Menikmati Sejengkal Surga Keindahan di Belakang Rumah

Nama besar dan publikasi akan daya tarik wisata mungkin menjadi magnet para pecinta plesisaran untuk sedikit meluangkan waktu dan koceknya guna menyambangi tempat tersebut. Dengan segala cara mungkin dilakukan demi sampai dan melihat langsung apa yang digembar-gemborkan orang-orang dan media masa. Menjadi sebuah impian dan cita-cita untuk sampai ditempat tersebut. Mungkin beberapa instansi, kantor atau sekolah selalu mengagendakan untuk berdarmawisata ke tempat-tempat tertentu.

Saya mungkin orang yang tidak seberuntung mereka untuk menyambangi tempat-tempat yang menarik tersebut. Saya juga bukan orang kantoran yang punya agenda wisata dalam kurun waktu tertentu, atau anak sekolahan yang orang tuanya mampu memberi uang untuk ikut study tour. Ingin hati rasanya ikut menikmati apa yang orang-orang rasakan, bahkan mendengar cerita dari mulut ke mulut membuat semakin penasaran, tapi apa daya hanya bisa mendengarkan saja.

Bagi orang atau keluarga yang tidak mampu atau yang belum memiliki kesempatan, mungkin mustahil dan hanya tinggal angan belaka. Menjadi pertanyaan sekarang, apa istimewanya tempat-tempat tersebut?. Mungkin mereka yang berkesempatan menngunjungi Pulau Dewata tak lengkap jika belum sampai di Pantai Kuta, padahal dibelakang rumahnya Pantai Selatan. Ada juga yang ke Yogyakarta untuk bersusah payah ke jalan Malioboro dan memborong batik, padahal rumahnya di Pekalongan. Ironis lagi yang jauh-jauh ke Luar negeri berburu fashion, padahal semua barang buruannya di produksi di dalam negeri dan hanya berganti nama. Para agen wisata sepertinya berlomba-lomba memberikan promo dan bujuk rayu tentang atraksi wisata disana, namun kenyataannya angin surga yang dihembuskan.
Kecewa dengan brosur dan janji manis biro perjalanan wisata, maka iseng jalan-jalan di tempat yang tidak banyak di kunjungi orang. Memang bukan perjalanan yang mudah, dimana harus merelakan kaki berjalan 4KM melewati jalanan berdebu. Disaat senja mulai beranjak, suasana semakin dramatis dan membuat mata ini serasa dimanjakan. Ingin berlama-lama sepertinya untuk diam dan duduk disana, tak seperti saat di Kuta dan Senggigi yang dikejar-kejar pedagang asongan dan kontaminasi percintaan sejoli yang mabuk asmara. Ditempat ini sepi, damai dan seolah ini surga milik saya sendiri, dan biarkan saya sendiri yang menikmati.

Mencoba menikmati sisi-sisi keindahan di sekitar, yang mungkin orang tidak sangka dan duga ada sebuah jendela surga keindahan. Bagi para penikmat matahari terbenam tidak usah jauh-jauh ke Kuta, cukup duduk manis di pelabuhan nelayan yang sederhana. Apa yang membedakan matahari terbenan, toh sama saja, mungkin orang bilang momment dan suasana, namun jika sudah berbicara koridor keindahan tak bisa membedakan Kuta dan Pantura Jawa.
Bagi yang tidak suka dengan jalan-jalan dan wisata alam, mungkin bermain-main dikebun bersama sikecil bisa menjadi alternatif wisata yang murah meriah. Melihat serangga-serangga kecil dan mnengenalkan kepada si Kecil mungkin bisa memberikan nilai tambah edukasi, tanpa harus jauh-jauh ke Kebun Binatang. Tidak perlu peralatan yang mahal cukup dengan mata telanjang dan kaca pembesar sudah bisa menikmati keindahan dunia dibalik kebun belakang rumah.

Mencoba belajar dari taradisi dan budaya dinegeri Sakura yang pada musim-musim tertentu bersama keluarga mengunjungi taman, menggelar tikar, membuka bekal dan makan bersama. Sungguh sederhana untuk menikmati keindahan, tanpa harus pergi jauh-jauh dan makan di restoran yang mewah. Mungkin budaya kita yang tidak lazim, sehingga dianggap aneh jika menggelar makan bersama keluarga di Taman Kota. Tuhan menciptakan keindahan disetiap sisi kehidupan, tinggal bagiamana menyikapi dan menikmati setiap jengkal surga keindahan tersebut.

Salam

DhaVe
My Office, 21 Mei 2010, 12:00

49 thoughts on “Menikmati Sejengkal Surga Keindahan di Belakang Rumah

  1. johaneskris said: makanya Om… moto saya: gak bakalan ke luar negeri sebelum mengunjungi Indonesia secara tuntas… kecuali ada sponsor yg bayarin saya ke luar negeri.. hehhehehe

    setuju…aku ngikut wes heheheh 😀

  2. dhave29 said: Tuhan menciptakan keindahan disetiap sisi kehidupan, tinggal bagiamana menyikapi dan menikmati setiap jengkal surga keindahan tersebut.

    “Hal yg biasa dapat terlihat indah, jika dilihat dari sudut pandang yang tepat…dan melalui tangan yang tepat itulah hal yang indah tersaji dengan sempurna…”*btw nampak familiar dengan 3 kalimat pertama…..*

  3. pennygata said: dan foto2 situ bisa merekam keindahannya dgn pasjdi yg lihat disini, juga setuju, kalo itu semua indah🙂

    terimakasih mBak…. semoga berkenan dan tetap nikmati keindahan dariNya

  4. ndahneech said: “Hal yg biasa dapat terlihat indah, jika dilihat dari sudut pandang yang tepat…dan melalui tangan yang tepat itulah hal yang indah tersaji dengan sempurna…”*btw nampak familiar dengan 3 kalimat pertama…..*

    who ya,,,, familiar, semoga bukan saya yang mengucapkan….keindahan….. indah pada waktunya….. waktu, teknik dan orang yang tepat.. jadi dah kumplit

  5. dhave29 said: who ya,,,, familiar, semoga bukan saya yang mengucapkan….keindahan….. indah pada waktunya….. waktu, teknik dan orang yang tepat.. jadi dah kumplit

    keindahan, bagus kapanpun waktunya .. ketepatan waktu, teknik, dan skill-lah yg terus diupayakan supaya tetep komplit .. =)

  6. dhave29 said: who ya,,,, familiar, semoga bukan saya yang mengucapkan….keindahan….. indah pada waktunya….. waktu, teknik dan orang yang tepat.. jadi dah kumplit

    Kalau dipikir, memang banyak sekali korban biro wisata, yang ujung-ujungnya membuang devisa.

  7. ndahneech said: wah.. meh kemana lagi mas? *pengen melu ning mesti ra iso…..*

    rencana… sabtu sore….minggu “ke air terjun benowo, lawe, mbuh mana lagi lali aku” lha wong tinggal ngetutke sajah jeh….

  8. dhave29 said: rencana… sabtu sore….minggu “ke air terjun benowo, lawe, mbuh mana lagi lali aku” lha wong tinggal ngetutke sajah jeh….

    byuh.. byuh….. wis ditunggu aplotannya sajah…..

  9. ndahneech said: tak andhakkeee…. weekk :p

    Hehehe… Mas Danang Mas Danang… pernah ndak piknik di museum nasional?? Hehehe aku bulan lalu baru piknik di museum nasional sama temen2, sayang ndak ada fotonya. Yuk mari kita makan… Eh piknik

  10. lugusekali said: Hehehe… Mas Danang Mas Danang… pernah ndak piknik di museum nasional?? Hehehe aku bulan lalu baru piknik di museum nasional sama temen2, sayang ndak ada fotonya. Yuk mari kita makan… Eh piknik

    Belom.. hehehe…. boleh..boleh ajakin akuh yah…marikita kemon… makannnn

  11. lugusekali said: Hehehe… Mas Danang Mas Danang… pernah ndak piknik di museum nasional?? Hehehe aku bulan lalu baru piknik di museum nasional sama temen2, sayang ndak ada fotonya. Yuk mari kita makan… Eh piknik

    Aku suka nih tulisan yang ini… Nice..Tapi soalan melihat matahari terbenam di Kuta dan sebagainya, mungkin itulah orang, pinginnya tempatnya bukan semata matahari terbenamnya.Seperti contohnya, makan ikan bakar di restoran A (resto terkenal).Padahal ikan bakarnya enggak kalah sama warung tenda belakang rumah.Tapi teteup aja yg mereka incar prestige tertentu untuk bisa makan di resto A tersebut.

  12. miyukidark said: Aku suka nih tulisan yang ini… Nice..Tapi soalan melihat matahari terbenam di Kuta dan sebagainya, mungkin itulah orang, pinginnya tempatnya bukan semata matahari terbenamnya.Seperti contohnya, makan ikan bakar di restoran A (resto terkenal).Padahal ikan bakarnya enggak kalah sama warung tenda belakang rumah.Tapi teteup aja yg mereka incar prestige tertentu untuk bisa makan di resto A tersebut.

    Makasih Om,,,,,syap…. beda tempat sama rasa… apa yang mereka kejar….? gengsi dah,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s