Lelaku Malam 1 Suro #1

Kamis malam, 17 Desember di awali dari makan nasi Gurih disebuah warung di Jalan Patimura, kami mengisi untuk bekal perjalanan malam ini. Sempat di kagetkan dari seorang teman dari Surabaya yang mengabari lewat pesan singkat yang berisi “Semeru ada korban meninggal karena gas beracun”. Shock mental ini, sebab kami juga akan mencoba mendaki Gunung Merapi yang juga memiliki gas beracun. Jam 22.30 kami meninggal kan kota kecil Salatiga menujuj Yogyakarta. Jalanan yang sepi memaksa kuda besi untuk berlari dengan kecepatan tinggi.
Hampir 1,5 jam berpacu dengan kecepatan dan akhirnya sampai di Yogyakarta dan langung mendarat di Alun-alun Utara untuk menyaksikan acara Ritual Lelaku Tapa Bisu. Ritual ini dilakukan oleh orang-orang Kraton dan warga sekitar dengan berjalan kaki mengelilingi Benteng sambil membisu (tak bersuara). Banyak sekali warga sekitar mengikuti ritual ini dengan berharap ngalab berkah. Puncak acara malam 1 suro adalah membagikan sesaji; bunga, beras, janur kuning, uang logam, bungkusan kain mori dan lain sebagainya yang nantinya akan dijadikan rebutan. Tua Muda, besar kecil, bahkan para gadis cantik pun ikut berebut, entah apa tujuan mereka yang penting semarak malam 1 suro yang konon horror menjadi meriah.

Malam satu suro terlewat dan perut sudah kelaparan lagi, dan memaksa kami untuk nyangkruk. Jam menunjukan angka 18 desember 02.00, nasi bungkus dan wedang jahe mengganjal perut kami malam itu, dan kami tutup sambil rebahan di atas tikar di tengah alun-alun. Tak terasa terlelap dalam tidur, dan kami terbangun oleh suara lembut pedagang makanan “Mas… tikarnya, kami mau pulang”. Tidur nyenyak hilang sudah dan harus segera evakuasi mencari tempat tidur baru. Setelah mutar benteng, kami berhenti di pojok benteng, di sebuah kursi besi kami menggelar badan kami dinaungi atap emperan ruko. Menjelang pukul 5 teman kami, Dinar mengundurkan pulang ke Salatiga. Tinggal saya dan Andi yang akan meneruskan lelaku hari ini.

Pagi itu Romo Hartono telpon, mengabari beberapa acara ritual di Yogyakarta dan tak lama kemudian Mas Wawan juga memberi kabar serupa. Setelah berputar-putar di Plengkung Gading kami berlanjut menuju makan Raja-raja di Imogiri. Perjalanan sekitar 1 jam, karena tak tahu arah dan mutar-mutar dan sampai juga di pelataran parkir. Sambil menunggu Mas Wawan, kami mencoba Wedang Wuh, yaitu minuman yang berisi rempah-rempah, seharga 2 ribu perak untuk 1 gelas besar. Hangatnya pagi ditemani Wedang Wuh, sambil menantikan rekan-rekan Yogyakarta yanga akan berburu di Imogiri.

Setalah 1 jam menunggu, akhirnya Mas Wawan datang juga tak lama kemudian menyusul rekan-rekan fotografer dari yogyakarta dengan amunisi lengkap siap mengajak kami berburu dimakam dinasti kerajaan. Dengan amunisi ala infantry kami ikut bergabung dengan para artileri untuk menghujami acara di Imogiri, tetapi seiring habisnya ide mengaruskan kami untuk gugur terlebih dahulu. Kami mundur untuk pindah lokasi, dan kali ini berencana langsung ke Bantul menemui Romo Hartono.

Dari Imogiri kami, langsung menuju Bantul, setelah 15 menit kami sampai di perempatan pasar Bakulan. Sebuah nama yang tak sing lagi bagi saya dan mengingatkan gempa Jogja, saat itu saya pernah menjadi relawan disana. Mutar-mutar di daerah yang dulu menjadi lokasi saya mengabdikan pada rasa kemanusiaan dan akhirnya menemukan base camp dulu saya tinggal. Sambutan tuan rumah yang hangat dan kami mencoba memutar memori sekian tahun lalu, saat tempat tersebut porak-poranda dihajar gempa. Hampir 1 jam kami ngobrol, tetapi kami harus pamitan untuk menuju gereja Klodran.

Sampai juga di sebuah bangunan Gereja yang masih dalam tahap pembanguna, dan sang Romo yang kebetulan berhobi sama di bidang fotografi menyambut hangat kehadiran kami. Makan siang menu gudeng menjadi makanan pembuka diskusi kami saat itu. Pembicaraan seputar fotografi, realitas sosaial dan lain sebagainya. Selesai mandi kami di ajak mutar bangunan gereja untuk mengabadikan momentum pembangunan Gereja, sekaligus mencuri start tanggal 27 yang katanya akan diresmikan dan ada lomba foto. Selesai motret kami berpamitan untuk pulang, dan Romo Hartono memberi kenang-kenangan kami sebuah kaos dan pin.

Perjalanan berlanjut, kali ini menuju Universitas Gadjah Mada untuk menemui seseorang kawan akrab di Dunia maya. Jarody Hestu, mungkin nama yang taka sing bagi penggiat alam bebas dan milis Jejak petualang. Lelaki Gondrong, garang, tetapi melankolis habis akan kami sambangi kediamananya beserta rekan-rekan SATU BUMI. Setelah berputar-putar di kampus yang rindang dan luas, ketemu juga apa yang kami cari. Sesosok rambut gondrong, pakaian lapangan dan sebuah gitar sudah bisa memastikan, itulah sasaran kami.

Sambutan hangat kawan-kawan Satu Bumi membuat kami nyaman dan krasan di lembah Code. Obrolan demi obrolan kami putar dengan penuh canda tawa, tak lupa tuan rumah bergiliran mengirimkan upeti berupa; gorengan, duren, kopi, teh hangat, jus buah dan cerita manis. Berbagi cerita, pengalaman dengan penuh canda tawa membawa kami dalam larut sebuah keluarga baru. Menjelang petang kami berencana untuk ke Kinah Rejo, posko pendakian Gunung Merapi-Kediaman mbah Marijan.

Habis makan malam di Kedai Koboi, kami berbealanja perbekalan lalu siap-siap menuju Kinah Rejo. Menembus padatnya lalulintas Yogyakarta dan kabut lereng merapi membuat kami semakin bersemangat. 2 motor meraung-raung menusuri aspalan Cangkringan dan sekitar 45 menit perjalanan sampai juga kami di Base Camp Kinah Rejo. Kami menginap di rumah adik mBah Marijan. Sambil menunggu Dinar yang kabarnya akan menyusul, kami beristirahat dibale-bale bamboo. Malam semakin larut, Dinar tak juga ada kabar, dan kami memutuskan untuk mendaki keesokan harinya. Malam semakin larut dan hawa dingin semakin menusuk. Didakam rumah, badan ini menggigil dan jaket tebal masih saja tidak mampu menahan hawa dingin. Badan gemetaran menggigil dan memaksa membuat perapian, tungku di sudut rumah menjadi penolong saya di bekunya udara.
 

20 thoughts on “Lelaku Malam 1 Suro #1

  1. dhave29 said: Selesai mandi kami di ajak mutar bangunan gereja untuk mengabadikan momentum pembangunan Gereja, sekaligus mencuri start tanggal 27 yang katanya akan diresmikan dan ada lomba foto

    lho udah nyolong start to waduh hahahahaha

  2. dhave29 said: Selesai mandi kami di ajak mutar bangunan gereja untuk mengabadikan momentum pembangunan Gereja, sekaligus mencuri start tanggal 27 yang katanya akan diresmikan dan ada lomba foto

    itu yang disampingnya Waw yang pakai pralon belang2 itu mo hari bukan?

  3. sulisyk said: lho udah nyolong start to waduh hahahahaha

    hehehe… malah meh di ajak neng suro loyo buat tanggal 29, tapi ntar dulu.. bisa menyulut genderang perang sodar nanti…wis ngalah sajah,,,, hajar gereja sajah… weh weh..wehhhhhhhhh..maaf ya kawan-kawan…

  4. agnes2008 said: Aku durung nate melok perayaan kek gini… ( Suran)Kapan2 mau ah…

    Loh, Romo Har wis potong rambut tho?Class Mild …………memang sedotane mantabs…..Tanyak no ama mo Har….yang sudah potong rambut (???)

  5. giehart said: Loh, Romo Har wis potong rambut tho?Class Mild …………memang sedotane mantabs…..Tanyak no ama mo Har….yang sudah potong rambut (???)

    jelas… ses mak nyus…Potong sitik, samar nek ilang baguse ndak an hehehe…. gaul getu loh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s