Dimana Ada Kenekatan Disana Ada Truck

Pulang kerja dengan badan lelah dan tidak tahu musti ngapain, maka iseng-iseng buka file film-film yang sudah lama ngendon di hardisk. Mata ini tertuju pada deretan huruf “P”, karena ambilnya acak saja. Sebuh judul film “Punk in Love”, coba saya tonton kembali dan menarik juga sepertinya. Dalam kesendirian dikamar bisa terbahak-bahak melihat alur cerita yang begitu inspiratif. Sebuah kisah seorang pemuda yang ingin menyatakan cinta kepada pujaan hatinya, dimana diawali dengan percobaan bunuh diri hingga tour antar kota dari Jawa Timur hingga Ibu kota.

Bukan sebuah drama percintaan, atau dialog keras khas anak jalanan, tetapi saya mencoba melihat dan mempelajari arti sebuah solidaritas dan persahabatan. Dalam setiap perjalanan selalu dibumbui dengan numpang, gandul, cari gratisan untuk mencapai sebuah tujuan. Berawal dari truk barang, mobil mewah, bus, truk, kereta api, hingga mobil jenazah mereka jalani. Sungguh perjalanan yang menarik dan begitu inspiratif, dimana ada kenekatan disana ada jalan “dalam benak mereka”.

Jikan menilik ke belakang sekian tahun yang lalu, perjalanan khas Punk in Love juga pernah saya lakukan, bedanya saya bukan anak jalanan dan Arjuna yang ingin mencari cinta. Saya dan teman-teman hanyalan orang yang ingin sedikit menikmati kesempatan menginjakan kaki di puncak gunung. Segala macam dicari agar bisa mendaki gunung, walau dalam tanda petik dengan segala keterbatasan alat dan dana, khususnya trasnportasi.

Suatu kali disaat turun dari Gunung Sindoro di daerah perbatasan Wonosobo – Temanggung “Kledung”, dalam rintik hujan menunggu bus untuk pulang. Beberapa Bus yang kami cegat, seperetinya acuh tak acuh dengan orang-orang yang berransel besar “takut menuh-menuhi bagasi dan ruang”, sehingga kami selalu dilewat begitu saja. Hujan cukup deras juga, namun kami tak menyerah untuk mencari angkutan. Sebuah truk, sepertinya memelas melihat kami dan setelah mengutarakan maksud kami akhirnya kami diperbolehkan menumpang. Semua tas ransel di lempar ke bak truk, dan saat tubuh ini meloncat “seng….seng…seng” bau tak sedap, ternyata itu truk habis muat pupuk kandang. Bau kotoran sapi menjadi menu malam itu dan pakaian dan tas penuh kotoran sapi, ya apa boleh buat, akhirnya sampai juga di terminal dan waktunya mandi kembali.

Masih sedikit trauma dengan truk tapi tak kapok juga disaat mendaki gunung Merbabu. Bukan tak punya duit untuk naik bus, tetapi jam trayek bus sudah habis memaksa kami mencari angkutan seadanya. Ada sebuah truk yang berhenti dan kami minta ijin menumpang, wah senangnya bisa dapat tumpangan gratis. Disaat siap untuk naik, ternyata truk sudah penuh dengan pasir dan terpaksa naik diatas gundukan pasir yang memenuhi bak truk. Truk melaju kencang, angin kencang menerpa tubuh dan mau tak mau harus tiarap sambil berpegangan bak truk sambil memeluk tas ransel agar tidak terbang. 1 jam perjalanan serasa menyiksa tubuh dan debu-debu menyelubungi tubuh apes ini yah lumayan daripada jalan kaki.

Kali ini adalah kejadian terakhir yang membuat saya jengkel sekali dengan truk, dan ingin sekali mengamuk sejadi-jadinya. Saat itu sebuah kejadian membuat saya jengkel dan musti turun gunung lagi, dimana didepan saya sudah peringatkan teman untuk memasukan tenda dalam ransel. Kenyataan berbeda tenda ditenteng dan tertinggal dikantor Polsek tempat kami mendaftar perijinan. Tepat jam 12 malam berdua dengan teman terpaksa turun kembali ke Polsek tersebut guna mengambil tenda. Jarak perjalanan jalan kaki sekitar 2 jam dan membuat sepanjang perjalanan terasa berat. Dikejauhan nampak sebuah kendaraan bak terbuka, lumayan bisa ditumpangi. Kami berdua mencoba mengejar kendaraan tersebut.

Dalam remang-remang mencoba menerobos jalan bebatuan, bahkan sempat memotong semak belukar disaat jalanan berkelok. Hampir 15 menit kami mengejar kendaraan tersebut, dengan kode senter saya memberi sinyal kepada sopir. Akhirnya truk tersebut berhenti dan memberi tumpangan kepada kami. Duduk dan lega rasanya, tak sia-sia mengejar sampai kaki bergetar semua. Wedalah baru aja naroh pantat di bak truk, anehnya truk berbelok menuju salah satu rumah dan membuka garasi. Kami pikir pak Sopir mau ambil barang, eh ternyata pulang kerumah dan terpaksa kami turun “makasih pak”. Jarak tempuh naik truk sekitar 50 meter, dan jarak polsek sekitar 100 meter lagi sampai. Lari nerobos semak belukar dan jalan batuan hampir 15 menit ditebus dengan 50 meter naik truk, sungguh pengalaman bikin mesem-mesem saat ingat kembali.

Perjalanan paling berkesan adalah 9km jalan kaki dengan hati gembira dan senang, walau ditawari naik kendaraan. Mungkin orang lain akan segera nangkring jika ditawari kendaraan, tetapi kami menolak mentah-mentah dan lebih baik jalan kaki 9KM. Sungguh aneh dan nyleneh mungkin, lha ditawari naik mobil kok milih jalan kaki. Saat itu masih kelas 3 SMU, sepulang dari naik gunung Slamet saya bertiga kehabisan angkutan. Terpaksa jalan kaki kerumah, karena besok pagi harus sekolah. Disaat jalan kaki dapat 2 km, ada mobil dikejauhan melintas, dengan siaga teman mengacungkan jempolnya untuk numpang.

Kendaraan berhenti dan kami sorak-sorai bergembira, dan sang sopir berteriak “belakang Mas..!!!”. Kamipun lari kebelakang, dan disaat membukat pintu, teman saya jatuh kebelakang dengan wajah pucat dan lemas. Saya yang masih agak jauh mencoba menolong, tanpa tahu kenapa teman saya jatuh lemas dan mau pingsan. Kembali saya buka pintu, “wadalah ada peti mati…” kontan saya tutup lagi dan lari gak karuan. Disisi Mobil tertulis “Yayasan Gotong Royong…..” dan ternyata mobil jenazah. Lemes campur pucat dan akhirnya tidak jadi numpang, dan enakan jalan kaki 9KM, daripada horor seumur hidup.

cerita perjalanan yang menarik dan selalu berkesan disetiap jengkal langkah kaki ini berjalan. Mungkin tak istimewa bagi orang lain, tetapi ini sebuah kisah-kisah yang mungkin sulit di ulang di era transportasi murah dan mewah. Punk in love sekarang naik kereta eksekutiv dan pendaki gunung sudah naik pesawat tiket murah. Tak ada agenda ngejar truk 15 menit, tiada parfum kotoran sapi atau naik ambulan.

Salam gebleg

DhaVe
Laboratku, 22 Mei 2010, 09:00
Thanks; joko dan Koko sudah jadi gembel bareng… luar biasa kalian…

34 thoughts on “Dimana Ada Kenekatan Disana Ada Truck

  1. dhave29 said: Kendaraan berhenti dan kami sorak-sorai bergembira, dan sang sopir berteriak “belakang Mas..!!!”. Kamipun lari kebelakang, dan disaat membukat pintu, teman saya jatuh kebelakang dengan wajah pucat dan lemas. Saya yang masih agak jauh mencoba menolong, tanpa tahu kenapa teman saya jatuh lemas dan mau pingsan. Kembali saya buka pintu, “wadalah ada peti mati…” kontan saya tutup lagi dan lari gak karuan. Disisi Mobil tertulis “Yayasan Gotong Royong…..” dan ternyata mobil jenazah. Lemes campur pucat dan akhirnya tidak jadi numpang, dan enakan jalan kaki 9KM, daripada horor seumur hidup.

    kan ada petinya toh..gpp kali, ndak keliatan yg udah wafat didlemnya.. xixixixi

  2. hitungmundur said: Hah, jd ingat jaman dulu.Kalau di Kulon sini paling hot naik Gede-Pangrango, bro.Simpel. Naik truk sayur, pasti lewat Cibodas.

    iyah..yah.. seru dan layak di coba ie….mau ke Gede,,,, ruwet prosedurnya hahaha….

  3. dhave29 said: saya bukan anak jalanan dan Arjuna yang ingin mencari cinta

    sik… pingin belajar bahasa Indonesia ben ora ketungkak.. 2 kalimat yang digabung menjadi satu kan, mas? 2 kalimat itu yang mana:1. saya bukan anak jalanan; bukan arjuna yang ingin mencari cinta2. saya bukan anak jalanan; arjuna yang ingin mencari cinta

  4. dhave29 said: Saat itu sebuah kejadian membuat saya jengkel dan musti turun gunung lagi, dimana didepan saya sudah peringatkan teman untuk memasukan tenda dalam ransel. Kenyataan berbeda tenda ditenteng dan tertinggal dikantor Polsek tempat kami mendaftar perijinan.

    haha…mending turu neng ngisor watu mas…karo ngewel ngewel…

  5. yswitopr said: sik… pingin belajar bahasa Indonesia ben ora ketungkak.. 2 kalimat yang digabung menjadi satu kan, mas? 2 kalimat itu yang mana:1. saya bukan anak jalanan; bukan arjuna yang ingin mencari cinta2. saya bukan anak jalanan; arjuna yang ingin mencari cinta

    wehehehe… bingung aku Mo…cuma ingin menyambung anak jalanan dan arjuna….. dengan konteks yang berbeda. saya kira yang nomer 2 oke juga, tidak ada pengulangan “bukan”, ya setidaknya tidak “pitik ayam alas”.Dalam beberapa konteks penulisan, saya pernah ngobrol dengan berapa penulis. Tulisan dengan muatan aktual, ilmiah harus dengan kaiadah yang tepat, sedangkan cerita guyonan, novel dan seni ada batasan-batasan yang sedikit diterjang agar lebih komunikatif dan tidak ada kesan kaki “formal, baku”, IMHO lo Mo…. saya juga sedang belajar.

  6. ndiphe13 said: haha…mending turu neng ngisor watu mas…karo ngewel ngewel…

    wadalah..akhire aku yo gak jadi ndaki… ada yang bengeknya kumat dan mundur… wes sehari 3 kali naik turun dengan jalan yang sama….. ngewel didengkul hahaha😀

  7. ndiphe13 said: haha…mending turu neng ngisor watu mas…karo ngewel ngewel…

    saya naek truk rame2 cuma pas jd suporter bola, haha saat tim kotaq saya persemag maen ke pacitan 8 jam berdiri PPmana sampe pacitan suporter kami dipentungi polisi karena terlibat tawuranakirnya pulang dengan pengawalan ketat

  8. emokidonlastevening said: saya naek truk rame2 cuma pas jd suporter bola, haha saat tim kotaq saya persemag maen ke pacitan 8 jam berdiri PPmana sampe pacitan suporter kami dipentungi polisi karena terlibat tawuranakirnya pulang dengan pengawalan ketat

    hahaha…. cilaka…cilaka…. enak ya digebugi rame…rame

  9. dhave29 said: Tulisan dengan muatan aktual, ilmiah harus dengan kaiadah yang tepat, sedangkan cerita guyonan, novel dan seni ada batasan-batasan yang sedikit diterjang agar lebih komunikatif dan tidak ada kesan kaki “formal, baku”, IMHO lo Mo…. saya juga sedang belajar.

    hihihii… maksudku bukan soal gaya penulisan jew… hihihi…cuma mengira-ngira, jangan-jangan : ARJUNA MEMANG LAGI MENCARI CINTA.nek iya, melu ndedonga dech… hihihi

  10. yswitopr said: sik… pingin belajar bahasa Indonesia ben ora ketungkak.. 2 kalimat yang digabung menjadi satu kan, mas? 2 kalimat itu yang mana:1. saya bukan anak jalanan; bukan arjuna yang ingin mencari cinta2. saya bukan anak jalanan; arjuna yang ingin mencari cinta

    sepenangkapanku sih >> saya bukan anak jalanan>> saya bukan arjuna yang ingin mencari cintajadinya “saya bukan anak jalanan dan arjuna yang ingin mencari cinta”…tapi ndak tau kalau>> saya bukan anak jalanan>> saya arjuna yang ingin mencari cinta….hehehehhe…..

  11. yswitopr said: hihihii… maksudku bukan soal gaya penulisan jew… hihihi…cuma mengira-ngira, jangan-jangan : ARJUNA MEMANG LAGI MENCARI CINTA.nek iya, melu ndedonga dech… hihihi

    hahaha…… owalah Mo…Mo…. jare belajar Bahasa Indonesia…

  12. dhave29 said: ternyata mobil jenazah. Lemes campur pucat dan akhirnya tidak jadi numpang, dan enakan jalan kaki 9KM, daripada horor seumur hidup.

    kan ada lagunya, “wong mati ora obah, yen obah medeni bocah.”kapan2 dicobo maning hahahhahahahaha

  13. dhave29 said: ternyata mobil jenazah. Lemes campur pucat dan akhirnya tidak jadi numpang, dan enakan jalan kaki 9KM, daripada horor seumur hidup.

    @mBa Lala; kan ana lagune ”cukup sekali…”

  14. dhave29 said: ternyata mobil jenazah. Lemes campur pucat dan akhirnya tidak jadi numpang, dan enakan jalan kaki 9KM, daripada horor seumur hidup.

    WAKAKAKKAKAKAKAwadalah Peti matiKenapa memang hajar saja bleh

  15. elok46 said: walaaaaaah koq takutwah yang seru kode senternya itu lhohayo kalo kode semapor bisa gak

    waladalah tak kiro isosandi morse tibakno babar blashehehe berarti kode SOS yo ra iso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s