Rejeki yang Dia Titipkan

Wufh… sebuah awal tahun yang semakin memberatkan dalam urusan pekerjaan. Satu orang karyawan yang dalam satu atap, mengundurkan diri dari susunan kuli-kuli pabrik dan satu alasan “gajinya kurang”. Andaikata semua pekerja berbicara gaji, siapa yang tak mau gaji besar? dan jelas akan banyak yang menolak dengan gaji kurang. Memang tidak ada habisnya apabila membahas tentang gaji yang dinilai dengan pecahan uang.

Acapakali juga mendapat beberapa pesan singkat “Mas ada lowongan gak, dah berapapun bayarannya asal aku bekerja”, sungguh ironis bukan, dimana yang satu nuntut gaji dan yang satunya menuntut kepekrjaan. Sebenarnya apa yang mereka cari? jawabannya adalah materi dan status sosial. Orang bisa mengatkan si A kaya, orang bisa berkata “si B sudah tidak nganggur lagi”, atau si C sudah sukses dengan pekerjaannya.

Semalaman, baru ngeh dengan sebuah tayangan televisi yang menampilkan motivator handal Indonesia. Dari sekitar 60 menit durasi, saya bisa tarik sebuah benang merah dari kisah diawal tulisan tersebut. Saya tidak menjustifikasi, tetapi mencoba melihat dari sisi yang berbeda, sebab sebuah pernyaatan bukan sebuah aksioma dimana bumi selalu mengelilingi matahari.

Kebebasan finansial menuntut orang agar tidak sepenuhnya tergantung dari yang namanya gaji. Gaji merupakan upah dari sebuah pekerjaan yang sudah dispakti dan menjadi standar aturan dari sebuah sistem. Nah apabila masih berkutat dengan gaji, maka lingkaran kebebasan finansial susah akan menjadi lebar atau terlepas. Upah selain gaji adalah reward/penghargaan, nah itulah yang menjadi jalan menuju bebas dari belenggu gaji. Seberapa besar anda dihargai dari profesionalisme, pengabdian, pelayanan, totalitas dan ketulusan. Penghargaan tidak harus berwujud materi, tetapi dengan pangakuan, terimaka kasih atau sekedar senyum bisa menjadi kuncinya.

Mencoba mengupas sisi orang yang butuh pekerjaan, jadi apapun dan berapapun gajinya. Nah sebuah tipe putus asa dan tidak bisa menonjolkan kemampuan diri. Ada sebuah solusi jitu, mungkin orang-orang Indonesia bisa keluar dari belengggu penjajah yang disebut “pengangguran”.
“bapak… mana dagangan bapak yang tidak laku dijual, biar saya yang mencoba menawarkannya, masalah bayaran nanti saja setelah barang laku”.
“ibu.. mana yang bisa saya kerjakan, bayarannya nanti setelah selesai”
Nah itu yang namanya mencari dan membuat pekerjaan, jangan mikir berapa ya gajinya, tetapi bagaimana pekerjaan itu saya lakukan untuk diselesaikan.

Rejeki, kedudukan, pangkat, derajat adalah sebuah berkat yang diijinkan Tuhan untuk umatnya, karena Dia percaya pada Anda, nah bersyukur, jalani dan nikmati sebelum ijin itu habis masa pakainya, jangan sia-siakan. Tidak perlu berkecil hati dengan apa yang dimiliki dan dilakukan, tetapi harus berbesar hati menerima apa yang ada serta kuatkan hati untuk mengerjakan yang lebih baik.

Semoga berkenan…

Salam

DhaVe
Minibus, 11 Januari 2010, 08:15

28 thoughts on “Rejeki yang Dia Titipkan

  1. pengen menciptakan lapangan pekerjaan setidaknya buat saya sendiri dulu om…**bosen juga seperti ini terus, yang namanya reward at least ucapan terima kasihpun kadang2 terlalu mahal untuk iberikan, yang murah adalah tuntutan2 untuk mengerjakan lebih dari yang kita kuasai

  2. @sulis; yups… berdiri dulu dengan kaki sendiri…yeah… sebuah tuntutan tanpa menimbang akan kontribusi, kepakaran dan kemampuan… jalani, kerjakan dan selesaikan..bukan begitu Om? semaksimal mungkin tentunya…πŸ˜€

  3. terkadang para pekerja/karyawan itu membutuhkan penghargaan walau berupa sekedar ucapan terimakasih tapi terkadang manusia[atasan] cenderung memiliki sikap gengsi untuk mengucap terimakasih……..padahal betapa besarnya arti kata TERIMAKASIH itu, bisa membuat lebih betah karena merasa dihargaiπŸ™‚

  4. larass said: terkadang para pekerja/karyawan itu membutuhkan penghargaan walau berupa sekedar ucapan terimakasih tapi terkadang manusia[atasan] cenderung memiliki sikap gengsi untuk mengucap terimakasih……..padahal betapa besarnya arti kata TERIMAKASIH itu, bisa membuat lebih betah karena merasa dihargaiπŸ™‚

    yeah … bethul..bethul… terimakasih…..

  5. pilaryogya said: Renungan buat diriku juga *kayaknya*πŸ˜€

    klo ingin sukses, bekerjalah di bidang yang anda sukai. karena Tuhan telah menjadikan rasa suka itu sebagai seleksi bahwa kita akan memberi banyak manfaat dibidang itu. tapi ingat setan selalu menggoda…… (disarikan dari acara tersebut juga kayaknya hehehehe)

  6. alexamzah said: bersyukurlah… maka nikmati akan ditambah

    benar … saya juga ambil langkah tersebut .. dari hoby fotografi ditekuni untuk jadi profesional di bidang ini … Tuhan memiliki cara sendiri dalam menghargai umatnya yang mau berusaha … bisa dalam bentuk materi, kesehatan, ketentraman, dll … asal kita berusaha maka jalan akan terbuka kemudian ….

  7. savannahphoto said: benar … saya juga ambil langkah tersebut .. dari hoby fotografi ditekuni untuk jadi profesional di bidang ini … Tuhan memiliki cara sendiri dalam menghargai umatnya yang mau berusaha … bisa dalam bentuk materi, kesehatan, ketentraman, dll … asal kita berusaha maka jalan akan terbuka kemudian ….

    Amin Mas…. semoga selalu menjadi berkah..

  8. savannahphoto said: benar … saya juga ambil langkah tersebut .. dari hoby fotografi ditekuni untuk jadi profesional di bidang ini … Tuhan memiliki cara sendiri dalam menghargai umatnya yang mau berusaha … bisa dalam bentuk materi, kesehatan, ketentraman, dll … asal kita berusaha maka jalan akan terbuka kemudian ….

    amieeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s