Pilhanmu bukan Pekerjaan Pilihanku

Pekerjaan adalah sebuah pilihan hidup, dan salah jika disebut sebagai sebuah nasib. Apapun pilihan hidupnya maka secara personal adalah sebagai pemilihnya. Latar balakang sebuah pekerjaan bisa diawali dalam berbagai situasi seperti; kepakaran, keahlian, pendidikan atau memang menjadi sebuah cita-cita yang diukir sejak lahir. Tentu saja semua pribadi menginginkan sebuah pekerjaan yang mapan, enak, menghasilkan finansial tinggi dan lain sebagaianya. Banyaknya pilihan maka beberapa incaran pekerjaan menjadi titik sasaran untuk dibidik. Siapa tak tergiur menjadi PNS yang menjadi idola bagi beberapa pribadi, TNI Polri atau swasta yang menjajikan.

Semua pekerjaan memiliki daya tarik dan resiko tersendiri yang acapkali tak disadari oleh orang lain. Bahkan orang yang tidak tau tentang sebuah profesi acapkali dengan nada sumbang “maido”. Berbagai profesi memang menarik hati saya untuk digeluti, maka dari sebuah keisengan dan rasa penasaran mencoba untuk menyelami beberapa profesi dan hasilnya luar biasa sekali sehingga menyadarkan diri betapa hebatnya daro sebuah profesionalisme.

Orang berpikir enak ya jadi wartawan/jurnalis, bisa jalan-jalan gratis kemana-mana, kadang masuk tipi dan terkenal lagi. Nah mencoba mengikuti jejak jurnalis ternyata membuat saya hampir gila melihat betapa beratnya tugas profesi tersebut. Bagaimana tidak stress, ikut liputan 4 hari di hutan cuma ditayangkan tidak lebih dari 20 menit. Sudah kerja larut malam, tak ada uang lembur, dimaki-maki produser, dikejar jam tayang, kompetisi rating, meras otak bersama tim kreatif. Nah dimana enaknya, yang enak ya jadi penonton sambil mencaci maki didepan layar kaca.

Siapa tak kenal dengan atlet olah raga yang glamor dengan euforia kemenangan, berkalung medali, uang melimpah bonus mengalir deras dengan masa depan cerah. Itu yang terlihat dan terbayang dibenak mata yang tidak tahu. Siapa sangka jika tiap pagi bangun jam 5, pemanasan dan berlari 14km dan 20km disore hari, setiap hari. Prestasi jeblok dimaki, cidera menjadi bencana, belum lagi kalau kalah bertanding maka bonus hujatanlah yang mengalir. Sebuah kerja keras dengan hujan keringat dan banjir air mata darah semangat.

Kerja disektor wisata mungkin paling enak, dan gaetlah yang menjadi pelabuhan saya. Mengantarkan para turis keliling diobyek wisata, bagi orang yang melihat dikejauhan sangatlah menyenangkan, tetapi dari dekat serasa ditengah gurun. Obyek wisata yang bagus terasa hampa, karena tidak bisa menikmati, tetapi harus fokus kepada wisatawan. Saat sang turis sedang enjoy menikmati, saya bersiap untuk trip selanjutnya sambil terus mikir apa yang bisa dipersembahkan. Nah jika sang Turis tak bisa menikmati, alangkah terpuruknya ditempat yang eksotis. Enaknya ya menjadi wisatawan itu sendiri, bisa seenak usus untuk mengomantari dan menikati.

Kerja kantoran dengan baju formal dan mlipit kayaknya enak juga, nah mencoba ikut terjun disana. Datang tepat waktu, saban hari melototin komputer, meeting sampe malam, buat jadwal pertemuan dan lain sebagainya. Orang bilang eksekutif muda, keren, duit gede, ternyata salah dan rasanya tersiksa karena tak bisa melihat terbitnya dan tenggelamnya sang surya, karena harus bercengkrama dengan dunia maya.

Masih banyak profesi yang saya geluti, tetapi semua tak ada dalam jiwa saya. Mencoba untuk mencari pilihan dari sebuah panggilan hati dan pekerjaan yang tak dilirik banyak orang, bahkan dilihat selayaknya orang autis. Semalaman dilaboratorium yang penuh sesak dengan gelas dan bejana kaca, cairan kimia yang menyengat hidung dan mahluk-mahluk kasat mata yang berbahaya. bertahan 2×24 jam untuk melototi panel instrument yang ruwet dan angka-angka biner yang penuh makna dengan hiasan grafik naik turun. Mengelap keringat dingin saat eksperimen gagal, menderita saat terinfeksi dan melonjak kegirangan saat bisa menemukan sebuah reaksi metabolisme dan bakteri produktif.

Nah mencoba untuk tetap setia dan menjalani apapun resikonya dengan tetap memberi acungan jempol buat profesi lainnya, dan jangan bilang enak pekerjaan saya dan jangan katakan susah buat pilihan saya.

Selamat bekerja di penghujung tahun

Salam

DhaVe
Laborat, 30 Desember 2009, 09:00

30 thoughts on “Pilhanmu bukan Pekerjaan Pilihanku

  1. Pekerjaan adalah sebuah pilihan kadang karena dorongan kebutuhan, dorongan jiwa atau apalahjika karena dorongan kebutuhan ya biasanya karena kita butuh duit gt kan hehekalo dorongan jiwa itu baru seperti pengabdiannah tergantung kita mana yang membuat kita nyamanapakah dengan cukup nyaman dan gaji kecil cukup??atau gaji besar tapi menderita tekanan batin ??saya pernah mengalaminya semuanya jadi insyaallah saya tau mana yang harus saya ambil untuk masa depan saya.

  2. elok46 said: Pekerjaan adalah sebuah pilihan kadang karena dorongan kebutuhan, dorongan jiwa atau apalahjika karena dorongan kebutuhan ya biasanya karena kita butuh duit gt kan hehekalo dorongan jiwa itu baru seperti pengabdiannah tergantung kita mana yang membuat kita nyamanapakah dengan cukup nyaman dan gaji kecil cukup??atau gaji besar tapi menderita tekanan batin ??saya pernah mengalaminya semuanya jadi insyaallah saya tau mana yang harus saya ambil untuk masa depan saya.

    iyes mbak…. mantab..mari kerjamakasih deh dan jempol

  3. elok46 said: Pekerjaan adalah sebuah pilihan kadang karena dorongan kebutuhan, dorongan jiwa atau apalahjika karena dorongan kebutuhan ya biasanya karena kita butuh duit gt kan hehekalo dorongan jiwa itu baru seperti pengabdiannah tergantung kita mana yang membuat kita nyamanapakah dengan cukup nyaman dan gaji kecil cukup??atau gaji besar tapi menderita tekanan batin ??saya pernah mengalaminya semuanya jadi insyaallah saya tau mana yang harus saya ambil untuk masa depan saya.

    apanya yang jempolkita tau dan bisa krn pengalaman yang mengajarihanya berupa pandangan tapi keputusan kembali kpd sang pemiliknyaiya kan mas ???ya aku senang share with u masdrpd debat gak karuanmet kerja

  4. elok46 said: Pekerjaan adalah sebuah pilihan kadang karena dorongan kebutuhan, dorongan jiwa atau apalahjika karena dorongan kebutuhan ya biasanya karena kita butuh duit gt kan hehekalo dorongan jiwa itu baru seperti pengabdiannah tergantung kita mana yang membuat kita nyamanapakah dengan cukup nyaman dan gaji kecil cukup??atau gaji besar tapi menderita tekanan batin ??saya pernah mengalaminya semuanya jadi insyaallah saya tau mana yang harus saya ambil untuk masa depan saya.

    Cintai pilihan kita…do the best..!Selamat menyongsong tahun baru.Semoga semua bertambah baik.Amin..

  5. elok46 said: Pekerjaan adalah sebuah pilihan kadang karena dorongan kebutuhan, dorongan jiwa atau apalahjika karena dorongan kebutuhan ya biasanya karena kita butuh duit gt kan hehekalo dorongan jiwa itu baru seperti pengabdiannah tergantung kita mana yang membuat kita nyamanapakah dengan cukup nyaman dan gaji kecil cukup??atau gaji besar tapi menderita tekanan batin ??saya pernah mengalaminya semuanya jadi insyaallah saya tau mana yang harus saya ambil untuk masa depan saya.

    Pokoke tetep bisa ngeMPe to?hehe..

  6. elok46 said: Pekerjaan adalah sebuah pilihan kadang karena dorongan kebutuhan, dorongan jiwa atau apalahjika karena dorongan kebutuhan ya biasanya karena kita butuh duit gt kan hehekalo dorongan jiwa itu baru seperti pengabdiannah tergantung kita mana yang membuat kita nyamanapakah dengan cukup nyaman dan gaji kecil cukup??atau gaji besar tapi menderita tekanan batin ??saya pernah mengalaminya semuanya jadi insyaallah saya tau mana yang harus saya ambil untuk masa depan saya.

    setuju bro..konsekwensi dgn apa yg sdh dipilih…

  7. elok46 said: apanya yang jempolkita tau dan bisa krn pengalaman yang mengajarihanya berupa pandangan tapi keputusan kembali kpd sang pemiliknyaiya kan mas ???ya aku senang share with u masdrpd debat gak karuanmet kerja

    wokeh dah mBak… ngikoot sjah aku…piss😀

  8. elok46 said: hmmmmmm gak ada tantanganya klo setujuh terus🙂

    tak ajak debat juga percumah, di ajak adu argumen ya nambah masalah…yang menjadi tantangan… selesaikan pekerjaan…. heheheyuk tantangan mendaki Merapi sudah menanti…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s