Meres Santan Pake Celana Dalam

Makanan adalah kebutuhan pokok yang bisa mengalahkan segala-galanya. Gara-gara urusan perut, semua dilakukan agar bisa kenyang walau terpaksa harus memakan sodaranya sendiri. Makanan sebagai sumber energi dan zat-zat pembangun yang esensial dalam menunjang kelangsungan metabolisme tubuh. Dalam menanggapi masalah pangan setiap orang memiliki perbedaan tersendiri dan dengan gayanya tersendiri.
Bagi seorang master kuliner (juru cicip) ala Pak Bondan Winarno, memiliki ketajaman lidah yang luar biasa mungkin akan mudah bermain dengan makanan. Berdasar pengalaman dan pengetahuan tentang makanan, membuat Pak Bondan bisa mengklasifikasikan makanan berdasar, cita, rasa, aroma, dan tampilan. Seolah semua makanan masuk dalam tubuh juru cicip tersebut tanpa ada pantangan, dan serasa nikmat saat bilang “top markotop, sip markosip”.

Bagi seorang ahli kesehatan, atau olahragawan, sangat ribet sekali dalam mengatur menu yang akan menjadi asupan makanan. Pernah ada cerita di sekitar tahuan 90an, dimana klub sepak bola Arseto Solo (galatama) yang saat itu masih era Rocky Putiray, gagal bertanding gara-gara makanan. Gara-gara beberapa pemain makan kupat tahu yang dijua di sekitar stadion Manahan, Solo mengakibatkan bencana bagi seluruh tim. Pertandingan gagal gara-gara pemainnya diare dan ada yang harus di opname gara-gara thypus. Sunguh luar biasa bukan dengan makanan yang bisa menggemparkan orang 1 stadion.

Bagi saya mungkin lebih tragis lagi, gara-gara otak kotor mengurungkan niat dalam membeli makanan. Bersama teman-teman yang sedang asyik berkumpul di taman kota, tiba-tiba ada tukang tape singkong yang menjajakan dagangannya. Teman-teman yang tertarik tanpa basa-basi membeli, dalam lembaran daun pisang (pincuk) membeli beberapa porsi. Iseng saya bertanya kepada Tukang tape tersebut;
“Pak Tadi kencing dimana yah… saya kebelet nie” tanya saya
“ntuh mas disana” sambil nunjuk rerimbunan tanaman di sudut tanaman.
Begitu mendengarjawabannya, saya segera berlari di selokan dan muntah sejadi-jadinya. Teman-teman yang melihat kejadian tersebut tertawa dan sambil melahap tape singkong sampai habis. Saya hanya bisa duduk lemes saja, setelah tape singkong habis dan penjualnya pergi, barulah rahasia besar terungkap;
“gimana enak tape-nya” tanya saya
“joss… enak polll, mang napa kok sampe mutah-mutah tadi”
“masih inget saat saya tanya, kencing dimana Pak” kembali saya bertanya.
“inget mang napa dan apa hubungannya dengan tape”
“hahaha.. ntuh tukang tape, kencing disemak-semak tadi megang apa?, trus megang tape, week”
“wuuuuuuuuuuuuueeeeeeeeeeeeek…. wueeeekkkkkkkkkkkkkkk” serempak.

Kembali ke warung tenda bubur kacang ijo langganan saya, kali ini saya tidak mau tertipu lagi. Bersama seorang temen perempuan dalam rintik hujan kita mencoba menikmati kacang hijau hangat. Hangatnya bubur kacang hijau terasa nikmat dalam udara yang dingin, iseng berbisik dengan teman saya;
“enak gak buburnya…?” tanya saya
“wah enak, santannya kental”
“oh.. ya? kamu tau nggak kenapa bubur ini enak, ini rahasia loh”
“ndak… mang ada apa..?” jawab teman saya.
“ntuh… yang meres santen pake sempak (celana dalam), makanya kentel” dengan nada serius.
“uhkk..uhkkk….huukkkkk” menahan perut dan napas sambil air matanya mengalir.
“loh kok ndak di habisin” tanya saya
“cukup..cukup…cukup.. aku mau muntah”
“saya habisin yah” tanya saya.
“habisin saja dah, sekalian aku bayarin trus tinggalkan tempat ini” jawab teman saya.

“seeeep lah…. enak.. kenyang…gratiiiisssss”

Perut kenyang dan dalam perjalanan pulang, topik santen bubur kacang ijo kembali dibahas;
“heh bener tho… itu santen diperas pake celana dalam” tanya teman saya.
“bener.. bener.. mang napa?”
“ihh…jorok…. jorokkk”
“lha kalo gak pake celana dalam yang lebih jorok lagi tho? (tukang perasnya)”
“hahahahahahhahahahaaaa….. dasar… dasssar….”

Malamnya mencoba peruntungan dengan membeli soto yang kebetulan mangkal di pojok gang rumah. Sedang asyik-asyiknya menikmati, tiba-tiba di sendok ada kilatan cahaya, “busyeeeeet PENITIIIIII”, untung belom ketelan. Banyak juga yang sedang menikmati soto malam itu, dengan pelan saya buang itu peniti dan mangkok soto yang baru 3 sendok saya makan terpaksa saya kembalikan dan langsung bayar. Perut mual dan keringat dingin mengalir, bukan masalah peniti itu, tetapi mikir habis dipakai apa itu peniti “korek-korek kuping kah?”.

Sungguh kejadian nyata yang acapkali lewat oleh angin lalu. Sebagai konsumen yang dianggap raja oleh penjual, setidaknya sebelum membeli harus berhati-hati atau mikir dua kali. Yakinkan sedotan yang anda pakai saat menikmati es teh di pinggir jalan itu bersih? atau jangan-jangan sedotan bekas yang di cuci ulang?. Yakinkah dengan mangkuk mie ayam yang dijual keliling, dimana dengan seember air bisa mencuci bersih puluhan mangkok dari gang ke gang, keluar masuk kampung?. Sikap kritis dan berhati-hati saja, agar otak ini tenang dan bisa menikmati makanan dengan nyaman.
“habis kencing gak…? Pak?”

Salam

DhaVe
Meja Cokelat, 15 February 2010, 09:15

56 thoughts on “Meres Santan Pake Celana Dalam

  1. hardi45 said: Cerita ini bagus. Ini memberi kita pelajaran agar kita berhati-hati jika makan di luar. Kita harus sungguh mempertimbangkan kebersihannya, kalau kita tidak ingin sakit perut. Paling aman, ya makan di rumah saja, tak usah jajan-jajan.

    hahaha… beruntunglah aku yang selalu membawa bekal dari rumah.btw mas, org Indonesia tuh terkenal kuat perutnya. Justru klo makan yang terlalu higien itu malah gak cocok di lidah bukan?jujur hayooo…?!

  2. lugusekali said: hahaha… beruntunglah aku yang selalu membawa bekal dari rumah.btw mas, org Indonesia tuh terkenal kuat perutnya. Justru klo makan yang terlalu higien itu malah gak cocok di lidah bukan?jujur hayooo…?!

    iyah saya ngaku deh…..

  3. lugusekali said: hahaha… beruntunglah aku yang selalu membawa bekal dari rumah.btw mas, org Indonesia tuh terkenal kuat perutnya. Justru klo makan yang terlalu higien itu malah gak cocok di lidah bukan?jujur hayooo…?!

    Bagooos bagooos…*manggut2 sambil elus2 jenggot kyai sepuh*(??? Siapa kyainya ya???)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s