mBantul Kenangan 4 Tahun yang Lalu

4 Tahun tepatnya, gempa besar melanda Daerah Istimewa Yogyakarta dan memporak porandakan apa yang ada dipermukaan Ibu Pertiwi. Bukan ingin membuka luka lama dan menimbulkan rasa sakit dan sedih, tetapi sedikit ingin mengenang peristiwa itu yang terus menjadi kenangan indah tak terlupakan. Mencoba mengingat kejadian-kejadian menarik, lucu dan tindakan-tindakan bodoh disaat menjadi relawan bencana. Hanya ada cerita manis dikala pulang dari tugas dan itu akan terkenang selalu.

Berawal dari desa Srumbung, Magelang, dimana saya menjadi relawan bencana Gunung Merapi. Kondisi Gunung Merapi disaat itu yang sudah awas dan siap untuk meletus, tak kunjung terjadi. Setiap hari mengurus para pengungsi, dari masalah logistik “makanan” hingga kesehatan. Rasa bosan karean tidak ada aktifitas, rasa bosan akan menu yang sama setiap hari membuat saya frustasi dengan sendirinya. Iseng main-main kerumah penduduk sekitar dan sambutan hangat yang saya terima. Hampir beberapa hari saya menginap dirumah penduduk, dan ada yang membuat saya tidak lupa akan kuliner yang satu ini “salak”. Daerah merapi yang sentra buah Salak menjadi andalan, maka salaklah menjadi menu utama disetiap sajian. Pagi hari sudah disediakan salak goreng “seperti pisang goreng”, disaat siang hari ada rujak salak atau manisan salak. Selepas malam menu berganti kolak salak, sungguh salak yang luar biasa. Merapi agak tenang saya kembali pulang kerumah untuk kembali menjadi mahasiswa yang baik.

Sabtu, 27 mei 2006 saya bertiga “2 adik laki-laki” tidur 1 ranjang, kebetulan mencoba spring bed baru yang masih mentul-mentul. Pagi jam 6, kok spring bad ini bergoyang dengan sendirinya, dan nampak dinding papan bergemeretak. “Gempaaaa” saya teriak lalu loncat dan menyeret dua adik saya yang masih pulas tidur. Hanya adik yang terakhir yang berhasil saya seret keluar, karena tubuhnya kecil, sedang yang satunya yang berbadan kaya kebo kembali menarik selimut kaya badak molor. Peristiwa itu berlalu, lalu segera cari informasi apa yang terjadi dan televisi menjadi pilihan utama. Berita via telepon ada yang menyebut tsunami, ada yang bilang Merapi meletus.

Segera mandi dan packing peralatan gunung, lalu koordinasi dengan teman-teman kampus dan pagi itu langsung meluncur ke Gunung Merapi. Sepanjang perjalanan, tak bisa membayangkan apa yang terjadi. Tujuan kami adalah Selo, lokasi paling dekat dengan kami, namun sesaat sampai disana tidak terjadi apa-apa, mereka malah juga bertanya-tanya ada apa?. Kembali mantengin televisi dan baru sadar jika ada gempa di Jogja.

Kembali pulang ke Kampus untuk koordinasi kembali dan menyiapkan segala apa yang ada. Untung kita memiliki teman-teman yang kompak dan bisa di ajak kerja sama. Teman yang mempuntai Toko Besi, kita pinjam 1 truknya untuk transportasi, dengan senang hati meminjami plus uang solarnya. Teman dengan penyewaan peralatan pesta, kita pinjam Generator set plus dengan terpal dan tenda. Teman yang bapaknya mantri, kita minta obat-obatan, eh malah bapaknya ikut sekalian dengan seabreg peralatan medisnya. Tiba saatnya menodong teman yang punya warung grosir, sekali kontak berdus-dus makanan instant, air mineral, dan bahan makanan lain sudah siap angkut. Tak lupa mengunjungi juragan sayur dan berkarung-karung sayur segar tinggal mindahin ke bak truck.

Layaknya mau perang kita berangkat dengan naik truck pick up dan meluncur ke Yogja. Saat itu kita berlima, dan sama-sama buta Yogyakarta. Hari pertama, tidak tahu mau kemana, dan kalau tidak salah hanya wisata gempa, karena hanya mutar-muter ring road tidak tahu arah mau kemana. Kebetulan saat itu teringat akan jalan ke Parang Tritis dan ada teman disana, iseng saja SMS. Berita mengejutkan dimana lokasi teman sudah porak-poranda dan terisolir, karena jembatan putus. Meluncur di lokasi dalam suasana gerimis dan kegelapan.

Pick Up Mitsubishi cyclone L300 nampak tangguh “biasa ngangkut semen dan pasir’ melintasi jalanan tanah yang becek. Akhirnya sampai lokasi,dan semua sesuai prediksi. Segera kami membangun tenda pesta untuk para pengungsi dan dalam kurang 1 jam tenda megah dan nyaman sudah berdiri diatas kebun kacang. Suasana gelap gulita, membuat suasana semakin mencekam, dan sesuai rencana, malam itu kita sepakat memanjat tiang listrik, lalu memutus aliran PLN dan digantin dengan generator. Selesai membereskan kabel-kabel agar tidak berbahaya dan saatnya Generator di ogleng, dan “byakkk” semua menyala dan terang kembali.

2 misi telah usai, sekarang saatnya mengisi perut yang sudah kepayahan. Dapur darurat dengan memanfaatkan puing-puing bangunan dan kayu sebagai bahan bakar. Masak ala kadarnya cukup membuat kenyang semua warga disana. Malam itu mission completed, lega rasanya dan saatnya istirahat untuk persiapan esok harinya. Kejadian tolol mulai berawal dari sini, dimana dengan pede-nya kami berlima masuk dalam rumah yang masih kokoh berdiri untuk tidur. “Mas awas lho kalo ada gempa susulan” kata warga disana “wah tenang saja pak… tenang saja” jawab kami sok PD banget.

Matras digelar dan kamipun merebahkan badan sambil diselingi obrolan orang gunung, tak disangka tak dinyana tanah bergoyang dan retakan tembok terdengar. “Gempaaaa” teriak kami berlima dan langsung bangun lari menuju pintu, dan akibat keluar bersamaan maka jatuhlah dimulut pintu. 5 orang bertumpuk jatuh dimulut pintu, sambutan meriah warga kampung mendarat dikami. Malu, sakit, mental down jadi campur aduk tak karuan. Warga yang melihat tingkah kami tak henti-hentinya tertawa. Sejak kejadian itu, tempat tidur kami ada ditengah sawah dengan membangun tenda.
Pagi yang indah di Bantul, sawah dan kebun tebu menghiasi kampung eksotis tersebut. Kabut pagi dan matahari terbit nampak indah dan dramatis dipagi itu. Guratan langit biru dan jingga seolah memberikan semangat baru dari keterpurukan bencana. Nampak indah dan penuh kesan pagi itu dan pagi-pagi selanjutnya selalu saya awali dari titik itu untuk menyambut mentari.

Hari ini tugas kami adalah mengantar obat-obatan kebeberapa titik pengungsian dan posko kesehatan. Transportasi satu-satunya hanyalah dengan jalan kaki atau sepeda genjot. Pilihan tertuju pada sebuah sepeda besi warna hitam, dan segera muluncur dengan obat-obatan di punggung untuk didistribusikan. Jalanan berdebu disepanjang pematang sawah, membuat ekstra hati-hati dan konsentrasi. Disaat jalan turunan, tuas rem kanan kiri saya tarik tapi anehnya sepeda tidak berhenti. Wah panik dan panik, dan jalan semakin curam serta sempit. Teman ada yang teriak “pedal kebelakang” dan spontan saya lakukan lalu “krossaaak…grubyakkk…”. Meluncur masuk sawah dan itulah yang terjadi, sudah jatuh disawah dan tertimpa sepeda besi. Bukan rasa sakit yang ada, tetapi rasa malu yang terjadi, dimana 8 mata teman menyaksikan dan beberapa orang kampung. ‘cekrek” foto kenangan melayang diatas tubuh yang bercumbu dengan sepeda. Sepeda terpedo memang pakem rem-nya, sampai mblusuk di sawah.
Obat sudah didistribusikan, saatnya kembali ke posko, namun apa yang terjadi?. Semua bangunan rata, jalan dan sawan nampak sama. Kami tidak ingat dan tahu alamat posko kami, jadi percumah kami tanya dimana posko kami. Hampir seharian kami mutar-muter kampung demi kampung, kala di hitung mungkin sudah keliling 1 kecamatan dengan sepeda, entah berapa KM yang sudah kami tempuh. Menjelang maghrib, akhirnya nyerah juga dan tanya sana-sini. Iseng aja nyelemong “pak tahu rumah Pak Dokter Edi yang kerja di Rumah Sakit Sarjito?”, dan serempak beberapa orang menjawab “sanaaa mas… lurus mentok lalu kanan poll”. Ternyata dengan kata kunci Dokter Edi bisa membuka pintu sesat kami dan baru tahu kalau semua warga kampung mengenalnya.

Hari-hari berikutnya kami lalui dengan membantu apa yang bisa kami lakukan untuk warga kampung, walaupun terkadang malah merepotkan heehehehehe…. genap 3 bulan yang lalu saya dan teman mengunjungi lokasi dimana kami jadi relawan. Semua sudah berubah, tidak seperti 4 tahun yang lalu dan sekarang sudah pulih seperti semula. Sambutan tuan rumah hangat sekali saya rasakan dan mereka masih mengenal saya, sama saat kita bekerja sama 4 tahun yang lalu. Suasana penuh kenangan coba kami flash back lagi dan semua terekam dengan baik. kejadian lucu, konyol, memalukan ternyata terekam dibenak mereka dan menjadi bahan perbicangan yang “gayeng”. Sebuah lembaran kenangan yang tak terlupakan bersama-sama dengan orang-orang yang hangat, salam kangen yang disana.

salam

DhaVe
Pinggir sawah, 28 mei 2010, 11:00
Makasih tim relawan Balanophora

40 thoughts on “mBantul Kenangan 4 Tahun yang Lalu

  1. dhave29 said: ‘cekrek” foto kenangan melayang diatas tubuh yang bercumbu dengan sepeda.

    Banyak juga yg mengenang Gempa Yogya 4 tahun lalu ya, termasuk mas Dhave.Smoga kita smua slalu dalam lindunganNya ya🙂

  2. ndahneech said: mana potonya….? hihihimBantule daerah mana masih inget ga?

    aku lali daerah mana, yang tak inget cuma “Pak Dokter Edi yang kerja di RS Sarjito”, aku sms temen dulu…. sapa tau inget ini aja biar gak malu-malu banget…..

  3. elok46 said: keluargaku dibantul sampai trauma karena terasa banget

    Yah itulah yang terjadi, aku yang gak ikut merasakan langsung aja trauma,,,, hehhehe😀 akhirnya tidur disawah

  4. elok46 said: keluargaku dibantul sampai trauma karena terasa banget

    ngomongin trauma, jadi inget waktu itu :1 bulan lebih saiia ga berani masuk kamar… tidur di kursi ruang tamu, harus dekat-dekat dengan radio, di samping udah ada tas yg siap ditenteng kalau-kalau ada gempa besar yg datang… hehe…setelah lemari besar yg ada di dalem kamar dikeluarkan, baru berani tidur di kamar… ^_^

  5. ndahneech said: ngomongin trauma, jadi inget waktu itu :1 bulan lebih saiia ga berani masuk kamar… tidur di kursi ruang tamu, harus dekat-dekat dengan radio, di samping udah ada tas yg siap ditenteng kalau-kalau ada gempa besar yg datang… hehe…setelah lemari besar yg ada di dalem kamar dikeluarkan, baru berani tidur di kamar… ^_^

    wah..wah..wah…. enakan bangun tenda kuning ntuh,,,, bebas gempa,,, gampang bongkar pasang, walau harus ditengah sawah hehehhee :Dsampai segitu efeknya…

  6. dhave29 said: wow… sampe segitunya,,,, menakutkan

    masssssssssssssssssssssssaku bikin cerita dengan foto itu tapi jok diprotes dulu yo karena aku masih belajarcontohnya foto yang ku upload itu khan masih kasartapi udah bisa memasukan foto kesitu wakakakakkaaduh 2 jam aku belajar itusemoga kedepannya makin bagus

  7. dhave29 said: wow… sampe segitunya,,,, menakutkan

    iya karena rumahnya benar benar hancur jadi guncangan gempa itu mengaduk aduk rumah dan setelahnya masih tetep ada genpa walau dengan frekuensi kecil

  8. elok46 said: masssssssssssssssssssssssaku bikin cerita dengan foto itu tapi jok diprotes dulu yo karena aku masih belajarcontohnya foto yang ku upload itu khan masih kasartapi udah bisa memasukan foto kesitu wakakakakkaaduh 2 jam aku belajar itusemoga kedepannya makin bagus

    ow..ow…kasih link ajah

  9. elok46 said: iya karena rumahnya benar benar hancur jadi guncangan gempa itu mengaduk aduk rumah dan setelahnya masih tetep ada genpa walau dengan frekuensi kecil

    namanya juga trauma mau gimana lagi hehehehe😀

  10. elok46 said: iya karena rumahnya benar benar hancur jadi guncangan gempa itu mengaduk aduk rumah dan setelahnya masih tetep ada genpa walau dengan frekuensi kecil

    Pernah mengunjungi ke lokasi dan mengirimkan bantuan langsung… Bener2 memprihatinkan..Duka mendalam dari cerita dan penglaman saudara2 kita..Semoga TUhan memberi kekuatan hingga sekarang utk bangkit lagi..

  11. elok46 said: iya karena rumahnya benar benar hancur jadi guncangan gempa itu mengaduk aduk rumah dan setelahnya masih tetep ada genpa walau dengan frekuensi kecil

    Ada sedih, ada trauma, ada lucu (adheknya=kebo?), ada unik (salak? Pagi, siang sore, pa gak sembelit), ada kangen yang pasti, nice story mas🙂

  12. elok46 said: iya karena rumahnya benar benar hancur jadi guncangan gempa itu mengaduk aduk rumah dan setelahnya masih tetep ada genpa walau dengan frekuensi kecil

    Sangat mencengkam luar biasa menakutkan, pd saat gempa ga tau hrs berbuat apa bsnya cm pasrah

  13. elok46 said: iya karena rumahnya benar benar hancur jadi guncangan gempa itu mengaduk aduk rumah dan setelahnya masih tetep ada genpa walau dengan frekuensi kecil

    >mBa Agnes; sungguh luar biasa dan dasyaaat.. Tuhan punya rencana yang indah hehehe….>mBa Dini;wehehehe… warna-warni kisah masa lalu…>mBa DyaN;matursembah nuwun mBa….>Om Sulis;pasrah…jika alam sudah berkehendak… dan bangkit lagi…..

  14. elok46 said: iya karena rumahnya benar benar hancur jadi guncangan gempa itu mengaduk aduk rumah dan setelahnya masih tetep ada genpa walau dengan frekuensi kecil

    >mBa Agnes; sungguh luar biasa dan dasyaaat.. Tuhan punya rencana yang indah hehehe….>mBa Dini;wehehehe… warna-warni kisah masa lalu…>mBa DyaN;matursembah nuwun mBa….>Om Sulis;pasrah…jika alam sudah berkehendak… dan bangkit lagi…..

  15. elok46 said: iya karena rumahnya benar benar hancur jadi guncangan gempa itu mengaduk aduk rumah dan setelahnya masih tetep ada genpa walau dengan frekuensi kecil

    *terharuuuu sangattt*btw, itu sepedanya hiks hiks. kangen sepeda saya di kampung….

  16. dhave29 said: udah kebal yah?

    >Mba Endah; kebal iku hahaha :D>Mas Bakti;duh..duh..malah nangis… cup..cup ah… hehe…>SimBokdhe;yah hanya meniru-niru apa yang orang lain lakukan..itu saja kok… makasih…makasih…

  17. giehart said: bersyukur dengan kejadian ini,……karena semangat gotong royong bermunculan kembali…..

    karena semakin lunturnya kearifan lokal, terlebih kehidupan di kota-kota besar yang cenderung egoistis, gak kenal sama tetangga…

  18. giehart said: karena semakin lunturnya kearifan lokal, terlebih kehidupan di kota-kota besar yang cenderung egoistis, gak kenal sama tetangga…

    baru tau rasa dikala ditimpa bencana…..

  19. giehart said: karena semakin lunturnya kearifan lokal, terlebih kehidupan di kota-kota besar yang cenderung egoistis, gak kenal sama tetangga…

    jadi miris dan merinding jika mengingatnya, tapi merupakan sejuta pelajaran berharga yang tak pernah terlupakan sepanjang hidup

  20. ndiphe13 said: jadi miris dan merinding jika mengingatnya, tapi merupakan sejuta pelajaran berharga yang tak pernah terlupakan sepanjang hidup

    Bener Mas, tetapi dibalik kemirisan ada cerita bodohnya yang menjadi kenangan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s