensi logis yang diterima, karena ada pihak yang berkompeten. Selama permasalahan bisa disederhanakan dan dipermudah mengapa dipersulit…?

Salam

DhaVe
Kamar ademku, 9 Oktober 2010, 09:00

5 thoughts on “Menciptakan dan Menambah Masalah dengan Mempersulit yang Mudah

  1. dhave29 said: Permasalahan sederhana yang dipersulit hanya untuk membela diri dan mendapatkan kemenangan dari sebuah konflik.

    >sist Ave; karena ada muatan dan kepentingan yang saling menguntungkan dan menjatuhkan…. lagi-lagi rakyat kan yang jadi tumbalnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s