Mutiara Bangsa yang Terselubungi Politik Anarki

Ibarat bunga teratai ditengan padang gurun yang gersang bila dikaitkan dengan kondisi bangsa ini. Dari pemberitaan media masa tentang carut marut dunia politik yang semakin memanas dan tak tentu arah, seolah rakyat ini gerah dan membutuhkan setetes embun oase di tengah teriknya matahari gurun. Dibeberapa daerah muncul kericuhan dan kekacauan gara-gara ibu kota sedang dilanda krisis parlementer. Aksi demonstrasi yang berujung anarki dan pengrusakan ada dimana-mana, sungguh sangat memprihatinkan sekali dan membuat mata bunda pertiwi semakin menetes menangisi anak negeri.
Sebuah pepatah menjelaskan, benih-benih kehidupan telah ditanam dan tumbuh subur, bata-bata pembanguan tertata rapi memegahkan negeri, alunan dan ragam budaya menghiasi warna negeri, pelita kecerdasan meningkatkan martabat bangsa, tetapi semua telah rusak dan ternoda oleh orang-orang yang mengandalkan politik sebagai mata pencaharian. Sebuah tamparan hebat tentunya bagi mereka yang berebut kursi-kursi panas di Republik ini. Sebuah perjuangan untuk duduk dikursi kekuasaan dan kewenangan dan sekarang menghancurkan harapan rakyat yang telah memberi mandat dan amanat.

Setiap hari mendengar, membaca dan melihat berita yang ada hanyalah kasus duit sekian triliun, partai koalisi, ketidak becusan pemerintah dan lain sebagainya. Yang menjadi pertanyaan, apakah tidak ada masalah lain yang nilainya lebih besar dari 6 sekian triliun yang digelontorkan menjadi dana talangan yang dikemplang atau gonjang-ganjing kekayaan aparat negara. Masih banyak Bilqis-Bilqis lain yang butuh bantuan kesehatan yang sekarang masih terkapar, bencana diberbagai tempat dan masaslah sosial yang lain yang jumlahnya melebihi apa yang menjadi perdebatan saat init. Ternyata semua terabaikan dan lebih penting berbicara kekuasaan dan saling mengklaim kebenaran pada diri masing-masing dan kelompoknya.

Kegerahan sedikit terobati saat melihat tayangan yang di ampu oleh Andi F Noya. Anak-anak bangsa yang menjelma menjadi mutiara kebanggaan negeri telah mampu mengharumkan nama bangsa ini. Karya-karya anak bangsa yang sudah kelas dunia dan diakui dunia, bahkan menjadi rebutan negara-negara asing menjadi penyejuk dahaga bagi teratai yang melayu oleh panasnya politik dalam negeri. Sebuah pernyataan terlontar, saat alat bantu untuk penyandang tuna Daksa berupa sensor mata untuk menggerakan tetikus ingin dibeli pihak asing, dengan tegas “ini milik Indonesia”. Dua jempol langsung teracung saat sebuah pernyataan tersebut terlontar. Dalam acara tersebut juga ditampilkan karya-karya yang menggambarkan tentang budaya Indonesia sebagai bentuk perlawanan terhadap isu klaim negara asing. Kami melawan dengan karya, bukan dengan cara yang tidak pantas; sebuah acungan jempol kembali didaratkan.

Disela-sela acara, ada sebuah berita sisipan yang mengabarkan terjadinya pengrusakan dan tidakan anarkis masa pendukung salah satu partai. Mereka merusak gedung dan inventarisnya gara-gara keputusan tidak sesuai dengan konstituen. Sungguh layak disayangkan sekali, disaat anak bangsa sedang berkarya, para orang tua dengan baju politiknya mengadakan pengrusakan. Sungguh ironis sekali bila disangkut pautakan dengan kondisi bangsa ini. Sudah berapa banyak fasilitas umum yang dirusak, berapa banyak korban berjatuhan, berapa suara yang menghujat pemimpin.

Tindakan merusak, anarkis dan seenak udel ini tanpa memikir efek kedepannya telah menodai karya-karya yang telah tercipta. Dengan alasan ada aksi pasti ada reaksi, dicontohkan ada rekasi brutal disambut dengan reaksi lebih brutal dengan masa yang lebih banyak. Sedang mutiara negri ini, ada aksi mengusik Ibu Pertiwi dibalas dengan sebuah karya yang mendunia. Sungguh sangat disayangkan, Bangsa ini sangat susah menerima talenta-talenta mutiara bangsa untuk berkarya di tanah airnya. Negara-negara tetangga sudah siap membidik potensi anak negeri dan bersiaplah kita untuk kehilangan apabila tidak dipertahankan.

Mereka yang mengaku kaum intelektual dengan jas alamamater, bersatulah kembalilah berkarya untuk bangsa. Mereka yang didaulat menjadi pejabat negara, kembalilah bekerja mengemban amanat rakyat, kita yang menjadi pengamat, bijaksanalah dalam menilai sesuatu. Merusak bukan jalan keluar yang baik, tetapi dengan berkarya dan bekerja niscaya akan menuju sebuah kebaikan.

salam hormat buat mutiara muda bangsa dengan segala karyanya… negeri ini butuh engkau.

Salam

DhaVe
Home sweet home, 6 Maret 2010, 00:00

42 thoughts on “Mutiara Bangsa yang Terselubungi Politik Anarki

  1. udelpot said: yah ketiga ………………..

    seperti kemaren beberapa sinetron nampilin adegan2 demonstrasi .. lucu .. pi apakah memang seperti itu dan harus jadi seperti itu? hmm .. apa yg bisa kita berikan ya?*btw, met pagi kang dhave .. =D

  2. smallnote said: Yap, seperti kemarin-kemarin juga pertanyaan: mengapa harus anarkis kalau bisa damai?

    met pagi mas dhave ^^ hmmm, memang miris liat pemberitaan di tv tentang tindakan2 anarkis yang belakangan dilakukan oleh teman2 yang ber jas almamater ini😦 sangat disayangkan, apa memang aksinya harus dilakukan dengan cara seperti itu….

  3. udelpot said: seperti kemaren beberapa sinetron nampilin adegan2 demonstrasi .. lucu .. pi apakah memang seperti itu dan harus jadi seperti itu? hmm .. apa yg bisa kita berikan ya?*btw, met pagi kang dhave .. =D

    sinetron sampe ikut-ikutan yah….?Yang bisa diberikan berpartisipasi dalam anarki…. hehehe :DNgaturaken sugeng Enjing ugi Ki Udel…

  4. simplyhapinessme said: met pagi mas dhave ^^ hmmm, memang miris liat pemberitaan di tv tentang tindakan2 anarkis yang belakangan dilakukan oleh teman2 yang ber jas almamater ini😦 sangat disayangkan, apa memang aksinya harus dilakukan dengan cara seperti itu….

    kayaknya ingin menunjukan “ini loh aku, kami, kita”Mungkin jalan akhir seperti itu, atau otaknya sudah beku dibangku kuliah dan di cairkan dulu sementara… mumpung bisa bolos atas nama rakyat “yang mana?”.Semoga bisa baik dengan cara yang terbaik…”hidup mahasiswa….. revolusi…revolusi..revolusi….. sampe,,,,,,xxxx”inget jaman dulu, gak pake anarki loh? cuma di sel semalem ama di gebuki ajah

  5. dhave29 said: kayaknya ingin menunjukan “ini loh aku, kami, kita”Mungkin jalan akhir seperti itu, atau otaknya sudah beku dibangku kuliah dan di cairkan dulu sementara… mumpung bisa bolos atas nama rakyat “yang mana?”.Semoga bisa baik dengan cara yang terbaik…”hidup mahasiswa….. revolusi…revolusi..revolusi….. sampe,,,,,,xxxx”inget jaman dulu, gak pake anarki loh? cuma di sel semalem ama di gebuki ajah

    wah inget banget mas, jaman aku mulai kuliah aku inget gerakan aksi2 demo mereka dengan yel2nya tanpa anarki ^^v , saat itu kita yang gak ikutpun merasa ikut bangga sebagai mahasiswa…. yah, beku otak saat kuliah adalah wajar, hanya, dengan aksi seperti itu, apa nantinya gak merugikan juga kalo sampe terjadi sesuatu yang buruk….*kasian orangtua yang dah mo kuliahin mereka, bukan untuk jadi sia2 bukan?*ya semoga ada cara penyelesaian yang terbaik dengan cara terbaik

  6. simplyhapinessme said: wah inget banget mas, jaman aku mulai kuliah aku inget gerakan aksi2 demo mereka dengan yel2nya tanpa anarki ^^v , saat itu kita yang gak ikutpun merasa ikut bangga sebagai mahasiswa…. yah, beku otak saat kuliah adalah wajar, hanya, dengan aksi seperti itu, apa nantinya gak merugikan juga kalo sampe terjadi sesuatu yang buruk….*kasian orangtua yang dah mo kuliahin mereka, bukan untuk jadi sia2 bukan?*ya semoga ada cara penyelesaian yang terbaik dengan cara terbaik

    cara penyelesaian dengan cara kaum intelektual..cara yang smart…tanpa anarki, tapi dengan wujud karya nyata… buktikan kalo memang pinter….

  7. dhave29 said: cara penyelesaian dengan cara kaum intelektual..cara yang smart…tanpa anarki, tapi dengan wujud karya nyata… buktikan kalo memang pinter….

    Selalu ada yang baik dan sebaliknya,. kehidupan,… ada kehancuran ada juga harapan.*Rodo mriang kie….

  8. elok46 said: bekerja sepenuh hatimenjunjung tinggi demokrasiberjuang melawan ketidakadilan dengan karya anak bangsa:)walah elok kie ngomong opo to

    lah itu yang harus menjadi tindakan nyata,….akankah di awang-awang terus?

  9. dhave29 said: harapan sekian..sekian dan sekian….

    dimulai dari diri sendri masitu penting setelahnya biarkan semua menirukanaku yakin jika kita benar pasti ada jalanseperti layaknya anak kecil dia menilai dengan cara melihat, mendengar dan meniruapa yang dia lihat dan dengar itulah yang dia tiru.

  10. elok46 said: dimulai dari diri sendri masitu penting setelahnya biarkan semua menirukanaku yakin jika kita benar pasti ada jalanseperti layaknya anak kecil dia menilai dengan cara melihat, mendengar dan meniruapa yang dia lihat dan dengar itulah yang dia tiru.

    syap dilanjutken mBak,,,semoga bisa dan bisa.. optimis..

  11. elok46 said: dimulai dari diri sendri masitu penting setelahnya biarkan semua menirukanaku yakin jika kita benar pasti ada jalanseperti layaknya anak kecil dia menilai dengan cara melihat, mendengar dan meniruapa yang dia lihat dan dengar itulah yang dia tiru.

    biarkan tikus2 berdasi serta para begundal2nya itu saling mencicit berebut korupsi, keuasaan dan ketamakan, kita berkarya saja semampu dan sebisa apa yang bisa kita hasilkan. sekecil apapun itu lebih mulia dari pada sifat anarki dan destruktif yang mereka tunjukkan

  12. elok46 said: dimulai dari diri sendri masitu penting setelahnya biarkan semua menirukanaku yakin jika kita benar pasti ada jalanseperti layaknya anak kecil dia menilai dengan cara melihat, mendengar dan meniruapa yang dia lihat dan dengar itulah yang dia tiru.

    namanya juga Politik……. karena di politik bukan ilmu pasti yang 2+2 = 4

  13. sulisyk said: biarkan tikus2 berdasi serta para begundal2nya itu saling mencicit berebut korupsi, keuasaan dan ketamakan, kita berkarya saja semampu dan sebisa apa yang bisa kita hasilkan. sekecil apapun itu lebih mulia dari pada sifat anarki dan destruktif yang mereka tunjukkan

    setuju Om….yah jalan kita berbeda..

  14. rirhikyu said: entah itu mutiara or bukan….😦

    Di satu sisi anak muda berkarya dan menciptakan sesuatu yang berguna.Di satu sisi lain, anak muda pula yang bertindak anarkis dan menghancurkan sana sini.Di tempat lain, golongan-golongan tua dengan kursi panasnya sibuk mengisi kantong dan menggemukkan perutnya sendiri.Di tempat yang berbeda lagi, seorang tua pulang dari kerja yang melelahkan seharian dengan gaji pas-pas an menonton berita-berita tersebut di TV dan menghela nafas.

  15. miyukidark said: Di satu sisi anak muda berkarya dan menciptakan sesuatu yang berguna.Di satu sisi lain, anak muda pula yang bertindak anarkis dan menghancurkan sana sini.Di tempat lain, golongan-golongan tua dengan kursi panasnya sibuk mengisi kantong dan menggemukkan perutnya sendiri.Di tempat yang berbeda lagi, seorang tua pulang dari kerja yang melelahkan seharian dengan gaji pas-pas an menonton berita-berita tersebut di TV dan menghela nafas.

    Bak dus sisi mata uang yang tak terpisahkan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s