Bapaku Adalah Diri Saya Sendiri

Berbicara tentang orang tua memang tidak ada habisnya, banyak sisi-sisi yang bisa diamati dan dipelajari sebab mau tidak mau, waktu akan menjadikan kita tua. Banyak pelajaran yang tidak dperoleh dari bangku pendidikan atau kursus untuk menjadi orang tua, tetapi diperoleh bersamaan dengan waktu dan kondisi yang ada.

sudah hampir 1 tahun berjalan mencoba belajar menjadi orang tua/bapak bagi diri saya sendiri. Agak aneh sepertinya menjadi orang tua bagi diri sendiri, bahkan acapkali menjadi ibu/mama, menjadi anak atau menjadi pembantu. Pelan-pelan saya mencoba menjalani peran tersebut sebagai sebuah awal tahapan untuk persiapan kejenjang lebih tinggi. Mungkin sebagian orang akan heran melihat apa yang terjadi dengan semua ini, tetapi saya mencoba cuek dan menjadi kebo budeg atas cibiran semua itu, toh ini hanyalah proses belajar.

Menjadi bapak tentu bukan hal yang mudah, dimana harus menjadi tulang punggung bagi keluarga. Maka filosofi tersebut coba diterapkan dalam setiap pekerjaan dan pergaulan. Bekerja dengan motivasi memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan segala tetek bengeknya. Malam giliran ronda harus datang, arisan bapak-bapak di kompleks harus ikut, kumpulan RT, atau sekedar ngopi bareng di pos ronda. Masih banyak lagi pekerjaan sebagai sesosok ayah bagi diri saya sendiri, dimana kadang otak ini harus diperas dan diperlakukan layaknya lutut. Sebuah tanggung jawab besar menanti saat skenario nyata diperankan.

Menjadi istri bagi diri saya sendiri tak kalah pusing dan puyeng, gaji awal bulan harus diatur dan diposisikan sesuai dengan anggaran. Belanja awal bulan untuk memenuhi kebutuhan 1 bulan; sembako dan pernak-perniknya, tagihan listrik, internet, telepon, kebersihan dan sedikit menyisihkan untuk tabungan gawat darurat. Awal bulan, dengan tas ransel belanja disupermarket belanja sembako full satu bulan. Selang 1, 2 hari ke bank bayar semua tagihan. Sebuah tanggung jawab besar dari seorang Mama yang sangat berat jika dibayangkan. Bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk suami dan anak, mencuci baju, bersih-bersih. Sungguh tak terbayangkan bagaimana menjadi seorang Mama, baru belajar saya sambatnya minta ampun.

Menjadi anak seusia saya juga tak begitu mudahnya, mau minta duit dari orang tua (diri saya sendiri) tak kalah malunya, makanya selain jatah harian saya harus mencari penghasilan sampingan apapun yang penting halal. Tidak enak rasanya ngrepotin gaji Papa atau harus memotong anggran dapur Mama. Setiap akhir pekan mencoba keluar sedikit dari rutinitas pekerjaan dengan modal uang sisa-sisa mencoba ngadem di gunung, atau menikmati angin pantai bahkan sekedar cuci mata di mall. Wah ternyata enak juga menjadi anak dari diri saya sendiri.

Saatnya menoba menjadi pembantu disaat ditinggal pergi tuannya. Nyapu dan ngepel rumah dengan 3 kamar sudah nguras tenaga, jajaran pot bungan harus dibenahi, langit-langit harus dibersihkan dari jaring laba-laba. Intinya rumah harus bersih, agar Tuan besar, Nyoynya besar dan Tuan muda saat pulang rumah dalam keadaan bersih dan rapi.

Sebuah skenario hidup yang coba saya pelajari dan iseng ingin belajar tanpa harus ada target. Orang boleh bilang itu gila dang nyleneh, setidaknya mencoba merasakan apa yang orang-orang hadapi, bagaimana menjadi seorang bapak, ibu, anak dan pembantu. Ternyata tak semudah yang dibayangkan, padahal hanyalah sebuah skenario, tetapi berat juga ternyata. Rumah kontrakan dengan 3 kamar tidur, ruang tamu dan dapur yang cukup luas ditambah tetangga yang sangat welcome dan ramah menjadi lapangan untuk berlatih diri sebelum menjadi orang tua beneran.

Sebuah inspirasi tersebut saya peroleh dari seorang kawan yang dulu saya tertawakan akan kebodohannya, tetapi ternyata saya salah besar dan sangat menyesal telah menertawakannya. Sebuah kalimat terlontar “nikmati masa mudamu sepuas-puasnya Bro…”, ternyata di jawab “yah saya cuma menjalani apa yang seharusnya menjadi masa muda saya”. Saya tak menyangka di usia mudanya sudah mempersiapkan jauh kedepan; angsuran pendikan anak-anaknya, biyaya kesehatan dan melahirkan istri, tabungan rumah dan masih ada beberapa lagi. Yang menjadi pertanyaan, dia belum punya istri dan anak, apalagi pacar. Sungguh pola pikir gila yang dulu saya lontarkan ke dia, ternyata keliru besar saya.

Sebuah permenungan, menyiapkan masa depan dari sekarang agar kedepannya hanya tinggal menjalani tanpa harus belajar. Yah belajar sejak dini, sebuah inspirasi yang patut dicoba dan dijalani, kapan lagi kalau tidak sekarang. Apakah harus menunggu punya istri untuk menabung biyaya melahirkan atau harus menunggu punya anak untuk tabungan pendidikannya. Sungguh Wanita beruntung yang mendapatkan Dia, dan dimuliakanlah dia… Kawan aku bangga akan dirimu yang bisa menjalankan apa yang semestinya belum kamu jalani.

Thanks To Agung buat inspirasi dan pelajarannya

Salam

DhaVe
Meja Lab, 4 Maret 2010, 09:00

48 thoughts on “Bapaku Adalah Diri Saya Sendiri

  1. agnes2008 said: 1….Moco sik.

    sudah baca dan komentarnyaaaayah itu sebagian kecil peran yang akan kita lakoni. saya pun begitu ketika ibu pergi kemana dirumah hanya ada adek maka rasanya mau maraaaaaaaah sudah kerja kantor, masih nyapu ngepel masak nyuci setrika rasanya seperti mau mati. tapi ketika disadari ada satu hal yang tak terprediksi yaitu kehidupan, kita tak tau apakah kita tetap kaya sehingg bisa mengaji pembantu, bagaimana jika kehidupan memaksa kita untuk mencicipi asamnya sebuah kehidupan apakah kita menangis kemudian mengeluh berpanjangan ???maka siapkanlah semuanya secara bijak

  2. elok46 said: sudah baca dan komentarnyaaaayah itu sebagian kecil peran yang akan kita lakoni. saya pun begitu ketika ibu pergi kemana dirumah hanya ada adek maka rasanya mau maraaaaaaaah sudah kerja kantor, masih nyapu ngepel masak nyuci setrika rasanya seperti mau mati. tapi ketika disadari ada satu hal yang tak terprediksi yaitu kehidupan, kita tak tau apakah kita tetap kaya sehingg bisa mengaji pembantu, bagaimana jika kehidupan memaksa kita untuk mencicipi asamnya sebuah kehidupan apakah kita menangis kemudian mengeluh berpanjangan ???maka siapkanlah semuanya secara bijak

    syap..ysap jadi ibu yang baik dan pembatu yang budiman…aku tak jadi tamu yang selalu merepotkan”teh anget””pepes ikan””puding buah”hore… tersedia di meja huhuhu 😀

  3. agnes2008 said: Wis ndang golek bojo…

    setiap orang pasti memiliki sisi orangtua dan anak-anak..tinggal bagaimana memerankan pada waktu yang tepat. Ketika dia memilih tinggal berpisah dari orangtua, maka dia harus mengambil peran sebagai orangtua juga. Akan sulit baginya kalau berperan jadi anak manja diperantauan..dan menurut saya…semua itu terjadi karena proses pembelajaran hidupselamat pagiiiiii…

  4. amarylli said: setiap orang pasti memiliki sisi orangtua dan anak-anak..tinggal bagaimana memerankan pada waktu yang tepat. Ketika dia memilih tinggal berpisah dari orangtua, maka dia harus mengambil peran sebagai orangtua juga. Akan sulit baginya kalau berperan jadi anak manja diperantauan..dan menurut saya…semua itu terjadi karena proses pembelajaran hidupselamat pagiiiiii…

    makasih mBak….selamat pagee juga,,,,,,

  5. agnes2008 said: Nenda, gelar tiker, sepiring berdua….Jarene lagu ngono….

    iku mah gubug derita,,,,,,aku maunya gubug asmara… gelar karpet dan sepiring buat bersama-sama….”sepiring kwaci cap gajah”

  6. dhave29 said: tak ulangi lagi..mumpung gak kreatif…”sejak dulu begitulah cinta… deritanya tiada akhir”

    thanks mas dhave atas renungan nya pagi ini aku gak menyangkali hidup ini adalah sebuah pembelajaran, berpisah dari orang tua, dan pernah menjalani kehidupan sendiri. so, mau gak mau mengambil peran sebagai anak di perantauan dan orang tua bagi diri sendiri, dan memang sulit, tidak mudah. (walaupun pagi ini saya sedang bertanya2….bagaimana ketika saya sangat membetuhkan bantuan oranf tua, ketika saya benar sendiri, dalam satu tuntutan yg harus saya jalani😦 ) tapi thanks, tilisan ini membuat aku berfikir lagi🙂

  7. simplyhapinessme said: thanks mas dhave atas renungan nya pagi ini aku gak menyangkali hidup ini adalah sebuah pembelajaran, berpisah dari orang tua, dan pernah menjalani kehidupan sendiri. so, mau gak mau mengambil peran sebagai anak di perantauan dan orang tua bagi diri sendiri, dan memang sulit, tidak mudah. (walaupun pagi ini saya sedang bertanya2….bagaimana ketika saya sangat membetuhkan bantuan oranf tua, ketika saya benar sendiri, dalam satu tuntutan yg harus saya jalani😦 ) tapi thanks, tilisan ini membuat aku berfikir lagi🙂

    kembali kasih…sama-sama hidup diperantauan mBak……sendiri dan sendiri

  8. sulisyk said: yuk mangan wareh, jaga kesehatan, mempersiapkan masa depan dan hari tua :))

    jare ibu kantine….. segone durung mateng Mas….jam 11 lagi mateng…. mati listrik jeh… maklum gak ana pawon mbe kukusan hahaha

  9. elok46 said: wakakaka dasarsilahkan mampirtidak merepotkan koqmo pepesmau manggapudingjooooos pol

    salut sama anak muda ini…aku yang sudah terlanjur jadi bapak, gak perlu menyiapkan menjadi bapak lagi kan *wedi gak ngoman omani :))))))

  10. 5191t said: salut sama anak muda ini…aku yang sudah terlanjur jadi bapak, gak perlu menyiapkan menjadi bapak lagi kan *wedi gak ngoman omani :))))))

    haha…lanjutkan jadi bapak yang baik saja Om…Gak usah sinau maneh,,,, langsung praktek hehehe😀

  11. larass said: terimakasih juga udah di sharing disini🙂

    Emang selama ini tdk berpikiran ke depan ??🙂 Hidup itu harus punya target.. masalah tercapai atau ndak.. urusan belakangan.. hidup tanpa target bagaikan pergi tanpa tujuan🙂 salam utk temanmu Agung😀

  12. pilaryogya said: Emang selama ini tdk berpikiran ke depan ??🙂 Hidup itu harus punya target.. masalah tercapai atau ndak.. urusan belakangan.. hidup tanpa target bagaikan pergi tanpa tujuan🙂 salam utk temanmu Agung😀

    makasih mBak…. yap kejar target….

  13. pilaryogya said: Emang selama ini tdk berpikiran ke depan ??🙂 Hidup itu harus punya target.. masalah tercapai atau ndak.. urusan belakangan.. hidup tanpa target bagaikan pergi tanpa tujuan🙂 salam utk temanmu Agung😀

    orang tua jadi anak bisa sajatapi saat anak dituntut untuk bersikap ala ortu? susah tapi hikmahnya luar biasanice sharebtw, ning mejo lap ora ngeker2 mikroskop kok malah curhat tho?hahahahhahaha bosssss !!!!!!

  14. pilaryogya said: Emang selama ini tdk berpikiran ke depan ??🙂 Hidup itu harus punya target.. masalah tercapai atau ndak.. urusan belakangan.. hidup tanpa target bagaikan pergi tanpa tujuan🙂 salam utk temanmu Agung😀

    Good Inspiration mas,Harus lebih banyak belajar ya, belajar mempersiapkan ke depannya skalipun qt ga tau akan seperti apa masa depan nanti. Stidaknya berusaha dan berjuang ya…..*LIKE THIS*

  15. lalarosa said: orang tua jadi anak bisa sajatapi saat anak dituntut untuk bersikap ala ortu? susah tapi hikmahnya luar biasanice sharebtw, ning mejo lap ora ngeker2 mikroskop kok malah curhat tho?hahahahhahaha bosssss !!!!!!

    hehehebentar lagi mikroskop keluar mBak…tenang saja

  16. riairwanty said: Good Inspiration mas,Harus lebih banyak belajar ya, belajar mempersiapkan ke depannya skalipun qt ga tau akan seperti apa masa depan nanti. Stidaknya berusaha dan berjuang ya…..*LIKE THIS*

    ya mBak… bersiap diri tentunya…salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s