Berdiri di Tengah Jalan Raya Hukum dan Air Mata

Pagi pukul tuju kurang disaat sedang asyik membalas komentar-komentar yang masuk dirumah maya, tiba-tiba terdengan suara keras diserati teriakan orang banyak. Dalam hati ”ini pasti ada kecelakaan”, karena tepat depan rumah adalah jalan besar yang menghubungkan 2 kota. Kecelakaan mungkin hal yang biasa akibat kesalahan atau keteledoran dijalan raya, namun ini benar-benar membuat kaget, karena ponakan yang jadi korbannya. Lari kedepan rumah dan meninggalkan obrolan dunia maya dengan tulisan terakhir ”brb”.

Banyak orang berkumpul dan mengerumuni, dan segera ponakan dilarikan ke Puskesmas terdekat lalu dirujuk ke Rumah Sakit. Kebetulan dapat jatah urus dengan pelaku yang ternyata masih gadis SMA tanpa SIM, dan motor baru 3 bulan umurnya. Gadis sekolahan yang masih shock dan motor yang lecet dan pecah dibeberapa sisi, situasi yang serba sulit. Akhirnya datang juga keluarga pelaku dan menyatakan diri bertanggung jawab penuh atas kejadian ini.

Singkat kata-singkat cerita, ponakan mengalami patah tulang dan sudah disambung, kini tinggal totalan dengan keluarga pelaku yang katanya bertanggung jawab penuh. Maka nominal angka 10juta disodorkan beserta bukti-bukti pembayaran, namun yang terjadi adalah pengingkaran janji. Hanya 2 juta yang sanggup dibayarkan dan setelah itu pasrah. Coba cari solusi lain dibalik angka 2 juta demi 10 juta jadi nominalnya.

Iseng aja berkunjung dirumah pelaku, yang ternyata masuk pelosok desa yang cukup jauh juga. Rumah tembok yang masih terlihat bata merahnya, dengan perabotan sederhana dan memang jika dilihat sangat sederhana. Diam termangu didepan rumah pelaku seolah tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Apa minta sertifikat rumah terus digadaikan, tidak mungkinlah dan sangat berat sepertinya. Mau sita motor yang baru 3 bulan kredit jelas tidak bisa. Tak ada barang berharga yang bisa diuangkan atau dijadikan jaminan untuk nominal 10juta.

Diam dan semakin terpaku melihat kondisi rumah yang sederhana tanpa ada penghuni saat itu. Sebuah keluarga pedagang sayur, dengan 2 anak yang masih sekolah dihadapkan pada sebuah musibah. Pulang dengan tangan hampa dan mampirlah disebuah warung dipinggir jalan raya. Sapa senyum pemilik warung menyapa,
”woi mas… apa kabar.. sekarang dimana…? dulu tiap pagi langgananku kan….? masih ngebis…?”.
”kabar baik mas, sekarang lanjut kuliah lagi, iya..dulu mas kan kernet dan kita sama-sama gelantungan dipintu bis dari jaman aku SMP hingga SMA, sekarang masih ngebis yang sama hahaha…”.
Seorang kernet bus ternyata masih mengingat wajah baik saya dan hafal.

Teringat masa lalu yang berjuang jalan kaki sekian KM dan bergelantungan dipintu bus untuk bisa sekolah. Sampai saat ini yang sudah kerja dan lanjut sekolah tetap mengandalkan transportasi umum. Tidak tahu ada apa dengan gadis SMA yang nabrak ponakan, yang sekolah naik motor matic dijalan tanpa mempunyai SIM. Tidak tahu apa isi kepala seorang ayah yang tega memberikan motor kreditan kepada anaknya yang masih sekolah tanpa dibekali ketentuan aturan dijalan raya. Tak tahu juga suara yang keluar saat berkata ”bertanggung jawab penuh”.

Sesak rasanya rasa ini, jika saling dikaitkan dan berdiri ditengah-tengah. Disatu sisi butuh biaya pengobatan, disatu sisi sedang kesulitan keuangan dan keduanya sedang kena musibah. Andai dapat undian 1M, biarlah pengobatan bisa ditanggung penuh dan motor bisa dilunasi sekaligus nyogok SIM. Embel-embel jasaraharja dengan surat keterangan dari Kepolisian yang nantinya akan menyeret pelaku diperadilan karena terbukti salah.

Tak tahu harus begaimana, rasa memang bisa membutakan aturan main dan kata-kata memelas. Mencoba tegar dan menegakan benang kusut hukum yang dilunglaikan oleh air mata. Memang semua telah terjadi dan kata maaf memaafkan sudah terjadi, lantas perkara belum selesai sampai disini. Ini bukan urusan kaki patah ganti kaki patah, namun ada aturan main yang harus ditaati bersama dan berlaku tanpa kenal pandang bulu.

BAP sudah jadi dan barang bukti sudah diseret, para saksi sudah berkata apa adanya, dan kedua pihak telah dipertemukan untuk dibacakan sebuah keputusan sesuai dengan aturan yang berlaku. Tidak ada kata tidak, karena semua sudah dibukukan dalam peraturan. Lega kini semua sudah jelas, dan biarkan hukum berdiri tegak agar semua bisa dilindungi. Yang sakit biarlah cepat sembuh dan yang diperkarakan bisa dapat pelajaran berharga dari sebuah jalan raya.

Salam

DhaVe
Getasan, 3 Okt 2010, 14:15

13 thoughts on “Berdiri di Tengah Jalan Raya Hukum dan Air Mata

  1. >Mas Handoko; akhirnya hukum yang berbicara.. adilkan…?>nDuk Nurul; ya yang berwajib yang urus getu… wuhahaha… mbe disruduk arek SMA yoh hehe….>Sist Ave; celah birokrasi… aku juga iya hahaha :D>Om Sulis; wuahaha percaya deh… jagoan setir lah… josss polll josss

  2. Aku gak pernah bisa nyetir, karena sukak panik’an, drpd org lain jd korban, yowes gak usah ajah.Entah bisa gak lebih tegen nantimya, ato pasrah disetirin trs2an.kalo dibali sering tuh kasus bgtu, pernah temen ditabrak motor, temenku naik mobil,lampu sein pecah, dan sisi penyok parah.si anak sma, mencelat jatuh, geger otak, dan motornya ringsek, posisi simotor yg salah, krn temenku parkir, dia ngebut.tapi bukannya dapet ganti, malah ngebiayain masuk rumah sakit, krn gak tega ninggal itu anak dijaln, diRS kalo gak ada duid, RSnya gak mau tanganin, masih jg dituduh ama kelg si bocah , temenaku yg nabrak, gara2 nya dia naik mobil,,, repot jdnya..

  3. >mBa Penny… yah gitu dah hukum jalanan… yang gede tetep salah apapun alasannya. Resiko besar walau tidak melakukan kesalahan, namun gimana lagi kan urusannya sama manusia. Susah juga, apalgi denga orang yang gak tahu dan gak mau tahu.. wuaaa… cilaka deh…. cara paling aman ya… ngalah aja..>mBa Dieend; yah ini masih nunggu hasil agar semua dapat keadilan… semoga semua baik adanya…

  4. Setidaknya kalo sim nembak ilmu dasar menyetir ya harus tau dan harus taat peraturan, jangan nembak juga.Sayangnya di negara kita yang tercinta ini, udah sim nembak, ilmunya nol pula

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s