Paman dan Ponakan jadi Pemulung yang Lupa Mindahin Sampah

Musim hujan telah tiba, banjir dimana-mana dan saatnya sampah dijadikan kambing hitam menjadi penyebab banjir, padahal banjir disebabkan oleh melubernya air melebihi daya tampung saluran air. Sampah dan sampah menjadi sumber malapetaka, manusia yang membuat, manusia yang menerima dan manusia sendiri yang mengumpat. Mungkin cuma di negeri ini sampah menjadi mala petaka, bagaimana dengan negara maju?.

Ada sebuah film animasi/kartun yang menceritakan bumi yang telah kosong tanpa penghuni, hanya onggokan sampah yang tersisa. Film yang berjudul Wall-e menceritakan bagaimana jerih payah robot mungil pengumpul sampah yang ditemani seekor kecoak untuk tak henti-hentinya menata sampah. Akhir cerita gara-gara wall-e menemukan sebuah tanaman, maka kembalilah penguni bumi yang telah mengungsi. Sebuah pelajaran berharga dari wall-e bagaimana kelak bumi ini. Cerita yang dibumbui, jatuh cinta, persahabatan, pengkhianatan layak dijadikan refrensi untuk generasi ini agar tahu bagaimana bersikap dengan bumi.

Sudah kebiasaan dimanapun, setiap selesai memakan permen, biskuit dengan kemasan plastik, pasti bungkusnya masuk saku, kantong, sela-sela tas dengan harapan kalau ketemu tempat sampah bisa dipindahkan. Celana kerja yang kadang dipakai berhari-hari, menjelang akhir pekan tiba saat menuju laundry kadang menjadi masalah sendiri. Nah saat mengambil cucian petugasnya biasa menamai nick name dengan “Bantar Gebang”, karena celana saku pasti penuh dengan sampah. Bukan maksud untuk merepotkan mereka untuk memindahkan sampah-sampah tersebut, karena kelupaan saja dan saya yakin ditas backpack juga penuh dengan sampah-sampah yang terselip disana-sini.

Saat bepergian, entah digunung, hutan, mall atau gereja, disaat nyampah pasti masuk kantong. Orang bilang, jorok, kemproh, jijik, tapi mau gimana lagi daripada dibuang sembarangan, nah jika sudah menemukan tempat sampah yang tepat maka siap-siap pindah tuan. Prilaku tersebut juga ditiru ponakan yang masih kelas 1 SD, dimana saat pulang sekolah pasti ada sampah pribadi dikantong atau tasnya. Bukan sebuah paksaan untuk mengikuti habbit seperti itu, tetapi dengan pengertian dan logika maka akan mudah diterima. Sayangnya sang Mama selalu marah-marah saat dikantong saku anaknya ada sampah, sungguh ironis. Dengan alasan jorok, kotor, kemproh menyalahkan prilaku tersebut.

Orang tua yang seharusnya memberi pengetahuan, malah salah paham dan keblinger dengan prilaku anaknya yang suka menyimpan sampah pribadinya yang kemudian dipindah ditempat sampah rumah, tetapi namanya juga anak-anak sering kelupaan, jangankan anak-anak, pamannya lebih parah. Mutar-muter di toko VCD bajakan, pilah-pilih sambil tanya “mBak ada film Crayon Shincan?”. Dapatlah beberapa dan hanya butuh sebuah judul untuk memberi pencerahan. Sore itu, iseng undang ponakan buat nonton film Shincan, sambil ditemani mama-nya. File DAT diputer setelah sebelumnya dipilih semaleman untuk dapat film yang tepat, walau hanya berdurasi 5 menit kurang.

Penggalan film tersebut bercerita saat Shincan mengajak anjing-nya yang bernama Shiro bermain ditaman. Ibu-nya berpesan “shincaan… bawa serok, sekop dan kantong plastik buat kotoran shiro”. Nah benar saja, saat ditaman Shiro buang kotoran dan dengan cekatan Shincan membersihakan kotoran anjingnya. Seorang anak Taman Kanak-kanak Bunga Matahari sudah sejak kecil sudah diajari untuk untuk ramah lingkungan. Nah kotoran anjingpung diperhatikan, bagaimana dengan bungkus permen seorang anak SD. Nah sang Mama mulai paham dengan prilaku anaknya, tapi tetap pesan tidak boleh mengantongi. Sebagai konsekwensinya harus mencarikan kantong sampah, nah kebetulan barusan beli sandal dan dapat kantong yang bagus, kecil, praktis dan jadi-dah kantong sampah portable.

Mari…. lanjutkan jadi pemulung….
satu bumi kita, bumi kita satu, mari bersatu menjaga bumi kita

Salam

DhaVe
Office, 1 Desember 2009; 10:30

12 thoughts on “Paman dan Ponakan jadi Pemulung yang Lupa Mindahin Sampah

  1. @rir; hayooo kantongin sampahmu… jangan dibuang, tapi letakan didalam tempat sampah…@yogahart; terimakasih Om… wah sudah ngaku nie hehehe… kalo ngroko nglinting aja yang gak pake filter.. rada aman itu hehehe@laras; coba kalau bener-bener didenda, negara ini bakalan kaya raya hahaha…. ayo denda digalakan.. aman gak ngroko…k@lala; yups sedini mungkin diajari jadi pemulung sampahnya senduri… yoook jaga bumi kita yoook…

  2. selalu sampah yang dijadikan kambing hitam padahal sampah itu asalnya dari manusia jugaherman saya :(saya sudah melakukannya hehehe sya kan pemulung koran bekas, karton bekas, dll saya jadikan kartu cantik wkwkwkwbiar dibilang pemulung ora poporawe rawe rantas malang malang putungmaksudte opo to

  3. @agnes; wah kalo tukang londre bukan wilayah saya untuk menjustifikasi… jangankan tukang londre..tukang sampah komplek rumah itu jua begitu (ndak semua lho…)Yang penting, kita sudah melakukan hal yang baik, walaupun kecil…makasih mBak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s