Kereta Datang Perut Kenyang

Malam sebelum berangkat menuju arah barat dengan menunggang ular besi berlabel nama gunung mencoba melihat kehidupan malam disekitar stasiun. Jalan menyusuri lorong yang nampak remang-remang, rupanya PLN tak mampu menerangi megahnya bangunan peninggalan belanda tersebut. Sampai juga di pelataran dengan tujuan mencari bekal untuk 6 jam kedepan di kereta. Harga di luar yang lebih murah dan barvariasi, berbeda dengan di preservasi yang hargannya semahal kereta dan tak ada pilihan.
Disebuah taman nampak anak kecil duduk termenung sendirian. Dalam benak bertanya ada ada denganmu Dik?. Langkah kaki membawa tubuh ini ke arah anak dekil tersebut.
“selamat malam dik… ngapain disana” tanya saya
“biasa Om… sedang ngadem saja dan istirahat sejenak”.
Pembicaraan berlanjut dan nampakanya jam keberangkatan si ular besi masih sekitar 1 jam lagi bisa dimanfaatkan untuk ngobrol. Pancingan demi pancingan pertanyaan ternyata mampu membuka tabir rahasia di balik wajah melasnya.

Saya Andi Om 12 tahun, asal dari jakarta yang lari dari rumah terus numpang kereta api barang dan sampai di Semarang. Saya lari karena takut menambah beban orang tua yang harus memberi makan 2 adik saya yang masih kecil. Saya mau ndak mau harus hidup sendiri bagaimanapun caranya. Helaan nafas panjang mengalir di tenggorokan memenuhi paru-paru lalu terhempas pelan keluar. Tak ada lagi pertanyaan dan semua sudah jelas, sebuah logat Jakarta begitu khas di tengah kota Lumpia. Tidak tahu harus bagaimana, apa yang bisa saya berikan. Dalam hati yang tak bisa berkata-kata, hanya patahan kata yang terucap.

“sabar ya Dik…”
“Saya sudah sabar Om… sedari siang tadi saya sudah bersabar menahan lapar dan menanti belas kasihan orang” jawabnya
“ow maaf… Tuhan tidak tidur Dik”
“ntuh lihat Om…” sambil menunjuk arah mushola kecil
“yah kenapa?” tanya saya
“sehari 5 kali saya sembahyang, tak pernah bolos, tadi kata Om Tuhan gak tidur… perhatikan ntuh… umatNya bukannya ibadah malah tidur pules di mushola… sekarang bagaimana?”

Tak ada kata-kata lagi yang bisa menandingi ibadah dan lelaku anak kecil tersebut. Habis kata-kata ini untuk pengembara jalanan di rel kerasnya hidup. Mencoba mengkahiri pembicaraan…
“kamu kalo makan dimana?” tanya saya
“ya di stasiun Om… nunggu sisa-sisa makanan dari preservasi” jawabnya pelan
“sekarang udah makan belom”
“lah keretanya aja belum datang, mana bisa makan Om…”
“loh kenapa” tanya saya
“saat kereta mau jalan.. makanan sisa akan di tinggal di stasiun dan itu jatah saya”

Makanan yang ditunggui tak datang juga, mungkin sekitar 45 menit lagi baru datang. Mencoba menawarkan sesuatu
“yuuk ikut saya makan disana” ajak saya sambil menunjuk rumah makan di stasiun
“ndak Om… makasih… tidak baik buat saya”
“loh kenapa..?”
“ndak Om.. saya sudah ada makanan sendiri… nanti saya bersihkan kereta trus dapat jatah sisa makanan”

Tangan ini seolah mau menarik lengan si Kecil
Om jangan perlakukan saya seperti itu, saya bisa cari makan sendiri dengan cara halal saya. Kalau Om memaksa saya untuk kesana, berarti mempermalukan saya dihadapan pembeli dan penjual. Biarkan saya apa adanya dengan apa yang saya lakukan. Satu hal yang saya minta, jangan pandang saya sebagai orang yang harus di beri belas kasihan, uluran tangan atau apalah yang bisa menjadikan kita berbeda. Saya hanya ingin orang melihat kaum seperti saya layaknya mereka memperlakukan sesamanya yang senasib. Jangan pandang rendah, hina kami dengan uluran tangan memohon amalan dari Tuhan yang tak pernah tidur. 

“Baiklah kalo begitu, nah 10 menit lagi kereta datang, ayo kesana… jatahmu sudah datang”
“ayooo Om… cepet” tak terasa tangan ini ditarik bocah tersebut dengan penuh semangat.
Kereta datang perut kenyang, tak bisa dibayangkan jika kereta terlambat datang atau rel anjlog pasti dirimu kelaparan. Selamat berjuang kawan, mata ini akan memandang engkau sama… ingat Tuhan tidak tidur, walaupun umatnya tertidur di rumahNya.

Salam

DhaVe
Office, 24 maret 2010, 11:00

51 thoughts on “Kereta Datang Perut Kenyang

  1. hardi45 said: Andi ternyata matang ditempa pengalaman hidup dan matang karena menempa hidupnya sendiri, walaupun baru berumur 12 tahun. Ada ya anak seperti itu!

    yups… semoga ada anak lain yang bisa menempa dirinya dengan cara yang berbeda…salud Om…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s