Lintang Jatuh dalam Wujud Hujan dan Air Terjun Joss Din….

Sebuah keajaiban benang merah terjadi sabtu itu, disaat selesai posting Lintang Kecerdasan yang Redup oleh Sri Krisna terhubung oleh rencana mendadak. Pesan singkat yang mengajak untuk camp dan manjat di Pereng Kuning bertepatan dengan desa dari tokoh yang saya ceritakan. Singkat kata hanya butuh wakgtu 3 jam untuk persiapan menjelang perjalanan dimulai. Dari jalan tol terlihat langit di sisi barat laut nampak cerah dengan bulan sabit menghiasi cakrawala. Akankan sebuah pertanda baik sepertinya.
Jam 17.30 meeting point dirumah saya dimana 5 orang kawan sudah menunggu dengan ransel besar berisi peralatan camping, panjat tebing dan logistik. Sekitar pukul 08.00 3 motor meraung-raung membelah jalanan desa yang sunyi sepi. Dari kejauhan nampak pemandangan malam yang bagu, terlihat dibawah sana lampu kota membentuk formasi mengikuti lekuk jalanan. Bak mutiara yang berbaris dan berpendar malam itu.

Sampai di lokasi, kita minta ijin di rumah pak Kepala Dusun dan mengisi buku tamu serta meminta informasi tambahan tentang tujuan kami. Sebuah pesan “hati-hati” kami camkan dalam diri kami masing-masing. Pukul 21.00 kami mulai melangkahkan kaki kami di jalanan yang becek dan licin. Jalan setapak seolah tak mau menerima kehadiran kami dengan terus menjatuhkan kami. beberapa kali terpeleset dan membuat celana kotor dan basah, sungguh sangat tidak nyaman. Melewati tanah gembur lebih parah lagi, sebab tanah liat menempel di sepatu dan sandal kami yang membuat semakin berat dan susah untuk berjalan.

jam 22.30 kami sudah sampai di lokasi camp, tepatnya berada diatas tebing pereng kuning. Pemandangan indah kota Salatiga, Ambarawa seolah menjadi pengibur kelehan kami. Di atas punggungan, tak satupun kami menemukan tempat yang datar untuk mendirikan tenda-tenda kami. Tepat sekitar 6 meter dari bibir tebing ada sedikit tempat rata yang cukup 2 tenda, namun masih terasa miring dan tidak muat. Akhirnya 2 tenda berdiri dan segera kami membuat makan malam dan minuman hangat.

jam 23.00 rintik hujan disertai petir menggelegar mengagetkan kami yang sedang bercanda dengan teh hangat di tangan. Bersembunyi di balik tenda yang mulai membasah dan sambil berharap lekas berlalu hujan, namun nampaknya harapan kami sia-sia. Hujan semakin lebat dan petir terus-terusan menghajar angkasa. Sebuah ketakutan apabila halilintar tersebut melewati punggungan tempat dimana kami berdiri. Hujan semakin deras, kami hanya bisa bersembunyi dalam hangatnya sleeping bag.


Tenda seolah tak mampu menahan derasnya hujan, terlihat tetesan air mulai merembes dari sela-sela jahitan tenda dan semakin deras mengucur. Tenda sebelah nampak masih tenang-tenang saja, tetapi ternyata bagian bawah bocor. Kepanikan luar biasa malam itu dan memaksa kami untuk mengorbankan sleeping bag sebagai penahan air hujan sebelum menghantam tenda. Usaha kami ternyata tidak sia-sia, tak ada rembesan air hujan atau tetesan air hujan, sebab sudah ditahan oleh sleeping bag.

sekitar pukul 00.30 hujan reda dan kami keluar dari tenda untuk membetulkan posisi tenda yang dikoyak hujan. Tiba-tiba sebuah gigitan menyakitkan terasa di kaki sebelah kanan, dalam gelapnya malam tak terlihat jelas apa yang terjadi. Segera masuk dalam tenda dan meraba luka yang nyeri dan mulai membengkak. Sebuah ketakutan kembali menyelimuti, jangan-jangan gigitan binatang berbisa. Hanya dengan olesan balsem agar bisa sedikit meredam rasa sakit yang bisa di lakukan.

Kembali meringkuk tidur dalam tenda yang mulai hangat dan disaat mata mulai terpejam dan sebentar terlelap sebuah petir mengagetkan kami. Hujan kembali turun, jam tangan yang berpendar oleh pospor menunjukan angka 01.00. Hujan kali ini lebih deras dan disertai angin kencang. Sia-sia sepertinya kami membetulkan tenda tadi, sebab kami harus keluar tenda untuk membetulkan. Aliran air mulai masuk dalam tenda dan membuat semua yang di lewati basah semua. Pakaian, jaket dan sleeping bag kami basah semua. Tak ada yang bisa kami lakukan selain tetap bertahan dalam tenda. Nasib serupa juga menghajar tenda sebelah. baru kali ini kami membuka payung didalam tenda dan berteduh didalamnya. Hampir 3 jam kami bertahan dari guyuran hujan yang tak kenal ampun. bak berteduh dalam kubangan sawah sambil berpayungan ria.

jam 05.00 hujan sudah reda dan langit kembali cerah dan saatnya kami keluar tenda. Sedikit mencari kehangatan disekitar trangia sambil diselingi minuman hangat dan mie goreng. Pagi yang berkabut dan matahari tak jelas terbit dari sebelah mana. Embun tipis menyapa kami untuk mencoba di abadikan dalam bingkai kamera. semua yang basah kami peras dan jemur dalam selimut kabut tipis. Persiapan menuju tebing kami lakukan, sebab kami harus mengambil jalan memutar.
Dengan melewati bibir tebing kami jalan melipir satu persatu dan ternyata sangat jauh dan terjal. kami sempat tanya penduduk yang kebetulan lewat dan dengan jawaban hangatnya mengantarkan kami menuju tebing tersebut. Jalan menanjak dan curam memaksa kami mengeluarkan tali sebagai alat bantu dan pengaman buat kami. Tak ada jalan memaksa kami membuka jalan. Tanah yang licin memaksa kami bangkit dari kepleset berulang kali. Akhirnya sampai juga di sebuah ceruk gua dengan disambut rintik hujan. Didalam ceruk ternyata kami tak menemukan apa yang kami cari selama ini dan memaksa kami kembali turun. 

Badan lelah dan basah kuyup membuat kami harus mengakahiri perjalanan ini, tetapi seorang dari kami masih penasaran. Akhirnya denga kamera Dia mencoba menembus semak-semak terjal, dan sekitar 30 menit kembali masih dengan tanpa hasil. kami akhirnya kembali ke Desa untuk mengambil kendaraan kami, dan mencoba mencari spot lain. Dalam perjalanan pulang telinga terusik oleh suara gemuruh air hujan. Spontanitas kami mengghentikan roda dan kembali berjalan menuju suara gemuruh air hujan.

Wow… ini yang kami cari, ternyata ada disini. Air terjuan dengan kemiringan 60 derajat dengan air deras mengalir menjadi taman bermain kami. Kami mencoba menuruni dengan peralatan panjat untuk menikmati derasnya air. Deburan air menjadi permainan menarik dan berbahaya. Sekali terlepas maka nyawa kami menjadi taruhan dan tidak terbayangkan jika terhempas dibawah sana. Disaat asik bercengkrama dengan derasnya air terjun kami dikejutkan oleh perubahan air menjadi berwarna kuning. sebuah pertanda bahaya memberi pesan kepada kami untuk mengkahiri permainan gila tersbut. Air kuning dan keruh menanddakan di atas sana sedang terjadi hujan lebat dan banjir bandang bisa terjadi setiap saat.

Permainan kami usai sudah dan kembali kerumah masing-masing dengan sejuta kenangan dan penderitaan. Jangan ikuti cara kami agar nyaman dan tetap sehat.


Terimakasih 
Jesus Christ; penyertaanMu luar biasa
Ason; idemu edan dan gila
Dinar; just 2 say “Joss Dinnn”
Aryo; pokoe den pono…
Kris; CDmu gerimis mengundang
Soghie; candamu memeriahkan kelamnya malam dibawah hujan

Salam

DhaVe

53 thoughts on “Lintang Jatuh dalam Wujud Hujan dan Air Terjun Joss Din….

  1. sulisyk said: gresek2 dompet pengen tuku sepatu gunung meneh ben ra wedi kepleset, sepatu gunungku 2 tahun kepungkur dicolong maling, ngerti wae le tuku direwangi ngempeske dompet dadi sasaran empuk waktu tak jemur bar kodanan.

    doh..wadooh… maling edan iku hahaha….oke Om… siap-siap alat pribadi… ntar musim panas kita hajar bareng-bareng…pokoe siap dah… hajar,,,,,

  2. sulisyk said: gresek2 dompet pengen tuku sepatu gunung meneh ben ra wedi kepleset, sepatu gunungku 2 tahun kepungkur dicolong maling, ngerti wae le tuku direwangi ngempeske dompet dadi sasaran empuk waktu tak jemur bar kodanan.

    Nggo wong omahan koyo aku, mung siji komentarku..”Wong Edhiyan..”Syukur wejangan pak Kepala Dusun diikuti.Kedewasaan dalam bertindak dan bertingkahlaku emang mutlak dalam setiap langkah kita..Suwun, Sam…

  3. otto13 said: Nggo wong omahan koyo aku, mung siji komentarku..”Wong Edhiyan..”Syukur wejangan pak Kepala Dusun diikuti.Kedewasaan dalam bertindak dan bertingkahlaku emang mutlak dalam setiap langkah kita..Suwun, Sam…

    wes Edyan Om…. hahahaoke matur suwun…. yah kita belajar untuk terus hidup…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s