Anak Kambing Berjubah Macan yang Tak Bisa Mengubur dan Memikul

Pepatah jawa mengatakan “mikul duwur mendem jero” atau menyembunyikan keburukan dan menjunjung tingi kebaikan. Pepatah tersebut biasa disematkan kepada orang-orang yang dihormati atau dianggap lebih tua, seperti halnya kepada; orang tua, atasan, pemimpin dan lain sebagainya. Sebuah filosofi yang mengajarkan bagaimana cara menghormati dan menjaga kewibawaan seseorang dihadapan umum. Mungkin sedikit saya berikan contoh, betapa orang mengagung-agungkan seorang legenda Tangan Tuhan, Diego Armando Maradona. Berkat kecermelangannya dilapangan hijau mampu menutupi tabiat buruknya. Orang-orang menganggap bak dewa dan seolah mengubur dalam-dalam tabiat buruknya.

Bagaimana dengan orang tua kita, seberapa besar Mikul Duwur Mendem Jero terhadap pasangan ganda campuran yang telah menurunkan kita. Seberapa besar rasa hormat dan penghargaan terhadap orang tua atau yang dianggap lebih tua dilihat pada kondisi saat ini yang serba amburadulnya tatakrama. Jika boleh di andaikan akan banyak manusia batu laiknya Malin Kundang yang durhaka dan sudah berani kepada orang tuanya secara langsung.

Saya terinspirasi dengan seorang kawan SMA yang sekarang sudah bekerja di Dinas Kepolisan. Berasal dari keluarga sederhana, orang tua sebagai seorang petani kecil disebuah desa nan jauh. Untuk bermain kerumah kawan tersebut harus jalan sekitar 3,5 km melewati 2 kampung dan 3 ladang. Berkat kegigihan orang tua dan tekadnya untuk mengangkat anaknya setinggi-tingginya agar lebih baik semua dilakukannya. Menyekolahkan di sekolah favorit sampai dengan masuk dalam kepolisian. Satu persatu sapi dilego demi SPP, 10 pohon cengkih yang berdiri tanah 3 petak warisan leluhur disekolahkan dipegadaian demi masuk pendidikan kepolisian.

Waktu berlalu dan seiring tekad dan perjuangan sekarang sudah tercapai apa yang dicita-citakan. Teringat saat jaman SMA, kawan saya selalu minder jika ditanya pekerjaan orang tua “Petani”, seolah ada rahasia yang harus disimpan rapat daripada menerima suara sumbang. Hampir 3 tahun profil orang tua disembunyikan, sampai saat mengambil rapor harus diwakilkan daripada menanggung malu. Menjelang pelantikan menjadi anggota kepolisian, jati diri orang tua mulai diungkap. Dengan bangga, dia menggandeng orang tuanya yang petani kecil dari desa pelosok dan memperkenalkan “Beliau Petani”. Tak ada rasa malu dan canggung, yang ada hanya rasa bangga dan hormat kepada orang tuanya.

Suatu sore disebuah jalanan sepi, nampak ABG sedang memacu kendaraan roda dua beradu cepat. Pejalan kaki harus minggir daripada panjang urusannya dirumah sakit dan kendaraan lain juga ngalah daripada berobat di bengkel. ABG yang salah mempersepsikan pergaulan tersebut dari bermacam golongan; ada anak pejabat, pengusaha dan orang-orang terkemuka. Sebuah tindakan bodoh mereka lakukan di tempat umum dan bukan semestinya. Banyak orang yang sudah mereka susahkan dengan balapan liar dan gengster kampungan yang suka main keroyokan. Aparat kadangg mikir sekian kali untuk menertibkan mereka, karena anak atasannya dan pejabat yang bermain.

Saya sedikit heran, orang tua yang menjadi figur dan dihormati didaerah tercoreng dalam sebuah rahasia umum karena tingkah laku anak-anaknya. Seolah tak ada rasa beban menjadi anak pejabat atau orang terhormat dengan tindakan-tindakan bodoh mereka. Rasa bersalah seoalah tertutupi dibalik seragam macan kekuasaan orang tuanya yang bak surat sakti yang melegalkan tindakan mereka. Andaikata orang tua mereka tahu perbuatan anaknya, mungkin akan sangat malu dan kecewa sekali atas perbuatan anak-anaknya.

Saya kira didikan orang tua mereka tidak salah, para orang tua mereka juga bukan orang bodoh atau buruk tabiatnya, yang menjadi pertanyaan kenapa anak-anaknya hancur moralnya. Sebuah jubah kekuasaan seolah telah melindungi anak-anak mereka, layaknya anak kambing yang memakai jaket macan. Andai suatu saat para orang tua sudah purna tugas dan jubah macan ditanggalkannya, kambing kembali menjadi kambing yang harus merumput dan tidak lagi berburu. Apakah ada rasa bangga “mikul duwur mendem jero” ataukah sebuah sesal dikemudian hari. Sebuah kacamata melihat kondisi saat ini terhadap para kambing yang mengenakan jaket macan dengan tindakan tanpa mengubur dan memikul.

Akhir sebuah perjalanan di track balapan liar, datanglah seorang bapak-bapak yang marah besar dan geram sambil teriak.
“le motore baleke, meh go adol pentol cilot, aja dirusak iku kredite durung lunas, iseh kudu ngangsur 3,5 tahun ngkas, mesakno bapakmu le…le….”
(Nak sepeda motornya kembalikan, mau dibuat jualan siomay, jangan dirusak, sebab kreditnya belum lunas dan masih harus ngangsur 3,5 tahun lagi, kasihinilah bapakmu nak..nak…..”
Masih banyak bapak-bapak lain seperti; tukang ojek, pns rendahan, dan kuli yang mencari anak-anaknya guna mengambil motor kreditnya untuk berangkat kerja.
Sekarang orang tua yang Mikul Duwur Mendem Jero untuk anak-anaknya.

Thanks Briptu Mono, buat obrolannya salam hormat untuk bapakmu.

Salam

DhaVe
laborat, 3 Februari 2010, 09:00

46 thoughts on “Anak Kambing Berjubah Macan yang Tak Bisa Mengubur dan Memikul

  1. udelpot said: jadi inget bokap ma nyokap, dari cerita mulai bokap mbecak, dan sekarang dah berhasil nyekolahin anak2nya mpe perguruan tinggi semua. hmm .. salut!

    salam hormat buat kegigihan mereka Ki….

  2. udelpot said: jadi inget bokap ma nyokap, dari cerita mulai bokap mbecak, dan sekarang dah berhasil nyekolahin anak2nya mpe perguruan tinggi semua. hmm .. salut!

    anak zaman sekarang, ingin yang serba instant…mudah dan cepat juga ga pake ribet.Pangkat, jabatan dan kekuasaan juga bukan dianggap lagi sebagai amanah, tapi kebanggaan yang salah kaprah…Selamat pagi mas dhavenice posting, tfs

  3. amarylli said: anak zaman sekarang, ingin yang serba instant…mudah dan cepat juga ga pake ribet.Pangkat, jabatan dan kekuasaan juga bukan dianggap lagi sebagai amanah, tapi kebanggaan yang salah kaprah…Selamat pagi mas dhavenice posting, tfs

    Pagee juga mBak,,,,, makasihyups… bahkan jabatan orang tua hanya sebagai tameng belaka…..

  4. amarylli said: anak zaman sekarang, ingin yang serba instant…mudah dan cepat juga ga pake ribet.Pangkat, jabatan dan kekuasaan juga bukan dianggap lagi sebagai amanah, tapi kebanggaan yang salah kaprah…Selamat pagi mas dhavenice posting, tfs

    anak polah bapa kepradah…

  5. dhave29 said: Bocah nDableg njaluk opah tungkak…..Mo

    Doa dan hormatku untuk beliau2 yg sudah melahirkan dan ‘menuntun’ku sampai bisa mandiri…Terimakasih Tuhan,…Terimakasih DhaVe untuk sharing pagi yang indah.

  6. agnes2008 said: Doa dan hormatku untuk beliau2 yg sudah melahirkan dan ‘menuntun’ku sampai bisa mandiri…Terimakasih Tuhan,…Terimakasih DhaVe untuk sharing pagi yang indah.

    Hormatilah ayah dan ibumu……agar panjang usiamu ditanah kelahiranmu…kembali kasih mBak….

  7. yogahart said: Lha wong motor nggo luru upo koq dienggo klayapan , he.he. Anak polah bapa kepradah , bapa polah anak ra sekolah , he.he.

    Aanak Edan,,,, ora mangan…..(motor buat ngojek lagi di modif)

  8. 5191t said: Jaman edan tenan, wis kuwalik walik ora karukaruan

    wah jadi inget bapak dan ibu saya yang harus menyekolahkan 7 orang anaknya, mencukupi kebutuhan makan tiap hari, meski Bapak cuma seorang guru SD ibu cuma nyambi jadi penjahit, hutang2 di kantor baru lunas seluruhnya menjelang bapak pensiun, beliaulah yang patut jadi teladan saya mas🙂

  9. sulisyk said: wah jadi inget bapak dan ibu saya yang harus menyekolahkan 7 orang anaknya, mencukupi kebutuhan makan tiap hari, meski Bapak cuma seorang guru SD ibu cuma nyambi jadi penjahit, hutang2 di kantor baru lunas seluruhnya menjelang bapak pensiun, beliaulah yang patut jadi teladan saya mas🙂

    membanggakan?yah semoga bisa belajar buat menjadi calon dan bapak di masa mendatang agar Tyok..tyok kecil bisa seperti Om sekarang dan lebih baik lagi tentunya,,,,salam

  10. emokidonlastevening said: hahahahaha sampean tego emange nungkak? =))

    ak rasa tiap orang tua pasti melakukan mikul duwur mendem jeruh, orang tua akan melakukan segalanya untuk anak agar berhasil mencapai cita citany. Dan anak aku rasa belom ada yang mampu membalas segalanya sampai saat dimana sang anak menjadi orang tua, saat itulah dia sadar betapa agung-nya menjadi orang tua sekaligus beratnya pikulan hars mikul duwur mendem jeruh itu

  11. elok46 said: ak rasa tiap orang tua pasti melakukan mikul duwur mendem jeruh, orang tua akan melakukan segalanya untuk anak agar berhasil mencapai cita citany. Dan anak aku rasa belom ada yang mampu membalas segalanya sampai saat dimana sang anak menjadi orang tua, saat itulah dia sadar betapa agung-nya menjadi orang tua sekaligus beratnya pikulan hars mikul duwur mendem jeruh itu

    nah balesannya, kita harus memperlakukan anak kita seperti ayah ibu kita tentunya…jauh lebih baik…

  12. elok46 said: ak rasa tiap orang tua pasti melakukan mikul duwur mendem jeruh, orang tua akan melakukan segalanya untuk anak agar berhasil mencapai cita citany. Dan anak aku rasa belom ada yang mampu membalas segalanya sampai saat dimana sang anak menjadi orang tua, saat itulah dia sadar betapa agung-nya menjadi orang tua sekaligus beratnya pikulan hars mikul duwur mendem jeruh itu

    yen iki, anake ora cukup nganggo seblak thok

  13. lalarosa said: yen iki, anake ora cukup nganggo seblak thok

    seharusnyajika kita bijaktapi bisakah kita ???waktu yang menjawabnyaberdoa saja semoga kita tetap diberi keteguhan hati untuk tetap berada di rel sesungguhnya🙂

  14. elok46 said: seharusnyajika kita bijaktapi bisakah kita ???waktu yang menjawabnyaberdoa saja semoga kita tetap diberi keteguhan hati untuk tetap berada di rel sesungguhnya🙂

    Ameen mBak Elok…

  15. elok46 said: seharusnyajika kita bijaktapi bisakah kita ???waktu yang menjawabnyaberdoa saja semoga kita tetap diberi keteguhan hati untuk tetap berada di rel sesungguhnya🙂

    wekekewalah ak tumben waras

  16. smallnote said: Kepraktisan yang membuat segalanya menjadi terbiasa dengan jalan pintas.

    menarik sekali Bro tulisanmu. Thanks for sharing. Kok jadi terbalik yo…sing mikul dhuwur dan mendem jero jadi orang tuanya. Apa yg sudah terjadi pada anak-anak jaman sekarang….Kayaknya nggak ada jauh bedanya dgn anak remaja di sini, banyak yg merasa ortu-nya kurang cool untuk mereka, mereka jadi membangkang dan tidak kurang hormat sama orang tua.

  17. lilywagner said: menarik sekali Bro tulisanmu. Thanks for sharing. Kok jadi terbalik yo…sing mikul dhuwur dan mendem jero jadi orang tuanya. Apa yg sudah terjadi pada anak-anak jaman sekarang….Kayaknya nggak ada jauh bedanya dgn anak remaja di sini, banyak yg merasa ortu-nya kurang cool untuk mereka, mereka jadi membangkang dan tidak kurang hormat sama orang tua.

    kembali kasih mBak…yah ternyata tidak disana atau disini sama ajah yah… kasihan generasi sekarang…akan banyak manusia berotak batu dan bergati batu hehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s