Melawan dengan Karya dan Koreksi Diri

Kondisi perekonomian, sosial, politik yang semakin tidak jelas arah berjalannya membuat beberapa kalangan kalang kabut. Semua ingin eksis, semua ingin hidup dan semua ingin bertahan dari segala hal. Tidak ada yang mau kalah maupun mengalah, semua ingin keluar sebagai seorang pemenang dan terdepan. Segala cara dilakukan untuk mencapai tujuannya tersebut, unjuk rasa, demonstrasi atau boikot bisa menjadi alternatif untuk menyelesaikan pola-pola tersebut.

Dalam dunia kerja ada SPSI, yang mewadahi para kaum pekerja swasta atau organisasi buruh. Semua menjalin kekuatan untuk memberikan perlawanan atas kesewenang-wenangan keringat dan pikiran. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan hak-hak yang telah disunat oleh perusahaan. Acapkali beberapa tindakan-tindakan tersebut merugikan perusahaan yang berimbas pada karyawan tersebut. Semua wajar, karena itu adalah urusan perut dan masa depan keduannya, sehingga cara-cara tersebut bisa dikatakan solusi efektif untuk sebuah jalan yang sinergis dalam hubungan saling menguntungkan.

Demonstrasi Mahasiswa tidak asing lagi dimata dan telinga saya. Di era 98 mungkin andil besar Mahasiswa mampu merubah rezim di Republik ini kedalam sebuah perubahan, dimana Sang Presiden dipaksa untuk meletakan tahta jabatannya. Pada masa kini tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi 12 tahun yang lalu, jika sudah berbau demonstrasi okelah pasti identik dengan urusan pemerintahan dan mahasiswa atas sebuah prilaku dan penyimpangan.

Pengalaman di gebug aparat, ditahan, bolehlah menjadi pengalaman pahit saat itu, tetapi saat ini sangat manis terasa disaat menyadari apa yang dulu dilakukan. Mahasiswa, kumpulan kaum terpelajar yang dipercaya memiliki daya pikir dan nalar lebih tinggi dalam dunia pendidikan menjadi aktornya. Dengan embel-embel perguruan tinggi, menjadi almamater kebanggaan dalam setiap aksinya. Namun sekarang bila itu terngiang rasa bangga muncul, tetapi rasa malu menjadi tabir yang selalu menggelayuti.

Teriak-teriak anti korupsi, lawan korupsi, basmi korupsi telah menjadi doktrinasi. Yang menjadi pertanyaan, apakah kaum Mahasiswa telah membebaskan dirinya dari korupsi?; nilep spp, ngembat duit SKS, mark up anggaran kegiatan, menyalah gunakan uang beasiswa, mbolos kuliah, menyontek dan lain sebagainya. Sebuah budaya yang tidak lepas dari warga kampus, walau tidak semuannya begitu. Tindakan yang harus dibayar mahal saat turun dijalan dan menjadi titik diam jika dikembalikan. Dari mana asalnya pemimpin, pejabat, dari kampus juga bukan? mampukan sekarang menjadi lebih bersih buat masa yang akan datang?

Turunkan, lengserkan, pecat, mosi tidak percaya, pemakzulan sebuah teriakan yang dilontarkan didepan gedung pemerintahan buat pejabat yang tidak becus bekerja memenuhi tanggung jawabnya. Pengkhianatan terhadap profesi dan tanggung jawab yang tidak terpenuhi menjadi agenda untuk bahan perlawanan. Bagaiman dengan pemahaman dari setiap mata kuliah yang di ampu oleh para dosen, bagaimana pencapaian indeks prestasi, karya apa yang telah dihasilkan, tanggung jawab terhadap orang tua yang menjadi penyandang dana dan sudah becuskah kaum terdidik memenuhinya?.

Semua telah terjadi di era bangku perkuliahan, sekarang saatnya memaknai kejadian tersebut untuk koreksi dari sebuah kesalahan pembacaan dan pemahaman dari setiap masalah. Silhakan lempar celana dalam atau jeroan pakaian wanita jika itu dianggap banci, setidaknya sebagai bahan pertimbangan sebelum turun kejalan. Yakin dan percaya, walau tidak semua bahwa teriakan itu adalah tanpa solusi dan hanyalah wujud dari sebuah heroisme masa kuliah.

Apakah konsistensi perlawanan akan terus berlanjut disaat kuncir toga disematkan oleh rektor dan duduk manis didunia kerja.? Segalanya telah mengubah, lunturnya idealisme seiring kucuran rupiah di akhir bulan, dan hanya kata yang terucap “teruskan perjuanganku”.

Melawan tidak harus teriak, turun dijalan, atau mengecap. Wujudkan peralwanan dalam sebuah karya yang baik untuk umat manusia…

Salam

DhaVe
Bintang Agung, Big Star, 8 Februari 2010, 07:40

31 thoughts on “Melawan dengan Karya dan Koreksi Diri

  1. @Yswitopr; semoga gak salah nulis maneh;yups akhir dari sebuah tulisan untuk memberikan kepakarannya pada republik ini. Ternyata kita mengalami hal yang sama juga, digebug, dikenut, hahahaha…Sebuah siklus “teruskan perjuangan kami” dan tak ayal mereka sudah memiliki jurus jitu untuk melawan balik karena dulunya telah memberikan perlawanan. @mBamb; iklan banget getu loh…. Hidup Mahasiswa… Mesti Om Mbam dulu demo dan orasinya pake bahasa pangeran Charles… huhuyyyy…..

  2. dhave29 said: @Yswitopr; semoga gak salah nulis maneh;yups akhir dari sebuah tulisan untuk memberikan kepakarannya pada republik ini. Ternyata kita mengalami hal yang sama juga, digebug, dikenut, hahahaha…Sebuah siklus “teruskan perjuangan kami” dan tak ayal mereka sudah memiliki jurus jitu untuk melawan balik karena dulunya telah memberikan perlawanan. @mBamb; iklan banget getu loh…. Hidup Mahasiswa… Mesti Om Mbam dulu demo dan orasinya pake bahasa pangeran Charles… huhuyyyy…..

    Hehehehe, aku tau melu demo..pas taun 98 karo taun 2000

  3. dhave29 said: @Yswitopr; semoga gak salah nulis maneh;yups akhir dari sebuah tulisan untuk memberikan kepakarannya pada republik ini. Ternyata kita mengalami hal yang sama juga, digebug, dikenut, hahahaha…Sebuah siklus “teruskan perjuangan kami” dan tak ayal mereka sudah memiliki jurus jitu untuk melawan balik karena dulunya telah memberikan perlawanan. @mBamb; iklan banget getu loh…. Hidup Mahasiswa… Mesti Om Mbam dulu demo dan orasinya pake bahasa pangeran Charles… huhuyyyy…..

    @Lily; Makasih Sist….@mBam; weh..weh…. josss Om… manteb, aku masih umbelen waktu ituh hehehe… yook sekarang demo masak ae yook… aman kenyang dan menyenangkan… uhuy…

  4. dhave29 said: @Yswitopr; semoga gak salah nulis maneh;yups akhir dari sebuah tulisan untuk memberikan kepakarannya pada republik ini. Ternyata kita mengalami hal yang sama juga, digebug, dikenut, hahahaha…Sebuah siklus “teruskan perjuangan kami” dan tak ayal mereka sudah memiliki jurus jitu untuk melawan balik karena dulunya telah memberikan perlawanan. @mBamb; iklan banget getu loh…. Hidup Mahasiswa… Mesti Om Mbam dulu demo dan orasinya pake bahasa pangeran Charles… huhuyyyy…..

    dhave saidApakah konsistensi perlawanan akan terus berlanjut di saat …Berlanjut dong! Setidaknya sekarang kita masih mendapati sebuah bukti kelanjutan perlawanan dr seorang mantan mahasiswa biologi yg kini sdh merasakan nikmatnya gaji. Semoga banyak yg lain ikut jejak ini, atau lebih baik lagi.

  5. dhave29 said: @Yswitopr; semoga gak salah nulis maneh;yups akhir dari sebuah tulisan untuk memberikan kepakarannya pada republik ini. Ternyata kita mengalami hal yang sama juga, digebug, dikenut, hahahaha…Sebuah siklus “teruskan perjuangan kami” dan tak ayal mereka sudah memiliki jurus jitu untuk melawan balik karena dulunya telah memberikan perlawanan. @mBamb; iklan banget getu loh…. Hidup Mahasiswa… Mesti Om Mbam dulu demo dan orasinya pake bahasa pangeran Charles… huhuyyyy…..

    teruskan semangat dalam tulisan ini..

  6. hearttone said: dhave saidApakah konsistensi perlawanan akan terus berlanjut di saat …

    sik..sik Mo….Semoga tidak melenceng dari konteks hehehe…wadoh..wadooh bisa cilaka”para intel jangan salah bikin laporan ya….???”

  7. smallnote said: Seperti kata Seno Gumira Ajidarma: “ketika jurnalis dibungkam, sastra yang akan bicara”

    seeep jossskoq aku jadi kehilangan kata kata ya mas :(gara gara mau kie dadi ora beres otakkemengko wae nek wes beres tak mrene maneh oyi

  8. elok46 said: seeep jossskoq aku jadi kehilangan kata kata ya mas :(gara gara mau kie dadi ora beres otakkemengko wae nek wes beres tak mrene maneh oyi

    hahaha…monggo..monggo saya tunggu deh coretannya…joooss poooll pokoe

  9. dhave29 said: lempar celana dalam atau jeroan pakaian wanita jika itu dianggap banci,

    Saya juga setuju pada konklusi di akhir cerita, pada akhirnya semua luntur setelah menjalani kehidupan mengais segenggam berlian demi sesuap nasi.

  10. miyukidark said: Saya juga setuju pada konklusi di akhir cerita, pada akhirnya semua luntur setelah menjalani kehidupan mengais segenggam berlian demi sesuap nasi.

    terimakasih,,,,nah itulah yang terjadi saat ini…lupa akan apa yang dulu diperjuangkan setelah mandi materi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s