Presiden Kalah Terhormat dengan Pak Kadus

Pemberitaan yang menghangat akhir-akhir ini adalah tentang di kecamnya 2 pejabat negeri, yaitu Wakil presiden dan mentri keuangan. Permasalahan tersebut berimbas kepada big boss sang Presiden. Banyak kalangang menghujat atas kinerja dan keputusan yang mereka ambil yang berimbas pada carut marutnya kondisi saat ini. Bolehlah dikatakan para oposisi atau yang bersebrangan dengan 3 pejabat tersebut yang terus merongrong permasalan hingga timbul isu pemakzulan. Tanpa melihat benar salahnya dan bagaimana seharusnya, tetapi cara-cara penghujatan terhadap pemimpin tersebut yang sungguh memalukan. HUjatan demi hujatan, kecaman, demonstrasi, makian dan penolakan ada dimana-mana, sungguh miris sekali seorang pemimpin diperlakukan seperti itu.

Berpindah saat pulang kampung yang terletak dilereng gunung, keramahan khas penduduk desa begitu melekat. Kebetulan saat itu ada acara hajatan tetangga sebelah yang menikahkan putrinya. Undangan telah disebar termasuk untuk para petinggi-petinggi desa seperti; Pak Lurah, Pak Kadus, Pak Bayan dan bu Carik “Sek Des”. Satu persatu tamu undangan berdatangan sesuai jam yang tertera didalam kertas undangan. Sungguh sambutan yang luar biasa terhadap para tamu undangan dan penghargaan luar biasa.

Para pejabat Desa mendapat barisan kursi terdepan dan istimewa, disaat kursi belakang dengan kursi plastik maka tempat duduk paling depan dengan sofa yang empuk. Begitu juga dengan hidangan yang super mewah, tak seperti dengan tempat duduk belakangnya. Sebuah wujud penghargaan dan penghormatan terhadap pemimpin mereka yang berkuasa saat itu. Bukan masalah diskriminasi atau pembedaan status, tetapi sebuah tradisi yang turun menurun dari nenek moyang mereka. Ironis sekali saat menghadiri pernikahan seorang kawan di sebuah gedung pertemuan kota besar, nampak semua hidangan sama semua, barisan kursi plastik yang dibalut kain dan semua nyaris tak ada pembeda. Tak peduli siapa yang datang, atau harus ditempatkan dimana, apa yang harus disuguhkan, sebab semua serba swalayan ala prasmanan.

Saya teringat saat masih duduk di Bangku sekolah dasar, dimana besok di umumkan untuk memakai seragam sekolah lengkap dan membawa bendera kecil datang jam 06:00 pagi. Semua murid dengan tertib datang tepat waktu bahkan ada yang lebih pagi, ternyata pagi itu ada rombongan Mentri Penerangan “Pak Harmoko” dan para pejabat kabupaten datang meninjau kecamatan. Kebetulan SD saya di lewati oleh rombongan tersebut. Belum tahu jam berapa rombongan tersebut datang, intinya jam 07:30 semua murid SD dari kelas 1 sampai kelas 6 sudah berbaris rapi dipinggir jalan sambil membawa bendera merah putih kecil.

Waktu yang ditunggu datang jaga setelah berdiri hampir 3 jam, jam 10:00 rombongan lewat. 250 meter sebelum rombongan datang kami sudah di instrusikan oleh Pak Guru untuk meringis, melambaikan tangan dan bendera. Nah saat rombongan datang, ratusan gigi meringis semua dari semua yang berseragam merah puti disertai lambaian tangan dan bendera, tanpa tau muka Pak Harmoko seperti apa. Kami tahu wajah pak Harmoko hanya dari buku kecil seharga Rp 250,00 yang berisi; Pancasila besertta 36 butirnya, Pembukaan UUD 45, foto presiden, Wakil presiden dan para menteri. Dari kitab kecil tersebut menjelangg kelas 6 sebelum EBTANAS harus hafal semua isinya, sebab 5 tahun lagi sudah berubah.

Berbeda saat ini, disaat para pejabat negara datang dimana-mana bukanya digelarkan karpet merah tapi disambut dengan unjuk rasa dan tindakan anarki. Dahulu gigi-gigi harus meringis memberi senyum, sekarang hujatan dan umpatan yang keluar bahkan sumpah serapah. Berbeda dengan pejabat desa yang jarang terdengar oposisi, atau penolakan, hujatan, makian, yang ada hanya ibu jari untuk mempersilahkan “monggo Pak Lurah”. Buku kecil sebagai panduan pelajran IPS, PMP dan PSPB sekarang seolah hilang dari peredaran, sebab percetakan tak mampu membuat karena pergantian pejabat yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Berbeda dengan dahulu, untuk wajah seorang presiden lebih 30 tahun tak berubah, begitu juga dengan para mentrinya.

Bolehlah menjadi oposisi sebagai wujud kontrol dari kebijakan pemerintah yang dirasa kurang atau tidak sesuai, tetapi apakah harus dengan cara yang tidak selayaknya dilakukan kaum terdidik dan terpelajar. Selayaknya para pemimpin dan pejabat mendapat penghormaatan laiknya pejabat desa di hajatan kampung, masak Pak Presiden kalah terhormat dengan pak Kadus?

Salam

DhaVe
Meja meeting, 11 Maret 2010, 09:00

45 thoughts on “Presiden Kalah Terhormat dengan Pak Kadus

  1. memang Ironis kansemua aturan totokromo ilangmarah menjadikan kebutaandemokrasi yang kebablasanyang seperti katamu bahkan kepemimpinan ini berpurtar seperti roda tapi harusnya totokromo masih dipertahankan bukanberfikirlah generasi mudabagaimana kita mau dihargai bilakita tak mau menghargai orang lain

  2. elok46 said: memang Ironis kansemua aturan totokromo ilangmarah menjadikan kebutaandemokrasi yang kebablasanyang seperti katamu bahkan kepemimpinan ini berpurtar seperti roda tapi harusnya totokromo masih dipertahankan bukanberfikirlah generasi mudabagaimana kita mau dihargai bilakita tak mau menghargai orang lain

    seolah semua jadi keblinger mBak…

  3. agnes2008 said: Sekarang baru tahu dulu lupa…hehe

    Demo gpp tp yg penting jgn bakar ban (polusi tau!), jgn anarkis, n demo ki sing jelas. Kaum terpelajar melakukan itu kan nggilani.Trus kl ada msalah apapun kok mreka lgsung mghujat presiden ya? Emang bener karena nila setitik rusak susu sebelanga. Kebijakan2 yg baik gag diinget. Yg dicari yg salah aja. Hehe.. Manusia kie repot kok.

  4. alam204 said: Demo gpp tp yg penting jgn bakar ban (polusi tau!), jgn anarkis, n demo ki sing jelas. Kaum terpelajar melakukan itu kan nggilani.Trus kl ada msalah apapun kok mreka lgsung mghujat presiden ya? Emang bener karena nila setitik rusak susu sebelanga. Kebijakan2 yg baik gag diinget. Yg dicari yg salah aja. Hehe.. Manusia kie repot kok.

    sebenarnya gak repot, cuma merepotkan diri agar ada kerjaan dan sumber kehidupan… ya dengan etu ntuh salah satunya….

  5. elok46 said: makanya jadilah orang tahu dan mengerti daripada orang pinter tapi minteri orangwakakakoq malah ngosip tosibuk jeeeeeeegak mampir di gubugku

    nah itu yang seharusnya…..maaf kompiku monitornya mbleduk…. listrik gak stabil atau udah kemakan usia…. intinya ngebul dan mak pet..matek..nie pinjem tetangga sebelah dulu ajah…

  6. elok46 said: makanya jadilah orang tahu dan mengerti daripada orang pinter tapi minteri orangwakakakoq malah ngosip tosibuk jeeeeeeegak mampir di gubugku

    denger2 malah ada aksi boikot kepada bu mentri yg mau menjabarkan duit buat rakyat…. lha kalo bu mentri ga boleh pidato gimana rakyat tahu duit yg buat mereka berapa??? Memang bukan jumlah duitnya tapi kok semakin lama jadi semakin salah kaprah…

  7. lalarosa said: denger2 malah ada aksi boikot kepada bu mentri yg mau menjabarkan duit buat rakyat…. lha kalo bu mentri ga boleh pidato gimana rakyat tahu duit yg buat mereka berapa??? Memang bukan jumlah duitnya tapi kok semakin lama jadi semakin salah kaprah…

    makin keblinger dan sok bener ama pinter hahaha

  8. ariesca said: *kasi tanda jempol ke atas*

    jangan samakan sikap hormat di dusun dengan presiden.hujatan-hujatan publik terhadap SBY, Budiono dan Sri Mulyani menandakan bahwa rakyat sudah muak bin jengah setelah dibodohi selama rezim Soeharto yang 32 tahun lamanya. Terlebih kemudahan mendapat informasi dari media, masyarakat lebih pandai menilai sekarang ini.Kalau masa kita masih ingusan disuruh lambaikan bendera manut saja, yo wajar jaman Suharto. sopo wani mbantah??lha kalau di dusun, nuwun sewu, masyarakat masih sendiko dawuh. Meski dalam proses pemilihan Kades, misalnya, serangan fajar sudah rahasia umum jhe. Jadi Lurah bengkok disikat, masyarakat masih nggah-nggih…Mungkin dalam momen-momen tertentu mereka memang kebablasan. Tapi itu juga kan sebagai hak warga negara untuk mengutarakan pendapat. Maklum saja, kita kan baru dalam taraf ber-demokrasi. Bandingkan dengan negeri Obama yang sudah lebih 200 tahun, gk ada apa-apanya kita jhe…nuwun sewu

  9. nakamurawa said: jangan samakan sikap hormat di dusun dengan presiden.hujatan-hujatan publik terhadap SBY, Budiono dan Sri Mulyani menandakan bahwa rakyat sudah muak bin jengah setelah dibodohi selama rezim Soeharto yang 32 tahun lamanya. Terlebih kemudahan mendapat informasi dari media, masyarakat lebih pandai menilai sekarang ini.Kalau masa kita masih ingusan disuruh lambaikan bendera manut saja, yo wajar jaman Suharto. sopo wani mbantah??lha kalau di dusun, nuwun sewu, masyarakat masih sendiko dawuh. Meski dalam proses pemilihan Kades, misalnya, serangan fajar sudah rahasia umum jhe. Jadi Lurah bengkok disikat, masyarakat masih nggah-nggih…Mungkin dalam momen-momen tertentu mereka memang kebablasan. Tapi itu juga kan sebagai hak warga negara untuk mengutarakan pendapat. Maklum saja, kita kan baru dalam taraf ber-demokrasi. Bandingkan dengan negeri Obama yang sudah lebih 200 tahun, gk ada apa-apanya kita jhe…nuwun sewu

    Oke makasi Cak Wawa dengan pandangan nya….]menarik juga jika dicermati….Bukan masalah mringis atau terpaksa untuk menghormati, tetapi bagaimana selayaknya…. sajah..suwun buat tambahannya cak…salam

  10. nakamurawa said: jangan samakan sikap hormat di dusun dengan presiden.hujatan-hujatan publik terhadap SBY, Budiono dan Sri Mulyani menandakan bahwa rakyat sudah muak bin jengah setelah dibodohi selama rezim Soeharto yang 32 tahun lamanya. Terlebih kemudahan mendapat informasi dari media, masyarakat lebih pandai menilai sekarang ini.Kalau masa kita masih ingusan disuruh lambaikan bendera manut saja, yo wajar jaman Suharto. sopo wani mbantah??lha kalau di dusun, nuwun sewu, masyarakat masih sendiko dawuh. Meski dalam proses pemilihan Kades, misalnya, serangan fajar sudah rahasia umum jhe. Jadi Lurah bengkok disikat, masyarakat masih nggah-nggih…Mungkin dalam momen-momen tertentu mereka memang kebablasan. Tapi itu juga kan sebagai hak warga negara untuk mengutarakan pendapat. Maklum saja, kita kan baru dalam taraf ber-demokrasi. Bandingkan dengan negeri Obama yang sudah lebih 200 tahun, gk ada apa-apanya kita jhe…nuwun sewu

    justru dalam memberi penghormatan yang selayaknya tersebut kita mempunyai kewajiban untuk mengingatkan pemimpin yang alpa. seperti kita diwajibkan menegur imam sholat yang salah dan lupa. patut dimaklumi jika bagi berbeda pendapat belum menjadi kebiasaan yang positif di tengah masyarakat kita.

  11. nakamurawa said: justru dalam memberi penghormatan yang selayaknya tersebut kita mempunyai kewajiban untuk mengingatkan pemimpin yang alpa. seperti kita diwajibkan menegur imam sholat yang salah dan lupa. patut dimaklumi jika bagi berbeda pendapat belum menjadi kebiasaan yang positif di tengah masyarakat kita.

    bener juga….Cak,,,,jangan pake anarki dan ngrusak yah…. apalagi sampe mengganggu kepentingan publik dalam rangka memberi peringatan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s