Tragedi Anak Gunung Mengarungi Lautan

Angin kencang dan langit mendung menggantung rendah di Pulau terbesar di Karimunjawa. Hari jumat, hari libur nasional di pulau itu, sebab mayoritas adalah umat Muslim. Sambil menanti ibadah sholat jumat, saya yang non muslim sepakat menunggu dipenginapan. Sambil menunggu 2 rekan beribadah, iseng-iseng bersihkan camcorder dan perlengkapan lainnya. Jumatan usai dan semua berkumpul, maka mulailah awal tragedi yang tak pernah terlupakan. Tragedi yang bagi orang lain biasa tapi bukan untuk kami yang anak gunung.

8 jerigen air tawar sudah siap didermaga, logistik sudah kami pack diransel kami, perlengkapan dokumentasi sudah kami kalungkan dan bersiap menuju pulau sisi tenggara di Karimunjawa. Saat kaki mau melangkah menuju dermaga, tiba-tiba angin dan hujan menyambut kami dengan kilatan halilintar yang bikin mental langsung runtuh. Baru tahu kalau laut sedang mengamuk. Dari jauh terlihat perahu nelayan yang bersandar diombang-ambingkan ombak seraya berontak dari tali kekang.

Hampir 1 jam kami beserta 3ABK dan seoarang nahkoda berteduh disebuah warung dekat dermaga. Cuaca membaik, namun dahi Nahkoda mengernyit menandakan ada yang tidak beres, namun tatapan wajahnya mengatakan ”berangkat”. Laut yang belum tenang agak menyusahkan kami mengangkut perbekalan kedalam kapal nelayan. Semua sudah masuk dan saatnya angkat sauh menuju Pulau Gleyang sekitar 1,5 jam perjalanan. Mesin kapal dinyalakan dan asap hitam pekat menjadi bendera start buat pelayaran kali ini.

Hujan rintik mengawalin perjalanan ini, namun semakin menjauh dari dermaga bukan rintik hujan yang kami dapati, namun guyuran hujan lebat dan petir. Menjauh dari pulau dan kini nampak samar-samar tertutupi cuaca buruk dan angin kencang. Ombak seolah tak kenal ampun, mengombang-ambingkan perahu kayu. Pak Waono sebagai nahkoda nampak tenang dengan rokok kreteknya yang terus mengepul. 2 teman sudah merapatkan badan di tiang-tiang kapal takut terlempar. 3 ABK berbicara sambil berbisik yang nyaris tak terdengar kalah dengan suara hempasan air hujan dan angin. Tak henti-hentinya kamera ini merekam setiap momment yang ada.

Sedang asyik menekan tombol merah bertuliskan ”record” tiba-tiba terdengan suara keras dan kami pun terlempar disisi perahu disertai guyuran air laut. Ombak setinggi 3 meter menghantam perahu dan mesin mati. Nahkoda sepertinya panik, namun dengan santainya menenangkan keadaan. Seorang ABK mencoba menghidupkan mesin, namun beberapa kali gagal, setelah sekian kali percobaan berhasil juga. 2 ABK lain sibuk memberikan kami pelampung dan mengikatkan barang-barang kami dengan kencang. Sinyal tidak beres ditunjukan para ABK yang sepertinya panik dengan keadaan ini. 2 teman nampak pucat di sudut buritan dengan terus berdoa dengan bibir yang membiru dan menggigil kedinginan.

Saya tak menyangkan camcorder masih nyalan dan sepertinya dapat momen saat terhempas ombak dan mesin mati. Langit semakih abu-abu hitam dan hujan juga tak mereda. Beberapa kali perahu dihantam keras oleh ombak dan Nahkoda sepertinya memberikan tanda untuk ABK guna mengamati setiap sisi kapal dan gulungan ombak. Tanpa Nahkoda yang piawai mungkin sudah pecah lambung kapal dihantam ombak 4meter dan menelannya bulat-bulat.

Otak ini semakin kotor dan tak terkendali dengan pikiran-pikiran negativ. Sudah lebih 2 jam kami berlayar belum juga sampai, diluar sana tak ada tanda-tanda ada pulau. Kepala makin pusing dan mual, pakaian sudah basah kuyub disertai rasa menggigil yang luar biasa. Saya memastikan semua ketakutan dan panik, namun dengan ekspresi yang berbeda-beda. Terlihat bayangan Tuhan yang serasa semakin dekat disituasi seperti ini dan menyadarkan kami mahluk yang lemah ditengah lautan yang mengganas. Sebutir debu sedang terapung disamudra yang luas dan dalam siap untuk dihempaskan.

3 jam berlalu dan samar-samar nampak pulau kecil, namun sayang kapal tidak bisa bersandar. Kami hanya bisa menikmati dari jarak sekitar 300meter dari bibir pantai sambil digoyang ombak. Kondisi semakin parah dan memaksa saya untuk mengeluarkan isi perut. Rasa getir, sesak, dan lemas menyertai dan perut seperti diaduk puting beliung. Tengkuk yang dipijit-pijit pak Waono membuat isi perut keluar hingga ada cairan berwarna kuning. Lemas dan pusing, bumi serasa berputar dan ingin rasanya menginjak tanah. Tiba-tiba Nahkoda menawari saya untuk berenang menuju pulau. Langsung deal dan laut terasa gelap sekali menandakan masih diperairan dalam dan berjuang bersama ombak menuju daratan.

300meter sudah dilintasi dan bahagia luar biasa menginjakan kaki dipasir putih. Pulau tak berpenghuni akan menjadi rumah kami untuk sekian waktu guna eksplorasi dan berlindung dari cuaca buruk. Cuplikan kisah yang terekam dalam pita minidv menjadi saksi tragedi anak gunung yang berlayar. Beberapa jepretan dalam sensor kamera juga menjadi gambaran bibir yang biru dan wajah pucat pilu. Rompi oranye berisi gabus menjadi pembius ketakutan kami. Kini hanya kenangan yang selalu kami ingat disaat melihat laut.

Pak Waono, Waluyo, Solikin, Mudi, Adi dan Erwin… kita bisa nginjak tanah hoooreeeeeeeeee…………….

salam

DhaVe

15 thoughts on “Tragedi Anak Gunung Mengarungi Lautan

  1. >Bradher Dieend; wesh manteb dah… layarannya… wah kapok akuh hahaha… udah kapok hehehe>Mas Trie; lha tadi nulis ama aplot pake hengpong jew.. ya maaf jika tidak se joss kompi hehehe… monggo dikontrol A sajah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s