Ujian Hidup untuk Siswa Bernama Ujian Nasional

Sudah bebarapa hari ini rasa bercampur aduk tak karuan, antara sedih, bangga, jengkel, haru, geli, konyol jadi satu tak karuan. Bukan masalah asmara atau roman picisan yang saya rasakan, namun sebuah rasa akan edukasi di Indonesia yang penuh kontroversi. Sedang ramai dan marak-maraknya ujian nasional dan seabreg permasalahnya, dimana ada yang pesat kelulusan atau amuk siswa yang tidak lulus.

Tadi pagi, jam 5 waktu mata membuka mata terdengar suara peluit nyaring ditelinga. Suara mirip wasit sepak bola tersebut terdengar dari tetangga sebelah yang sedang membangunkan anaknya. Sebuah ceramah pagi dari ibu-ibu “ayo bangun, siapkan peralatan sekolah, cek lagi dan siap-siap” sebuah komando untuk anaknya yang menginjak kelas 6 SD. Sungguh mengerikan dan menjemukan, jangankan anaknya, saya yang tetangga sebelah rumahnya aja “budreg” yang tiap hari mendengar walau remang-remang. Ingat waktu SD hingga sekarang, dimana sudah pisah dengan orang tua dan harus hidup mandiri. Tidak ada yang mengingatkan, membangunkan pagi, menceramahi layaknya anak tetangga, begitu ada situasi seperti itu tak tahan sepertinya. Mungkin beberapa sodara saya kapok jika harus “mengoprak-oprak” tiap pagi, karena sebelum mereka bangun saya sudah hilang dari tempat tidur dan pindah dijalanan yang masih sejuk untuk melibas 2-3 KM sekedar cari keringat.

Kembali ke masalah pendidikan, disaat pengumuman hasil ujian nasional beberapa reaksi muncul. Corat-coret baju, konvoi dijalanan merupakan hal yang wajar dan membudaya, maka tidak usah diperkarakan buat mereka yang sedang berbahagia, tetapi ironis saat ada pemberitaan “BunuH Diri”. Sebuah kisah nyata di Jambi, seorang siswi yang nilai mate-matika kurang 0,2 dan dinyatakan tidak lulus, padahal nilai lainya tertinggi di sekolahnya, sehingga minum racun serangga dipilih untuk menanggung rasa kecewa dan malu. Masih banyak cerita tragis yang lain berkaitan dengan kegagalan Ujian Nasional yang menyebabkan banyak siswa depresi, stress, malu dan seolah menganggap dunia sudah kiamat.

Ada apa dengan semua kejadian buruk tersebut, apa yang menyebabkan mereka yang gagal menjadi stress, depresi bahkan mengakhiri hidup gara-gara “Gagal Ujian Nasional”. Jika di logika, sebenarnya masih terbuka peluang besar, dimana ada ujian susulan atau mengulang 1 tahun kedepan. Mungkin mereka yang gagal akan segera menampar saya “PlAKKKK….!!!”, dan berkata “kamu sih…tidak merasakan”. Nah bagaimana dengan tamparan untuk pihak sekolah, orang tua dan pemerintah dengan segala kebijakan dan tuntutannya?.

Memang tidak bisa di pungkiri perasaan mereka yang kurang beruntung, tetapi setidaknya sedikit memberi pencerahan dan ngademin atau istilahnya “menghembuskan angin surga”. Saat di tanya sepupu mengenai tanggapan Ujian Nasional dengan santai saya jawab “Usaha dulu sampai mentok, kalo toh gagal ya di ulang, kalo tetep gagal berarti kamu goblok dan harus gentle mengulang 1 tahun lagi, kenapa musti malu? banyak kok yang malu tidak bisa sekolah dan pengin sekolah, maka dinikmati aja masa sekolahmu, lagian orang tuamu mampu”. Pernyataan yang ditanggapi dengan dingin, dan senyuman tak sedap.

Saya berfikir sebenarnya tekanan itu bukan muncul dari siswa itu sendiri dalam menghadapi momok Ujian Nasional, tetapi sebuah tuntutan dari orang tua. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya pinter, berprestasi, lulus dengan nilai tinggi, mendapat sekolah favorit, menjadi kebanggaan keluarga dan lain sebagainya dan semua itu dilimpahkan “masa bodoh kepada anaknya”. Anak harus memikul gengsi orang tua, nama baik keluarga dan prestis diri sendiri tentunya, serta nama baik sekolah. Coba dibayangkan, berapa banyak mata pelajaran yang harus di rekam dalam memori otak dan harus di eksekusi sekian hari demi mendapat tulisan “LULUS” disaat pengumuman UN.

Jangankan anak, saya yang kuliah dan mikir 1 konsentrasi bidang ilmu aja susahnya setengah mati, apalagi anak SMA dengan seabreh ilmunya. Saya sendiri sadar dan menyatakan diri tidak sanggup jika menjadi siswa SMA kembali “tidak mampu”. Tak kalah lagi arogansi guru-guru dengan pernyataan “untuk mata pelajaran saya, kalian harus bisa”, padahal ada sekian banyak guru yang berkata demikian. Kalo guru silat mah mudah cukup dengan “1 guru 1 ilmu”, lha ini guru SMA “bisa dibayangkan bukan?”.

Mungkin kegagalan bolehlah ditanggapi dengan kekecewaan, namun tetap ada solusinya. Bukan masalah mejadi juara dengan nilai tertinggi, tetapi mencoba dengan kesungguhan hati dan niat semaksimal mungkin untuk menjalani “apapun hasilnya”. Teman kuliah saya pernah berkata “kamu gak bakat di mata kuliah ini”, sebab 3 kali mengulang dapat D, C, CD dan setelah 4 kali mengulang dapat B “mustahil dapat A”, setidaknya ada usaha untuk memperbaiki. Coba sedikit mengurangi beban psikis anak dalam menanggung beban pendidikan dengan memberikan pengertian dan dukungan.

Salam

DhaVe
My laborat, 30 April 2010, 08:30

32 thoughts on “Ujian Hidup untuk Siswa Bernama Ujian Nasional

  1. dhave29 said: sudah waras nie mbah Mul…?

    yg bikin serem kan nilai hasil UNasnya itu menentukan bgt, 1 mata ujian dpt dibawah nilai rata2 yg ditentukan, langsung dah gak lulus, nilai sekolah selama 3thn, sama sekali gak dijadikan bahan pertimbangan kabar terakhir yg aku dengar sekarang malah ada double standard, Unas dan rata2 raport, keduanya gak boleh dibawah rata2 yg ditentukan…meski Unasnya baik, rata2 raport ada yg minus dikit, gak lulus, demikian juga sebaliknya, dengan tuntutan dan tekanan dr guru, teman, link dan ortu.. heheheheh bisa dibayangkan kek apa stressnya tuh anak2 sekarang🙂

  2. pennygata said: yg bikin serem kan nilai hasil UNasnya itu menentukan bgt, 1 mata ujian dpt dibawah nilai rata2 yg ditentukan, langsung dah gak lulus, nilai sekolah selama 3thn, sama sekali gak dijadikan bahan pertimbangan kabar terakhir yg aku dengar sekarang malah ada double standard, Unas dan rata2 raport, keduanya gak boleh dibawah rata2 yg ditentukan…meski Unasnya baik, rata2 raport ada yg minus dikit, gak lulus, demikian juga sebaliknya, dengan tuntutan dan tekanan dr guru, teman, link dan ortu.. heheheheh bisa dibayangkan kek apa stressnya tuh anak2 sekarang🙂

    kasihan yah…sepertinya hilang sudah dunia anak-anak dan ganti dunia sekolah, nilai we….w…kasihan…kasihan….kecil udah stres…. remaja bisa gila…. ntuh… yang di takutkan dampak negatif dari stres dan pelariannya…we…w

  3. rirhikyu said: Arghhh UN lagi UN lagikudu brp banyak korban agar pemerintah sadar?

    sadar untuk apa? kan sesuai amanat undang-undang”mencerdaskan kehidupan bangsa””menstreskan kehidupan siswa”

  4. dhave29 said: waw…. mangstab,,,,”Po Lancar jaya” hehenamanya aja mBah Mul

    dunia pendidikan indo makin diatur orang2 yang katanya tambah pinter makain tambah ga jelas, kurikulumnya aja bikin mumet, piye ui karepe…

  5. sulisyk said: dunia pendidikan indo makin diatur orang2 yang katanya tambah pinter makain tambah ga jelas, kurikulumnya aja bikin mumet, piye ui karepe…

    pinter dan minteri Om….kelingan jaman CBSA mbe PSPB hahaha😀

  6. sulisyk said: dunia pendidikan indo makin diatur orang2 yang katanya tambah pinter makain tambah ga jelas, kurikulumnya aja bikin mumet, piye ui karepe…

    arek-arek di sekolah ku yang ga lulus pada drop semua mentalnya…bisa terbalik2 hasil UN sekarang ni…yang pinter bisa ga lulus, yang biasane pah poh malah dapet nilai “mengagumkan”

  7. dhave29 said: “mencerdaskan kehidupan bangsa”

    saya pernah ngobrol sama kakek sepupu saya yang dulu masuk di jajaran pemerintah.syukur sih.. kayanya dia orang yang bersih.dia bercerita.. “pemerintah itu tidak mau kok rakyatnya pintar. karena kalo pintar nanti ketauan klo pemerintah korupsi dan nantinya juga berarti kekuasaan mereka bisa digulingkan.”jadi entah apa gunanya UN itu? untuk melihat standar kepintaran kaum muda kali ya?jadi klo uda terlalu pintar entar dikirim beasiswa ke luar negri. terus kerja di luar negri. terus indonesia aman deh dari pemuda-pemudi pintar yang mungkin menggulingkan pemerintah.wkwkwkwkwk!!! hm… *berpikir sinis. com*pengen tau aja. klo pejabat pemerintah itu disuruh UN lolos ga ya?😀

  8. alexandraprisnadiani said: arek-arek di sekolah ku yang ga lulus pada drop semua mentalnya…bisa terbalik2 hasil UN sekarang ni…yang pinter bisa ga lulus, yang biasane pah poh malah dapet nilai “mengagumkan”

    nah loh…. nah loh… tak bisa di prediksi….tapi ya nggak bisa menyalahkan…..

  9. timezoneofpii said: saya pernah ngobrol sama kakek sepupu saya yang dulu masuk di jajaran pemerintah.syukur sih.. kayanya dia orang yang bersih.dia bercerita.. “pemerintah itu tidak mau kok rakyatnya pintar. karena kalo pintar nanti ketauan klo pemerintah korupsi dan nantinya juga berarti kekuasaan mereka bisa digulingkan.”jadi entah apa gunanya UN itu? untuk melihat standar kepintaran kaum muda kali ya?jadi klo uda terlalu pintar entar dikirim beasiswa ke luar negri. terus kerja di luar negri. terus indonesia aman deh dari pemuda-pemudi pintar yang mungkin menggulingkan pemerintah.wkwkwkwkwk!!! hm… *berpikir sinis. com*pengen tau aja. klo pejabat pemerintah itu disuruh UN lolos ga ya?😀

    emang getu kenyataanya……saya pernah posting”orang pintar susah hidup di Indonesia”mana linknya aku lupa…

  10. timezoneofpii said: saya pernah ngobrol sama kakek sepupu saya yang dulu masuk di jajaran pemerintah.syukur sih.. kayanya dia orang yang bersih.dia bercerita.. “pemerintah itu tidak mau kok rakyatnya pintar. karena kalo pintar nanti ketauan klo pemerintah korupsi dan nantinya juga berarti kekuasaan mereka bisa digulingkan.”jadi entah apa gunanya UN itu? untuk melihat standar kepintaran kaum muda kali ya?jadi klo uda terlalu pintar entar dikirim beasiswa ke luar negri. terus kerja di luar negri. terus indonesia aman deh dari pemuda-pemudi pintar yang mungkin menggulingkan pemerintah.wkwkwkwkwk!!! hm… *berpikir sinis. com*pengen tau aja. klo pejabat pemerintah itu disuruh UN lolos ga ya?😀

    Maaf, aku nggak komen dulu atas tulisanmu Dhave, coz masih dag-dig-dug nunggu hasil UAN SMP ank bungsuku. Meskipun ‘seharusnya’ bisa lolos dgn mudah, tetap sj hati tdk tenang mengingat UAN sering memberikan kejutan.~Tabik~

  11. jarotsumo said: Maaf, aku nggak komen dulu atas tulisanmu Dhave, coz masih dag-dig-dug nunggu hasil UAN SMP ank bungsuku. Meskipun ‘seharusnya’ bisa lolos dgn mudah, tetap sj hati tdk tenang mengingat UAN sering memberikan kejutan.~Tabik~

    makasih Om…berharap yang terbaik tentunya Om…..Tak hanya anak….Orang tua lebih dag dig dug ternyata…..

  12. jarotsumo said: Maaf, aku nggak komen dulu atas tulisanmu Dhave, coz masih dag-dig-dug nunggu hasil UAN SMP ank bungsuku. Meskipun ‘seharusnya’ bisa lolos dgn mudah, tetap sj hati tdk tenang mengingat UAN sering memberikan kejutan.~Tabik~

    kemarin aku dimintai tolong ponakan untuk cari info pendaftaran ke sekolah barusi orang tua kandung nuntut pengen anaknya masuk sekolah favoritsementara si anak pengen sekolah yg lainsementara keduanya berdebar2 menanti hasil pengumuman kelulusannya minggu depan… semoga semuanya baik2 saja.baiknya emang biar anak yg memutuskan dan orang tua memberi dukungan toh yg menjalani juga si anak saat memilih sekolah baru maupun saat menghadapi UN biar nantinya ga stress karena terbeban tuntutan.*hehehe pelajaran anak sekolahan jaman sekarang makin susah*

  13. lalarosa said: kemarin aku dimintai tolong ponakan untuk cari info pendaftaran ke sekolah barusi orang tua kandung nuntut pengen anaknya masuk sekolah favoritsementara si anak pengen sekolah yg lainsementara keduanya berdebar2 menanti hasil pengumuman kelulusannya minggu depan… semoga semuanya baik2 saja.baiknya emang biar anak yg memutuskan dan orang tua memberi dukungan toh yg menjalani juga si anak saat memilih sekolah baru maupun saat menghadapi UN biar nantinya ga stress karena terbeban tuntutan.*hehehe pelajaran anak sekolahan jaman sekarang makin susah*

    setuju…sebenarnya mudah, namun di bikin susah……biar ada guru lesbiar buku ajar larisbiar guru dapat sabetan dari buku LKSbiar pak guru ada sampinga lesbuku paket standar sukup bagus sebenarnya”semua sudah berubah, namun prinsipnya sama”

  14. lalarosa said: kemarin aku dimintai tolong ponakan untuk cari info pendaftaran ke sekolah barusi orang tua kandung nuntut pengen anaknya masuk sekolah favoritsementara si anak pengen sekolah yg lainsementara keduanya berdebar2 menanti hasil pengumuman kelulusannya minggu depan… semoga semuanya baik2 saja.baiknya emang biar anak yg memutuskan dan orang tua memberi dukungan toh yg menjalani juga si anak saat memilih sekolah baru maupun saat menghadapi UN biar nantinya ga stress karena terbeban tuntutan.*hehehe pelajaran anak sekolahan jaman sekarang makin susah*

    Hmmmm…menyedihkan

  15. dhave29 said: “Usaha dulu sampai mentok, kalo toh gagal ya di ulang, kalo tetep gagal berarti kamu goblok dan harus gentle mengulang 1 tahun lagi, kenapa musti malu? banyak kok yang malu tidak bisa sekolah dan pengin sekolah, maka dinikmati aja masa sekolahmu, lagian orang tuamu mampu”

    iki paling joss tenan ah…kalo semua orang yang gagal bisa melakukan satu hal ini…Indonesia bisa semakin jaya…

  16. dhave29 said: Saya berfikir sebenarnya tekanan itu bukan muncul dari siswa itu sendiri dalam menghadapi momok Ujian Nasional, tetapi sebuah tuntutan dari orang tua. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya pinter, berprestasi, lulus dengan nilai tinggi, mendapat sekolah favorit, menjadi kebanggaan keluarga dan lain sebagainya dan semua itu dilimpahkan “masa bodoh kepada anaknya”. Anak harus memikul gengsi orang tua, nama baik keluarga dan prestis diri sendiri tentunya, serta nama baik sekolah. Coba dibayangkan, berapa banyak mata pelajaran yang harus di rekam dalam memori otak dan harus di eksekusi sekian hari demi mendapat tulisan “LULUS” disaat pengumuman UN.

    Sya sepakat dengan Mas.Nah, sekarang, bisakah kita, calon-calon orang tua membudayakan sikap mandiri kepada anak, membiarkan tumbuh kembang dalam pengawasan sehingga menjadi jiwa yang dewasa dalam memyikapi persoalan hidup yang akan mereka hadapi.Saat ini sudah terlanjur, namun masa depan masih akan datang, jadi, seyogyanya (atau sesalatiganya) mulai mempersiapkan diri kita bagaimana mendidik anak kita (nantinya) tanpa tekanan, namun tetap dalam pengawasan…

  17. otto13 said: Sya sepakat dengan Mas.Nah, sekarang, bisakah kita, calon-calon orang tua membudayakan sikap mandiri kepada anak, membiarkan tumbuh kembang dalam pengawasan sehingga menjadi jiwa yang dewasa dalam memyikapi persoalan hidup yang akan mereka hadapi.Saat ini sudah terlanjur, namun masa depan masih akan datang, jadi, seyogyanya (atau sesalatiganya) mulai mempersiapkan diri kita bagaimana mendidik anak kita (nantinya) tanpa tekanan, namun tetap dalam pengawasan…

    setuju, biarkan berkembang, beri dukungan dan tetap kendalikan

  18. otto13 said: Sya sepakat dengan Mas.Nah, sekarang, bisakah kita, calon-calon orang tua membudayakan sikap mandiri kepada anak, membiarkan tumbuh kembang dalam pengawasan sehingga menjadi jiwa yang dewasa dalam memyikapi persoalan hidup yang akan mereka hadapi.Saat ini sudah terlanjur, namun masa depan masih akan datang, jadi, seyogyanya (atau sesalatiganya) mulai mempersiapkan diri kita bagaimana mendidik anak kita (nantinya) tanpa tekanan, namun tetap dalam pengawasan…

    Dhave, sampeyan belum merasakan jadi wong tuwo, jadi setelah nulis ini, tinggal nanti praktekkan apakah ada rasa khawatir jika anak2 UAN? Bisa??? Harus bisa.Jika terjadi bapake kalau sekolah selalu ranking 1, kuliah lulus cumlaud, terus memaksakan kehendak pada anak, harus spt bapake opo ora kasihan? Terus, ketika orang tua mengarahkan anaknya untuk masuk kuliah di Universitas Terkenal, ternyata anak minta jurusan lain, apa bisa menerima?UN lebih banyak pada “nilai” kekinian, bukan “nilai kehidupan” piye ikiiiiii?

  19. otto13 said: Sya sepakat dengan Mas.Nah, sekarang, bisakah kita, calon-calon orang tua membudayakan sikap mandiri kepada anak, membiarkan tumbuh kembang dalam pengawasan sehingga menjadi jiwa yang dewasa dalam memyikapi persoalan hidup yang akan mereka hadapi.Saat ini sudah terlanjur, namun masa depan masih akan datang, jadi, seyogyanya (atau sesalatiganya) mulai mempersiapkan diri kita bagaimana mendidik anak kita (nantinya) tanpa tekanan, namun tetap dalam pengawasan…

    UAN oh UAN !! momok anak sekolah jaman sekarang.Ternyata jadi anak jaman sekarang bukan berarti lebih enak dengan membandingkan kita yang merasa jaman dulu serba sulit – dalam hal berbeda – mereka sekarang juga mengalami kesulitan yg bahkan lebih berat…

  20. otto13 said: Sya sepakat dengan Mas.Nah, sekarang, bisakah kita, calon-calon orang tua membudayakan sikap mandiri kepada anak, membiarkan tumbuh kembang dalam pengawasan sehingga menjadi jiwa yang dewasa dalam memyikapi persoalan hidup yang akan mereka hadapi.Saat ini sudah terlanjur, namun masa depan masih akan datang, jadi, seyogyanya (atau sesalatiganya) mulai mempersiapkan diri kita bagaimana mendidik anak kita (nantinya) tanpa tekanan, namun tetap dalam pengawasan…

    UN adalah awal dari derita yang panjang

  21. otto13 said: Sya sepakat dengan Mas.Nah, sekarang, bisakah kita, calon-calon orang tua membudayakan sikap mandiri kepada anak, membiarkan tumbuh kembang dalam pengawasan sehingga menjadi jiwa yang dewasa dalam memyikapi persoalan hidup yang akan mereka hadapi.Saat ini sudah terlanjur, namun masa depan masih akan datang, jadi, seyogyanya (atau sesalatiganya) mulai mempersiapkan diri kita bagaimana mendidik anak kita (nantinya) tanpa tekanan, namun tetap dalam pengawasan…

    @Om Pur; wah tidak terbayang kelak jika terjadi hehehe… yah nilai yang berwujud kwantitatif…..semoga yang terbaik Om… terbaik tentunya..@Bu Agnes; semakin meningkat dan terus meningkat tingkat kesulitannya… berbanding lurus@sist Ave; derita tiada akhir hehehehe :d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s