Protokoler Budaya yang Terkikis Budaya Asing

Tatakrama dalam kehidupan sesehari sangat dibutuhkan untuk menjaga sinergi hubungan personal manusia. Sebuah adat budaya menciptakan tatakrama yang berbeda-beda dalam leingkup budaya dan geografis yang berbeda. Peraturan yang tidak tertulis dan disepakati semua pihak menjadikan tatakrama dalam tempat hukum pranata sosial. Hukum yang tidak tertulis tersebut memiliki konsekwensi hukum yang berbeda pula, kecaman sosial, gunjingan masyarakat atau pengucilan menjadi kontrol sosialnya. Sejauh mana pranata sosial dalam tatakrama yang dijadikan konvesi mengikuti perkembangan jaman.

Jaman saya sekolah di era 80-90, disebuah Desa terisolir di pedalaman kalimantan tatakrama mengikuti budya Masyarakat Dayak setempat. DIawal tahun 91, sekolah berpindah di pulau Jawa dengan budaya berbeda. Butuh waktu cukup lama untuk beradaptasi dengan budaya baru dimana saat itu masih memakai seragam putih merah. Guru datang, harus di sambut dengan bersalaman dan mengucapkan salam sambil berebut membawakan tas kerjanya. Saat berpapasan di tengah jalan harus memberi salam dan hormat. Begitu juga dengan budaya di masyarakat sekitar yang masih dijunjung dan diagungkan pada masa itu.

Tahun demi tahun, seolah semua terkikis oleh erosi modernisasi dan budaya asing. Anak-anak sekoalah sekarang sudah terkesan cuek dengan gurunya, bahkan ada yang berani membantah, menghina dan memberikan perlawanan diluar bidang akademiknya. Lebih tragis, di saat beberapa pelajar harus di usir paksa dan angkat kaki dari sekolahnya gara-gara menghina gurunya lewat media dunia maya.

Siapa yang salah dan dimana letak permasalahan tersebut?. Disaat guru hanya di anggap sosok yang dihormati saat dijam pelajaran dan menjadi pelecehan sesaat keluar ruangan kelas. Disaat orang tua sudah di anggap patung hidup, dimana dulu setiap melewati harus bilang “nyuwun sewu, nderek langkung, amit-amit, permisi” sekarang cuek saja. Bahkan lebih ironis lagi kata-kata tersebut disematkan oleh penguasa jalanan atau gang sempit “misi bang, numpang lewat mas, monggo mas” dan lain sebagainya.

Dulu salaman dan cium tangan, sekarang seolah berubah ala barat gaya jabat tangannya dan cium tangan di ganti tosss “plok”. Mungkin hanya di desa-desa saja yang masyarakatnya masih homogen untuk melihat hukum tak tertulis tersebut, dibandingkan dengan perkotaan dengan komposisi masyarakat yang heterogen. Sangat kurang benar juga jika menyalahkan masyarakat kota dengan kondisi seperti ini, mungkin saja tuntutan dan kondisi lingkungan yang menyeret kedalam kubangangan ego untuk sekedar bertahan hidup.

Kerinduan melihat anak berebutan bersalaman dengan gurunya sambil membantu membawa tas kulit hitam dan memarkir sepeda unta-nya. Kangen bisa menunduk hormat sambil memberi sapaan sopan. Ingin juga rasa bilang nyuwun sewu saat melintas dihadapan orang tua. Kondisi sudah berubah, seolah semua diangggap tidak ada dan biasa saja. Protokoler budaya sudah dianggap basa-basi semata dam digantikan budaya yang lebih bisa diterima semua kalangan.

Salam

DhaVe
Back to Office, 19 Januari 2010, 11:30

64 thoughts on “Protokoler Budaya yang Terkikis Budaya Asing

  1. 5191t said: ojo ngakak bareng mas, nanti tebingnya gugruk :)))))))

    Mas Dave, daku nggak menikmati budaya paternalistik ala Jawa yang feodal juga tidak mengangungkan budaya bule yang sangat primitif :))

  2. eddyjp said: Mas Dave, daku nggak menikmati budaya paternalistik ala Jawa yang feodal juga tidak mengangungkan budaya bule yang sangat primitif :))

    wah,,,, bisa dishare donk buat kawan-kawan bagaimana rasanya…?:D

  3. dhave29 said: wah,,,, bisa dishare donk buat kawan-kawan bagaimana rasanya…?:D

    He..he.he.nggak ada yang di share mas, sebenarnya semua itu serba relatif, kita mau nyalahin budaya bule, tapi kenyataannya masyarakat sehari harinya lebih sopan dan caring dibanding dengan budaya kita yang katanya ramah tamah, malahan sangat agresif…he.he.he..

  4. dhave29 said: wah,,,, bisa dishare donk buat kawan-kawan bagaimana rasanya…?:D

    Yang menjadi penghalang di dunia pendidikan adalah tidak adanya kesejajaran antara murid dan guru dalam proses belajar, liat aja dengan pola yang diterapkan selama ini, dunia pendidikan kita amburadul, bandingkan dengan proses belajarnya bule, anak bisa kritis dan banyak berkembang.nampaknya di Indo, kritis itu diartikan kurang ajar, tidak sopan oleh guru dan semaunya oleh murid yang tertekan….he.he.he.jadi mau salahkan siapa ? :))

  5. eddyjp said: Yang menjadi penghalang di dunia pendidikan adalah tidak adanya kesejajaran antara murid dan guru dalam proses belajar, liat aja dengan pola yang diterapkan selama ini, dunia pendidikan kita amburadul, bandingkan dengan proses belajarnya bule, anak bisa kritis dan banyak berkembang.nampaknya di Indo, kritis itu diartikan kurang ajar, tidak sopan oleh guru dan semaunya oleh murid yang tertekan….he.he.he.jadi mau salahkan siapa ? :))

    haha.. pendidikan jaman kolonial yang mengagungkan guru “digugu lan dituru” padahal sekarang banyak yang “wagu lan saru”. Nah wajah pendidikan kita… prihatin dan prihatin….la trus bagaimana ya….?

  6. eddyjp said: He..he.he.nggak ada yang di share mas, sebenarnya semua itu serba relatif, kita mau nyalahin budaya bule, tapi kenyataannya masyarakat sehari harinya lebih sopan dan caring dibanding dengan budaya kita yang katanya ramah tamah, malahan sangat agresif…he.he.he..

    hahahaha….. ironis ya Om…

  7. dhave29 said: haha.. pendidikan jaman kolonial yang mengagungkan guru “digugu lan dituru” padahal sekarang banyak yang “wagu lan saru”. Nah wajah pendidikan kita… prihatin dan prihatin….la trus bagaimana ya….?

    He..he.he..emang guru itu harus pantas untuk ditiru, setuju…Coba dikau sebutkan, berapa dari guru dikau sejak mulai sekolah sampe udah selesai sekarang berapa yang ingin dikau tiru, dan berapa yang nggak ?…he.he..he..lalu kenapa dikau masih teringat ingat dengan masa lampau ? :))

  8. eddyjp said: He..he.he..emang guru itu harus pantas untuk ditiru, setuju…Coba dikau sebutkan, berapa dari guru dikau sejak mulai sekolah sampe udah selesai sekarang berapa yang ingin dikau tiru, dan berapa yang nggak ?…he.he..he..lalu kenapa dikau masih teringat ingat dengan masa lampau ? :))

    whahahah…a benar juga Om… jadi inget beberapa guru yang inspiratif sekali dan begitu penuh dedikasi, tapi ada juga yang minta di ajak berantem hahaha….Setidaknya dengan mencoba flash back, kita bisa koreksi diri, dulu itu bisa apa saya…..?

  9. dhave29 said: whahahah…a benar juga Om… jadi inget beberapa guru yang inspiratif sekali dan begitu penuh dedikasi, tapi ada juga yang minta di ajak berantem hahaha….Setidaknya dengan mencoba flash back, kita bisa koreksi diri, dulu itu bisa apa saya…..?

    He..he.he.bener, tapi yang penting di generasi sekarang harusnya para guru lebih profesional dan berdedikasi lebih baik dibanding masa sebelumnya karena anak sekarang memang lebih kritis, kalo kebutuhan mereka tidak terpenuhi mereka cepat menjadi frustrasi dibanding anak jaman dulu yang lugu banget biar dihukum walau nggak salah nggak berani bersikap…he.he.he..

  10. eddyjp said: He..he.he.bener, tapi yang penting di generasi sekarang harusnya para guru lebih profesional dan berdedikasi lebih baik dibanding masa sebelumnya karena anak sekarang memang lebih kritis, kalo kebutuhan mereka tidak terpenuhi mereka cepat menjadi frustrasi dibanding anak jaman dulu yang lugu banget biar dihukum walau nggak salah nggak berani bersikap…he.he.he..

    iyah saya setuju Om…. dan seharusnya begitu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s